
^^^ Cukup dengan tetap bersamaku karena saat aku memilihmu tujuanku adalah membuatmu bahagia.^^^
^^^Defran Arie Olvio^^^
Matahari sudah menampakan sinarnya. Kedua pasang sejoli itu belum juga membuka mata. Mereka saling memeluk seakan tak mau dipisahkan. Sejoli itu adalah Dania dan Defran.
Dania membuka mata miliknya karena terpaan sinar matahari pertanda sudah siang.
"Hoam masih ngantuk," Ucapnya tanpa sadar menggeliat.
"Tidur aja lagi sayang." Ucap Defran ysng masih memejamkan matanya. Dania memaksakan membuka matanya lebar- lebar.
"Def bangun aku takut keluar kamar kamu." Ucapnya menarik-narik lengan lelaki berstatus suaminya itu.
"Hem," jawab Defran masih memejamkan matanya.
"Def bangun, udah siang mama kamu pasti marah sama aku."
Dania takut mama mertuanya memergoki dan memarahinya. Dania berniat hari ini untuk meminta perlindungan suaminya tapi apa, Defran malah mengeratkan pelukannya.
"Def bangun!" Rengek Dania menggerak-gerakan tubuh sang suami.
"5 menit lagi sayangg."
"Hiks hiks hiks hiks, yaudah aku mau pulang kosan aja ah, punya suami tapi gak mau nurut aku benci sama kamu lepasin." Kata Dania akhirnya ngambek.
"Iyaa, iya, aku bangun sayang." kata Defran.
"Bodoh serah udah bete! Aku mau pulang kosan di sini gak seru." Dania cemberut beranjak keluar kamar.
"Sayang tunggu, sayang tunggu," Panggil Defran.
Dania benar- benar kesal dengan suaminya itu. Ingin rasanya dia menenggelamkan Defran ke dasar laut.
"Dasar suami pemaksa jahat kejam, aku benci! Tidak peka, nyebelin." Umpat Dania.
Dania sudah berada di kamar Titin mengambil koper miliknya, Dania memutuskan untuk pulang saja ke kosan lagian dia juga sangat merindukan adiknya. Saat di ruang tamu Dania bertemu dengan Devana.
"Kak Nia mau kemana?" Tanya Devana.
"Pulang..."
"Kok pulang kak? Pulang kemana?" Tanya Devana Heran.
"Kosan..."
"Eh jadi ini mantu papa, wajar Def jatuh cinta mantu papa cantik banget. Oh yah mantu, kenalin nama papa Wildan Olvio papa mertua kamu." Ujar Wildan mengulurkan kedua tangannya.
"Dania om, pembantu baru disini." Jawab Dania tersenyum dipaksakan.
"Bukannya kamu istri Defran?"
"Sayang aku cari kamu kemana- mana, kok di sini?" Tanya Defran yang tiba-tiba muncul diantara mereka.
"Saya pembantu di sini om." Ucap Dania tidak mempedulikan kedatangan suaminya itu.
"Dania ngapain kamu di sana? Cepat ke dapur bantuin bi Sum dan Titin, pa dia ini pembantu kita bukan mantu." Jelas Maura kepada suaminya yang menatap Dania bingung.
"Maa, Nia bukan pembantu tapi istri Defran." bantah Defran tidak suka dengan ucapan sang mama.
"Haha, kalo ngomong jangan ngawur kamu Def! Jelas kamu sendiri kemaren yang bilang kalo Dania pembantu, lagian kamu itu udah punya tunangan." Ucap Maura tak percaya.
"Ma, kak Nia emang istri Kak Defran," Terang Devana agar mamanya mengerti.
"Dania itu pembantu dan kamu Dania ngapain masih di sini cepat ke dapur sana!" Perintah Maura galak.
"Sebelumnya saya mohon maaf nyonya Maura, hari ini saya memutuskan untuk berhenti jadi pembantu di rumah nyonya. Saya akan kembali ke kosan untuk menyelesaikan skripsi saya, saya mohon pamit nyonya om, tuan, non Devana." Dania keluar mengerek kopernya, membuat semua orang melongo atas pengunduran diri Dania kecuali Defran yang berusaha menahan istrinya itu.
"Nia, kamu mau kemana?" Cegah Defran.
"Pulaang..." jawabnya santai.
__ADS_1
"Jangan pulang dulu Nia!"
"Kenapa? Kenapa aku tak boleh pulang? Aku mau pulang, aku kangen Wulan. Selama aku di sini aku gak pernah nginep sama dia di kosan, kamu gak pernah ngizinin. Padahal yah, asal kamu tahu aku tuh ketemu sama dia cuma idul fitri sama libur semester, kamu jahat hiks hiks hiks." curhatnya tiba-tiba memukul bahu suaminya itu.
"Sayangku kamu kan belom sarapan, nanti kamu sakit loh. Aku gak mau yahh kalo terjadi apa-apa sama anak aku dan kamu, kamu nurut yah kata suami ntar abis sarapan kita ke kosan wulan." Bujuk Defran akhirnya memegang kedua tangan Dania agar berhenti memukulnya.
"Baiklah tapi ada syaratnya." Dania menyetujui saran suaminya itu.
"Apa syaratnya sweetheart?"Tanya Defran selembut mungkin.
"Buatkan aku nasi goreng cumi! Aku kangen nasi goreng buatan kamu, buatkan yah yah dan aku boleh yah nginep di kosan yah yah!" Rengeknya seolah lupa jika dia tengah marah kepada suaminya itu.
"Kak Nia, kak Def kan gak bisa masak." Protes Devana tidak setuju kakaknya itu memasuki dapur.
"Nia, suruh bi Sum aja yang masak. Yah mantu papa." Wildan juga tidak setuju jika putra kesayangannya itu masuk dapur.
"Kamu ini Dania, seenaknya saja maen perintah Def masak. Kamu seharusnya sadar diri siapa kamu itu." Bentak Maura kesal.
Air muka Dania berubah dari yang berbinar berganti masam, selanjutnya tangisan memekakam telinga pendengarnya lah yang bersuara. "Hiks hiks hiks, aku maunya nasi goreng Defran. aku gak mau yang laen Def, hiks hiks kamu buatkan kalo tidak aku ngambek kamu gak dapet jatah selama sebulan. "Ancam Dania akhirnya.
"Neng Nia kasian tuan Defran. Tuan Def gak pernah nyentuh dapur, biar bibi aja yah yang masak nasi gorengnya." bujuk bi Sum.
"Maunya Nasi goreng cumi Defran Hiks hiks." Rengeknya seperti anak kecil memeluk Defran seolah mengadu.
"Iyaa aku buatin sayang, tapi tentang nginep di kosan wulan aku pikir-pikir dulu yah." Defran menghapus sisa-sisa air mata di pipi istrinya yang langsung mengerjapkan matanya bahagia.
"Tapi kak, kakak kan gak bisa masak." Protes Devana melarang sang kakak.
"Udah Nana, tenang aja gue bisa masak kalo cuma nasi goreng doang. Bi bantuin yah dan kamu sayang tunggu di meja makan yah." Defran mencium puncak kepala Dania.
Dania dengan patuh langsung menuju meja makan yang menurut Maura terlarang baginya. Semua orang juga ikut duduk, kecuali Defran yang sedang membuat Nasi goreng buat Dania. Padahal bi Sum sudah membuat nasi goreng hanya saja karena hormon ibu hamil Dania menginginkan masakan suaminya.
Devana dan Wildan sangat bahagia dengan kehadiran Dania, lain halnya dengan Maura yang belum bisa percaya jika Dania itu mantunya. Maura juga heran kenapa Dania bisa semanja itu sama Defran.
"Apa yang terjadi sebenarnya sama babu ini." pikir Maura kesal memandangi pembantunya yang nampak genit kepada sang suami.
Dania bahagia karena Wildan memintanya memanggilnya dengan sebutan papa. Wildan juga akan marah jika Dania menyebutnya dengan om.
"Mantu cantik papa, jangan panggil papa om yah! Panggil papa, kamu kan anak papa juga. kalo kamu panggil om papa gak izinin Defran masak buat kamu!" pinta Wildan penuh ancaman.
"Kak Nia kuliah jurusan apa?"
"Kakak ambil Psikologi Deva."
"Wah keren mantu papa anak Psikologi ternyata."
"Hehe," Dania tersenyum bahagia.
Sementara mama Maura kesal melihat keakraban suami dan anaknya dengan Dania.
"Kenapa mereka bisa cepat akrab gitu sih?" Pikir Maura, "dan apa pembantu ini kuliah, gak mungkin dia pasti bohong."
"Maa, mama kenapa?" Tanya Wildan heran kenapa istrinya itu hanya diam dengan muka di tekuk.
"Gak pa-pa pa, mama lagi bete aja." jawab Maura masih tersenyum masam.
"Bete kenapa sayang?" tanya Wildan penuh perhatian.
"Papa sama Nana dari tadi tuh asik ngobrol sama Dania, mama dilupain." jawabnya kesal.
"Jadi ceritanya mama cemburu ni? masak cemburu sama mantu sendiri." sindir Wildan menggoda istrinya itu.
"Haha, ada-ada aja mama."
"Maaf nyonya," Ucap Dania tak enak, karena dirinya yang membuat Maura kesal.
"Tidak apa kak Nia." kata Devana.
"Iya tak apa Dania. Maafkan saya juga karena mengira kamu pembantu kemaren. Maaf juga karena saya belom bisa menerimamu menjadi mantu di rumah ini." Ujar Maura jujur.
"Tak apa nyonya, itu hak nyonya. Saya menghormatinya sebagai menantu nyonya, tapi maaf saya juga akan membuat nyonya bisa menerima saya suatu hari nanti." Ucap Dania penuh keyakinan.
__ADS_1
"Hem iya, oh yah kamu tak perlu memanggil saya nyonya, kamu bisa memanggil saya mama!"
"Benarkah? Saya bisa memanggil mama. Makasih mama." Dania berdiri langsung memeluk Maura Senang.
"Hey sayang kenapa peluk mama?" Tanya Defran membawa nasi goreng untuk Dania.
"Mama ngizinin aku memanggil mama Def." Ucap Dania antusias.
"Benarkah itu maa?" Tanya Defran tak kalah antusias.
"Iya Def."
"Terima kasih maa, sudah mau terima Dania. Def seneng banget dengernya maa." Defran mencium pipi Maura.
"Iya mama akan belajar menerima Dania, dan mama minta agar kalian tinggal di sini dulu untuk beberapa minggu yah, mama mau mengenal mantu mama."
"Baiklah maa, Nia gak akan pulang kosan kalo gitu." jawab Nia mengiyakan permintaan mertua perempuannya itu.
"Akhirnya...., bi Sum bawa nasi goreng untuk kita kesini." Jerit Defran, "Dan sayang ini 3 porsi nasi goreng buat kamu." Lanjut Defran.
"Eh buset kak Def, kakak nyuruh kak Nia gendut?" Tanya Devana heran dengan kelakuan kakaknya itu.
"Gak lah Nana. Porsi Nia emang gitu kalo makan Nasi goreng buatan aku, iyakan sayang?" Ucap Defran menyenggol lengan Dania.
"Hehe" Dania terkekeh malu.
"Kak boleh mintak dikit gak? kayaknya enak."
"Papa mama juga boleh kan nyicip dikit."Ucap Wildan.
"Sebaiknya jangan pa, karena Nia itu pelit kalo soal nasi goreng buatan Def. Def aja gak boleh nyoba." Defran tersenyum mengingat tingkah Nia saat dia mau coba nasi goreng buatannya sendiri.
"Masak sih Dania gitu, boleh yah Nia kita nyicip nasi gorengnya?" Tawar Maura juga tergiur dengan masakan putranya itu.
"No, ini nasi goreng khusus Nia. Gak boleh ada yang coba." Dania mengangkat kedua tangannya melindungi nasi gorengnya.
"Tuh kan Dania selalu pelit kalo menyangkut nasi goreng buatan Def." Ucap Defran bangga.
"Tenang aja Tuan, nyonya dan Non Nana. Bibi bawa seporsi nasi goreng buatan tuan Def." Bi Sum memberi seporsi masing- masing nasi goreng dan tak lupa menaruh di tengah meja seporsi nasi goreng buatan defran.
Dania sangat lahap memakan nasi goreng yang sangat di rindukannya, nasi goreng suaminya, sementara yang l menyantap nasi goreng buatan bi Sum.
"Enak banget yah mantu papa nasi gorengnya?" Tanya Wildan penasaran ingin mencicipi.
"Enyaakk tekali, Nia celalu cuka."
" Hem pantes pelit." Kata Devana.
"Ayo kita coba nasi goreng yang disukai Nia ini." Maura menaruh sesendok masing- masing di piringnya, suami dan anaknya.
"Jangan dimakan!" Dania terlambat semua nasi sudah masuk ke dalam mulut masing- masing kecuali Defran yang memang udah tau rasa nasi goreng buatannya sendiri.
"Yah, udah masuk mulut. Jangan salahin Nia yah papa mama dan Deva karena Nia udah memberi peringatan!"
"Gimana rasanya pa, ma, Na? Enak banget kan?" Defran tidak bisa tidak menahan tawa.
Mereka bertiga berlari menuju toilet memuntahkan nasi goreng buatan Defran.
"Def, kalo mau bunuh kita bertiga jangan gini sayang caranya." Ucap Maura kesal.
"Kak itu bukan makanan itu racun, rasanya aneh banget.
"Kamu gak apa mantu papa makan nasi goreng itu?" Tanya Wildan mengkhawatirkan menantunya itu, Dania menggeleng.
"Nia selalu suka nasi goreng ini, ini nasi goreng cumi paling nikmat yang pernah Nia coba." Jawab Nia sambil menyuapkan nasi gorengnya.
"Makasih sayang udah suka nasi goreng buatan aku, besok aku buatin buat kita semua yah? Mereka kan juga suka, kamu jangan pelit lagi yah sayang." Ucap Defran yang hanya mendapat anggukan dari istrinya.
"Jangan Def khusus buat Nia aja kita jangan! Gak apa Nia pelit dengan nasi gorengnya." Ucap Wildan tidak ingin nasi goreng itu masuk kembali ke mulutnya.
"Iya bener tuh kata Papa." jawab mama Nana barengan.
__ADS_1
"Baiklah, Def memang masak khusus buat istri Def." Ucapnya tersenyum puas.
Bersambung...