
Defran sedang bermain dengan anak-anaknya setelah pertemuan kedua mereka di cafe milik Dania. Defran mengajak mereka ke taman tanpa memberi tahu Dania karena sampai sekarang pun Defran belum bertemu dengan wanita yang sangat di rindukannya itu.
Defran sudah tahu jika Dania hari ini tidak ada di cafe, karena mata-matanya yang memberi tahu sehingga dia bebas menemui kedua anaknya.
"Hm baby D kemana mama kalian pergi? Tanya Defran kepada kedua anaknya.
"Mama tetemu ante Nana biatana." Jawab polos Deyfan.
"Ita biatana itut api, ali ini tita menoyakk, alena tita mau emu papa." jawab Deyna.
"Anak pintar." kata Defran lalu memeluk kedua anaknya.
"Papa beyikan tita ainan, Abey mau make up balbie dan onyeka yang antik-antik." kata Deyna.
"Dey uga mau obil-obilan pa."timpal Deyfan.
"Oke nanti papa belikan ya, tapi sekarang kita harus pulang dulu yah sayang nanti mama kalian nyariin." kata Defran.
"Ya itaa an acih angen papa, papa apan cih tita bica umpul baleng, bial ndak umpet-umpet kek ini agi." cerocos Deyna.
"Ya pa apan kita umpul pa?" timpal Deyfan.
" Sabar ya sayang papa usahain nanti kita pasti ngumpul lagi, oke baby D." jawab Defran.
" Oke Papa." balas mereka serempak.
Usai mengantar Baby D pulang, Defran kembali ke apartemennya, meresapi kesendiriannya selama tiga tahun ini.
"Aku rindu kamu sweetheart." katanya lirih.
Tidak lama kemudian bel apartemennya berbunyi, ternyata adiknya Devana lah yang datang.
"Kakak temenin aku dong?" pinta Devana buru-buru
"Hm," jawabnya singkat.
"Kakak ayo dong temenin Nana," rengek Devana.
"Kamu ini selalu ya ganggu kakak, emang kamu mau kemana?" Tanyanya.
"Nonton kak." Jawab Devana singkat.
"Ajak aja temen kamu atau pacar kamu sana, kakak males."
"Ih kakak ma gak seru ih, aku ngajakin kak Nia tau!" Ucap Devana memprovokasi.
"Ya sudah kamu nonton saja dengan perempuan itu, aku tak peduli." Defran berkata demikian, dia gengsi dan juga kesal.
"Ih kakak ma gitu orangnya, sok gak peduli nanti kalo Kak Nia bener di ambil orang, nanti kakak sendiri yang kelimpungan." jelas Devana.
"Gak akan, terserah perempuan itu." Jawab Defran geram.
" Oh ya, kakak tau gak kalo sekarang kak Nia lagi deket loh sama seseorang, dan kayaknya mereka bakal,...." perkataan Devana terhenti karena Defran memotongnya.
"Dania hanya milikku dan tidak akan ada orang yang bakal merebut milikku." jawabnya lalu masuk ke dalam kamar.
"Arghh sial kenapa kamu meninggalkanku sweetheart, tak tahu kah kamu jika aku tersiksa selama tiga tahun ini, sampai kapan kamu akan terus menghukum ku Dania?" Air matanya tanpa di suruh mengalir dengan sendirinya.
Defran teringat perkataan Devana tadi, bagaimana jika Dania memang tengah di dekati pria lain, "Kamu tidak benar-benar meninggalkanku kan sweetheart?" gumannya.
Sementara Dania sedang bermain dengan kedua anaknya.
"Ma ma apan tita bica umpul baleng papa? Tanya Deyna.
"Iya ma apan?Dey pengen tidul baleng papa, di cuapin papa dan maen baleng papa" curhat Deyfan.
"Sayang papa kalian lagi kerja jauh jadi sabar ya" jawab Dania.
"Maafin mama sayang udah bohongi kalian.
" batinnya berbicara.
__ADS_1
"Mama boong papa gak kelja jauh, papa celing nemuin kita kok." Deyna cemberut.
"Maksud kamu apa Dede sayang?" Tanya Dania bingung, Dania memang memanggil Deyna dengan Dede.
"Tak Abey boong ma, tita gak pelna tetemu papa!" timpal Deyfan.
"Gak tatak gak boong, abang tita kan emang temu papa." balas Deyna marah.
"Dimana kalian ketemu papa?" Tanya Dania.
"Tita gak ketemu papa?" jawab Deyfan.
"Ketemu abang, papa nyampelin kita tadi di tafe" jelas Deyna.
"Tak abey, papa biyang tita halus lahasiain talo tita temu papa." kata Deyfan geram.
"Hehe Abey yupa bang." kata Deyna nyengir kuda.
"Jadi kalian benar bertemu dengan papa?" Tanya Dania.
Baby D hanya mengangguk lalu karena keceplosan mengatakan kepada sang mama.
"Ya Allah Dey, Dede gimana kalo orang itu bukan papa kalian." Suara Dania mengeras.
"Hiks hiks emang calah kayo tita angen papa ma, hiks hiks." Deyna menangis.
"Mama aafin abang ama tatak, tita janji gak bakal nana nana coal papa agi" kata Deyfan.
Deyfan memang lebih dewasa di banding sang adik, dia tahu jika mamanya akan sedih jika mereka membahas tentang papa mereka, oleh itu juga dia yakin jika Defran memang ayah mereka karena dia pernah memergoki sang mama menangisi foto papanya.
"Cup cup maafin mama sayang, mama yang salah, mama takut jika yang kalian temui itu bukan papa kalian, kalian boleh kok ketemu papa dan nanya-nanya tentang papa sama mama." kata Dania ikut menangis.
Deyfan menghapus air mata mamanya, "Maafin tita uga ya ma, tita calah buat mama kwatil" katanya.
"aafin Abey ma, abey calah." Timpal Deyna.
"Udah gak papa, sekarang baby D mau gak jalan-jalan ke mall, tante Nana ngajakin kita." ajak Dania kepada anak-anaknya
Di dalam mall mereka bertemu dengan Devana, mereka sangat bahagia dan lagi-lagi Deyna menanyakan sang papa.
"Ante boyeh gak tita ikut ke lumah ante?" bujuk Deyna.
Devana bingung harus jawab apa dia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan keponakannya itu.
"Boyeh ya ante, abey angen papa, Abey tau ante itu adiknya papa, coalnya Abey pelna liat ante baleng papa." Celoteh Abey memohon ke Devana.
"Hm gimana ya sayang, emang mama kamu gak marah kalo ke rumah tante?"
"Dangan biyang mama ante." kata Deyna.
" Gak boleh gitu dong sayang, kamu harus ijin dulu sama mama kamu?" jelas Devana.
"Ih ante nyebelin cama kayak mama, Abey kan cuma angen papa, tenapa cih temu papa ada culiit banget." Abey merajuk.
"Dede kamu kenapa?" Tanya Dania yang melihat putrinya cemberut sambil menghentakkan di kaki.
"Ma, Abey boyeh yah puyang ke lumah ante Nana?" bujuknya.
Dania melotot kan matanya tak percaya, dia bingung harus menjawab apa, dia takut jika anaknya benar ketemu Defran dan mertuanya.
"Boleh sayang." Jawabnya terpaksa.
"Kakak gak usah khawatir aku akan ajak mereka ke apartemen aja, jadi mereka gak akan ketemu mama papa dan kak Def." jelas Devana.
"Hm iya na, kakak takut mereka ketemu Defran, mama sama papa, kakak belum siap." Jawab Dania lesu.
Di mall mereka main time zone, makan-makan dan keliling lalu membeli beberapa baju dan mainan, setelah itu Baby D dan Devana pulang ke apartemen Devana sementara Dania tidak bisa ikut karena ada urusan di cafenya.
"Selamat datang di apartemen tante Baby D" kata Devana.
Kedua pasang kaki kecil itu memasuki Devana dengan takjub.
__ADS_1
"Papa mana?" Tanya Deyna
"Iya tante papa mana?" Tanya Deyfan.
Devana bingung ternyata kedua keponakannya ini memang ingin bertemu dengan kakaknya, mereka mengira jika Devana akan mempertemukan mereka dengan Defran.
" Hem papa kalian kan lagi kerja sayang." jelas Devana.
"Talo gini untuk apa tita ke cini bang, gak temu papa." kata Deyna menyesal.
" iya tak, ante antelin tita ke empat papa kelja ya?" bujuk Deyfan dengan puppy eyes nya.
"Hm jadi Baby D menyesal ni ke rumah tante?" kata Devana ikut cemberut.
" Bukan ditu ante yang antik milip balbie, tapi tita itu angen papa, tita udah cehali gak etemu papa." kata Deyna.
"Iya ante tayang, antelin ya kita ketemu papa." bujuk Deyfan.
"Hm jadi Baby D memang udah ketemu papa?" tanya Devana takut.
"Iya papa tita danteng banget ante." jawab mereka antusias.
" kalo kalian mau ketemu papa ada syaratnya cium tante dulu?" kata Devana.
Baby D pun langsung mencium pipi Devana bergantian, Devana mengantar keponakannya ke apartemen Defran yang ternyata tepat di depan apartemennya karena sejak tiga tahun lalu dia memutuskan untuk tinggal di apartemen yang dekat dengan sang kakak, dia tahu jika waktu itu kakaknya butuh dukungan.
Devana tentu hapal password apartemen kakaknya itu, mereka masuk dan memanggil sang tuan rumah.
"Kak Def, kak Def dimana?" panggil Devana.
"Papa, papa, papa, Tatak sama abang datang." jerit Deyna dan Deyfan.
"Hm kita ke kamar papa kalian aja, papa kalian pasti tidur." jelas Devana.
Mereka menuju ke kamar Defran, dan benar saja Defran tengah tertidur, Baby D yang merindukan sang papa pun langsung menghambur ke ranjang papa mereka lalu ikut tertidur dengan sang papa.
Sementara Devana pulang ke apartemennya lalu menelpon Dania bahwa mereka sudah sampai di apartemen dan Baby D aman.
Dania khawatir karena jam-jam sekarang waktunya untuk mereka minum susu. Dia lupa membekali keduanya. Huh takutnya dia akan merengek ke Devana. Dan benar saja, di apartemen Defran, Deyna dan Deyfan terbangun karena lapar.
"Papa lapel mimi cucu." kata keduanya menoel-noel pipi papanya.
Defran yang terbangun belum menyadari jika di ranjangnya ada kedua anaknya pun terkejut.
"Sayang, kalian kok di sini?" Tanya Defran heran.
"Papa lapel, antel pulang mimi cucu." kata Baby D kompak.
Defran belum sepenuhnya sadar dari tidurnya tambah bingung dari mana dia mendapatkan susu sementara kehadiran kedua anaknya saja dia masih cengoh di buatnya.
"Papa mimi cucu." kata Baby D.
"Sayang kalian kok ada di sini?" Ulang Defran.
"Hiks hiks lapel pa, mimi cucu pa, lapel pa hiks hiks." Deyna menangis.
"Hiks hiks antek pulang pa, tita lapel mau mimi cucu." kata Deyfan.
"Mimi cucu ya" jawab Defran bingung.
"Oh mereka pasti masih menyusu dengan Dania, jadi aku sekarang harus mengantar mereka pulang." batinnya bersuara.
"Hm kalian tunggu bentar ya sayang papa ganti baju dulu, nanti papa anter pulang." bujuk Defran.
.
.
.
Tbc
__ADS_1