
Proses pindahan kamar akhirnya selesai juga, setelah banyak drama dari Abimanyu yang selalu saja mengganggu Infiera, hingga semua pekerjaan selalu tertunda.
"Sayang, masih ada kerjaan?" tanya Abimanyu saat keduanya selesai makan malam.
Infiera sedang berdiri, mencuci piring.
"Iya, aku harus menyelesaikan tulisanku. Sudah berapa hari, ya, aku engga nulis?"
"Mana aku tau?"
Meski merasa bersalah, kini Abimanyu memaklumi pekerjaan istrinya sebagai seorang penulis. Dia juga tidak mempermasalahkannya asalkan tidak mengganggu waktu kuliahnya.
"Kayanya udah lebih dari seminggu."
"Bagaimana kalau aku potong apel buat camilan kita?" Abimanyu kembali bertanya, dia terlihat bersemangat karena ini pertama kalinya dia bekerja dengan istrinya. Tidak lagi bekerja masing-masing, silih berganti menggunakan ruang kerjanya.
"Kita?"
"Iya, kita. Mau siapa lagi? Kapan lagi kan, bisa kerja sama-sama."
Fiera berbalik mengibaskan tangannya yang basah dan penuh busa sabun.
"Tidak, tidak, aku tidak mau." Fiera bisa menebak apa yang akan terjadi jika mereka bekerja bersama-sama di ruangan yang sama. Teringat waktu mereka berbenah untuk pindah kamar, itu sampai menghabiskan waktu selama dua hari karena kelakuan Abimanyu yang tidak terduga.
"Kenapa? Kita engga perlu lagi gantian buat pake ruang kerja. Bisa sama-sama."
"Iya, bisa sama-sama. Tapi, kerjaannya engga bakal selesai-selesai."
Abimanyu nyengir. "Tidak apa-apa, dong, Sayang. Kan, bikin semangat."
Fiera tidak menjawab. Dia hanya menatap Abimanyu dengan tatapan tajam dan kelopak mata yang menyipit.
Melihat hal itu, Abimanyu menyerah. Dia mengangkat kedua tangannya. "Baikah, baiklah."
Meski begitu, Abimanyu tetap berjalan menuju kulkas dan mengambil dua apel dari dalamnya, lalu memotongnya.
"Sayang, Mas, dua hari ke depan bakal sibuk banget. Kamu tidak masalah? Apa kamu juga ada kegiatan?"
Fiera yang sedang menata perabotan makan yang sudah dicuci terlihat berpikir.
"Kayanya tidak. Aku akan di rumah aja buat nulis."
"Kamu yakin mau di rumah aja? Engga mau ikut Mas? Mas mau selesaikan persiapan opening kafe."
"Engga, ah, aku mau di rumah aja."
Fiera mengelap tangannya yang basah setelah selesai mencuci piring. "Mas pasti sibuk banget."
"Iya, sih, Mas harus meeting juga sama vendor yang bakal kerja sama dengan kita."
Fiera menghampiri kulkas untuk membuat minuman. Dia membuat dua gelas sirup dengan tambahan es batu.
__ADS_1
"Kamu yakin engga mau kerja di ruang kerja Mas?"
"Engga mau." Fiera mengambil satu piring apel potong. "Untukku, kan?"
"Iya, makanlah."
"Aku mah makan di kamar aja. Kalau begitu, Mas selamat bekerja, ya."
Untuk pertama kalinya Fiera memberanikan diri untuk mengecup pipi Abimanyu lebih dulu, membuat pria itu langsung tersenyum.
Padahal, sebelumnya dia sedikit cemberut dengan jawaban Infiera yang menolak untuk bekerja di ruang kerja.
Fiera melangkah menuju kamarnya dengan langkah yang cepat karena dia terlalu malu untuk menatap Abimanyu, setelah mengecup pipinya.
Abimanyu hanya mampu menggeleng melihat istrinya yang malu-malu saat pergi. Akhirnya, dia membawa satu piring apel yang sudah dipotongnya dan mulai mengerjakan pekerjaan yang mulai menumpuk di ruang kerjanya.
Perubahan hubungan antara dirinya dan Infiera membuat Abimanyu sedikit harus mengubah kebiasaannya.
Sebelumnya, dia akan menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat, tapi sekarang mengganggu istrinya terasa lebih menyenangkan dan malas untuk mengerjakan pekerjaannya.
Abimanyu juga sekarang lebih banyak tersenyum setelah hubungannya dengan Infiera membaik.
Di tengah kesibukannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk. Abimanyu melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya.
Kening Abimanyu tiba-tiba berkerut saat melihat nama yang sangat tidak asing baginya.
[Bi, apa kamu bisa rekomendasikan toko perabotan rumah? Aku baru saja pindah ke apartemen baruku.]
Abimanyu kembali fokus pada layar komputernya, ekspresi wajahnya kini berubah setelah menerima pesan itu.
Namun, tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Kini sebuah panggilan masuk.
Tanpa melihat siapa yang menghubunginya, Abimanyu mengangkat panggilan itu, sedangkan pandangannya masih tertuju pada layar komputernya.
"Halo?"
"Halo, Bi?"
Abimanyu cepat menjauhkan ponsel dari telinganya dan memastikan siapa yang menghubunginya karena dia mendengar suara perempuan.
Ternyata, Almira menelponnya.
"Ada apa?" tanya Abimanyu dengan suara yang begitu datar. Dia bahkan menghela napas panjang secara terang-terangan.
"Maaf, Bi, kalau aku ganggu kamu, tapi di Jakarta ini aku belum banyak kenal banyak orang."
"Iya, ada apa?" tanya Abimanyu, dia malas untuk berbasa-basi.
"Aku baru saja membeli apartemen dan hari ini resmi menempatinya. Hanya saja, belum banyak perabotan di dalamnya."
Abimanyu menutup matanya supaya dia bisa tetap berpikir waras.
__ADS_1
"Aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu melalui pesan."
Abimanyu baru saja akan mematikan panggilannya, tapi Almira kembali berkata, "Bi, bisakah kamu mengantarkanku? Kamu tau, kan, kalau aku engga punya siapa-siapa di sini? Aku juga belum terlalu lama tinggal di Jakarta."
Abimanyu diam dengan permintaan Almira.
"Kamu bisa mengajak istrimu, kok. Aku tidak masalah."
"Aku akan menanyakannya terlebih dahulu."
Setelahnya, panggilan berakhir. Abimanyu menenangkan perasaannya sejenak. Lalu melanjutkan pekerjaannya. Akan tetapi, dia merasa fokusnya sudah hilang setelah panggilan dari Almira. Dia akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan semuanya dan bergegas untuk naik ke kamarnya.
Saat masuk ke dalam kamar, Abimanyu tidak menemukan keberadaan istrinya dia segera memanggil, "Sayang?"
"Di sini."
Suara Infiera terdengar dari arah balkon kamarnya. Abimanyu segera menghampiri.
"Kamu lagi apa di sini?"
"Aku hanya nyari udara segar. Rasanya sesak banget."
"Jangan memaksakan diri kalau kamu sedang merasa stak dengan ide yang hendak kamu tulis."
Infiera hanya tersenyum, lalu kembali melihat ke arah depan yang menampilkan pemandangan halaman rumahnya.
Abimanyu tiba-tiba memeluk istrinya dari arah belakang.
"Kenapa engga dari dulu, ya?"
"Apanya?"
"Hubungan kita."
Fiera hanya menarik ujung bibirnya sedikit. "Kalau kaya gitu, ceritanya akan berbeda. Jalan kita memang harus seperti ini. Tidak perlu mempertanyakannya."
Abimanyu semakin mengeratkan pelukannya mendengar jawaban itu. Dia merasa amat beruntung mendapatkan perempuan seperti wanita yang ada di dalam pelukannya. Dia bahkan mengecup belakang kepala istrinya berkali-kali sebagai wujud rasa terima kasihnya karena Infiera sudah hadir dalam hidupnya. Hanya saja, terlalu sulit untuk Abimanyu mengutarakan perasaan sampai sejauh ini.
"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?"
"Emm... Barusan Almira menghubungiku."
Infiera yang berada di dalam pelukan suaminya tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya mendengarkan.
"Dia ... dia memintaku untuk menemaninya mencari perabotan. Katanya, aku boleh mengajak kamu."
Infiera langsung teringat ucapan mantan kekasihnya itu, mengenai cincin pertunangan yang dia tunjukkan.
Ada perasaan takut jika suaminya kembali pada Almira. Bagaimanapun, mereka sempat menjalin hubungan dalam waktu yang lebih lama dibandingkan dirinya yang baru beberapa hari saja bisa mendapatkan hati pria itu.
__ADS_1
Fiera memejamkan matanya. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit saat memikirkannya.