Istri Kedua Suamiku

Istri Kedua Suamiku
Bab 14 ~ Keributan ~


__ADS_3

Mawar membalas kemarahan Hendra kepadanya,dia tidak menyangka Hendra begitu emosi saat dia memakai black card miliknya,dia memang sadar kalau hari ini dia sudah menghabiskan uang ratusan juta bahkan dia membeli jam tangan seharga lima puluh juta untuk kekasihnya memakai kartu itu.


"Aku berhak juga mas memakai fasilitas yang kamu berikan kepada Stella,apa bedanya aku dengan dia kami sama-sama istri sah,dianya saja kampungan tidak pandai menikmati harta suami." Balas Mawar.


"Kamu....Dasar wanita tidak tau malu kamu,berani-beraninya kamu menghina istriku sadar diri kamu,belum menikah saja kamu sudah kesucian,dan sekarang kamu menuntut banyak kepadaku,jangan mimpi." Ucap Hendra dia menurunkan tangannya saat akan menampar wajah Mawar,dia tidak mau wanita itu mengadu kepada mamanya yang begitu membela dan menyayanginya.


Stella mendengar keributan itu,dia juga begitu emosi melihat Mawar,dia yang sudah memakai banyak uang hari ini,bukannya minta maaf malah menghina dirinya,lama-lama wanita itu di kasih hari malah ngelunjak sangat tidak tau diri.


"Sekali lagi kamu berani memakai hartaku tanpa ijin aku akan menceraikan ku hari itu juga pikirkan itu baik-baik." Ucap Hendra lalu dia segera pergi meninggalkan Mawar yang masih berdiri di ruang tamu.


Hendra masuk kedalam kamar istrinya,dia masih sangat marah tapi dia berusaha mengendalikan emosinya karena dia tidak ingin Stella menjadi korban emosinya.Hendra membuka pintu kamar saat itu dia melihat Stella sedang memakai scancare malam.


"Maafkan aku mas,aku tidak tau kalau dia akan menghabiskan uang begitu banyak hari ini." Ucap Stella,Hendra hannya tersenyum kecil lalu duduk di ranjang dan mengambil buku kesayangannya.


"Mas...Kamu marah?"Tanya Stella dia memutar tubuhnya dan menatap suaminya yang mengabaikan ucapannya barusan.


"Sayang...Aku tidak marah...Sedikit pun aku tidak marah jika yang memakai itu kamu...Kamu lihat dia baru jadi istriku beberapa minggu yang lalu tapi dia sudah menghabiskan banyak uangku,aku tidak mau suatu saat dia akan berfikir untuk menyingkirkan kamu,jadi aku minta mulai sekarang kamu harus tegas dengannya dan jangan mau diremehkan dia,jika mama ikut campur kamu bisa katakan kepadaku." Ucap Hendra lalu kembali membaca buku strategis bisnis.


"Iya mas...Maafkan aku,ini aku lakukan karena aku sadar kalau aku tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan."


"Sudahlah aku tidak mau mendengar itu,siapa tau suatu saat kamu benaran hamil,setiap wanita itu jika dia memiliki rahim maka ada kemungkian dia akan hamil." Jawab Hendra.


"Tuan.....Tuan...." Stella bergegas membuka pintu saat Iyem menggedor pintu,terdengar suara pelayannya yang begitu panik.

__ADS_1


"Ada apa bibi?"


"Itu nyonya....nona Mawar sakit dia muntah-muntah." Ucap Iyem dengan wajah ketakutan.


Hendra dan Stella bergegas keluar dari kamar lalu menghampiri Mawar yang sudah berada di tempat tidur wajahnya terlihat pucat.


"Apa yang terjadi dengan mu Mawar?"Tanya Stella penuh perhatian dia memijat kening Mawar dengan kasar Mawar menepis tangan Stella,hal itu membuat Hendra kembali emosi tapi Stella memberi isyarat agar tidak marah.


"Mas bawa aku ke dokter,mungkin aku sedang hamil,sudah beberapa hari ini aku selalu mual." Ucap Mawar mencari simpatik dari Hendra ini kesempatan baginya untuk mengatakan kepada Hendra kalau dia sudah hamil anaknya.


"Benarkah cepat sekali?" Tanya Hendra tampa ekspresi,sedikit pun tidak ada rasa bahagia di wajah pria itu.


"Stella ayo kita bawa dia ke rumah sakit_"


"Sudah mas bawa dia ke rumah sakit jangan lupa hubungi mama agar dia datang menemui kalian di rumah sakit." Ucap Stella dia menahan rasa sakit di hatinya.Dia tau dari awal memang Mawar sangat tidak menyukainya,mungkin dia cemburu karena Hendra lebih mencintainya atau dia ingin menguasai Hendra seutuhnya Stella tidak tau.


Stella selalu menjadi peredam emosi suaminya. saat melihat Hendra emosi kepada Mawar,Stella melakukan itu bukan karena dia lemah atau bodoh,tapi karena dia sadar saat ini mertuanya begitu membelanya.


Hendra membawa Mawar ke rumah sakit,sepanjang jalan dia hannya diam,dia malas berbicara kepada Mawar,dia menilai Mawar sangat egois dan tidak tau diri sebagai istri kedua.


"Mas...Kamu kenapa diam saja,apa kamu tidak bahagia saat kamu tau aku sedang hamil?" Tanya Mawar dengan nada manja.


"Memangnya kamu sudah tau pasti kalau kamu sedang hamil? lagian siapa yang tau itu anak siapa mungkin saja itu bukan anakku." Seketika jantung Mawar berdebar,dia takut jika Hendra tau kalau janin itu bukan miliknya.

__ADS_1


"Kenapa sih mas kamu bicara seperti itu, kalau bukan milikmu, milik siapa lagi?" Tanya Mawar,dia berusia bersikap tenang agar Hendra tidak semakin curiga kepadanya.


"Tanya saja sama dirimu sendiri,tapi jika suatu saat aku tau itu bukan milikku,aku akan menuntut kalian semua,ingat setiap kebohongan itu akan terungkap cepat atau lambat." Wajah Mawar berubah pucat,rasanya tenggorokannya tiba-tiba mengering dia tidak tau harus bicara apa lagi kepada suaminya itu.


Hendra membawa mobilnya ke parkiran rumah sakit,setelah mobilnya terparkir dengan sempurna dia keluar dari mobil tampa berbicara sepatah kata pun kepada Mawar.


Mawar duduk di dalam mobil, dia ingin menunggu mertuanya karena dia takut Hendra terus mencurigainya nanti.


"Cepat turun apa lagi yang kamu tunggu,ini sudah malam,aku juga mau istirahat." Ucap Hendra dengan wajah masam.Mawar akhirnya turun dari mobil lalu berjalan mengikuti Hendra dari belakang.


Mereka memasuki ruangan rumah sakit,setelah basa basi dengan dokter akhirnya Mawar di melakukan pemeriksaan.Dokter keluar dari ruang periksa dan kembali duduk di kursinya,tidak ada yang spesial dibuatnya kepada Mawar bahkan dia memeriksa Mawar sama dengan pasien lainnya seharunya dia bisa membawanya ke ruangan yang lebih mewah tapi dia mengabaikan itu karena dia tidak yakin kalau janin itu miliknya kalau memang dia sedang hamil.


"Selamat malam pak dengan siapa saya bicara?"


"Hendra dokter."


"Selamat istri bapak positif hamil dia sudah hamil menjalani empat minggu bapak harus lebih perhatian kepada istri bapak." Ucap dokter.Setelah selesai berbicara dengan dokter mereka berdua keluar dari ruang periksa.


"Mawar....Apa yang terjadi denganmu,apa kamu sudah hamil?" Tiba-tiba Rini datang berlari menghampiri mereka yang sedang berjalan di koridor rumah sakit.


"Iya ma...Mawar sudah hamil." Jawab Mawar,walaupun Hendra terlihat biasa saja melihat mertuanya begitu antusias itu sudah lebih dari cukup.


"Nah...Apa mama bilang,Mawar langsung bisa hamil kan,dari pada istrimu itu,menikah lima tahun tetap tidak bisa hamil." Ucap Rini,membuat hati Hendra kembali memanas.

__ADS_1


*** Bersambung***


__ADS_2