Istri Yang Di Bayar (Dania Bella)

Istri Yang Di Bayar (Dania Bella)
Part 11


__ADS_3

^^^Karena cinta bukan perkara baik dan buruknya pasangan tapi tentang perasaan di dalamnya.^^^


^^^Dania Bella^^^


"Aku juga mencintaimu Def." Ujar Dania malu sambil menyembunyikan kepalanya di dada suaminya itu, Defran begitu bahagia ternyata istrinya juga memiliki hati untuknya.


"Dania, lihat aku. Kau juga mencintaiku? Kau mencintaiku?" Tanya Defran ingin memastikan apa yang didengarnya, ia mengendurkan pelukannya lalu mengangkat dagu Dania yang tertunduk malu.


"Hehe, aku aku gak tau Def tadi asal bicara." jawab Dania gugup.


"Akui sayang kau juga mencintaiku kan? Tolong aku ingin mendengarnya!"Defran memohon agar istrinya itu jujur dengan apa yang dirasakannya.


"Iya aku mencintaimu Defran, sangat mencintaimu." Dania tersenyum tulus mengakui hatinya.


"Terima kasih sayang karena sudah membalas cintaku." Kata Defran memeluk Dania kembali sambil mengecup puncak kepala Dania.


"Aku yang seharusnya berterimakasih Def karena kau mau menjadikanku istrimu."


"Sejak kapan kau mencintaiku sayang?" Tanya Defran penasaran.


"Entahlah Def mungkin sejak kau menikahi ku. Karena bagiku sudah sepantasnya seorang istri mencintai suaminya dan kau suamiku. Akan tidak adil jika aku tak belajar mencintaimu, meski kau menikah denganku dengan menodongkan pistol ke arahku. Aku harus dan sudah menerimamu." Ucap Dania malu menyembunyikan kepalanya di dada sang suami.


"Maaf sayang aku memaksamu, aku ingin memilikimu seutuhnya. Lagian kau tak ingin kku dekati jika statusnya hanya sebagai pacar, kau seolah memberi kode untuk aku nikahi waktu itu." Goda Defran memeluk gemas sang istri.


"Tak apa Def, aku menyukai paksaan mu lagian aku menikahi pria kaya juga tampan, jadi tak ada ruginya bagiku." Dania tertawa kecil, hatinya membuncah bahagia. Pengakuan bahwa Defran mencintainya, membuat hatinya berbunga.


"Kau bilang aku tampan sayang?" tanya Defran memencet hidung sang istri gemas.


"Tentu suamiku sangatlah tampan dan juga seksi." Kata Dania memegang hidungnya karena menahan sakit di hidungnya.


"Terimakasih sweet heart ku, aku sangat sangat mencintaimu." Defran mencium puncak kepala sang istri.


"ayo kita tidur sayang." Ajak Defran.


"Ayok," jawab Dania melepaskan pelukan suaminya itu lalu melangkah menuju tempat tidurnya sekarang yang berada di kamar Titin.


"Kenapa kau mengikuti ku? Ini bukan kamarmu tuan Defran." Tanya Dania heran dengan tingkah sang suami.


"Aku ingin tidur memeluk istriku dan jangan memanggilku tuan atau kau ku cium!" Ancamnya tidak suka.


"Kau mau tidur di kamar Titin denganku." Tanya Dania mengejek.


"Iya, asal dengan kamu." jawab Defran mengedipkan matanya lucu.


"Sana ke kamarmu, kau tak akan betah Def." Dania mengusir suaminya itu dengan tangannya.


"Jika begitu maka kau yang harus ikut denganku tidur di kamar kita." Defran mengendong Dania ke lantai atas menuju kamarnya.


"Turunkan aku Def, nanti mama kamu lihat." Dania berteriak tak suka, menendang-nendang kakinya ke udara.


"Tidak akan sweetheart."


"Dasar suami pemaksa," teriak kesal Dania.


"Kau menyukainya Dania, kau menyukai suami pemaksa mu ini." Jawab Defran percaya diri membuka pintu kamarnya dan ternyata masih ada Devana adiknya.


"Kak Def, kak Nia kenapa?" Tanya Devana khawatir.


"Turunkan aku Def," perintah Dania. Defran menurunkan istrinya ke ranjang milik mereka.


"Kau harus tidur bersamaku sayang dan kau anak kecil cepat pergi dari kamarku!" Perintah Defran mengusir adiknya. Devana tidak menghiraukan Defran dia malah mendekati Dania.


"Kak Nia tidak apa- apa? Apa ponakanku baik- baik saja?" tanyanya dengan raut khawatir.


"Aku baik deva tak perlu khawatir dan ponakan kamu baik- baik saja Va." Dania tersenyum.


"Ponakan- ponakan apa? Tolong jelaskan kalian ini ada apa kenapa ada ponakan?" Tanya Defran tidak mengerti dengan arah pembicaraan istri dan adiknya itu.


"Maaf kak Nia, aku keceplosan." Ucap Devana pelan merasa bersalah.


"Nia, jelaskan apa maksud ponakan itu!" Defran meminta kejelasan dari ketidak mengertiannya.


"Bukan apa- apa Def, aku lelah mau tidur." Dania mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Oke, jika kau tak mau jelaskan, sekarang kau Nana jelaskan siapa ponakan yang kau maksud? jawab dengan jujur kalo tidak aku akan mengirim mu ke asrama dan jatah bulananmu ku kurangi." Defran mengancam adiknya memaksa memberi tahu kebenaranya.


"Maaf kak Nia sekali lagi karena posisiku mepet aku akan berkhianat."


"Deva tolong jangan di jawab pertanyaan lelaki pemaksa ini!" Dania memohon.


"Maaf kak tapi aku tidak bisa berbohong dengan kakakku." Devana berucap menyesal.


"Nana jawab kalau tidakk....." Ucapan Defran terhenti.


"Ponakan itu anak yang di kandung kak Nia dan suami jahatnya. Kak nia maaf keceplosan lagi." pekik Devana cepat.


"Sweetheart kamu masih hamil? Kamu tidak menggugurkannya. Ya Allah sayang, terimakasih." Defran bahagia dengan kenyataan jika istrinya masih hamil.


"Tolong jelaskan kenapa kamu sembunyikan ini semua Dania, kenapa kamu bilang kamu menggugurkannya, tolong jelaskan semuanya kepadaku sayang!" Dia meminta penjelasan istrinya itu.


"Besok saja aku mengantuk Def."


"Sekarang Dania, jelaskan sekarang? Kalau tidak kamu ku perkosa karena telah membohongiku." Ancam Defran.


"Sudah lama kita tidak bermain ranjang." Bisiknya kemudian yang membuat Dania merinding.


"Jangan perkosa kak Nia kak, kak Nia lagi hamil hiks hiks, lagian kasian kak Nia kalo suaminya tau kak Nia diperkosa." Devana menangis merasa bersalah.


"Drama kalian benar- benar bagus yah Nia, Nana pakek rahasia- rahasia, apa kalian pikir ini bagus hah, Nia tolong jelaskan semuanya!" Lelaki itu meninggikan suaranya karena istrinya belum mau membuka suaranya perihal kehamilannya.


"Hiks hiks kamu bentak aku, hiks hiks kamu jahat aku mau tidur di kamar Titin aja." Tangis Dania menyeruak, dengan membawa satu bantal dan selimut perempuan itu hendak beranjak dari kamar milik suaminya namun urung karena adik suami nya memeluk tubuh mungil itu membelanya.


"Kak Def jahat, jangan bentak kita. kak Nia jadi nangis." Devana memeluk Dania.


"Sayang maaf aku gak bermaksud bentak kamu, tapi aku cuma mau tau penjelasan kamu. Katanya tadi kamu cinta aku jadi jawab yang jujur yah." bujuk Defran.


"Hiks hiks tidak lagi, aku tidak mau cinta.


Hiks hiks aku maunya pizza dengan berbagai toping, hiks hiks." Dania menangis lalu tersenyum membayangkan pizza di depan matanya, kemudian dia menangis lagi.


"Oke sayang, akan ku belikan. Sekarang jelaskan kenapa kamu menyembunyikan kehamilanmu." bujuk Defran pelan.


"Anak kecil sebaiknya kamu keluar dari kamar kakak." Defran mengusir


adiknya itu dengan kelima jari tangan yang di goyang-goyangkan.


"Kak, bukannya sok bijak tapi sebaiknya kakak berdua gak boleh sekamar. Walau kalian saling mencintai, itu perbuatan dosa kak. Kak Nia punya suami." Nasihat Devana bijak.


"Adik kesayanganku, kamu tahu siapa suami jahat Dania?" Tanya Defran memegang pipi Devana gemas. Devana menepis tangan kakaknya yang bertengger seenaknya di pipinya.


"Tentu saja tidak kak, aku saja baru kenal sama kak Nia."


"Nia jelaskan siapa suami jahat kamu itu." Perintah Defran.


"Tapi Def...."


"Jelaskan biar anak ini tidak salah paham atau aku akan membuatmu besok tak bisa berjalan," Ancam Defran tegas.


"Deva kakak gak punya suami jahat, suami kakak sangat baik dan kakak sangat mencintainya." Jelas Dania memeluk punggung Defran.


"Jadi kakak mencintai kakakku dan suami jahat kakak?" Tanya Devana kecewa.


"Iya kakak akui kakak mencintai keduanya." jawabnya mengerjai adiknya iparnya itu.


"Makasih sweetheart sudah mencintaiku." Defran mencium kening Dania.


"Sama- sama Def" jawab Dania malu menundukkan kepalanya du bawah ketiak Defran.


"Kakak mencintai dua lelaki?" Tanya Devana jijik, bagaimana seorang Dania begitu bangga mempertontonkan perselingkuhan di depan matanya.


"Tidak aku hanya mencintai suamiku walaupun dia sangat pemaksa tapi aku menyukainya." Dania memeluk erat suaminya.


"Lalu tadi kakak bilang kakak mencintai kak Defran?" tanya Devana.


"Kenalkan Nana, Aku Defran Arie Olvio suami sah dari Dania Bella, aku adalah suami jahat yang kau maksud Nana adikku." jawab Defran bangga mengulurkan tangan kanannya.


"Apa jadi kakak suaminya kak Nia? Ahh aku seneng banget akhirnya dapet ponakan sama kakak ipar cantik, aku bakal kasih tau papa, bye kakak." kata Devana girang meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Dek jangan bilang papa dulu." Ucap Defran terlambat karena Devana sudah melesat pergi. Tidak lama dari itu pizza Dania datang.


"Tuan pizza nya datang." kata Titin mengetuk pintu kamar Defran.


"Bawa masuk Tin." Ucap Defran.


"Yaa tuan," kata Titin menaruh pizza memperhatikan Dania yang langsung girang melahap potongan- potongan pizza nya.


"Ternyata untuk si pembantu baru belagu." Titin memberangus kesal meninggalkan kamar itu.


"Nia, sekarang coba jelaskan apa maksud dari ponakan tadi?" Defran membujuk istrinya itu.


"Bagaimana jika Deva menceritakan ke papamu Def?" Tanya Dania takut.


"Biarkan saja sweetheart. Sekarang ceritakan siapa ponakan itu?." Defran pura- pura tidak tahu terus memaksa Dania untuk berkata jujur.


"Sebenernya aku tak mengugurkan kandunganku Def." Ucap Dania takut-takut, Defran tidak akan menerima kehamilannya.


"Iya aku tahu kamu tak mungkin membunuh bayi kita sayang." Defran malah mencium perut Dania.


"Kamu tak marah Def? Bukannya kamu benci anak ini?" Tanya Dania harap-harap cemas.


"Siapa bilang aku membencinya? Seorang papa tak pernah membenci anaknya sayang, aku bahkan sangat bahagia saat kau hamil sayang." Defran tersenyum tulus.


"Tapi kau waktu itu mengatakan aku di hamili om om." Dania cemberut mengingat ucapan suaminya waktu itu.


"Kamu mendengarnya sayang? Maafkan aku, aku cuma tak ingin orang tahu pernikahan kita. Maaf aku egois, aku masih belum siap waktu itu sayang." kata Defran menyesal.


"Tak apa Def yang pentingkan kamu mencintaiku dan anak kita masih hidup di sini." Dania menunjuk perutnya.


"Iyaa sayang makasih karena kau masih mau menjaganya besok kita pulang ke apartemen kita yah sayangg." Defran mengelus perut istrinya.


"Iyaa Def, tapi bagaimana mama kamu?" Tanya Dania khawatir.


"Tak usah pikirkan. Besok aku yang bakal jelasin, sekarang kamu tidur yah sayang." Defran membaringkan istrinya tidur lalu dia menjadikan lengannya sebagai bantal Dania dan melingkarkan tangannya di perut dania. Mencium puncak kepala istrinya dan mengelus perut Dania.


"Maafkan papa nak, papa janji akan membahagiakan kalian selamat tidur anak papa, selamat tidur istriku sayang." Defran menyesal namun juga bahagia karena benihnya masih tumbuh di perut wanitanya.


Defran memikirkan bagaimana dia menghadapi papa mamanya besok. Apa mereka bisa menerima Dania sebagai istrinya. Tiba- tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk, Defran bangun dengan hati-hati takut istrinya ikut terbangun. Defran lalu membuka pintu kamarnya.


"Ada apa lagi Nana?" Tanya Defran kesal.


"Kakak di tunggu papa di ruang kerjanya."


"Gak bisa besok aja Na?"


"Gak Kak, papa udah nungguin.


Defran menemui papanya di ruangan kerja, "Ada apa papa manggil Def?"Tanya Defran langsung, jujur saja dia sudah mengantuk.


Wildan langsung memeluk putranya itu, "selamat anak papa udah dewasa. Udah mau jadi papa muda, Nana udah cerita ke papa. Selamat yah nak, akhirnya papa dapet mantu sekaligus cucu."


"Maafin Def pa, Def gak minta izin menikahi Dania sama papa." Ucapnya merasa bersalah.


"Tidak apa Def, papa jadi penasaran dengan wanita yang berhasil meluluhkan hati kamu, apa dia cantik?" Tanya Wildan menggoda sang putra.


"Sangat pa, dia sangat cantik. Mangkanya Defran memaksa menikahinya, agar Def bisa memilikinya seutuhnya. Dia wanita yang sangat berbeda dari gadis yang biasa Defran temui." Kata Defran antusias mengingat Dania istrinya. "Oh ya, papa jadi makin penasaran sama mantu papa itu sampai- sampai kamu dan Nana sangat menyukainya."


"Papa akan bertemu dengannya besok. Sekalian aku minta izin papa akan membawanya pulang ke apartemen kami."


"Kenapa Kalian pulang ke apartemen?" Tanya Wildan heran.


"Mama menganggapnya pembantu di sini pa, Def kasian sama dia harus nyapu ngepel rumah sebesar ini?" Curhat Defran.


"Kalau begitu bawalah dia ke apartemen kamu Def, Oh yah bagaimana pertunangan kamu dan Dira?" Tanya Papa wildan.


"Def sudah memutuskannya Pa, dia bukan tunangan Def. Lagian yang menginginkan pertunangan ini Mama bukan Def." Kata Defran jujur.


"Baguslah papa juga kurang setuju dengan anak itu, bahagiakan menantu dan cucu papa Def." Nasihat Wildan kepada putranya itu.


"Tentu pa, Def izin ke kamar dulu." Defran meninggalkan ruang kerja papanya, akhirnya Dia dapat bernafas lega. Untunglah papanya bisa menerima Dania dan anaknya, tinggal menaklukan hati sang mama lagi pikirnya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2