
Masih di dalam pelukan suaminya. Fiera hanya diam dan memandang kosong ke arah depan. Abimanyu yang berada di belakang istrinya—memeluk wanita itu sedikit panik karena tidak ada jawaban atas pertanyaannya. Dia berpikir kalau Infiera marah karena tidak suka membahas Almira yang notabene adalah mantan kekasihnya.
“Sayang,” panggil Abimanyu dengan suara pelan. “Aku tidak sedang meminta izin. Aku hanya ingin meminta pendapat kamu. Kalau kamu bilang jangan, aku juga—“
“Jangan!” sela Fiera menghentikan Abimanyu yang masih berbicara.
Abimanyu tersenyum di belakangnya, pria itu mengeratkan pelukannya dan mengecup belakang kepala istrinya. “Tentu saja aku akan menghargai keputusanmu. Mas juga akan menghargai perasaanmu. Mas hanya ingin memberi tahu kalau dia menghubungi.”
Fiera kembali ingin menjawab ucapan suaminya, tapi Abimanyu lebih dulu melanjutkan ucapannya. “Mas juga sudah memblokir nomornya.”
Fiera mengerutkan keningnya karena sedikit tidak menyangka dengan tindakan Abimanyu yang di luar dugaan. Fiera hanya ingin mengatakan kalau pria itu hanya perlu menjaga jarak atau, Fiera hanya tidak ingin melihat mereka berdua dekat di depan matanya.
Selebihnya, Fiera tidak bisa mengendalikan sepenuhnya apa yang terjadi antara suaminya dan sang mantan. Jika dia memang benar-benar ingin menjaga perasaan, Abimanyu pasti akan melakukannya. Baik itu di depannya atau pun di belakangnya.
“Kenapa?” Infiera tidak dapat menahan diri untuk bertanya.
“Kenapa harus bertanya kenapa? Sudah jelas, Mas hanya ingin kamu sekarang. Teman wanita Mas hanya kamu. Jadi untuk apa masih berhubungan dengannya? Mas juga hanya manusia. Tidak tahu apa yang akan terjadi, jika kami masih intens berkomunikasi.
Baru saat itulah, wajah yang sedari tadi hanya terlihat muram sedikit berseri. Fiera merasa menjadi wanita berarti saat ini. Suaminya peduli dengan perasaannya. Kekhawatiran yang sejak siang menggelayut di dadanya perlahan menghilang.
“Sayang, maaf, ya, kalau beberapa rencana yang sudah kita buat harus sedikit mundur karena masalah opening kafe yang sedikit bermasalah. Kamu harus menunda jadwal pulang ke Bandung, kita juga harus membatalkan rencana pergi ke Palembang.”
Infiera yang sejak tadi menghadap ke halaman rumah, kini berbalik menghadap suaminya. Dia balas memeluk pria itu dan menempelkan kepalanya di dada bidang pria itu. “Engga apa-apa. Mas selesaikan saja dulu semuanya. Kita bisa pulang setelah semua selesai.” Fiera mengangkat kepalanya untuk menatap wajah suaminya yang tampan. “Apakah aku boleh hadir di acara opening-nya?” tanya Fiera.
Abimanyu mencubit hidung istrinya karena merasa gemas dengan pertanyaan wanita itu. “Tentu saja kamu harus hadir, jadi pasangan Mas nanti. Jangan sampai orang lain berpikir Mas masih jomblo. Engga mau, ya. Si Gerald yang ada bakal terus ledek Mas.”
Fiera sedikit terkekeh. Suasana yang sedikit canggung karena pembicaraan sebelumnya mengenai Almira kini berubah lebih cair.
“Ya siapa tahu saja Mas malu ajak aku?”
“Mana ada Mas malu punya istri secantik ini?”
“Cantik mana aku sama Bu Almira?”
“Jangan mulai, Sayang. Meski Mas adalah dosen jurusan Sastra Bahasa Indonesia, tapi Mas belum pernah mempelajari pertanyaan retorika perempuan.”
Infiera ingin sekali tertawa sekarang. Iya, benar. Dia bertanya seperti itu hanya penasaran saja. Walaupun tahu jawaban apa yang akan diberikan suaminya, tapi apa pun itu jawabannya. Fiera bahkan sudah punya kalimat untuk sedikit mendebatnya.
“Apa, sih, Mas?”
Fiera memukul pelan dada suaminya.
__ADS_1
Abimanyu menatap mata istrinya dengan intens. Hal itu tentu saja, disadari Infiera dia bertanya, “Kenapa Mas lihat aku kaya begitu?”
“Kok kamu cantik banget, sih, malam ini?”
Wajah Infiera bersemu. Dia ingin memalingkan wajah, tapi gerakan Abimanyu lebih cepat menahan belakang kepalanya dan menempelkan bibirnya di bibir Infiera, membuat wanita itu tidak bisa menghindari apa yang ingin dilakukan oleh suaminya. Cukup lama keduanya berada di posisi itu, sampai akhirnya Abimanyu mengakhiri dan berkata dengan suara serak. “Kita lanjutkan di dalam.”
Abimanyu dengan sigap berjongkok untuk mengendong istrinya, membawanya menuju ke tempat tidur mereka, melanjutkan kegiatan yang mulai memanas di sana. Kini mereka hanya memiliki satu kamar yang akan mereka tempati dan kamar lainnya hanya sebagai kamar tamu.
***
Keesokan harinya, Abimanyu pergi pagi-pagi sekali karena dia harus merampungkan persiapan opening kafenya yang akan dilakukan nanti malam, tanpa sepengetahuan Infiera untuk membuat kejutan pada wanita itu.
Saat Infiera terbangun, dia sudah tidak melihat suaminya dan hanya menangkap sesuatu di atas nakas, samping tempat tidur. Dia menghampiri dan mengambil secarik kertas yang ada di bawah gelas berisi jus jeruk.
“Sayang, aku harus pergi karena ada pekerjaan. Maaf tidak membangunkanmu, tapi aku meninggalkan beberapa ciuman di wajahmu. Jangan lupa makan sarapannya. Ah, tolong datanglah ke butik tempat ibu membelikanmu gaun. Ada beberapa pakaian yang sudah kupesan.”
Fiera tersenyum membaca pesan manis itu seraya menyentuh wajahnya yang sedikit merona. Padahal, dia sama sekali tidak merasakan apa pun, tapi tetap saja dia bahagia dengan hal itu.
Infiera mengambil gelas berisi jus, lalu menikmati sarapan sederhana yang dibuat suaminya. Dia sama sekali tidak masalah, karena mengerti dengan kesibukan suaminya belakangan ini.
Setelah menghabiskan sarapan sederhana yang dibuat suaminya, Fiera bergegas menuju ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Begitu mendapatkan izin dari suaminya untuk hadir di acara opening kafenya. Fiera berniat menyiapkan sebuah hadiah kecil untuk suaminya. Begitu menyelesaikan persiapannya, Fiera menghubungi sahabatnya terlebih dahulu, Bimo.
“Bim, gue mau tanya. Lo kalau misal dikasih hadiah mau apa?”
“Kenapa? Lo mau kasih gue hadiah ulang tahun? Eh, ulang tahun gue masih lama.”
“Jawab saja!” seru Fiera dengan kesal.
“Jawab dulu, lo mau kasih hadiah ke siapa? Dan dalam rangka apa?”
Fiera terdiam dengan hal itu. Tidak mungkin, kan, dia bilang kalau untuk suaminya? Meski Abimanyu mengatakan kalau dirinya boleh memberi tahu siapa yang ingin diberi tahu, tapi Fiera masih ragu dengan hal itu.
“Fier, lo masih di sana, kan? Gue ga bisa lama-lama, ini.”
“Pokoknya buat seseorang. Lo jawab saja. Gue mau ngasih hadiah karena dia akhirnya mendapatkan sebuah pencapaian,” tuturnya tanpa menjelaskan lebih rinci.
“Karena gue lagi suka mendaki. Jelas gue bakal minta peralatan mendaki. Haha.”
“Bisa lebih spesifik, ga, Bim? Gue, kan, ga, tahu apa saja peralatan mendaki?”
“Bukan itu maksud gue. Lo hanya perlu membeli sesuatu yang disukainya. Kalau mendaki, ya peralatan mendaki. Kalau melukis, ya, peralatan melukis. Semacam itulah.”
__ADS_1
“Ah, oke, oke. Gue mengerti.”
Setelah bicara beberapa saat, meladeni Bimo yang terus mendesak. Siapa orang yang hendak diberikan hadiah olehnya. Pria itu juga menggoda Fiera mengenai ‘pacar’. Namun, tak ada jawaban pasti yang diberikannya karena masih ragu untuk memberi tahu.
Setelah menelepon Bimo, Fiera memutuskan untuk pergi mencari hadiah dan juga mengambil pakaian pesanan milik suaminya. Mungkin itu beberapa jas yang biasa dibeli Abimanyu setiap bulan.
Tidak membutuhkan waktu lama, begitu sampai di butik tersebut. Seorang pelayan datang menjemputnya dan memberikan apa yang dimaksud oleh suaminya.
“Nona, ini ada pesan dari suami Anda.”
Fiera menerima kertas tersebut dan membacanya.
“Sayang, datanglah ke alamat ini. Di sana, akan ada seseorang yang memberikanmu petunjuk lain. Jangan lupa kenakan gaun ini.”
Fiera mengerutkan keningnya dan cepat memeriksa sesuatu yang baru saja diberikan pelayan butik. ternyata, itu adalah sebuah gaun. Masih terlihat sedikit bingung. Dia juga mencoba mencari alamat menggunakan ponselnya. “Salon? Kenapa aku harus datang ke salon?”
Setelah mendapatkan barang yang dimaksud oleh suaminya. Fiera bergegas meninggalkan toko untuk menuju alamat yang diberikan Abimanyu, masih dengan pikiran yang sedikit bingung, tapi dia tetap mengikuti instruksi.
Saat keluar dari butik, Fiera melihat beberapa teman kampus yang dikenalnya. Dia berniat untuk menghampiri, tapi saat akan mendekat dia mendengar nama Abimanyu sedang dibicarakan. Akhirnya, Fiera hanya berdiri di belakang mereka yang sepertinya juga sedang menunggu seseorang.
“Sebenarnya, ada apa dengan malam ini, ya? Aku benar-benar terkejut dapat undangan pesta dari Pak Abimanyu dan juga Pak Gerald.”
“Iya, benar. Mana di pesannya ga ada penjelasan pesta apa lagi.”
“Jangan-jangan itu pesta pertunangan Pak Gerald?”
“Pak Gerald? Ah, ga mungkin. Dia, kan, jomblo.”
“Pak Abi? Kan, dia juga sama jomblo.”
“Siapa bilang? Lo lupa sama Bu Almira?”
“Eh, iya ya. Bukannya kemarin Bu Almira juga bilang pasti hadir di pesta itu?”
“Haha ... kayanya benar. Itu pesta pertunangan. Atau, mungkin juga kalau itu pesta pernyataan cinta. Ah, aku semakin penasaran.”
Fiera yang berada di belakang mereka menggenggam erat tali paper bag di tangannya. Dirinya bahkan sama sekali tidak tahu mengenai pesta yang dibicarakan teman-teman kuliahnya itu.
***
...Hai readers kita ketemu lagi. Maaf sudah membuat semuanya menunggu sangat lama. Juga terima kasih untuk semua yang sudah menunggu dan juga mendoakan kesehatanku. Semoga kalian juga dalam keadaan sehat. Mulai hari ini, aku kembali akan up rutin lagi. Mohon dukungannya dari kalian semua ^^...
__ADS_1