
^^^Rasa saling percayalah yang menguatkan cinta.^^^
^^^Defran Arie Olvio^^^
Siang ini di kampus setelah bimbingan Dania melamun di kantin, entah apa yang ada dipikirannya, perempuan sudah bersuami itu menunggu makanan yang dia pesan lalu tidak lama kemudian muncul ke empat sahabatnya.
"Kemana aje lo berapa minggu ini, jarang amat keliatan lagi hibernasi apa?" Tanya Yina menyindir.
"Nia ngapa lo bengong kayak mayat hidup gitu!" itu suara Rere.
"Pacar ganteng lo mana Nia?"
Tanya Ami kepo.
"Hem Nia lo kenapa? Kok kita tanya lu malah bengong gitu!" Tanya Yina khawatir.
"Kamu sakit Nia?" tanya Panji khawatir.
"Eh kalian udah di sini, ada apa ini kok ngeliatin aku kayak gitu banget?" Kata Dania bingung.
"Dari tadi itu kita udah nanya sama lo, tapi lo malah bengong kayak orang kesurupan!" Jelas Rere tertawa.
"Itu lo Re, bukan Nia!" Ami ikut tertawa.
"Hehe," Rere nyengir melihatkan gigi putihnya.
"Mikirin apa si lo Nia?" Tanya Yina.
"Defran," jawabnya lesu.
"Ada masalah apa kamu sama cowok belagu itu?" tanya Panji kesal.
"Biasa lah masalah rumah tangga, kalo gak salah paham apalagi!" balasnya.
"Nia, Nia lo kayak udah kewong aje ama si ganteng pakek acara rumah tangga segala, hahaha!" Cela Ami tertawa.
Sahabat Dania yang tahu jika Dania sudah menikah hanya Yina yang lainnya tentu belum tahu.
"Ah lo, bisa aja mi!" jawab Dania, lalu di teringat kemaren malam saat Defran meminta maaf kepada nya.
Flashback
"Dan satu hal lagi sayang, jangan pernah berkata ingin cerai dariku, karena aku takkan pernah mengabulkannya, sekarang ayo tidur! Kau pasti lelah." Defran langsung mengajak Dania memasuki kamar. Saat memasuki kamar Defran langsung ke kamar mandi membersikan dirinya sementara Dania duduk termenung memikirkan kejadian hari ini, "kalo di pikir-pikir memang aku lah yang salah," batinnya. Tak lama kemudian Defran telah keluar kamar mandi dan lagi berganti pakaian, sedang Dania masuk ke kamar mandi untuk membersikan dirinya.
Keluar dari kamar mandi suaminya itu sedang sibuk dengan macbooknya terlihat tampan dengan kaca mata yang bertengger di matanya. Dania bergegas memakai piyama tidurnya dan menuju ranjang mereka meletakan tubuhnya memunggungi Defran yang sama sekali tak menggubris kehadirannya, Defran masih terpaku dengan dunia kerjanya yang tadi siang membuat aura permusuhan dirinya dan sang istri.
"Def..." panggil Dania yang masih membelakangi punggungnya.
"Hem tidurlah, kamu pasti capek!" kata Defran melanjutkan memeriksa beberapa email yang masuk.
Dania mendudukkan tubuhnya menghadap Defran. "Aku ingin bicara" katanya.
"Hem besok aja Nia, aku lagi sibuk!" kata Defran fokus menatap macbook nya
"Hem dasar laki- laki gak peka!" Dania mengumpat sambil menidurkan kembali tubuhnya membelakangi Defran.
Defran menaruh macbook nya di pinggir rajang king sizenya lalu ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya, di rengkuhnya tubuh mungil istrinya itu.
"Kamu mau bicara apa?" tanyanya, Dania membalikan tubuhnya menghadap suaminya itu.
"Aku minta maaf," katanya cepat.
Defran terdiam dengan permintaan maaf Dania, "maaf aku kekanakan sekali, maaf aku egois Def, aku gak bisa ngertiin kamu," lanjutnya lagi.
"Iya sayangku, sekarang ayo kita tidur!" ajak Defran.
"Aku janji Def gak bakal kekanakan lagi, aku janji gak bakal nyusahin kamu lagi mulai sekarang!" batin Dania.
Flashback off
"Ya ampun Nia ngelamun lagi!" Kata Rere geleng-geleng.
"Lo kenapa Nia? Kok bengong mulu dan ke mana lo berapa minggu ini gak ada?" Tanya Yina mengulang pertanyaannya.
"Aku gak apa-apa kok Yin, cuma kepikiran nasib hubungan gue sama Defran. Kemaren- kemaren itu gue pulang kampung maaf gak ngabarin kalian." Jawabnya merasa bersalah membuat teman-temannya khawatir.
"Udeh lo tenang aje, Aku yakin kok Defran orangnya setia." Ucap Yina menenangkan sambil menepuk pelan pundak sahabatnya itu.
"Emang ada apa Nia lo sama Defran?" Tanya Rere penasaran.
"Hm cerita gak ya?" Batin Nia bertanya.
"Udah cerita aja, gak usah ada yang di tutupin sama kita." Ucap panji menyilangkan tangannya.
"Sebenarnya gue sama Defran itu udah menikah dan sekarang gue lagi ngandung anaknya." jelas Dania akhirnya.
"Jadi lo hamil Nia? Pantes aja badan lo tambah semok, tambah berisi, seksi gitu!" kata Ami antusias.
"Hehe iya, aku lagi hamil." Jawab Dania malu.
"Wah parah lo Nia menyembunyikan ini dari kita," Rere tidak terima dengan pengakuan Dania.
"Kecewa gue sama lo Nia." Timpal Panji datar.
"Selamat ya Nia, akhirnya Ami punya ponakan baru." kata Ami senang.
"Maafin gue, gue gak bermaksud menyembunyikan ini semua dari kalian, gue terpaksa karena suami gue emang ngelarang mempublish pernikahan kita!" Jelas Dania menunduk air matanya sudah mengalir.
"Udah gak pa-pa Nia kita ngerti kok." Kata Yina memeluk sahabatnya itu.
"Gak pa-pa gimana Yina, seharusnya Nia gak boleh menyembunyikan ini dari kita dong!" Rere berteriak marah.
"Bener kata Rere, Nia harusnya gak pakek rahasia-rahasiaan apalagi ini nyangkut masa depan lo Nia!" timpal Panji emosi.
"Ih lo Re sama panji, Nia kan udah jelasin alasannya, kita ngertiin dia dong bener tuh kata si Yina." Cerocos Ami.
"Maafin gue, hiks hiks." Dania masih menunduk.
"Oke kita maafin." Kata mereka serempak.
__ADS_1
Dania sudah pulang ke apartemennya, dia mengistirahatkan sebentar tubuhnya, tidak lama kemudian ponselnya berbunyi tertera Defran lah yang menelponnya.
"Hallo sayang lagi apa kamu? Udah makan belom? Udah minum susunya? Jangan kerja yang berat-berat yah!" kata Defran di ujung sana.
"Iya sudah Def," jawab Dania singkat.
"Kamu di mana sweetheart?"
"Apartemen."
"Oh ya udah bentar lagi aku pulang, mau di beliin apa?" Tanya Defran.
"Gak ada Def, aku gak pingin apa-apa."
"Oh ya udah, see you sayang, Assalamualaikum." kata Defran.
"Waalaikum salam," tut tut panggilan pun terputus.
Nia memutuskan memasak untuk makan malamnya dengan sang suami, selesai memasak Dania mengerjakan revisi skripsinya di ruang tengah rumahnya, tidak lama kemudian bel apartemen berbunyi, suami tercintanya sudah pulang. Dania langsung menyambut Defran lalu memeluk suaminya itu.
"Kamu mau mandi dulu atau langsung makan?" Tanyanya manja.
"Mandi sayang," jawab Defran.
"Ya udah aku siapin airnya yah!" Dania langsung menuju kamar mandi mengisi bath up dengan air.
"Selesai," batinnya langsung memanggil sang suami.
"Def, airnya udah siap."
"Yang mandiin!" Rengek Defran manja.
"Ih kamu mah mesum terus pikirannya."
"Siapa yang mesum sayang? Kamu tuh yang pikirannya begitu, aku cuma minta dimandiin aja gak minta yang lain kok." Jawab Defran tak terima.
"Mandi sendiri! Aku mau manasin makan malam."
"Ya sweetheart gak asikk, masak lebih milih manasin makan malam, mending sini aja mandiin abang nanti abang kasih kehangatan deh." goda Defran tertawa.
"enggak mau, wek." Dania menjulurkan lidahnya kemudian berlari.
"Awas ya kalo ntar malam ngemis-ngemis minta dipuaskan." jerit Defran vulgar dari kamar mandi.
Defran telah selesai mandi dia keluar menuju istrinya yang lagi asik menata makanan di meja makan.
"Def," panggil Dania tak bisa mengalihkan pemandangan di depannya. "gantengnya suamiku," batinnya tidak sadar kalau bibirnya tersenyum.
"Kamu kenapa liatin aku segitunya sayang?" Tanya Defran risih.
"Hem gak pa-pa Def." jawabnya gugup.
"Kamu baru sadar ya kalau suamimu ini, sangat tampan." ucap Defran percaya diri.
"Siapa bilang, kamu tuh jelek tau!" kata Dania sewot.
"Jelek-jelek gini banyak wanita yang klepek-klepek ya!" balas Defran.
"Iya nyonya Olvio," kata Defran patuh.
Dania mengisi piring Defran dengan Nasi beserta lauknya kemudian dia mendudukkan dirinya di samping Defran, "Ayo sekarang buka mulutnya bayi besar!" Dania memegang sendok menyuapi Defran.
"Pinter sekali bayiku ini, ayo buka lagi!" Perintah Dania.
Defran hanya menurut saja dengan kelakuan istrinya itu yang sekarang malah menganggapnya bayi.
"Banyakin daging ayamnya, jangan sayur mulu!" Protes Defran tak suka.
"Uch ternyata bayi ini pemilih sekali ya makannya!" Ledek Dania mencubit gemas kedua pipi suaminya.
"Ayo buka sayang mulutnya lagi sayang!"
Deg, jantung Defran berdebar mendengar Dania memangilnya sayang.
"Sweetheart ulangi lagi yang kamu omongin tadi!" Ucap Defran memohon.
"Ayo buka mulutnya!"
"Bukan yang itu..."
"Yang mana Def, yang Uch ternyata bayi...." kata-katanya terpotong.
"Bukan yang itu sweetheart tapi yang kayak ini yah, ayo buka mulutnya sayang!" Jelas Defran mempraktekan.
"Ayo buka mulutnya!"
"Itu ada ujungnya sweetheart!"
"Apa?"
"Sayang!!!"
"Apa Def?"
"Aku gak manggil kamu! Aku pengen denger kamu manggil aku sayang!" kata Defran.
"Hahaha..." tawa Dania pecah.
"Kamu lucu Def hahaha."
"Ih kok kamu malah ketawa sih!" Gerutu Defran kesal.
"Habisnya kamu ingin aku panggil sayang hahaha!" Dania kembali tertawa.
"Nia stop ketawanya! Sekarang panggil aku kakak sayang pokoknya!" Putus Defran.
"Gak mau Def!"
"Gak ada penolakan ya! Aku lebih tua dari kamu jadi panggil aku kakak sayang atau kakak tampan!" Jelas Defran lebih ke perintah.
__ADS_1
"Gak mau, aku lebih suka manggil pakek nama kamu!" Tolak Dania tak terima.
"Tidak ada penolakan sayang, kalau kamu panggil aku Def aku bakal kasih hukuman!" Ancam Defran mencubit gemas hidung Dania.
"Gak mau Def!"Dania menolak.
Defran merai tengkuk Dania, di ciumnya bibir Dania lembut sambil berkata.
"Ini hukumanmu sayang, kalo kamu sampai manggil aku Def lagi kamu bakal dapat satu ciuman maut dariku dan aku tak peduli tempatnya di mana!" Kemudian dia melepaskan bibirnya dari bibir dania.
"Kamu nyebelin!" Dania mencebikan bibirnya.
"Kakak, Sweetheart," ingat Defran.
"Kakak nyebeellin."
"Nyebelin tapi tampan kan istri kecilku." goda Defran mencubit gemas pipi istrinya.
"Gak ada tampan-tampannya!"
"Hem iya deh, sekarang ayo suapi kakak lagi!"
"Iya, cepat buka mulut kamu!"
"Sayang kamu mau dihukum yah, udah dibilang panggil kakak jangan kamu atau Def!" Ingat Defran kembali.
"Maaf kakak sayang, Nia lupa!"
"Nah gitu dong, itu baru nyonya Olvio," jelas Defran senang.
"Hem ngapain juga dia baru mau dipanggil kakak," batin Dania menggerutu.
"Sayang besok kita pindah ke rumah mama lagi ya sampai kamu lahiran!" kata Defran tiba-tiba.
"Aku maunya tetap disini kak, di apartemen kita." Tolak Dania.
"Kakak gak tega ninggalin kamu sendirian kalo kakak lagi kerja sayang. Kalo di rumah mama, kan ada mama, papa, juga Nana yang jagain kamu."
"tapi kak."
"Jangan bantah sayang nurut apa kata suami!"
"Hem baiklah kalo gitu!" Jawab Dania lesu.
Dania bukannya tidak suka tinggal di rumah mertuanya itu hanya saja dia masih ragu kalau mertua perempuannya belom bisa menerimanya, Dania takut kejadian mereka menganggapnya sebagai pembantu akan terulang lagi. Dania sedang merevisi skripsinya dia tidak mempedulikan Defran yang ada di sampingnya.
"Sweetheart besok aja ngerevisinya, sekarang kita bobo yuk udah malem gak bagus buat kamu sama baby D!" Ajak Defran.
"Bentar lagi kak, nanggung besok aku mau bimbingan," jelas Dania.
"Ih lusa aja kamu bimbingannya, besok kan kita mau pindah ke rumah mama." kata Defran.
"Hem apa gak bisa kita di sini aja kak. Rumah mama jauh dari kampus aku, aku bakal kecapekan entar."
"Kamu stop out dulu deh kuliahnya sayang! Nanti kalo baby udah lahir kami lanjut lagi." bujuk Defran.
"Gak bisa gitu dong kak, masa aku gak lulus lulus." Bantah Dania.
"Ini kan demi kamu sama baby sayang," jawab Defran.
"Au ah serah kakak!" jawab Dania pasrah langsung menaruh laptopnya dan menenggelamkan tubuhnya ke ranjangnya.
"Sweetheart kamu marah sama kakak?" Tanya Defran mendekati Dania yang menutup mukanya dengan bantal.
Dania tidak menjawab pertanyaan suaminya itu dia sangat kesal dengan Defran, "udah ngajak pindah ke rumah yang bahkan pembantunya aja gak nerima aku, ditambah nyuruh aku berhenti kuliah, apa si maunya!" batin Dania kesal.
"Sayang kamu marah ya?" Tanya Defran.
"Pikir aja sendiri!" Dania bangun mengambil selimut dan bantal menuju sofa.
"Sayang kamu mau kemana?" Tanya Defran bingung.
"Aku mau tidur di sofa aja, males deket-deket kamu!" kata Dania ketus.
"Kamu mau di hukum ya?" Kata Defran langsung menarik tangan Dania dan kemudian mencium bibir istrinya itu.
Dania mencoba melepaskan ciuman itu, " ih apa-apaan cium cium!" katanya mendorong suaminya itu, menghapus bekas bibir Defran di bibirnya.
"Itu hukuman buat kamu sayang, kan udah kakak bilang jangan panggil kakak dengan kamu atau Def."
Dania terus mengerucutkan bibirnya dia sudah sangat kesal sekarang Defran terus saja menggodanya.
"Kamu kalo lagi marah makin cantik sayang...Bibirnya jangan digituin dong, nanti kakak cium lagi!" lanjutnya.
"Udah dong ngambeknya, kamu mau apa ntar kakak turutin!" Defran menoel- noel hidung Dania.
"Aku mau tetap tinggal di sini dan gak mau berhenti kuliah seperti yang kakak bilang!" jawab Dania tegas.
" kakak ngajak kamu pindah itu ada alasannya sayang, biar kamu gak sendiri di apartemen kalo kakak lagi kerja dan soal stop out itu saran dari kakak biar kamu gak capek, bisa fokus sama baby." jawab Defran.
"Aku gak nyaman tinggal di sana, jadi tolong kak jangan bawa aku ke sana! Aku takut ke sana kak, aku mohon! Aku bisa tinggal di sini sendirian, kalo kakak mau tinggal di sana atau gak aku balik aja ngekost ya!" kata Dania menolak usul Defran.
"Apa yang bikin kamu gak nyaman? Apa yang kamu takutkan sayang?" Tanya Defran akhirnya.
"Aku gak mau aja tinggal di sana, aku bisa berkunjung jika siang tapi, tidak untuk tinggal di sana Def." jawab Dania.
"Apa alasannya?" Tanya Defran langsung mencium bibir Dania sekilas.
"Itu hukumanmu," lanjutnya.
"Aku tidak mau lagi dianggap babu di sana oleh mama kamu Def, cukup waktu itu aku mengalah!" jawabnya.
Cup, Defran mencium Dania lagi, "kamu itu istri aku bukan babu atau pembantu sayang, lagian mama kan udah nerima kamu sebagai mantunya sayang, malahan ya ini mama loh yang nyaranin!" jelas Defran antusias karena mamanya sudah dapat menerima istrinya.
"Kamu tidak tahu saja Def, bahkan mama kamu tak sudi aku jadi mantunya!" Batin Dania.
"Sudah aku capek, besok mau ngampus pagi-pagi." jawabnya lalu menidurkan tubuhnya membelakangi Defran.
"Dan terserah kakak mau pindah atau gak! Yang jelas aku gak mungkin stop out, satu hal lagi jika terjadi hal yang buruk dengan hubungan kita jangan perna salahin aku!" lanjutnya.
__ADS_1
Bersambung...