
^^^Logikaku selalu berkata tinggalkan dia yang menyakitimu tapi hatiku berkata apa aku akan sanggup tanpa dirinya orang yang sangat aku cintai?^^^
^^^"Dania Bella"^^^
"Aku menginginkan dirimu sayang." Dengan tidak tahu malunya Defran malah meminta haknya kepada Dania yang bahkan sakitnya belum pulih.
"Aku lelah, tolong jangan sekarang!" Mohon Dania takut-takut.
"Tapi aku ingin sekarang!" Defran mencium bibir Dania lembut.
"Tolong tunggu aku sehat dulu!" Tolak Dania yang tak dihiraukan Defran, api gairahnya sudah bersarang tidak peduli dengan kondisi istrinya.
Dia terus menciumi pipi Dania, lalu pindah ke ujung bibir Dania, Dania mendesah nikmat Defran terlalu pintar memainkan dirinya, siang itu pergulatan panas sepasang suami istri terjadi hingga mereka tertidur karena kelelahan.
Bel apartemen berbunyi, "siapa sih yang datang, menganggu saja!" batin Defran sambil keluar membukakan pintu.
"Mama," katanya terkejut, Maura mamanya dan Dira sudah berdiri di depan pintu apartemennya.
"Hai sayang," Maura langsung mencium pipi putranya itu lalu langsung masuk begitu saja.
"Mama tau dari mana apartemen Def?" Tanya Defran penuh selidik karena tidak ada yang tahu apartemen pribadinya itu.
"Dari Dira sayang, Dira ayo masuk ke apartemen calon suami kamu." Perintah Mama.
"Ma ngapain kalian kesini?" Tanya Defran tidak suka merasa privasinya terganggu.
"Kita merindukanmu sayang!" Dira langsung memeluk Defran. "
Sayang mama boleh melihat-lihat apartemen mu? Tanya mama langsung menuju kamar Defran Dania yang memang tidak terkunci.
"Jangan Ma!" Larang Defran tapi, terlambat sang mama sudah masuk dan menemukan Dania tertidur begitu lelap.
"Defran, siapa perempuan yang tertidur ini?" Teriak Maura memekikan telinga, Defran dan Dira pun langsung masuk ke kamar itu.
"Def, siapa dia? Kenapa dia tidur di ranjang kamu, Hiks hiks." Dira menangis meminta penjelasan.
"Hey bangun kau ******." Maura membangunkan Dania dengan menarik rambutnya.
"Ma, jangan bangunkan dia, dia lagi sakit." Pinta Defran cemas bisa runyam kalo Dania bangun.
"Hey ***** bangun berani yah kamu tidur di ranjang tunanganku." Dira mengambil air menyiram ke tubuh Dania.
Dania membuka matanya, kepalanya masih terasa pusing, Dia melihat dua orang perempuan berbeda umur melotot melihat dirinya, tubuhnya basah dan satu orang lelaki yang begitu panik.
"Siapa kalian?" Tanya Dania bingung.
"Kamu yang siapa *****? Kenapa kamu tidur di ranjang anak saya, dasar ****** tidak tahukah kamu bahwa Def sudah punya tunangan hah!" Maura melayangkan tangannya menampar Dania.
"Kamu benar- benar pelacur menggoda tunangan orang dengan tubuh jelek kamu itu." maki Dira menampar Dania.
"Au sakit, kalian yang siapa? Kenapa kalian menamparku? ini kamarku, Def tolong jelaskan sebenarnya ini ada apa?" Tanya Dania menangis memegangi pipinya.
"Dania, ini mamaku dan Dia Dira tunanganku dan Ma, ini Dania pembantu baruku. Dia yang membersikan apartemen dan memasak makanan untukku." jelas Defran membuat Dania syok dengan pengakuan Defran.
"Ya udah pembantu pakek baju kamu dan buatkan makanan untuk kamu." Perintah Dira seenaknya.
"Kamu punya tangankan? kamu punya kaki dan otak kan? Bikin sendiri jangan ganggu saya, saya lelah karena tunanganmu itu." Dania menangis menutupi kepalanya dengan bantal.
"Hey kau pembantu berani yah!" Dira tidak terima dengan ucapan Dania ingin memukul Dania tapi keburu di usir Defran.
"Dira mama keluar, biarkan Dania istirahat dulu!"
Defran mendekati istrinya itu, "Stop, di situ aja tidak perlu mendekat." Pinta Dania memohon.
"Nia biar aku jelaskan sweetheart." Defran tetap menghampiri Dania.
"Cukup, tidak perlu semuanya sudah sangat jelas Tuan Defran." Ucap Dania penuh kekecewaan.
"Sayang, ini tidak seperti...." kata- kata Defran terhenti.
"Kubilang cukup, sekarang keluar! Tolong aku jijik sama kamu." Dania melempar bantal dan gulingnya ke arah Defran.
__ADS_1
"Keluar kamu, keluar." Dania mengamuk karena Defran justru mendekatinya
"Sayang, tolong mengerti posisiku." Defran langsung memeluk Dania, "lepaskan, lepaskan aku, aku jijik sama kamu, dan tolong jangan panggil aku sayang, aku bukan istrimu." Dania memukuli pundak dan dada Defran dengan ganas.
"Dania, mengertilah." Defran memohon lagi.
"aku hiks hiks sudah mengerti sejak kau menculik ku, lalu apalagi yang harus ku mengerti? Aku hanyalah istri bayaranmu, bukan pembantumu lebih tepat. Jadi tolong lepaskan aku, bukankah aku masih berhak untuk hidup bahagia!" Dania menangis sesenggukan.
"Nia, lihat aku percayalah aku mencintaimu dan tidak akan pernah ada orang lain yang bisa merebut posisimu. Kamu satu- satunya istriku dan tidak akan pernah menjadi dua atau tiga. Percayalah Nia hanya kamu yang pantas menjadi istriku dan ibu dari anak- anakku bukan orang lain karena, hatiku hanya milikmu sampai kapanpun, jadi ku mohon mengertilah situasi saat ini sayang." jelas Defran mengeratkan pelukannya pada Dania yang ternyata sudah tertidur di pelukan Defran, maklum hormon ibu hamil.
"Nia, Nia, sweetheart jadi dari tadi kamu tidur! Kenapa jika dalam pelukanku kamu pasti tidur sayang." Defranpun menidurkan Dania, menyelimuti istrinya itu lalu mencium keningnya.
"Tidurlah sayang, mimpi yang indah, dan percayalah aku mencintaimu, i love you Dania bella." Bisik Defran ditelinga Dania.
"Tante, Dira tak suka jika pembantu itu tinggal berdua dengan Defran." Ucap Dira kepada Maura.
"Itulah yang sedang tante pikirkan sayang." Maura memegang tangan Dira.
"Bagaimana kalau pembantu itu bekerja di rumah tante aja," Dira mengusulkan idenya.
"Tidak, Dania tidak boleh pergi dari apartemen ini Ma," ucap Defran yang baru keluar.
"Kalian tidak berhak menentukan di mana Dania akan tinggal!" Lanjutnya tidak menyukai saran Dira.
"Kenapa sayang?" Tanya Maura tidak suka dengan penolakan Defran dengan ide Dira.
"Iya apa salahnya jika dia bekerja di rumah daripada di sini hanya berdua denganmu Def." Timpal Dira juga tidak terima dengan Defran yang ingin mempertahankan pembantu di apartemen Defran.
"Pokoknya Dania tidak akan ke mana-mana atau pertunanganku dengan Dira batal." Defran mengancam akan membatalkan pertunangannya.
"Tidak Def, pembantu itu harus ikut mama, mama tidak ingin dibantah." Maura tidak menerima penolakan.
"Baik, jika itu mau kalian, Dira mulai hari ini kau bukan tunanganku lagi." Defran pun melepas cincin ditangannya, sementara Maura membangunkan Dania.
"Hey bangun kamu."
"Jangan ma, jangan bangunkan Dania, dia baru keluar rumah sakit, Def mohoon biarkan dia istirahat!" Defran membujuk mamanya itu.
"Sebenarnya apa hubungan Defran dengan gadis ini." Pikir Maura.
"Kenapa dia begitu melindunginya." Lanjut batin Maura, sementara di luar Dira menangis kencang.
"Ada apa Dira sayang?" Tanya Maura langsung memeluk putri sahabatnya itu.
"Tante, Def memutuskan pertunangan kami dan memberikan cincin ini." Aduh Dira terus menangis.
"Def, kamu apa- apaan, kenapa kamu....?" Tanya Maura terhenti.
"Ma, aku udah bilang jika kalian bawa Dania maka pertunanganku batal, dan sekarang ku mohon pergilah dari apartemen Def!" Defran mendorong Maura mamanya dan Dira keluar dari apartemennya.
"Kamu ngusir mama sayang? Baik kami pergi, ayo kita pulang Dira." Maura menarik lengan Dira untuk pergi
meninggalkan apartemen Defran.
Setelah kepergian mamanya dan Dira, Defran memasak makanan untuk sang istri, dia membuat nasi goreng cumi spesial karena cuma itu yang bisa di masaknya untuk istrinya tercinta. Usai memasak Defran membangunkan istrinya yang terlelap tidur. "Istriku sayang ayo bangun aku memasakan nasi goreng cumi spesial untukmu." Defran menoel- noel pipi istri cantiknya.
"Emhh, hoam." Dania menggeliat, perlahan matanya mulai terbuka.
"Ngapain kamu di sini?" Tanya Dania kasar mendorong Defran.
"Kamu makan yah, aku bikinin nasi goreng cumi kesukaan kamu." Defran menunjukan hasil karyanya.
"Gak mau, pergi sana." usir Dania.
"Kamu mau makan atau aku makan kamu sekarang juga." ancam Defran.
"Hiks hiks kamu jahat aku benci kamu. Mana nasi gorengnya." Dania tidak bisa mengabaikan nasi goreng buatan Defran begitu saja, tentu saja hal ini membuat Defran menang dengan sogokannya.
"Aku suapin yah?" Tanya Defran, "Gak mau, mau makan sendiri." Defran menyerahkan nasi gorengnya, "ya udah ni nasi gorengnya dimakan ini khusus buat kamu sayang."
"Hiks hiiks kamu jahat, gak mau suapin aku lagi. Kamu jahat nyogok aku pakek nasi goreng, aku mau gudeg pokoknya aku mau pempek kapal selam sekarang juga." kata Dania terus melahap nasi gorengnya. "Iya, iyaa kita beli pempek kapal selam yah."Bujuk Defran, " gak mau, aku maunya kamu yang bikin." Dania merengek manja, "aku gak bisa buatnya sayang." Tolak Defran, "pokoknya bikinin pempek kapal selem sama cukanya, sama soto betawi juga." rengek Dania memaksa siap mengeluarkan air mata, "Iyaa aku bikinin yah tapi abis ini jangan ngambek lagi." bujuk defran. "Mati gue mana bisa gue bikinnya secara gue bukan orang palembang, ahh ada- ada aja bini gue, gimana bikinnya ini," pikir Defran dalam hati. "Iya, I love you." Ucap Dania malu-malu, "I love you to sayang." balas defran, "gak usah bikin pempeknya ntar aku aja yang bikin sendiri." Ucap Dania kemudian, "beneran sayang" kata defran senang langsung memeluk Dania menciumi pipi istrinya itu, "ya ampun bini gue kenapa moodnya berubah-rubah macam rubah gini." batinnya bersuara gembia, "ya, tapi aku masih marah sama kamu." Dania mengkerucutkan bibirnya sebal, "kok gitu sayang? Ya udah aku bikinin tapi janji gak marah lagi." Defran merasa perasaannya dipermainkan oleh Dania. "Gak mau, kamu pikir aku lupa. Aku masih inget semuanya." Dania meninggikan suaranya, "Sayang, aku bisa jelasin....." Dania menghentikan kata-kata Defran, "gak perlu, ambilin nasi goreng lagii masih laper." Rengeknya lagi "yaa ya sayangku," kata Defran langsung mengambil nasi gorengnya kembali.
__ADS_1
"Kamu gak makan?" Tanya Dania, "gak laper," jawab Defran. "kenapa kamu aneh banget sayang marah, manja dan perhatian pada waktu yang sama," batin Defran terheran dengan tingkah ajaib istrinya itu.
"Mau aku bikinin sesuatu?" Tanya Dania ragu, "hm, pindang ikan boleh." kata Defran.
Keesokkan harinya di apartemen Defran, Dania meminta izin kepada sang suami untuk menjemput adiknya yang baru lulus SMA ingin melanjutkan kuliah di kota ini.
"Def, aku izin keluar yah nanti, aku bakal pulang ke kosan soalnya adek aku mau dateng. " Kata Dania sambil memasangkan dasi sang suami.
"Mau aku anter gak nemuin adek kamu?" Tanya Defran.
"Gak usah Def aku sendiri aja."
"Oh yah sayang adik kamu bakal tinggal di mana? Kalo gak ada tempat tinggal, tinggal di apartemen kita aja sayang." kata Defran mengusulkan.
"Gak usah Def, adek aku biar di kos lama aku, soalnya kalo dia di sini aku takutnya dia bakal tahu kalo kita udah nikah, kamu kan gak mau orang tahu." kata Dania tidak ingin merepotkan Defran, karena dia sadar siapa dirinya bagi Defran hanyalah istri yang dibayar.
"Oh ya udah sayang mana yang baiknya aja," Defran mencium kening istrinya.
"Def, kalo aku nginep di kosan boleh?" Tanya Dania lagi, "Gak, aku gak mau tidur sendirian." Larang Defran.
"Def kalo aku gak tidur di kosan adek aku bakal curiga, janji deh cuma semalem doang." Bujuk Dania kepada suaminya itu.
"Ya udah deh, gak papa. Semalem doang yah." Izinnya tak ikhlas.
"Ya Def, ayoo kita sarapan sekarang abis itu kamu berangkat ke kantor." Ajak Dania.
Selesai makan Defran pamit ke istrinya berangkat kerja.
"Sayang, kabari aku yah kalo udah jemput adik nya. Jangan nakal, jangan lirik-lirik cowok laen! Jangan lupa makan, jaga diri, kesehatan, dan doakan suamimu ini biar rezekinya berlimpah!" kata Defran sambil mencium kening istrinya.
"Iyaa Def, kamu juga jangan lupa makan siang, jangan tergoda dengan ulat bulu ganjen di luar sana, hati- hati dan kabari aku yah." Dania menyerahkan tas kerja dan bekal kepada Defran lalu mencium tangan suaminya itu.
Sepeninggalan Defran, Dania menonton televisi, tidak lama kemudian ada line dari adek tersayang.
...Ayu Wulan...
Kak bentar lagi aku nyampe di stasiun ni, buruan jemput, aku gak tau kosan kakak.๐
11.34
^^^Oke kk otw dek, kamu tunggu dulu di sana yah jangan kemana- mana๐^^^
^^^11.40^^^
Oke buruan kk ku sayang ๐
11.45
Dania pun bergegas menjemput sang adik ke stasiun kereta api, sesampainya di stasiun dania mencari adiknya.
...Ayu Wulan...
^^^Dek, dimana kakak udah di stasiun ni?^^^
^^^12.25^^^
Di sini gue kak, lihat samping kiri kakak๐
12.26
Setelah menemukan keberadaan sang adik Dania langsung memeluknya.
"Adek, sumpah kakak kangen banget sama kamu dek, ih tambah cantik aja adek kakak ini." Dania pun gemas mencium pipi adeknya.
"Wulan juga kangen banget sama kakak, kakak tuh yang makin cantik aja, makin bohay juga." Wulan memuji bentuk tubuh Dania yang memang makin berisi.
"Ya udah kita pulang ke kosan dulu atau mau langsung ngemall?" Tawar Dania pada sang adik.
"Ngemall aja dulu kak abis itu baru kita ke kosan." jawab wulan memeluk kakaknya itu.
"Kakak seneng banget dek ketemu kamu, kita kan ketemunya pas lebaran doang, kalo kamu pulang ke rumah kakak gak ada, kalo kakak pulang kamu nya yang gak ada." Ujar Dania senang.
__ADS_1
Bersambung....