Istri Pilihan Bunda

Istri Pilihan Bunda
C5 (Sayang)


__ADS_3

Aku bersandar di tiang pembatas di balkon atas. usai teman-teman ku pulang rasanya tuh kembali sepi. Ega masih belum pulang, ayah sama bunda juga begitu.


Mau beres-beres gak bisa, gak di bolehin.


Kling.


Aku membuka chat. aku lupa kalau belum menghapus WhatsApp Danu.


Sayang


Zar, kamu dimana? aku ke kosan kamu kata orang-orang disana kamu sudah pindah.


Aku sendiri berdecak bagaimana bisa nama panggilannya bahkan belum aku ubah. aku mulai mengetik balasan, namun saja tangan seseorang dengan tanpa pamitnya merebut handphone yang sedang aku genggam.


"Oh,"Ega ber'oh ria. melihat chat masuk.


"Ega?! kamu, kapan pulang??"tanyaku keheranan. aku benar-benar gak sadar dia sudah ada disana. sumpah.


"Masih cinta sama pengkhianat itu? hm?"aku merinding saat Ega seketika memelukku dari belakang. hawanya nampak dingin, dan sedangkan handphone milikku ia lempar terjun kebawah. suara benda jatuh, tentu handphone ku korbannya.


"Ega itu handphone aku satu-satunya!! bagaimana bisa kamu buang gitu aja?!"jeritku.


Cowok itu acuh saja. "Rugi handphone-nya rusak, atau ... rugi kehilangan kesempatan chat mantan? sayang?"


Bulu kudukku bergidik, Ega cemburu? aku gak tau. tapi aku kayak di kelilingi hawa negatif mendengar suara Ega yang masih saja terus memelukku erat.


"Ega lepas!"kataku berontak. namun ia tetap menahanku. "Ega please, aku mohon lepasin aku,"ujarku mengecilkan nada suara. sepertinya menghadapi Ega harus ekstra hati-hati. apalagi posisinya yang sulit ketebak kayak gini.


"Oke,"jawab cowok itu singkat kemudian melepaskan ku.


"Besok kita nikah!"


Mata ku membelalak. menikah? besok? tidak mungkin, yang benar saja?


"Bukannya masih beberapa hari lagi??"protesku.

__ADS_1


Aku tak paham tatapan dingin cowok itu. aku gak mau menerka-nerka kalau dia sedang marah karena cemburu Danu chat aku atau nama Danu yang belum ku ubah tadi.


Cowok itu tetap pada raut dinginnya. "Gue yang tentukan! besok, kita nikah! siap gak siap lo, harus siap! kalo lo kabur, lo tau akibatnya!"ujarnya kemudian menarikku kepelukannya dengan kasar.


"Gak ada satupun cowok yang boleh gangguin istri pilihan bunda buat aku, Dezara ... sekalipun dia mantan yang masih kamu cintai atau bahkan! orang yang kamu cintai. sejatinya takdir kamu adalah kembali kepadaku. ingat itu!"


🦢🦢🦢


Di meja makan ayah dan bunda sangat senang tentang Ega yang mengatakan pernikahan kami akan di majukan dan di langsung kan besok. sedangkan aku hanya diam menatap sepiring nasi yang tidak ku sentuh sama sekali.


"Jadi, kamu sudah siap sayang?"tanya bunda melirikku. aku yang gelagapan langsung tersenyum saja. "Alhamdulillah ... bunda senang dengarnya. dan almarhum orang tuamu juga bakalan senang karena wasiat mereka terkabulkan,"sambung mama berkata.


Aku mengernyit. wasiat? jadi, orangtua ku juga sudah berpartisipasi dalam hal ini? kenapa aku baru tau sekarang. aku diam tanpa ingin bertanya. dan Ega tanpa ku sadari tangannya sudah menjalar ke pahaku.


Sial!


Aku menendang kakinya, menghardiknya dengan tatapan tajam. ia hanya menyeringai seperti tidak takut sedikitpun dengan tatapan maut ku.


"Persiapkan diri dari sekarang. malam pertama kita gak ada penundaan."


Deg.


"Loh. Zar, kenapa nasi mu gak di makan? makan ya, nanti sakit loh. besok kan pernikahan kalian,"kata bunda memberikan beberapa sayuran hijau di piringku.


"Iya. calon istri harus banyak di kasih sayuran bund, biar cepet ngisi nantinya,"sambung Ega lagi dan lagi membuatku hampir sesak nafas. ia mengelus puncak kepalaku tanpa perduli bahwa aku sedang mati-matian menahan gejolak emosi dalam diriku ini.


"Nah. begitulah kamu, harus selalu perhatikan istrimu nantinya, dan sempatkan waktu bersama Dezara."kata ayah juga.


"Pasti,"jawab Ega santai.


"Bagaimana jika bulan madu kalian ke bali?"tawar ayah.


"Bu--bulan madu yah?"ulangku.


"Iya. pulangnya pas udah ngisi, ya Zar,"sambung bunda.

__ADS_1


Mati aku. yatuhan, gimana ini, aku takut banget. lihat saja Ega terus menyeringai sedari tadi.


"Kayaknya gak perlu deh bund, yah. disini aja, Zara gak perlu jauh-jauh, disini juga bisa, kan, buat anaknya?"ujarku keceplosan.


Hening. Ega terbatuk-batuk menatapku. aku sendiri menutup mulutku yang tidak bisa di kendalikan ini.


"Ups. so--sorry, maaf, gak sengaja, gak sengaja! serius!"kataku cepat.


Ega pun tersenyum. "Bisa kok sayang. dimana pun selalu bisa, asal jangan di sopa depan TV ya??"godanya membuat pipiku bersemu merah.


Kenapa jadi ambigu sih? aku kan malu banget. apalagi bunda dan ayah ada disini. Ega benar-benar gak bisa memfilter ucapannya.


"Ma--maksud aku, maksud aku bukan gitu loh Ga, maksud aku-"


"Iya tau. maksud kamu maunya di tempat yang tertutup kan? yang hanya ada kita berdua? tenang aja. aku tau kok dimana kita buatnya."kata Ega lagi.


Bunda tersenyum. "dikamar aja, kedap suara, bebas kok mau gaya apa,"sambungnya juga.


"Asal jangan di kolam renang ya sayang?"sambung papa ikut bicara.


🦢🦢🦢


"POKOKNYA GAK ADA MALAM PERTAMA!"tekanku kepada Ega.


Cowok itu bersedekap acuh. "Istri itu harus patuh sama suami. melayani suami adalah tugas istri. menafkahi lahir batin pun tugas istri,"ujarnya.


"Udah. tenang aja kok, masih besok, malam ini tidur yang nyenyak ya. see you malam besok! kita tempur!"


Aku menatap kepergian Ega dengan jengkel. sangat teramat jengkel.


"ARGHHHHH!!!"jeritku di kamar sepertinya hampir gila karena Ega. baru kemarin dia sangat manis. sekarang sudah berubah menjelma seperti iblis.


Ega itu ambigu dari dulu, jadi gak heran kalo yang di otaknya itu seputar hal negatif meluluh. cuman, setau aku Ega gak benar-benar pernah melakukan hal-hal berbau ***, sebab, yang ambigu itu otak dan ucapannya saja. tapi tindakannya tidak mencerminkan hal itu. karena itu aku memberi toleransi mau menjadi pacar Ega dulu.


Mungkin sekarang pun masih ada toleransi untuk cowok itu. cowok yang namanya mungkin masih terukir indah di himpitan-himpitan kenangan bersama Danu. jujur, di samping Ega aku gak pernah ingat Danu. sedikitpun bayangan tentang Danu gak melintas. selalu Ega, Ega, dan Ega yang mengisi ruang pikiranku sekarang.

__ADS_1


"Ega ... akankah kembali mu memberiku rasa dan berakhir dengan ending yang sama? pergi setelah aku mulai terbang. menjatuhkan ku ketika aku sudah hanyut dan melayang di bawa awan."


Aku takut trauma itu balik lagi, trauma tentang kehilanganmu kedua kali ....


__ADS_2