Istri Yang Di Bayar (Dania Bella)

Istri Yang Di Bayar (Dania Bella)
Part 27


__ADS_3

Pov Defran


Kami sudah sampai di tempat makan favorite Dania yang ternyata hanya warung bakso sederhana, penjualnya seperti sudah sangat akrab dengan istriku, mereka sibuk bercengkerama sedang aku seperti kambing congek hanya diam.


"Tumben neng cantik mampir ke warung Pakde lagi?" Itulah kata bapak penjual bakso.


"Nia mudik pakde mangkanya jarang mampir ke sini lagi, terus Nia udah gak tinggal lagi di sini." jawab Dania istriku.


"Neng siapa tuh gandengan?" Tanya Bapak penjual bakso.


"Oh ini kenalin Defran suami  Nia Pakde." jawab Dania istriku.


"Defran, pak." Ucapku mengulurkan tangan.


"Panggil Pakde saja!" Bapak itu menjabat tanganku, aku  tersenyum lalu Dania bertanya apa yang ingin ku pesan. "Kakak mau mie ayam atau bakso?" begitulah pertanyaannya.


"Bakso boleh deh sweetheart."


"Pakde baksonya satu, mie ayam baksonya satu nggak pakek daun bawang!" kata istriku.


"Oke neng cantik"


"Minumnya apa?"


"Hm es jeruk aja, 2 pakde."


"Sayang jadi ini tempat makan favorite kamu?" Tanyaku, Dania hanya mengangguk membenarkan pertanyaanku.


"Kamu udah akrab banget yah sama pakde?" Tanyaku lagi.


"Loh jelas neng Nia akrab sama aku mas Defran, neng Nia itu mau aku jodohkan


sama anakku yang lagi kuliah S2, tapi neng Nia udah keburu nikah duluan sama mas Def." Ucap pakde sambil mengantar pesanan kami membuat aku geram


"Benar begitu sayang?" Tanya ku ingin memastikan.


"Tentu benar, aduh pasti anakku patah hati kalo denger neng Nia udah punya hak milik."  Ucap pakde menepuk keningnya.


"Sweetheart apa bener yang di bilang pakde?" Tanyaku lagi.


"Kalau bener gimana kak? Ah udah ah ayo kita makan ntar ke buru dingin gak enak lagi!"


Aku memakan bakso di depanku dengan perasaan dongkol, Dania tidak mengerti apa kalau suaminya ini cemburu. Usai bayar makan istriku itu masih sempet pula ngobrol panjang sama calon mertua tak jadinya itu, mana pakek nitip salam buat anaknya yang lagi S2 itu pula.


Wajahku berubah masam dan istriku itu tak menyadarinya, segera kutarik tangannya untuk masuk ke dalam mobil dan dia hanya melihat tindakanku heran.


Aku melajukan mobilku membelah jalan raya, mulutku tertutup rapat aku mencoba menahan amarahku yang siap meledak kapan saja.


"Kakak kenapa?" itu pertanyaan yang keluar dari mulutnya.


"Kakak marah sama Nia?" Lanjutnya melirikku.


Aku sangat malas menanggapinya dan terus fokus menyetir hingga sampai di depan  apartemen, lalu ku parkir kan mobilku dan turun tanpa membukakan pintu untuk Dania istriku. Aku terus berjalan menuju apartemen dan ku dengar suara Dania memanggilku.


"Kakak tunggu, kakak kenapa? kakak marah sama Nia? Kakak tungguin!" Panggilnya mengejar ku.

__ADS_1


Pov End


Sesampainya di apartemen barulah Defran meluapkan ke kesalahannya.


"Dania Bella kau tahu kesalahanmu?" Tanyanya dengan suara meninggi. Dania hanya diam dan menunduk dia seperti sedang berpikir apa yang membuat suaminya itu marah besar.


"Apa kau sadar kesalahan mu Dania Bella?"


"Apa salahku kak? Buat aku mengerti, kakak tiba-tiba diam di mobil tadi, aku bingung apa yang membuat kakak marah?" Ucap Dania ikut kesal.


"Dasar ****** kau Dania, kau sengaja mengajakku makan di warung itu agar bisa bertemu mantan mertuamu dan dapat berselingkuh kembali dengan anaknya!" Tuduh Defran melayangkan tangannya ke pipi Dania.


"Jadi kakak cemburu? Nia bisa jelasin kak, itu tidak seperti yang kakak pikir." Dania yang satu memegang pipinya sakit yang satu berusaha menggapai Defran.


"Aku tak butuh penjelasanmu ******, tadi sudah cukup membuktikan siapa dirimu."


"Oh baiklah kalau begitu, aku takkan menjelaskan apapun kak!" Dania berlari ke kamar mereka.


Setelah kejadian itu hubungan Dania dan Defran merenggang tidak ada lagi komunikasi di antara mereka Dania menjadi lebih pendiam dari biasanya, tapi dia tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri seperti memasak makanan untuk Defran walaupun masakan itu tak disentuh sama sekali oleh suaminya itu.


Defran sering pulang larut malam bahkan terkadang tak pulang tapi Dania tidak ambil pusing tentang hal itu. Beberapa bulan kemudian Dania di nyatakan lulus  sidang skripsinya dan sekitar dua minggu lagi dia akan wisuda, tapi Dania tak berminat memberi tahu suaminya itu.


Malam ini Defran mengajaknya datang ke rumah mamanya.


"Malam ini kita ke rumah mama, ada acara suka atau tidak kau harus ikut, pakai baju yang pantas aku tidak ingin malu." Ucap Defran ketus.


"Jadi aku malu-maluin kamu Def?" batin Dania.


Dania hanya mengangguk tak berminat untuk menjawab sama sekali.


"Aku di sini aja, aku gak mau ikut."


"Kamu harus ikut! dandan biar cantik jangan kucel kayak gini!" Bentak Defran emosi.


Dania sudah siap untuk pergi ke rumah mama mertuanya, Defran sempat terpesona dengan penampilan istrinya tapi hanya sebentar, "Dandan gini doang kok lama banget!" gerutunya kesal.


"Ayo buruan, udah ditungguin kita!" Defran menarik tangan Dania memasuki mobilnya kemudian melaju ke rumah mamanya.


Dania hanya diam menuruti apa mau suaminya itu, hingga mobil sudah sampai di pelataran rumah mertuanya, Defran memarkirkan mobilnya lalu keluar mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Dania.


"Sampai kapan kamu giniin aku Def? Apa sebesar itu salahku?" Batin Dania bertanya tak terasa air matanya menetes.


"Nggak aku gak boleh nangis, baby D juga jangan sedih ya papa pasti baikin kita lagi!" katanya seolah menenangkan janin yang dikandungnya.


Dania memasuki rumah mertuanya itu, acara sebenarnya ada di taman belakang rumah itu, "Neng Nia ngapain kesini?" tanya bi Sum.


"Loh kenapa aku gak boleh kesini bik?" Tanya Dania heran, "Emang ini acara apa si?" Lanjutnya penasaran.


"Neng Nia istirahat aja yah di kamar bibi gak usah ke taman belakang!" Ajak bi Sum.


"Aku di undang kesini bi, aku harus tahu ini acara apa? Lagian aku ini istri Defran, gak mungkin aku gak hadir di acara suamiku sendiri." Ucapnya menuju taman belakang, saah sendiri bi sum mengatakan demikian membuat Dania jadi penasaran.


Dania terpana dengan konsep party nya, benar-benar indah, Dania mendengar orang-orang berbisik bertanya siapa dirinya dan kenapa bisa datang ke pesta ini.


"Siapa si dia, kampungan dan norak?"

__ADS_1


"Tapi dia cantik sekali."


"Siapa yang mengundangnya?"


"Pembantu mungkin!" Begitulah rentetan bisik-bisik tetangga di pesta tersebut, tiba-tiba Devana menghampirinya.


"Kak Nia ngapain kesini?"


"Kenapa aku gak boleh kesini Deva, Defran yang ngajak, tadi  juga aku gak mau datang, tapi pestanya meria banget yah?"  Ucapnya tersenyum.


"Lebih baik kakak masuk deh ke rumah, istirahat di kamar Deva! Kasihan kan sama baby D," tawar Devana.


"Dania Bella," Maura, mertuanya memanggilnya.


"Mama,"


"Selamat datang di pertunangan Defran dan Dira, kamu tamu terhormat di acara ini!" Ucap Maura tersenyum mengejek.


"Perkenalkan dia Dania Bella, pembantu kami yang bermimpi jadi cinderela, padahal dia tetaplah upik abu.


"Kak, kak Def udah tunangan sama Dira, itulah kenapa aku ngelarang kakak kesini." Ucap Devana menyesal.


Dania mematung pandangannya menerawang melihat dua orang yang sudah resmi bertunangan. Air matanya mengalir begitu saja.


"Kejutan luar biasa!" batinnya bergemuruh. Kakinya memaksanya berjalan mundur perlahan, seolah seperti  itulah hatinya yang ikut menyerah melihat kemesraan di  depannya, Defran menghampirinya.


"Bagaimana Dania kau terkejut? ini hadiahku untukmu!" Tanya Defran sambil tertawa.


"Kau pasti menunggu aku mengucapkan selamat kan Defran Arie Olvio atas kejutannya?" Suara Dania meninggi.


"Tentu kau harus memberi kami selamat!" Timpal Dira yang sudah di samping Defran.


"Selamat untuk pertunangan kalian, selamat berbahagia!" Ucap Dania.


"Dan untuk kamu Defran Arie Olvio...." tunjuk Dania.


"Selamat sudah berhasil mengejutkanku, selamat sudah membuatku jatuh cinta hingga patah hati, selamat sudah memberikan warna warni di hidupku, selamat sudah berhasil menghancurkan aku berkali-kali." Dania menghela nafas sebentar kemudian memegang perutnya seolah mengatakan mama tak apa sayang ke anaknya.


"Aku menyerah Defran Arie Olvio! Selamat kau menghancurkan kepercayaanku dan sekali lagi selamat tinggal." Ucapnya lalu kembali berjalan mundur Dania tidak sadar sudah di pinggir kolam hingga, byuur tubuh lemahnya jatuh ke kolam tersebut seiring dengan matanya yang mengelap dan tertutup.


Semua orang menyaksikan drama itu hanya terdiam dan terpaku tidak ada yang menolong Dania yang tercebur kolam termasuk Defran yang masih mencerna kata-kata istrinya itu.


Untung bi Sum dan Devana cepat menyadari jika Dania sudah tercebur ke dalam kolam, Devana berteriak supaya kakaknya menyelamatkan Dania dan juga bayinya.


"Kak tolongin kak Nia cepat, kakak bakal nyesel kalo kak Nia dan bayinya kenapa-napa, cepat kak!"  teriak Devana.


Defran langsung melompat menyusul istri dan bayi di kandungannya, digendongnya tubuh pucat Dania ke kolam, dia  memberi pertolongan pertama ditekan- tekan dada Dania supaya Dania sadar, diberinya nafas buatan untuk istrinya tapi tetap Dania tak menunjukan jika akan sadar seolah tidurnya sangat nyeyak.


"Kamu gak boleh menyerah sweetheart gak boleh menyerah! Aku gak bakal ngizinin kamu menyerah Dania! Ayo sadar sayang, kita balik ke apartemen yah, kamu kan takut di sini! Ayo bangun sweetheart kasian baby D, kalo kamu gak bangun! Ntar kakak bikinin nasi goreng cumi kesukaan kamu, ayo bangun sweetheart!" kata Defran panjang.


"Kak kita bawa kak Nia ke rumah sakit!" Ucap Devana.


"Dek, Nia gak papa kan? Dia tadi bohong kan bilang selamat tinggal, dia bohong kan kalo dia menyerah? Sweetheart ayo bangun!" Ceracau Defran.


Dania sudah di tangani oleh dokter, untunglah kedua janinnya tak kenapa-napa, iya Dania mengandung bayi kembar tapi sampai sekarang Dania belum menunjukan kalau dirinya akan sadar.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2