
Defran Pov
Hari ini sungguh hari terberat bagiku, istriku yang sangat ku cintai lebih memilih pergi dibanding tetap bersamaku meski aku sudah mohon berkali-kali, aku tahu ini salahku dan mungkin benar aku tak pantas di maafkan.
"Daniaku hatiku memilihmu, kemana lagi aku harus mencari mu sayang." batinku bersuara.
Mama, Papa dan Devana juga berusaha membantuku mencari di mana keberadaan istri cantikku itu tapi semua nihil. Aku pun telah membayar detektif ternama di kota ini untuk mencari keberadaannya tapi jejaknya pun tak ku temukan, sulit sekali menemukan persembunyian nya.
"Kamu tak rindu pelukan kakak, apa sayang?" lagi- lagi hatiku bersuara.
Hari telah berganti bulan, ini sudah hampir 5 bulan dania pergi itu artinya anakku sudah lahir, "Sweetheart kenapa kau tidak memilihku untuk menjadi suami siaga, kenapa kau pergi sayang seharusnya kau tetap berada di sisiku." Aku marah, namun mau bagaimana lagi usaha ku belum juga menemukan hasilnya.
"Sweetheart aku merindukanmu sayang, sampai kapan kau akan terus menyiksa ku?" Gumamku lagi.
"Pak Defran sebentar lagi kita meeting," Lia mengejutkanku, sekretaris ku itu tampak takut-takut.
"Hm iya." jawabku enggan, namun terpaksa mengiyakan.
"Sayang aku tak kan menangis dan bersedih aku di sini juga tetap melanjutkan hidupku seperti mau mu dan ku harap kau di sana baik-baik saja, cepatlah pulang sayang." Itu adalah harapanku, aku ingin wanitaku itu kembali bersamaku.
Usai meeting aku pulang ke apartemenku, tempat yang menjadi saksiĀ cinta kami tumbuh hingga aku membuatnya layu, "sungguh aku merindukanmu Dania, ke mana lagi aku harus mencari mu dan anak kita." Ucapanku juga belum di dengar oleh sang pemilik hidup dan mati ini.
"Kak Dev kak Dev, Nana datang." Suara Nana menggema di telingaku, "Mau ngapain dia kesini?" Kesal ku, aku ingin mengenang Daniaku, sendirian tidak ingin di ganggu.
"Ngapain kamu kesini?" Tanyaku pada adik satu-satu ku itu.
"Kakak sih gak pernah pulang ke rumah, Nana kan kangen mangkanya kesini, Mama nyariin kakak tuh." Cerocosnya, aku tidak peduli. Yang kuinginkan itu Dania.
"Hm, aku tak bisa pulang Nana tempatku di sini, Dania tak suka berada di rumah itu." Jawabku ketus, semoga Nana segera sadar dan pergi.
"Nana kangen kak Nia kak!" Ucapnya pelan, oh aku juga merindukan istri nakal ku itu, "Pasti baby D udah lahir kak." Lanjut Nana kemudian, aku jadi merasa bersalah kepada anak dan istriku itu.
"Kakak juga kangen Nia dan ingin melihat baby D, seharusnya kakak ada di tengah- tengah mereka tapi apa kakak bahkan tak bisa menemukan mereka." kataku sedih.
"Udah jadi papa gak boleh cengeng!" Ingat Devana kepadaku, benar, aku tidak boleh cengeng, aku harus terus berusaha menemukan mereka.
"Iya iya adikku sayang, bagaimana kuliahmu lancar?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan kami.
"Tentu kak, di kampusku banyak cogannya dan tentunya banyak gadis cantik sepertiku tapi kakak jangan tergoda yah, kakak harus menemukan kak Nia, ok!" Jelas Devana kepadaku.
"Hahaha, tentu saja kakak tak mungkin bisa melirik wanita lain jika mata kakak sudah tersihir oleh Dania." Tawaku getir
"Kak laper!" Rengek Devana.
"Kamu mau makan apa dek?" tanyaku.
"Di deket kampusku baru di buka cafe baru kak, makanannya kelihatannya enak-enak kita kesana ya ya!" Ajak Devana.
Kebetulan perutku juga lapar, caro Dania butuh tenaga. "Kakak ganti baju dulu, abis itu kita berangkat." Ucapku mengelus rambut adik perempuanku itu.
Sesampainya di cafe itu aku dan Devana langsung memilih tempat duduk, tapi mataku menangkap seorang dan dia menghampiri kami, "Nana kamu di sini?" Tanyanya kepada Devana, aku terus memperhatikannya. Bagaimanapun dia adalah kunci untukku menemukan Dania.
"Hey Wulan kamu juga mau makan yah, ayo gabung sama kita!" Ajak Devana.
"Wulan," Panggilku.
"Kak Defran ngapain di sini?" katanya heran.
"Kalian udah saling kenal?" tanya Devana heran.
"Iya, kami saling kenal, pantas kak Nia pergi karena kakak selingkuh!" Jelas Wulan sinis.
"Dek kamu tahu di mana Nia sekarang, tolong beri tahu kakak dek, kakak merindukannya Dek!" Pintaku kepada wulan.
"Kamu kenal kak Nia Lan?" tanya Devana heran.
"Tentu aku mengenal kakakku!" jawab Wulan, "dan aku gak nyangka ya na, jika kamu orang ketiga di antara kak Def sama kak Nia." jelas Wulan kecewa, bagaimanapun dia tahu betapa sakitnya perasaan sang kakak.
__ADS_1
"Aku bukan pacar kak Def, kak Def kakakku Lan dan kak Nia kakak iparku, tolong beri tahu kami Lan di mana kak Nia, kami merindukannya!" Mohon Devana berurai air mata, aku tahu adikku itu suda menganggap Dania kakaknya sendiri.
"Dek tolong beri tahu kakak di mana Dania dek, kakak udah nyari Dania ke mana-mana tapi jejaknya pun tak dapat kakak lihat."
"Maaf kak, tapi aku gak bisa ngasih tahu kalian di mana kak Nia, karena aku juga tidak tahu kak Nia di mana!" jelas Wulan.
"Maafin aku Na, aku kira kamu selingkuhan kak Def." lanjutnya menyesal. Kemudian kedua perempuan itu berpelukan mereka tidak menyangka bahwa sekarang mereka saudara ipar.
Wajah Defran kembali murung, padahal dia berharap, Wulan menjadi kunci untuk menemukan Danianya, "kemana lagi aku harus nyari kamu sweetheart!" kata Defran frustasi.
"Gak apa-apa Lan kami ngerti kok, aku gak nyangka ternyata kamu adiknya kak Nia wajar aja muka kalian mirip, aku rindu kak Nia Lan, hiks hiks, kak nia udah seperti kakak aku sendiri!" jelas Devana menangis, mengingat kebersamaannya dengan Dania, walau singkat namun bermakna untuknya.
"Aku juga kangen banget sama kak Nia Na tapi kak Nia masih kekeh menyembunyikan keberadaannya, Ibu Ayah juga gak tau dia di mana!" jelas Wulan mengenang peringatan kakaknya itu.
"Oh iya apa sekarang kak Nia udah lahiran?" tanya Devana.
"Hem itu itu aku gak tau Na!" Wulan gugup pertanyaan ini bisa membuat dia ketahuan.
Tak lama setelah itu, pesanan mereka pun datang, Defran masih membeku dengan pikirannya sendiri.
"Kak Def ayo makan, ngapain ngelamun" perintah Devana.
"Wulan mana Dek?, kakak mau tanya-tanya sama Dia." kata Defran.
"Udah pulang dari tadi, kakak si keasikan ngelamun kayak anak perawan aja." omel Devana.
"Sekarang ayo kita makan lagi, abis itu kita pikirin gimana caranya nemuin kak Nia, kayaknya Wulan menyembunyikan sesuatu deh kak!" lanjutnya.
"Iya Na, gak mungkin Wulan gak tahu di mana Dania, Dania kan kakaknya, dan kenapa dulu aku gak nyari Dania ke kosannya." kata Defran.
"Ya udah ayok buruan makannya kak abis ini kita ke kosan wulan." kata Devana.
Kami sudah di depan kosan Dania saksi bisu tempat pertama kali aku menculiknya agar menjadi milikku, tapi semua usaha yang ku lakukan percuma dia telah pergi dan jejaknya pun tak ku temui.
Kami bertanya apa ada Wulan di dalam dan nyatanya Wulan telah pindah kosan 4 bulan yang lalu, "Arghh lagi-lagi kita kehilangan jejaknya dek." kesal ku melayangkan tinju ke udara.
"Kamu punya kontaknya wulan Dek?" tanya Defran.
"Hehehe, gak ada kak." kata Devana nyengir kuda.
"Arghh kenapa sulit sekali menemukanmu sweetheart." pekik Defran.
"Kak ayo pulang dulu kita besok kita cari lagi Kak Nianya." ajak Devana
"Baiklah ayo pulang." kata ku lesu.
PoV End
Keesokan harinya Devana bertemu Wulan di kampus, perempuan itu langsung menarik tangan Wulan menepi, banyak pertanyaan yang harus diutarakannya, "Lan aku mau ngomong sama kamu tentang kak Nia sama kak Def." Ujar Devana tanpa basa-basi.
"Maaf Na tapi aku gak bisa ngasih tahu kamu di mana kak Nia, karena kak Nia ingin kak Def menemukannya sendiri." kata Wulan menolak.
"Jadi kamu tahu di mana kak Nia tinggal?" tanya Devana.
"Maaf, aku memang tahu tapi aku udah janji sama kak Nia buat menyembunyikan keberadaannya." jelas Wulan tak enak hati.
"Lan, please kasih tahu aku di mana kak Nia tinggal! Aku udah kangen banget sama kak Nia." Mohon Devana, setidaknya dia harus mengetahui bagaimana keadaan kakak iparnya itu.
" Maaf Na aku gak bisa, kalo aku kasih tahu kamu nanti kamu malah kasih tahu kak Def." sesal Wulan.
"Aku janji gak bakal ngasih tahu kak Def, asalkan aku di pertemukan dengan kak Nia!" Janji Devana, dia ingin menemukan Dania, bagaimanapun caranya.
"Hm baiklah nanti waktu pulang kamu ikut aku ya!" Akhirnya Wulan percaya dan luluh.
Devana sudah mengikuti Wulan hingga sampai di dekat kafe mereka ketemu kemarin, "loh kok kita kesini lan?" tanya Devana heran.
Bangunan berlantai dua itu jika sekilas memang tempat tongkrongan anak muda tepatnya mahasiswa di kampus tapi di lantai dua itu adalah rumah baru untuk Dania dan adiknya Wulan serta ke dua bayi kembarnya.
__ADS_1
Iya Dania tidak meninggalkan kota ini karena jika dia bersembunyi di kota ini Defran tidak akan menemukannya, Defran pasti berpikir jika dia pergi keluar kota atau malah keluar negeri.
Devana dan Wulan sudah berada di lantai dua kafe ini di sana Dania sedang menyusui bayi laki-lakinya.
"Kak Nia." panggil Devana berurai air mata.
"Deva, kamu kok di sini?" Tanya Dania takut, bagaimana pun adik iparnya itu pasti akan memberi thu keberadaannya kepada Defran suaminya, Dania tidak mau tahu itu. Hidupnya sudah tenang, perlahan lukanya mulai sembuh.
"Hiks hiks kenapa kak Nia pergi, kakak tahu kak Def seperti orang gila hiks hiks!" Devana langsung menghambur memeluk perempuan yang sudah di anggap kakak kandungnya itu.
"Kak maafin Wulan, Nana maksa mau ketemu Kakak! Mangkanya Wulan ngajakin Nana kesini." jelas Wulan merasa bersalah, dia tahu kakaknya pasti akan marah.
"Gak apa dek, maafin kakak Deva." Dania memeluk Devana
"Na kamu mau makan apa? Nanti aku pesenin sama koki di bawah." Wulan ingin membiarkan kedua saudara ipar itu melepaskan kerinduan mereka.
"Nanti aja Lan aku mau melepas rindu dengan Kak Nia." Jawabnya lalu teralih ke sepasang bayi kembar.
"Mereka anak kakak?" Tanya Devana, senyum simpul terlihat jelas di wajah Devana, akhirnya dia bertemu dengan keponakannya, mana langsung dua pula.
Dania mengangguk, " iya mereka keponakanmu Deva."
"Lucu banget kak, gemes mirip kak Def." Ujar Devana menyentuh pipi bayi kembar itu.
"Kakak gak kangen apa sama kak Def?" Tanya Deva.
"Kangen itu pasti Deva, kakak merindukannya bahkan sangat, tapi kakak ingin menguji takdir kami, jika berjodoh kami akan di pertemukan lagi secepatnya." Jelas Dania. "Dan kamu Deva kamu harus janji jangan bilang sama Defran jika kakak berada di sini!" Peringatnya.
"Tapi kak, apa kakak gak kasihan sama kak Def" Tolak Devana, bagaimanpun dia ingin kembalielihat senyum di wajah kakaknya.
"Aku hanya ingin Defran tahu siapa pemilik hatinya, dan pemilik hatinya bukan aku tapi Dira, wanita yang di cintainya." jelas Dania nanar.
"Pemilik hati kak Def itu kakak bukan perempuan lain kak!" kata Devana mencoba meyakinkan.
"Jika aku pemilik hatinya, dia tak mungkin mencintai Dira."
"Kak Def tak pernah mencintai kak Dira kak, yang kak Def cintai itu kakak." Devana berharap kesalah pahaman antara kakak-kakaknya itu segera berakhir.
"Jika dia memang mencintaiku, dia tidak mungkin menyakiti hatiku secara terang-terangan dan dia pasti mengejarku saat aku pergi, tapi dia hanya mematung." jelas Dania kecewa.
"Jadi kakak mohon jangan bilang Defran jika kita bertemu dan jangan bilang Def di mana aku berada sekarang!" Peringat Dania
"Aku tak bisa janji kak." Jawab Devana singkat.
"Sebaiknya kakak secepatnya menemui kak Def, karena bagaimana pun anak-anak butuh ayahnya." lanjutnya, Devana sangat tahu bahwa dirinya egois, namun kebahagian kakaknya juga penting.
"Akan kakak pikirkan Va tapi kakak mohon sama kamu sampai kakak siap menemui Defran kamu harus berjanji tidak akan mengatakan apapun tentang pertemuan kita karena jika ini sampai terjadi maka jangan harap kita bisa bertemu lagi Va!" Ungkap Dania akhirnya, bagaimanpun Dania harus mempersiapkan diri dengan kemungkinan yang terjadi di masa mendatang.
"Baiklah kalau itu mau kakak, aku janji gak bakal kasih tahu kak Def, tapi aku boleh yah gendong baby D?"
"Kamu bisa gendong bayi Dek?" Tanya Dania.
"Akan ku coba, nama mereka siapa kak?" Kata Devana.
"Hallo aunty yang cantik namanya Deyna Arabella Olvio kalo yang ganteng ini Deyfan Arbel Olvio." jelas Dania memperkenalkan kedua putra putrinya itu, nama Olvio tersemat dikeduannya.
"Baby D nya aunty cepat besar ya nanti kita main." Devana kemudian mengendong Deyna senang, sementara Deyfan di gendong sama Wulan.
Dania sendiri sedang asik dengan pikirannya, dia merindukan lelaki itu tapi egonya melumpuhkan otaknya sehingga dia lebih memilih untuk bersembunyi.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1