
^^^Bahagiaku sederhana cukup dengan kau tetap di sampingku, menemaniku sampai menua.^^^
^^^"Defran Arie Olvio"^^^
Matahari mulai menampakan wujudnya sepasang anak Adam sudah dari tadi terbangun dari tidurnya. Sang istri sibuk berkutat dengan pakaian yang akan dikenakan suaminya sementara suaminya membersikan diri alias sedang mandi.
"Def bajunya udah aku siapin, aku ke dapur bentar yah bantu bi sum nyiapin sarapan." jerit Dania.
"Iyaa sayang."
Usai membantu bi Sum menyiapkan sarapan. Dania kembali ke kamarnya membantu suaminya memasang dasi dan menyiapkan keperluan suaminya ke kantor.
"Kamu makin cantik sweetheart, jadi pengen makan kamu deh." Goda Defran memeluk istrinya yang sedang membereskan tas kerja Defran.
"Def, kamu apaan sih. Cepat turun ke bawah udah di tunggu sarapan sana!"
"Gak mau sayang, aku maunya makan kamu." rengek Defran manja.
"Kamu mau telat ke kantor Def, bukan nya kata kamu kemaren kamu ada urusan yang harus di selesain juga hari ini yah."
"Gak, udah di handle sama Davin."
"Oh kalo urusannya gak kelar hari ini, aku gak mau tau yah besok aku gak ngajak kamu mudiknya." goda Dania membalikan badannya menghadap sang suami.
"Ya, ya, ayo kita sarapan abis itu aku mau selesain masalah kantor." ajak Defran menarik Dania ke meja makan. Mereka makan dalam hening tapi tiba- tiba Dania merengek mintak nasi goreng yang sudah di makan Defran.
"Def tukaran nasi gorengnya yang ini gak enak aku maunya bekas kamu." rengek Dania.
"Nia, baru aja satu suap aku makannya sweetheart. Kok udah kamu mintak sih," Tolak Defran tidak mau memberikan nasinya.
"Hiks hiks kamu pelit. Aku kan mau punya kamu hiks hiks." Tangis Dania pecah.
"Udah Def kasih aja." Ujar Wildan tidak ingin melihat drama pagi-pagi.
"Iya Def kasih nasi goreng kamu buat Nia." timpal Maura.
Muka Dania langsung senyum bahagia karena ada yang membelanya, Defran terpaksa menukar nasi gorengnya dengan punya Nia padahal yah rasanya sama saja. Namanya bumil makanan bekas suaminya sangat nikmat untuk di makan, Defran mau marah tapi ditahannya bagaimanapun juga Dania sedang hamil jadi wajar saja bertingkah aneh.
Selesai sarapan Defran pamit untuk berangkat ke kantor kepada sang istri dan mama sementara Wildan sudah berangkat duluan.
"Ma, Defran pamit yah." Defran mengambil tangan mamanya.
"Iya Def."
"Dan untuk kamu, aku pergi ke kantor yah sayang. Jangan nakal yah! Doain semoga suamimu ini bawa uang yang banyak, rezeki lancar dan jaga anak aku yah!" Defran mencium puncak kepala Dania dilanjutkan mencium perut Dania yang sedikit buncit.
"Untuk anak papa jangan nakal yah, jangan nyusahin mama! Papa kerja yah sayang."
"Iya papa, papa juga jangan nakal yah! Jangan tergoda sama cewek! awas aja kalo tergoda mama kurung papa di kamar!" Ucapnya mengancam.
"Assalamualaikum sweetheart, bye bye." Defran melambaikan tangannya
"Waalaikum salam pa, da da."
Di kantor Defran sibuk dengan laptopnya dan sesekali memeriksa laporan keuangannya, ada pegawainya yang bermain curang tapi untunglah berkat Dafin sahabatnya inti masalahnya sudah di ketahui tinggal menyelesaikannya saja. Pegawai yang korupsi pun sudah di ketahui nya tinggal di lakukan eksekusi ke penjara saja.
Sementara Dania sibuk packing- packing barangnya, besok dia akan pulang ke kampung halamannya. Sebenarnya Dania agak takut pulang melihat perutnya sudah mulai membuncit, tapi mau bagaimana lagi ibunya menyuruhnya pulang lagian dia juga merindukan keluarganya.
__ADS_1
"Sayang, kita akan segera ketemu nenek dan kakekmu. Kita akan pulang besok sayang, tapi mama takut mereka tidak bisa menerima kehadiran kita sayang." Batin Dania mengelus perutnya.
"Dania," panggil ibu mertuanya.
"Iya ma ada apa? Ada yang bisa Nia bantu."
"Sebenarnya mama gak mau nyusahin kamu tapi bi Sum sama Titin lagi keluar dan mama mau arisan. Mama minta tolong anterin makan siang suami kamu ke kantornya!" Perintah Maura.
"Baiklah ma."
"Oh yah bagaimana kabar cucu mama? Apakah cucu mama nakal di dalam sana? Tanya Maura menunjuk perutnya.
Dania menggeleng, "Alhamdulillah waktu Nia cek up kemaren kandungan Nia sehat ma."
"Oh syukurlah, udah berapa bulan kandunganmu Nia?" Tanya Maura lagi.
"Hem kalo gak salah sih baru masuk tiga bulan ma. Oh yah ma Dania berangkat dulu." jawab Dania sambil mencium tangan mamanya untuk pamit.
"Iya hati- hati kamu yah Nia!" Pesan Maura kepada menantunya itu.
Sesampainya di kantor Defran, Dania langsung di sambut Satpam kantor.
"Eh mbak yang waktu itu. Ada apa mbak datang kemari?" Tanya Pak satpam ramah.
"Ehm saya mau ketemu pak Defran."
"Ooh, mari mbak saya antar ke ruangannya."
Sesampainya di ruangan Defran, Dania langsung masuk dia melihat suaminya sangat fokus sampai-sampai kedatangannya pun suaminya itu tidak tahu.
"Siang Pak Defran ini ada rantang makan siang buat pak Defran."
"Bisakah kau menghentikan pekerjaanmu itu dulu, ini sudah waktunya makan siang." Ucap Dania meninggikan suaranya.
"Sebentar pekerjaanku masih banyak. Lagian siapa kau mengurusi makan siangku?" Kata Defran yang belum sadar jika itu istrinya sendiri.
"Hiks hiks hiks hiks, aku istrimu. Kamu tidak mau makan siang yang aku bawa." Dania menangis.
"Sweetheart, kok kamu disini?" Tanya Defran.
"Mau ngajak kamu makan tapi gak jadi aku mau pulang aja." kesal Dania.
"Jangan dong sweetheart, ayo kita makan." Defran langsung menarik tangan Dania ke sofa.
"Aku siapin dulu yah." kata Dania.
"Iya sayangku. Gimana kabar anak papa hari ini?" Tanya Defran mengelus perut istrinya.
"baik papa. Ayo Def kita makan." ajak Dania.
"Suapin sayang." rengek Defran.
"Oh ayolah Def kamu udah gede masak mintak suapin." ejek Dania
"Yaudah aku mau lanjut kerja lagi aja. Aku gak jadi makannya," kata Defran ngambek.
"Yaudah sini Nia suapin Def. Jangan ngambek yah! Ayo buka mulut! Ahhh." bujuk Dania.
__ADS_1
"Hehehe nah gitu dong sayang. Pokoknya mulai sekarang kamu harus suapin aku kalo gak, aku bikin kamu gak bisa jalan berhari-hari." kata Defran sambil makan.
"Iya, makan dulu baru ngomong Def, ayo buka mulut lagi!" Ujar Dania kembali menyuapi Defran.
"Sayang abis ini kamu jangan pulang yahh yahh!" Bujuk Defran.
"Gak bisa Def. Kerjaan aku numpuk di rumah." tolak Dania.
"Pokoknya gak boleh pulang, kamu harus temenin aku kerja!" ancam Defran.
"Yaudah iya, aku gak pulang."
" Sayang cium." Rengek Defran manja.
Cup, Dania mencium pipi kiri Defran. "Ih bukan di pipi tapi dibibir." rengek Defran memajukan bibirnya.
"Ogah, gak mau." Tolak Dania pura-pura jijik.
Defran menarik tengkuk Dania dan cup, bibir Defran menyentuh bibir Dania sekilas. "Yakin gak mau, itu pipi kamu merona. Lagian yah kalo kamu ogah gak mungkin ada anak papa disini." Defran mengelus kemudian mencium perut istrinya.
"Ihh Def, kamu tuh yah omes banget." Rajuk Dania memukul lengan sang suami.
"Omes gini kamu juga suka. Sampek melendung gitu perut, hehe." Goda Defran langsung menarik Dania ke pangkuannya.
Defran mencium bibir Dania mencecap rasa manis yang sudah menjadi candunya itu. Mengigit bibir bawah Dania hingga Dania membuka mulutnya hal itu tidak disia-siakan oleh Defran mengabsen setiap inci gigi Dania, mencari lidah Dania dan mereka saling bertukar saliva.
Ciuman Defran beralih ke leher Dania, memberikan tanda kepemilikan di leher mulus istrinya, Dania hanya bisa melenguh menahan gairah.
"Achh Deeef."Desah Dania.
"Iya sweetheart. Desahkan namaku sayang." kata Defran mengigit kecil- kecil telinga Dania.
Pintu terbuka mereka tak menyadari ada orang masuk. Sepasang insan itu terhanyut dalam gairah.
"Upps sorry bro, aku gak tau kalo kalian lagi ehem ehem. Lagian pintu kok gak di kunci." Gerutu Davin tidak enak.
Dania malu ketahuan bercumbu dengan suaminya hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada Defran.
"Lo ganggu aja bro, ada apa ni? Kalo mau masuk tuh ketuk pintu dulu." Ucap Defran memandang kesal sahabatnya itu.
"Aku udah ngetok pintu dari tadi bro cuma kalian gak denger, keasikan sih." bantah Davin.
"Hehe," Defran cengengesan. "Sayang turun dulu yah! Kita lanjut nanti di rumah. Sekarang kamu ikut aku yah?". Lanjut Defran.
Dania masih malu menampakan mukanya dia belum beranjak dari pangkuan suaminya. "Aku malu Def sama temen kamu, gara-gara kamu omes." Dania menyalahkan suaminya itu.
"Cup cup jangan malu sayang! Anggap aja nggak ada itu orang gak ada. Lagian kita kan suami istri, ayo turun aku mau bahas kerjaan sama Dafin!" Bujuk Defran menjawil hidung istrinya.
"Hm mbak biasa aja. Aku udah sering liat Defran kayak gitu" kata Dafin tidak tahu jika ucapannya membuat ibu hamil itu kembali menangis.
"Hiks, hiks, hiks. Jadi kamu sering kek gini sama perempuan lain Def? Kamu jahat." Dania memukul dada suaminya itu.
.
^^^.^^^
^^^.^^^
__ADS_1
^^^Bersambung.....^^^