
^^^Jika cinta berarti butuh lalu pertanyaannya adalah di mana letak kata tulus?^^^
^^^"Linda Bara"^^^
Defran mengejar istrinya yang pergi keluar dari kamarnya dalam keadaan kesal.
"Dania tunggu," Panggil nya agar sang istri berhenti, agar sang istri menoleh kepadanya. Namun yang di panggil terus berjalan menuju dapur.
Dania tidak ingin nyonya besar rumah ini memarahinya, bagaimana pun mama suaminya itu belum tahu jika Dania adalah menantunya sendiri. Mertuanya itu hanya tahu jika Dania adalah seorang pembantu dan Dania akan bersikap seperti pembantu pada umumnya.
"Maaf bi Sum, Nia ketiduran. Ada yang bisa Nia bantu di sini?" Tanyanya merasa bersalah, tubuh mungilnya memang mudah sekali lelah.
"Tak apa Nia, kau mungkin lelah tadi. Sekarang bantu bibi meletakan semua makanan ini ke atas meja." Kata Bi sum tersenyum tulus.
"Wah wah pembantu gatel, enak tidurnya?" Sinis Titin tak suka. Dania hanya tersenyum tidak menghiraukan ucapan Titin.
"Ah baiklah bi, sini Nia bawain." Dania mengambil piring berisi lauk pauk dari tangan bi Sum, Defran yang berhasil menyusulnya tentu saja melarang Dania. Defran tahu istrinya itu telah begitu lelah.
"Sayang jangan lakukan itu, biarkan bi sum yang melakukannya." Defran mengambil alih piring berisi lauknya menaruh kembali ke tangan bi Sum. Dengan gerakan cepat Dania sudah dalam pelukan nya, bi Sum dan Titin melotot di buatnya, heran dengan kelakuan tuannya dan pembantu baru persis seperti pasangan suami istri yang sedang bertengkar.
"Tuan Defran aku sedang bekerja, jadi tolong jangan ganggu!" Dania melepaskan tangan suaminya itu, agar berhenti mengganggunya.
"Aku tak peduli Nia dan tolong dengan sangat jangan panggil aku tuan, aku tak suka." Defran menunjukan wajah tak sukanya, bibirnya cemberut tapi istrinya itu tidak peduli.
"Terserah mu saja!" Dania berlalu dihadapan suaminya mengambil kembali piring berisi lauk itu dan meletakkannya ke atas meja.
Defran yang tak dipedulikan kembali kecewa, muka cemberutnya tak berhasil meluluhkan sang istri. Defran kembali mendekati Dania kembali, dia tidak ingin menyerah begitu saja.
"Sweetheart berhenti berperan jadi pembantu, aku akan mengajakmu honeymoon." Tawarannya tidak dipedulikan Dania, istrinya itu terus berperan sebagai Art nya.
"Ayolah sayang kita ke..." Dania menolaknya dengan satu kata.
"Tidak."
Defran bertanya meninggikan suaranya, "kenapa?" Dengan muka sangat datar, Dania menyindir suaminya itu.
"Karena aku hanya seorang pembantu bukan istrimu."
"Kau istriku Dania," Defran tidak terima dengan ucapan Dania, Bi Sum dan Titin yang melihat pertengkaran mereka menutup telinga mereka. Mereka tentu terkejut dengan pengakuan Defran.
"Tapi keluargamu hanya tahu kalau aku pembantumu dan kau majikanku, jadi bersikaplah seperti majikanku." Ucapan Dania menusuk langsung ke hatinya.
"Baiklah akan ku beritahu bahwa kau istriku sekarang juga." Defran tak tahan lagi, memang sudah seharusnya dia mengakui Dania sebagai istrinya.
"Tidak perlu, aku tak mau membuat mereka tak enak hati nantinya. Oh yah tolong panggil keluargamu kalo makan malam sudah siap." Perintah Dania padanya.
"Tapi sayang kau akan kesusahan kalau aku tidak memberitahu yang sebenarnya." Defran khawatir dengan tingkah istrinya itu.
"Aku sudah biasa melakukan hal ini, jadi jangan khawatir! Aku akan ke dapur suamiku," Dania mencium pipi Defran singkat lalu berlari ke dapur.
"Dania awas kau." teriak Defran tersenyum memegang pipi bekas kecupan sang istri, Dania tak marah kepadanya.
Semua keluarga Defran sudah berkumpul untuk makan malam, tentunya kecuali Dania. Defran menekuk mukanya kesal dia ingin mengakui jika Dania istrinya tapi istrinya malah melarangnya. Defran heran apa sebenarnya yang ada di kepala istrinya itu kenapa dia mau- maunya di anggap pembantu di rumahnya, jelas- jelas menjadi istri defran berarti Dania bisa jadi nyonya.
Semua orang yang berkumpul heran dengan Defran yang hanya memanyunkan bibirnya tanpa memakan makan malamnya.
" Kak lo kenapa? Dari tadi aku liat muka Kakak di tekuk gitu. Makanan lo juga belom disentuh sama sekali, lagi PMS yah?" Goda Devana adiknya.
"Def, kamu kenapa sayang?" Tanya Maura khawatir dengan putranya itu, jangan-jangan gara-gara Dania lagi, Maura benar-benar kesal dengan perempuan itu.
"Gak papa lagi bete sama Dania." Aduh nya kesal, tidak sadar jika dia menyebut nama istrinya itu.
"Siapa Dania?" Tanya Wildan papanya penasaran, karena setahu Wildan Defran tidak pernah dekat dengan perempuan.
"Dania itu pembantu baru kita pa, baru hari ini dia kerja." Maura menjelaskan.
"Ma, Dania bukan pembantu." Defran tidak terima dengan penjelasan mamanya.
__ADS_1
"Cantik gak Dania ma?" Wildan ingin menggoda putranya itu.
"Jelek dan gatel." Jawab Maura, sebenarnya Maura mengakui jika pembantu barunya itu memang cantik tapi dia tidak mungkin memuji gadis menjengkelkan hatinya.
"Nia cantik yah ma dan dia gak gatel, Defran gak suka menjelekkan Dania." Defran ngambek kepada sang mama menghempaskan sendok kepiring nya.
"Aku jadi penasaran sama kak Dania, kok bisa buat mama sama anak manjanya ini beda pendapat." goda Devana tertawa senang.
"Papa juga Nana penasaran kalo cantik kan lumayan bisa di jadiin istri muda," ucapan Wildan terhenti karena Maura mencubit pinggangnya.
"Au sakit ma," Jerit Wildan kesakitan.
"Mangkanya udah tua, jangan berani- berani buat selingkuh apalagi sama anak ganjen itu." Maura mendengus kesal memukul Wildan berulang- ulang.
"Ma jangan pernah bilang Dania ganjen dan papa sedikitpun papa mikir buat jadiin dania istri muda, Defran gak segan- segan bunuh papa. Dania itu cuma milik Defran, cuma milik Defran. Bentaknya menekan, kalo Dania miliknya, lalu karena kesal Defran berdiri meninggalkan meja makan.
"Ada apa ma sama anak itu?" Wildan heran putranya itu jarang sekali marah padanya apalagi meninggalkan meja makan.
"Iya ma gak biasanya kak Def ngambek gitu," timpal Devana yang juga ikut merasa heran dengan kakaknya.
"Gak tau mama." Jawab Maura ketus berpikir sebenarnya apa hubungan anaknya dengan pembantu baru di rumahnya.
Dania sedang membuat susu hamil untuk dirinya sendiri bagaimanapun dia sangat menyayangi janin dalam kandungannya.
" Kita minum susu dulu yah sayang, biar kamu sehat mama juga sehat. Mama menyayangimu sayang." Dania sambil mengelus perutnya lalu meneguk susunya, Dania dikejutkan oleh gadis remaja cantik yang kalo Dania pikir seumuran dengan adiknya Wulan.
"Ehem kakak yang namanya kak Dania ya?" Tanya Devana tersenyum ramah.
"Iyaa, kamu siapa?" Tanya Dania penasaran, kenapa ada gadis muda di rumah ini. Apa dia saudaranya Defran.
"Kakak lagi hamil yah? Oh yah kenalin aku Devana Arisa Olvio adiknya kak Defran." Devana mengulurkan tangannya, Dania menyambutnya.
"Gak kok, aku gak hamil Non," elak Dania takut orang mengetahui keadaannya.
"Udah gak usah bohong kak, aku tau kakak hamil itu susu buat ibu hamil." Devana menunjuk bungkus susu hamil Dania.
"Ok aku gak bakal kasih tau asalkan kakak mau jadi kakaknya aku?" Ancam Devana membuat Dania terheran-heran.
"Kenapa? Kakak cuma pembantu di sini." Tanyanya penasaran.
"Aku dari dulu pengen punya kakak cewek, papa juga ngizinin kok kakak jadi kakak aku. Entar kakak aku kenalin sama papa yah." Devana memeluk Dania bahagia
"Him iya deh boleh kakak juga mau punya adek selucu kamu."
"Oh yah kakak sama kak Def lagi marahan yah?" Tanya Devana penasaran, Dania menggeleng.
"Setahu kakak gak Va." Jawab Dania mengingat.
"Kalo boleh tahu ayah dari janin kakak itu kak Def bukan?" Devana mencoba mengorek informasi.
"Dia anak suami kakak Va." Dania mengelus perutnya.
"Oh jadi kakak udah menikah? Padahal aku berharap kak Def bisa sama kakak. Pantes aja kak Def galau banget." Jawab Deva kecewa.
"Iya kakak udah menikah 4 bulan yang lalu, lagian apa kata orang kalo kakak hamil tanpa bersuami." Jujur Dania.
"Lalu kenapa kakak jadi kerja di rumah ini?" tanya Devana penasaran.
"Kakak butuh uang dek." sesal Dania sedih.
"Kalau begitu kakak kerja saja denganku, jangan di rumah ini. Lagian suami kakak kok tega sekali membiarkan kakak kerja dalam keadaan hamil begini."
"Suami kakak sangat baik kok va, hanya saja kan kami butuh uang." jelas Dania membela sang suami.
"Oh begitu, tapi tetap saja kak! Kakak tinggal di sini, betah sekali dia berpisah dari kakak."
"Betahlah wong dia punya tunangan." Ucap Dania keceplosan.
__ADS_1
"Apa suami kakak punya tunangan? Sumpah jahat banget dia sama kakak, kalo aku ketemu ku habisin dia." Devana ingin membunuh suami Dania jika bertemu.
"Suami kakak seperti itu bukan karena dia gak sayang sama kakak tetapi dia gak mau ngecewain mamanya, mangkanya dengan sangat terpaksa dia tidak mengakui kakak." Cerita Dania sedih.
"Gak kak, suami macem itu mesti di cincang, mending kakak cerai aja sama suami kakak, terus nikah sama kak Def." tawar Devana yang membuat Dania menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini ada- ada aja va." Kata Dania tertawa.
"Oh yah kak, aku ke kamar kak Defran dulu" Deva berlalu menuju kamar sang kakak.
"Va, yang tadi tolong di rahasiakan yah." ucap Dania penuh harap.
"Oke kakakku sayang, bye my nephew." Deva mencium pipi Dania lalu pergi ke kamar Defran.
"Hem ada- ada aja aunty kamu yah sayang, tetep sehat yah anak mama, hari gak apa yah kita gak tidur sama papa sayang." Dania seolah menenangkan anaknya.
Devana mengetuk kamar Defran.
Tok tok tok
"Kak Nana boleh masuk?" Tanyanya dari luar.
"Masuk aja dek! Ada apa?" Tanya Defran fokus dengan hpnya.
"Gak ada apa-apa sih kak cuma aneh aja ngeliat muka kakak ditekuk tadi." Devana mendudukkan dirinya di samping kakaknya itu.
"Tumben kamu perhatian sama kakak, Nana?" Ucap Defran heran.
"Kakak kan kakak satu- satunya aku jadi wajarlah kalo aku perhatian, oh yah kak aku tadi udah ketemu kak Nia. Cantik banget orangnya," Cerita Deva antusias.
"Iya Dania emang cantik," Ucap Defran menerawang mengingat pertama kali melihat Dania hatinya langsung berdebar.
"Kakak suka yah sama kak Nia?" Devana ingin memastikan.
"Bukan suka lagi, tapi kakak sayang banget sama dia, sekarang kakak ngerasa bersalah sama Nia." curhatnya penuh sesal karena terlalu sering membuat istrinya itu sakit hati.
"Oh jadi ini yang bikin kakak murung? Tenang aja kak jodoh gak kemana, suami kak dania tuh jahat banget. Nana mah lebih suka kak Def yang jadi suaminya kak Nia daripada lelaki brengsek itu, tapi itu yah kak nia itu sayang banget sama suaminya." Ucap Devana berusaha menenangkan kegundahan kakaknya.
"Dari mana kamu tahu kalo Dania udah nikah?" Tanya Defran heran.
"Kak Nia cerita," jawab Devana cuek.
"Dek, kakak mau temui Nia dulu." Defran meninggalkan kamarnya.
"Eh kak kenapa aku di tinggal." teriak Devana karena Defran sudah tidak ada lagi di kamar maskulin khas lelaki itu.
Tok tok tok
"Dania, Dania buka pintu aku mau ngomong." Defran menggedor pintu kamar Dania.
"Eh tuan ada apa manggil Dania?" Ucap Titin membukakan pintu.
"Dania mana?" Tanya Defran tak sabar.
"Dania udah molor dia mah pemalas orangnya." Aduh Titin kesal.
"Tolong bangunin!" Perintah Defran tidak peduli dengan ucapan Titin yang tidak penting menurutnya.
"Dania bangun lo dipanggil tuan Def." Titin mengguncangkan bahu Dania yang kemudian membuka matanya.
"Eh anu mbak ada apa bangunin Dania?" Tanya Dania sebenarnya kesal tapi tidak di tunjukan nya.
"Lo dipanggil tuan Def, ganjen sih." Cibir Titin tak suka, Dania tidak peduli dengan apa yang keluar dari mulut Titin, langkanya langsung keluar menemui Defran suaminya dengan muka bantal tanpa di cuci.
"Ada apa tuan Def memanggil saya?" Dania menggoda suaminya itu, Defran langsung memeluk tubuh Dania sangat erat, entah angin apa yang menghampirinya.
"Sayang aku mencintaimu, sangat mencintaimu sayang." Ungkapnya selanjutnya penuh binar kerinduan didalamnya.
__ADS_1
Bersambung....