
Mawar beranjak dari tempat duduknya lalu mendekati Stella,rasanya ingin sekali dia menendang wanita itu keluar dari rumah suaminya,tapi sayang dia tidak berani melakukan itu karena dia sadar Hendra begitu mencintainya.
"Belum tentu mas Hendra mau mewariskan seluruh hartanya kepada calon anakmu jangan terlalu percaya diri,aku tau sekali sikap mas Hendra seperti apa,bahkan dia saja tidak percaya kalau anak yang ada di kandungan mu itu benar-benar anaknya,dan aku juga ragu akan hal itu."Jawab Stella,seketika Mawar emosi mendengar ucapan Stella dia mengira wanita itu ingin menghasut mertuanya yang bodoh itu.
Mawar melayangkan tamparan ke wajah Stella,tapi sebelum tangannya mencapai wajah Stella dia sudah menangkap tangannya lalu meremasnya dengan kasar dan menghempasnya dengan kasar.
"Jangan kamu kira mentang-mentang aku diam selama ini, kamu mengira aku ini bodoh,aku bisa membuat mas Hendra menceraikan mu hari ini juga,tapi aku tidak melakukan itu karena aku ingin mengikuti permainan mu sampai kamu lelah." ucap Stella,Mawar membelalakkan matanya saat mendengar ucapan Stella,dia merasa bingung dengan ucapan Stella.
Stella meninggalkan mama dan madunya di ruang tamu,dia sangat kesal melihat mereka berdua makanya dia sampai lepas berbicara seperti itu.Stella masuk ke dalam dapur lalu mengambil air es dari kulkas dan menghabiskan hampir setengah isi botol minum.
"Benci sekali aku melihat wanita ini,di kasih hari malah minta jantung,dia yang kedua tapi malah ingin dia yang berkuasa di rumah ini,mentang-mentang mama selalu memberinya hati." Ucap Stella,pelayan yang melihatnya majikannya selalu di sudut kan hannya bisa melihat tampa berani membelanya di hadapan mertuanya karena takut di pecat.
"Nyonya sabar ya." Ucap Iyem yang sudah berada di sampingnya,Stella lalu menarik kursi dan lalu duduk, dia menghela napas berlahan seakan masalahnya begitu rumit.
__ADS_1
"Nyonya!! Apa aku bisa berbicara sedikit?" Tanya Iyem yang masih berdiri di samping Stella.
"Ada apa bibi,katakan saja pikiranku sedang kacau saat ini." Jawab Stella.
"Memangnya nyonya sudah pernah berobat ke kampung,biasnya orang di kampung obatnya sangat manjur,aku punya bibi di kampung,dia tidak bisa hamil sudah lebih dari lima belas tahun,setelah berobat ke kampung sekarang mereka sudah punya anak dan umurnya anaknya sudah hampir tiga tahun." Ucap Iyem,dia terpaksa memberitahu semuanya kepada majikannya karena dia merasa kasihan dengan majikanya karena hampir setiap hari dia mendengar Rini menghina majikannya.
Mendengar ucapan asistennya,dia langsung menoleh,tiba-tiba dia sedikit ada harapan,biar bagaimana pun juga dia selalu berusaha agar dia bisa hamil.
"Sudahlah bibi,mungkin inilah takdirku,tidak bisa memberikan keturunan kepada suamiku,aku sudah pasrah aku lelah bibi." Ucap Stella lalu dia beranjak pergi meninggalkan Iyem di dapur sendirian.
"Kasihan nyonya,aku akan mencoba menghubungi keluargaku agar mereka meminta obat yang di minum bibi sewaktu di kampung,aku tidak tega jika wanita itu terus-menerus menghina dia apalagi nyonya besar,dari dulu sampai hari ini dia tetap bersikap seperti itu." Ucap Iyem lalu kembali membereskan rumah milik majikannya.
Sementara itu Mawar merasa aneh dengan ucapan Stella barusan dia merasa Stella seperti mengetahui rahasianya.
__ADS_1
"Tidak mungkin,dari mana dia tau kalau janin ini bukan milik mas Hendra,mungkin dia berbicara seperti itu karena dia mandul." Suara hati Mawar.
Rini menatap ke arah Mawar,lalu dia memanggil Iyem yang sibuk membereskan belakang rumah.
"Iyem...Iyem......!!" Rini memekik memanggil Iyem,hingga dengan lari terbirit-birit Iyem menghampiri mereka berdua,napasnya terputus-putus saat dia sudah di hadapan kedua wanita itu.
"Lamban sekali kerjamu,dari tadi mama sudah memanggil,kamu ngapain saja di belakang?"Mawar menatapnya dengan sinis membuat Iyem ketakutan.Dari lantai atas Stella menatap kelakuan kedua wanita berbeda umur itu tapi sikap dan perilakunya sama persis membuat Stella semakin muak melihat sikap Mawar yahh semena-mena terhadap iyem pelayan yang paling di sukai nya.
"Buatkan susu untuk menantuku,dia pusing,majikan mu yang satu lagi membuatnya frustasi,seperti itu memang kalau wanita mandul suka iri sama yang bisa hamil." Ucap Rini.Iyem meninggalkan mereka setelah mereka selesai bicara dia mengelus dada mendengar ucapan nyonya besarnya.
"Umurnya saja yang sudah tua,tapi hati dan pikirannya masih anak-anak,harusnya dia membawa menantunya berobat sampai bisa hamil bukan malah mencibirnya bahkan menyuruh anaknya menikah."Suara hati Iyem sambil membuat susu untuk majikan keduanya.
πππbersambungπππ
__ADS_1