
Stella keluar dari kantor suaminya setelah dia pamit kepada mertuanya.Rini sama sekali tidak menjawab sapaan dari Stella,tapi hal itu tidak membuat Stella menjadi sedih karena baginya sudah biasa dia mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari wanita yang melahirkan suaminya itu.
"Dasar mandul,entah sampai kapan kamu mempertahankan pernikahan dengan wanita yang tidak berguna itu_
"Mama....Jika sekali lagi aku mendengar mama memaki stella atau mencelanya,aku tidak akan pernah memaafkan mama." Hendra membentak mamanya,menurutnya sikap ibunya semakin hari semakin membuatnya emosi.
"Sikap mama sangat keterlaluan,apa lagi yang salah dari Stella,bahkan dia sudah ikhlas kalau aku menikah lagi,kalau bukan karena dia yang memaksaku untuk menikah aku tidak sudi menikah dengan siapa pun karena aku sangat mencintainya.Bahkan aku tidak tau,perasaan ku sekarang seperti apa,jadi tolong mulai hari ini jaga sikap mama terhadap Stella istriku,karena hannya dia satu-satunya penghuni hatiku." Ucap Hendra.Rini hannya bisa mengoceh dalam hati.
"Sudahlah mama tidak peduli dengannya,sekarang lebih baik kamu bawa Stella,ke butik yang sudah mama rekomendasikan,aku tidak mau mendengar semua ucapan mu itu." Ucap Rini.Mawar sangat kesal melihat sikap Hendra yang sangat membela istrinya.
"Isshh....Apa hebatnya wanita itu,kalau dia memang hebat harusnya dia bisa hamil dong." Batin Mawar,ada rasa cemburu di hatinya saat mendengar Hendra begitu membela istrinya di hadapan mamanya.
Karena semakin muak melihat sikap mamanya akhirnya dengan terpaksa Hendra segera beranjak dari tempat duduknya,dia tidak ingin bersama mama dan wanita itu lebih lama lagi di ruangan itu.
"Ya sudah lebih baik kita berangkat sekarang,aku juga masih banyak urusan,mendengar mama terus mencela istriku membuatku nanti semakin emosi." Ucap Hendra lalu berjalan keluar dari ruangannya di ikuti oleh Mawar dan mamanya.
Selama berada di mobil sedikit pun Hendra tidak berbicara kepada mama dan juga calon istrinya,Mawar juga merasa canggung untuk memulai obrolan.Rini yang melihat situasi itu sedikit tersenyum,dia memakluminya karena keduanya belum lama berkenalan.
" Mawar,Tante sangat berharap setelah kamu menikah dengan Anak Tante kalian langsung memilki anak,sudah pengen sekali rasanya menimang cucu." Ucap Rini penuh semangat,dia sengaja memulai obrolan untuk mencairkan suasana yang cukup mencekam di dalam mobil.
__ADS_1
Mendengar ucapan mamanya,Hendra langsung memutar musik,dia malas mendengar ocehan mamanya,dia seakan memuji wanita itu setinggi langit di hadapannya.Rini sangat kesal dengan sikap Hendra tapi dia tidak bisa berkata-kata dia takut Hendra semakin emosi dengannya.
Hendra bernyanyi kecil mengikuti iringan lagu,hal itu membuat Mawar semakin kesal,tapi dia tidak bisa menghentikan sikap pria itu karena dia belum siapa-siapa di hadapan pria itu.
Akhirnya mobil mereka sampai di sebuah gedung yang cukup mewah,saat memasuki gedung itu setiap orang pasti tau kalau itu butik yang sangat mewah dan hannya kalangan tertentu yang memasuki gedung itu.
Saat Hendra masuk kedalam lalu duduk di sebuah kursi,melihat patung-patung yang dipakaikan gaun-gaun mewah.Seketika Hendra mengingat pernikahannya dengan istrinya yang hannya memakai baju nikah sederhana kala itu.Bukan tidak mampu dulu dia memberikan yang mewah kepada Stella,tapi dia menolak karena mereka menikah tanpa restu orang tuanya .
"Selamat siang pak,apa anda ingin segelas kopi?"
Hendra mengangguk ke arah pelayan itu,Mawar datang mendekatinya dan membawa sebuah majalah di tangannya,lalu wanita itu duduk persis di samping Hendra,hingga membuat Hendra menjauh sedikit dari samping Mawar.Terlihat jelas kalau dia tidak menginginkan pernikahan ini.
"Mas,apa ini cocok untukku?" Mawar menunjukkan sebuah gambar kepada Hendra,hingga membuat Hendra sedikit kaget karena Mawar menyentuh pahanya.
"Kamu pikir aku peduli!! kamu memakai baju apa pun di saat pernikahan nanti,aku tidak peduli,sekarang cepat pilih untukmu karena aku harus kembali ke kantor."
Rini mendengar ucapan Hendra,dia langung duduk di antara hendra dan Mawar,dia tidak mau menjadi bahan tatapan orang nantinya jika Mawar sampai marah.
"Hendra kamu itu apa-apaan sih,mama kecewa sama kamu,lebih baik kamu pulang kalau kamu tidak ada artinya disini." Ucap Rini,Hendra langsung beranjak dari tempat duduknya lalu pulang Tampa peduli tatapan Mawar dan mamanya.
__ADS_1
"Wanita macam apa dia,jika dia memang wanita baik-baik,tidak mungkin dia mau merusak rumah tangga orang lain,aku harus hati-hati dengannya jangan sampai Stella menderita karena nya nanti." Ucap Hendra lalu masuk ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas.
****
Tidak terasa empat hari lagi pernikahan Hendra dan Mawar akan di adakan,Rini langsung membuat peraturan di perusahan kalau pada hari pernikahan itu perusahaan di liburkan,dan semua kariawan di wajibkan hadir.
Stella memandangi undangan yang ada di tangannya,sakit sudah pasti,wanita mana yang tidak merasa sakit saat seorang ibu mertua yang sudah di anggapnya ibu selama lima tahun ini ternyata tetap tidak bisa menerima kehadirannya.
"Kamu harus datang nanti,ingat Mawar ini akan menjadi ratu di rumah ini,kamu harus banyak mengalah kepadanya dan kalau bisa kamu harus menerima apa pun ke putusannya di rumah ini,karena keputusannya adalah mutlak kamu tidak ada hak untuk melawannya,kamu harus sadar kalau kamu tidak ada artinya di keluarga ini dan hannya bisa menjadi beban." Ucap Rini tampa memikirkan perasaan Stella sedikit pun.
Stella sudah memutuskan apa pun hinaan dan cacian mama mertuanya kepadanya dia tidak akan menangis lagi,sudah cukup lima tahun dia berjuang mengambil hati mertuanya tapi semaunya sia-sia,mertuanya seorang wanita yang egois dan keras kepala.
" Kita lihat saja nanti ma,mama tidak ada hak untuk mencampuri rumah tangga kami_
"Sudah berani kamu melawan ya..Hebat kamu, berani kamu menyela omonganku kalau kamu memang cinta kepada anakku,kamu harus membiarkan dia bahagia dengan wanita lain yang bisa memberikan keturunan kepadanya."
"Maaf ma,apa pun kata-kata mama aku tidak peduli,selagi cinta dan kasih sayangnya tidak berubah kepadaku." Ucap Stella,setelah mengucapkan kata-katanya dia meninggalkan Mawar dan mama mertuanya di ruang tamu,dia menaiki tangga dan berjalan menuju balkon.
Setelah sampai di balkon,air mata yang sudah hampir jatuh tadi akhirnya jatuh membasahi pipinya,sekuat apa pun dia mencoba untuk menerimanya,perasannya tetap sakit membayangkan suaminya harus bersanding dengan wanita lain.
__ADS_1
*** bersambung***