
...Hai guys!...
...apa kabar? baik? sama aku juga....
...selamat membaca ya!...
...🦢🦢🦢...
"Gak mungkin .... aku tinggal dirumah kamu. apa kata orang!"ketusku meliriknya dengan tatapan tajam.
Ega cuek bebek. "kalo kamu gak mau ya aku bakal tetap diam disini sampai mau."
"Kok gitu?"
"Bunda gak bakalan buka'in pintu sebelum aku pulang bawa kamu!"
"Segitunya?"
"Ya kamu lah. tanya diri kamu, heran, kenapa bunda bisa selengket itu maunya kamu."
Aku membau hawa-hawa gak enak nih. ku tatap Ega dengan seksama sekali lagi, meyakinkan diriku yang nampaknya linglung sendiri disini.
"Bu--bunda kamu gak punya maksud lain, kan? suruh aku ikut kamu?"tanyaku meliriknya.
cowok itu memasang senyum mencurigakan di sana.
"Kamu bisa tanya itu nanti sama bunda."
Sial!
"Harus banget nih? pindahnya sekarang?"
"Iya. kamu gak mau kan, di kosan berdua aja sama aku? keburu kita di grebek lagi sama tetangga, terus di paksa nikah."
"Dih! gak usah ngaco kamu! ogah tau nikah sama kamu!"
Ega terkekeh saja. aku heran dia kenapa. gak mau pikir panjang akhirnya aku memutuskan untuk ikut Ega. bukan soal gampang dibujuknya, cuman, karena mikir resikonya kalo Ega gak pergi dari sini sampai pagi lagi.
🦢🦢🦢
"Assa-"
"DEZARAA!!"
Belum selesai bilang assalamualaikum. yaudah deh, dalam hati aja.
"Eh. bunda? apa kabar bunda?"jawabku tersenyum ramah. biasalah, cipika-cipiki, cium pipi, dipeluk.
"Bunda baik kalo kamu baik."
"Aku baik bunda."
"Alhamdulillah ...."
"Ayah mana?"
"Lagi ngurus sesuatu. yaudah, ayo masuk!"
Di ruang tamu aku berbincang-bincang banyak sama bunda. sesekali bercerita tentang kehidupan ku, dia juga begitu, ceritanya panjang, ujung-ujungnya malah nyangkut ke Ega.
"Jadi gimana Zar. udah siap rencana mau nikah?"
mataku membelalak. siapa yang mau nikah, pikirku.
"Me--menikah?"ulangku bertanya. bunda mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.
"Iya."
"Menikah sama siapa bun? imamnya aja belum punya. yang ada di tinggal nikah."
"loh. siapa bilang belum ada? kan sama Ega, toh?"
__ADS_1
UHUK-UHUK!
Mataku membelalak hebat. aku melirik cowok yang duduk di kursi single sambil mendengarkan cerita kami. ia seolah tuli dan cuek sambil berkutat dengan handphone ditangannya.
"Ma--maksud bunda? menikah? aku sama Ega?"
"Iya Dezara ...."
"Tapi bund. aku gak bilang kalo aku sama Ega mau menik-"
"Bukannya tadi kita udah sepakat?"potong cowok itu.
"Ha?"aku menatapnya dengan pandangan lurus dengan bengong.
"Bukannya tadi kamu sudah bilang mau menikah sama aku?"
"Apa?"
Aku mengernyitkan dahiku. sejak kapan? kapan aku bilang mau? dia gila atau amnesia sih? tapi dari tatapan Ega seolah dia ingin aku nurut saja sama perkataannya. tapi mana bisa gitu? aku belum siap!
"Ega, aku-"
"NAH! BAGUS!"bunda bertepuk tangan heboh. sedangkan aku masih melongo kayak orang gila yang gak tau apa-apa, dan akar permasalahannya itu juga apa. langsung aja gitu.
"Jadi, kapan acara pernikahannya dilakukan?"tanya bunda.
"Minggu depan aja, gimana?"
Kami semua melirik kearah pintu utama.
"Ayah!?"
Ayah tersenyum datang menghampiri ku.
"Apa kabar, Zar?"tanyanya lembut.
"Aku baik,"jawabku menyalaminya.
Artinya di jebak dong akunya?
"Ayah udah urus resepsinya."
mati aku.
"Tapi aku belum siap menikah,"beoku sedikit gugup.
Bunda memelukku. "Biasa kok sayang. nanti kalo sudah menikah pasti rileks kok,"katanya.
"Jadi mau kan, nikah sama Ega?"
"Ega nya gak mau menikah sama aku,"kataku. aku melirik Ega seolah memintanya mengiyakan saja ucapanku.
Sayangnya seringai'an devils cowok itu membuat seketika perasaan ku jadi gak enak.
"Siapa bilang gak mau? Ya mau-mau aja sih. gak masalah. yaudah, ayo menikah!"
HA??????
🦢🦢🦢
Aku masih menatap Ega yang dari tadi sok sibuk itu. aku berkali-kali menghela nafas bersandar di tiang pembatas. sambil menatap langit di balkon. Ega mah diam, main handphone terus.
"Ga. aku tau ini gak lucu, gimana sih, kok bisa? kamu ... gak mau jelasin sesuatu sama aku? aku bingung banget Ga, sumpah,"keluhku akhirnya buka suara.
cowok itu diam.
"Aku gak percaya kalo endingnya kita dipaksa menikah. aku-"
"Gak ada yang maksa. bukannya janji kamu sendiri?"
Dahiku berkedut. "maksud kamu? janji apa?"tanyaku bingung.
__ADS_1
Ega mengarahkan handphonenya di depan wajahku.
"Tanggal lima belas oktober beberapa tahun lalu sebelum kita putus. kamu datangi bunda sama ayah, nangis-nangis sama mereka supaya nikahin kita dan supaya gak ada lagi kata pisah diantara kita. sekarang udah di wujudkan sama mereka kamu malah kayak gak ingat apa-apa?"
Aku diam.
"Itu dulu, sekarang gak berlaku lagi, kan?"ujarku memohon.
"Janji adalah janji Zar. aku gak masalah kalo kita diharuskan menikah. siapa tau, akan hadir yang namanya kesempatan kedua, bersemi lebih indah, kan?"katanya.
"Tapi aku tau. yang kamu cintai sekarang udah bukan aku."
"Emang perlu banget kata cinta terucap?"
"Perlu Ega ... menikah itu bukan sekedar sah dan serumah. tapi perkara hati, komitmen, ridho dan saling membahagiakan dunia akhirat."
"Yaudah. kita mulai dari awal."
"Maksud kamu?"
"Mulai dari pertama kita ketemu. sebelum aku dan kamu jadi satu. kita ulangi, kalo gak berhasil udah. simpel kan, Zar?"
Aku membeku. ku tatap mata indahnya, yang menjadi favoritku dulu. mungkin sekarang pun masih. tapi aku enggak yakin. ada juga sedikit rasa takut, mengingat bagaimana jahatnya Ega ninggalin aku waktu itu.
"Atau kamu masih belum bisa maafin aku, Zar?"
Ega tau banget isi pikiranku.
"Akan aku coba,"jawabku.
"Jadi, mau, menikah?"
"Insyaallah, Ega ....."
Cowok itu tersenyum. aku gak tau kenapa.
"Malam ini kamu tidur di kamar aku, kamar kamu belum di benerin, temboknya ada yang retak. aku tidur di ruang keluarga, lumayan ada ranjangnya disana."
Aku menghela nafas. "Aku aja yang disana,"kataku.
Ega menggeleng. "Keburu bunda usir aku tidur di luar."
Kami pun terbahak.
Aneh sih. baru kali ini gak canggung sama mantan. dulu aku pikir kalo ketemu Ega bakal canggung terus, tapi kenyataannya gak sama sekali. malah biasa aja, udah kayak, oh dia gitu, udah maklum.
"Zar."
"Iya?"
"Masih cinta sama Danu?"
"Gila aja. cinta sama suami orang?"
"Hahahaha. miris ya, ditinggal muluh."
"Gak usah ngeledek. padahal kamu juga salah satu diantara'nya."
Ega mengangguk mengiyakan. "Maaf."
"Buat?"
"Kesalahan-kesalahan lama."
Aku tersenyum. "Gak masalah. sebelum mantanan sama kamu juga, kamu dulunya temen aku."
"Temen kecil?"
"Iya. suka mandi hujan bareng."
Kami pun terbahak-bahak. seolah hilang pikiran-pikiran yang tadinya mengganggu dan berkecamuk di isi kepala.
__ADS_1