Istri Kedua Suamiku

Istri Kedua Suamiku
Bab 23 ~ Stella yang sudah mulai pintar ~


__ADS_3

Hendra beberapa kali menyuapi Stella,dan pemandangan itu membuat perasaan Mawar semakin memanas, tapi dia tidak bisa berbuat apa pun untuk saat ini.


"Aku udah kenyang sayang." Ucap Stella.Hendra memberikan minum untuknya setelah itu dia baru menikmati makan malamnya.Jessi dan Mawar hannya bisa menyantap makanan tampa selera,karena melihat pemandangan di depan mereka sudah membuatnya muak.


Setelah selesai makan malam,Hendra membawa istrinya kedalam kamar,disana mereka menghabiskan waktu dan berbicara banyak hal.Setelah kehamilannya Stella terlihat lebih ceria di tambah dia tidak banyak merasakan kesakitan apa pun apalagi muntah di pagi hari.


"Sayang,bagaimana pekerjaanmu apa semua lancar?" Tanya Stella saat mereka sedang duduk sambil bersandar di tempat tidur mereka.


"Semuanya lancar sayang,apalagi tadi siang aku baru saja teken kontrak dengan perusahaan dari Jepang,dan mungkin kita akan mendapat untung miliaran, sepertinya bayi kita ini memberikan rejeki yang baik untuk kita." Ucap Hendra,dia sedang membaca koran yang kebetulan ada di meja kecil di samping ranjangnya.


"Benarkah,syukurlah sayang,aku sangat bahagia mendengar itu." Jawab Stella lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.


Sementara itu Jessi baru saja masuk kedalam kamarnya,hatinya benar-benar panas saat melihat kemesraan Stella dengan hendra,sementara menantu pilihannya sedikit pun tidak dihargai oleh Hendra.


"Seharunya aku lebih pintar dari gadis kampung itu,sampai detik ini aku belum bisa percaya dia hamil,sementara dulu kata dokter yang memberikan obat itu rahimnya akan rusak seiring dengan berjalannya waktu." Ucapnya dalam hati.Dari tadi dia hannya mondar-mandir didalam kamar tampa melakukan apa pun.


Keesokan harinya saat Hendra sudah pergi bekerja,jessi keluar dari dalam kamar,hari ini dia ingin menguji Stella,karena selama ini dia sudah emosi melihat Stella yang selalu meremehkannya.


Stella membuat segelas susu hamil,lalu dia berjalan masuk kedalam kamar Stella karena pada saat itu kamar itu terbuka sedikit.


"Stella kamu sudah bangun,kenapa kamu tidak keluar dari dalam kamarmu kalau kamu sudah bangun." Ucap Jessi dia duduk di pinggiran ranjang.Kedatangan Jessi kedalam kamarnya tentu saja membuat stella curiga,apa pun yang di lakukan wanita itu sekali pun mulutnya mengatakan dia sudah bisa menerimanya stella selalu menjaga dirinya dan calon bayinya.


"Maaf ma,kepalaku sedikit pusing,jadi aku ingin istrahat dikamar saja." Jawab stella dia bangun dan duduk diatas ranjang.

__ADS_1


" Oohh...Ini mama buatkan susu untukmu."


"Biar saja dimeja ma,nanti aku minum."


"Minum sekarang saja selagi hangat."


"Tidak ma...Aku pusing,dan aku tidak selera untuk makan apa pun." Jessi langsung berdiri dan menatap sinis ke arah Stella.


"Dasar menantu kurang ajar kamu,aku sudah capek-capek membuat susu ini untukmu bukannya kamu hargai malah kamu menolaknya.Sekarang cepat minum." Ucap Jessi seraya menjambak rambut Stella dan memaksanya untuk meminumnya.


Melihat sesuatu yang tidak beres terjadi disana,Stella dengan kasar melepaskan tangan mertuanya lalu menampar gelas yang ada di tangan mertuanya hingga gelas jatuh keatas lantai dan pecah.


"Sampai kapan pun ma..Aku tidak akan percaya kepadamu,sekarang mama keluar dari dalam kamar sebelum aku laporkan semua perbuatan mama kepada mas Hendra." Ancam Stella membuat kemarahan di hati Jessi semakin besar.


"Kenapa ma...Masalah dengan Stella lagi ya..Sudahlah ma,lebih baik mama terima saja dia biar bagaimana pun kita tidak akan mampu membuat Hendra benci dengannya lihatlah semakin hari Hendra semakin mencintainya,aku juga sakit ma." Ucap Mawar.


Mawar sedikit bahagia hari ini karena dia mendengar kabar kalau David sudah mati dan mayatnya dibuang di sungai.Setelah sekian lama akhirnya seorang benalu hilang dari hidupnya dan itu membuatnya sangat bahagia.


"Sekarang tidak akan ada lagi yang menghalangi rencana ku untuk menjadi istri kedua dari pengusaha sukses di negara ini." Ucapnya dalam hati.


Sementara itu Stella keluar dari dalam kamarnya dan pergi ke dapur,karena perawat pribadinya sudah selesai memasak semua menu makannya.


"Mawar kamu ke meja makan, dan silahkan sarapan buatan suster itu,kamu juga harus memerankan statusmu menjadi istri kedua di rumah ini." Ucap Jessi.Dia menemani Mawar ke belakang dan saat itu Stella memasang wajah tidak suka terhadap mertuanya.

__ADS_1


Jessi terkadang heran dengan perubahan Stella dulu dia hannya istri penakut dan sangat takut kepadanya,jangankan memasang wajah tidak suka seperti itu, menatap mertuanya saja dulu dia tidak berani sangat berbanding terbalik saat sekarang setelah dia hamil.


"Stella kenapa dengan wajahmu,kamu tidak suka kalau aku dan Stella datang ke meja ini,menikmati sarapan buatan sang suster,ingat Mawar juga istrinya Hendra kamu jangan sok berkuasa di rumah ini." Ucap Jessi tidak kalah sinis dengan Stella.


"Aku istri sahnya,dan dia hannya istri siri dan aku tidak percaya kalau bayi itu milik mas Hendra."


"Plak....Kamu berani menuduh macam-macam tentang dengan menantu pilihanku,dasar wanita tau diri,ingat ya kamu hannya orang miskin yang kebetulan dicintai anakku,jangan bersikap seolah-olah kamu orang yang paling hebat disini." Ucap Jessi dengan wajah penuh kemarahan.


Stella memegangi wajahnya yang memerah akibat pukulan dari mertuanya,perawat yang menyaksikan itu merasa takut,dia tidak menyangka kalau hubungan keluarga dirumah majikannya begitu suram.


Stella tidak jadi makan,dia tidak ingin moodnya semakin buruk melihat mertua dan madunya makan dimeja yang sama bersama dirinya akhirnya dia memilih kembali kedalam kamar dan mengunci pintu dari dalam.


Sebisa mungkin Stella,selalu berusaha membuat hatinya tenang, dia tidak ingin hannya karena masalah kecil pikirannya menjadi stres dan itu bisa mengakibatkan hal buruk kepada calon bayinya,dia menjaganya sebisa mungkin karena ini adalah harta berharga dari Tuhan untuknya.


Perawat yang bekerja bersama mereka,tiba-tiba menghubungi Hendra dan meminta untuk keluar,dia kurang suka jika tinggal di rumah yang selalu ada keributan.


Hendra buru-buru pulang dari kantor saat perawat yang baru bekerja untuknya tiba-tiba minta keluar,padahal dia begitu sulit mendapat wanita sehebat dia.


"Kenapa tiba-tiba kamu mengundurkan diri,dimana istriku apa dia marah kepadamu,apa dia sulit di atur?" berbagai pertanyaan keluar dari mulut Hendra.


"Tidak tuan,aku hannya tidak suka tinggal di rumah yang penuh percekcokan_


"Siapa yang membuat keributan di rumah ini?" Tiba-tiba Jessi takut dia tidak menyangka kalau perawat itu berani mengadu kepada Hendra anaknya.

__ADS_1


πŸ’—πŸ’—πŸ’—bersambung πŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2