
^^^Hubungan dibangun dengan kejujuran, menguat karena kepercayaan bertahan dengan kesetiaan dan tumbuh hidup karena komunikasi.^^^
^^^"Dania Bella"^^^
Defran sangat bahagia keluarganya menerima Dania dengan baik walau sang mama masih masih belum percaya tapi Defran memahami alasan mamanya. Begitu juga dengan Dania dia merasa menemukan kehangatan keluarga kembali berbincang dengan keluarga barunya. Dania jadi merindukan Ayah dan ibunya di kampung. Rasanya sudah sangat lama Dania belum mengabari keluarganya itu.
Selesai sarapan pagi Dania memutuskan menelpon mama Sila, mamanya Dania.
"Halo Nia, kamu udah lama banget gak ngabarin ibu, kamu lupa apa sama ibu di kampung? Lupa sama ayahmu, sama adik- adik kamu?" Cerca Sila panjang lebar.
"Bu apa kabar? Nia di sini alhamdulillah sehat maaf Nia baru bisa ngabarin. Wulan udah di kosan Nia sekarang, kangen lah bu." Jawab Dania penuh haru.
"Kalo kangen kapan kamu pulang? Ayah sama adik- adik kamu tuh udah nanyain mulu. Mereka kangen kamu, iya kemaren Wulan udah nelpon Ibu."
"Nia usahain secepatnya yah bu, ibu ayah sehatkan? Nenek juga sehatkan? Nia kangen kalian semua."
"Alhamdulillah kami Sehat Nia, hanya saja kemaren Nenek kamu sedikit drop tapi sudah sembuh sekarang."
" Oh syukurlah kalo begitu bu, Nia lega mendengarnya. Nanti Nia usahain pulang secepatnya." Ujar Dania, dia juga ingin pulang ke kampung halamanya itu
"Iya Ibu tunggu kabarnya yah sayang, udah dulu yah ibu mau beres- beres rumah. Adik kamu pada di sekolah semua. Assalamualaikum sayang, jaga diri yah Nia, jaga juga adek kamu Wulan."
Tut tut sambungan telpon terputus, "Yah bu pasti, waalaikum salam." jawab Dania dalam hati.
"Sweetheart lagi apa?" Defran tiba- tiba memeluk Dania dari belakang.
"Abis telvon ibu Def." Dania langsung berbalik menghadap Defran.
"Hey sayang kenapa wajahmu ditekuk? tidak terjadi apa- apakan di sana?" Defran memegang pipi Dania.
"Ibu menyuruhku pulang Def, mereka merindukanku." jawab Dania jujur.
"Kapan kamu mau pulang sayang?" tanya Defran
"Kalo bisa secepatnya, aku juga merindukan mereka." jawab Dania.
"Baiklah sweetheart lusa kita pulang kampung. Karena besok aku masih ada urusan di kantor."
"Lusa Def? Kita maksudnya apa?" Tanya Dania bingung.
"Iya sayang kita ke kampung asal kamu. Aku juga ingin mengenal keluargamu sweetheart." jawab Defran.
"Tapi Def...., kenapa kamu harus ikut?" tanya Dania lagi.
"Sweetheart, kan sudah kubilang aku ingin mengenal Ayah Ibu mertuaku dan keluarga baruku di kampung."
__ADS_1
"Tapi Def, sebaiknya kau tak usah ikut. Biar aku saja yang pulang kampung."
"Kau tak mau mengajakku sayang? kau tak ingin memperkenalkanku ke orang tua dan keluargamu? hem."
"Bukan begitu Def, hanya saja aku tak tahu apa yang harus ku bilang kepada keluargaku tentangmu, aku tak ingin melukai hati Ayahku."
"Maksud tentangku yang melukai ayah apa sayang? Bukankah ayah akan bahagia jika punya seorang mantu?" Tanya Defran meminta penjelasan.
"Def mereka tahu aku masih seorang gadis yang belum menikah. Mereka tak tahu hubungan kita karena kita tak meminta restu saat kita menikah. Ayahku akan sangat terluka jika tahu aku menikah tanpa ijinnya, ayah begitu menyayangiku. Dia selalu bermimpi jika Dia yang menjadi wali nikahku dan menyambut tangan orang yang menjadi suamiku Def." Curhat Dania.
"Kau tak perlu khawatir sayang tentang hal itu. Aku sudah meminta restu ayahmu sebelum kita menikah, Ayahmu juga yang memberikan no om Haris mu itu."
"Baiklah kalo begitu Def. Kamu gak ngantor?" Tanya Dania akhirnya menyetujui jika suaminya mau ikut pulang ke kampungnya.
"Tidak sayang. Aku ingin mengajakmu jalan- jalan hari ini."
"Emangnya kita mau kemana?"
"Itu rahasia sayangku, cepat ganti baju aku tunggu dibawah!"
Usai menganti baju Dania langsung menemui suaminya di bawah.
"Udah siap tuan putri, ayo kita kencan sweetheart." ajak Defran.
"Iya Def, ayooo." Dania langsung mengandeng tangan Defran.
"Kok ke mall Def?" Tanya Dania kesal.
"Emangnya kamu kira aku mau ngajak kemana sayang?" goda Defran.
"Tau ah," ketus Dania.
"Jangan ngambek dong, kamu udah di tungguin loh di dalem sama sahabat- sahabat kamu."
" Siapa?" Tanya Dania.
"Ayo buruan turun mereka udah kangen banget sama kamu."
Di dalam mall para sahabat Dania sudah menunggu kehadirannya. Suara cempreng milik Ami pun berbunyi nyaring memanggilnya.
"Nia aku kangen kamu." jerit Ami langsung menghambur memeluk Dania.
"Amiii, Nia juga kangen sama Ami. Hai semua kok kalian gak ngomong sih kalo mau meet up?"
"Ini rencana Defran, Nia." jawab Darren menjelaskan.
__ADS_1
"Amiii, lepasin Nia kita juga kangen sama Nia bukan lu aja." gerutu Yina.
"Tau ni Ami, kayak Nia punyanya aja. Kita juga sahabat Nia yah." timpal Rere.
"Udah udah gak usah rebutan sini Nia peluk babang Panji." Goda Panji yang langsung dipelototi Defran.
"Berani lo peluk bini gue, jangan harap hari ini masih bisa nafas!" Ancam Defran menunjukan tangannya yang mengempal di muka panji.
"Sini peluk gue guys gue kangen kalian semua." Ucap Dania senang.
Setelah acara temu kangennya usai mereka memutuskan untuk menonton film dilanjutkan makan makan dan terakhir shoping- shoping ala- ala mereka.
Defran juga ngajakin Dania ke kosan lamanya untuk menemui Wulan adiknya. Dania bahagia banget bisa bertemu dengan sahabat dan adiknya.
Malamnya Defran mengajak istrinya itu dinner romantis. Defran benar-benar ingin membuat Dania bahagia. Setelah itu mereka pulang dengan wajah lelah tapi bahagia. Dania sudah tertidur pulas, Defran jadi tak tega membangunkannya.
Defran mengendong istrinya ala bridal style menuju kamar mereka. Lalu diletakan Dania ke atas ranjang king sizenya. Defran memandangi istri kesayangannya itu begitu cantik saat sedang tertidur.
"Semoga kamu selalu bahagia sweetheart dan aku akan membuatmu selalu bahagia sayang itu janjiku. Selamat tidur istriku." Defran mencium puncak kepala Dania dengan sayang. Pandangan Defran beralih ke perut Dania yang terlihat sedikit membuncit.
"Hallo anak papa, tetap sehat yah di dalam sana. Jangan nyusahin mama sayang, cepat keluar supaya kita bisa main sayang." Tangannya mengelus dan mencium perut buncit itu dengan sayang.
"Happy nice dream sayangnya papa. Happy nice dream istriku."
"Terima kasih sayang untuk semua kebahagian ini." Defran ikut membaringkan dirinya di samping Dania menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Dania dan menarik istrinya itu ke pelukannya lalu mereka sama- sama terlelap.
Sementara mama Maura kebingungan bagaimana menjelaskan hubungan Defran Dania kepada keluarga Dira.
"Mama kenapa sih dari tadi kok mondar- mandir mulu?" Tanya Wildan heran dengan kelakuan istrinya itu.
"Begini Pa. Papakan tahu bahwa Defran dan Dira sudah tunangan, sementara kini kita tahu bahwa Defran sudah menikahi Dania. Mama bingung pa," Curhat Maura.
"Udah ma gak usah dipusingin hal itu. Lagian yah ma kata Defran dia sudah memutuskan hubungannya dengan Dira." Ucap Wildan menenangkan.
"Iya Pa, Mama tau kalo itu. Yang mama pusing itu keluarga Dira belum tahu Dira dan Def sudah putus. Papa tau sendiri kan kalo jeng Dian mamanya Dira itu sahabat mama, mama takut mereka marah Pa."
"Udahlah ma gak usah dipikirin, aku yakin Defran bisa menyelesaikan masalah ini yang terpenting saat ini mantu dan cucu papa sehat." jelas Wildan tidak sabar ingin mengendong cucu.
"Apa pa cucu? Dania hamil? Ya Allah akhirnya aku punya cucu." Ucap Maura bahagia.
"Iya ma cucu kita, kita akan punya cucu bentar lagi. Kita akan jadi opa dan oma" jawab Wildan senang.
"Sekarang mama jadi takut pa, Dira akan mengacaukan rumah tangga Defran." Ucap Maura khawatir.
"Udah ma gak usah takut, aku yakin Def benar- benar mencintai Dania, jadi sekarang kita tidur yah mama." Ucap Wildan menenangkan istrinya itu.
__ADS_1
Bersambung...