
^^^Terima kasih Tuhan karena telah mempertemukan aku dengan mahluk yang bernama jodoh.^^^
^^^"Defran Arie Olvio"^^^
Defran mengalah dengan ancaman kedua adik iparnya itu.
"Baiklah kakak akan membujuk kak Bey ke pasar malam." Ucapnya terpaksa.
"Itu baru kakak ipar," Kata Kasih dan Tiara serempak.
"Sweetheart, ayo ke pasar malam! Kita udah ditungguin Kasih sama Rara sayang." Panggil Defran kepada istrinya yang sudah rebahan di ranjangnya itu.
"Kamu aja yang ke pasar malam Def. Aku lelah mau tidur." Dania menolak lalu membelakangi suaminya.
"Sayang." Defran memeluk Dania dari belakang menelusup kan kepalanya di leher sang istri.
"Sweetheart pergi ke pasar malam yaah? Kalo aku gagal bujuk kamu aku bakal di usir dari sini sayang." Defran memelas.
"Def beneran aku capek, kamu enak tadi udah tidur. Jadi besok aja yah!"
"Kamu tega yang lihat aku di usir sama adik- adik kamu. Lagian aku udah janji sama mereka buat bujuk kamu."
"Kamu ni gimana masak takut sama anak SMP. Udah gak bakalan mereka ngusir kamu dan soal janji gak perlu khawatir mereka juga bohongin kita kan."
"Aku gak takut sama mereka. Hanya saja nanti mereka ngenalin kamu sama cowok- cowok di sini." jawab Defran cemberut.
"Suamiku, aku udah kenal sama cowok-cowok disini. Jadi kamu gak usah cemburu yah! Udah ah lepas aku mau mandi." kata Dania berusaha melepaskan pelukan Defran.
"Ikuut mandi sweetheart," Defran merengek kayak anak kecil.
"Gak ada yah, ntar kamu malah mesum nanti." Dania langsung masuk ke kamar mandi.
Defran keluar dari kamar menemui kedua adik iparnya, wajah cemberutnya yang gagal membujuk Dania sangat terlihat.
"Kakak gagal yah membujuk kak Nia nya?" Tanya kasih, Defran hanya mengangguk tak berani menjawab.
"Ah kak Def payah. Masak bujuk kak Bey aja gak bisa, biar Rara aja yang turun tangan." teriak Rara sombong.
"Jangan Ra kak Bey masih capek butuh istirahat. Besok aja yah kita ke pasar malamnya." kata Defran.
"Berarti kak Def siap tidur di luar?" Tanya Kasih.
"Gak ada yang bakal tidur diluar, Defran tidur di kamar Nia." Ucap Husien Tegas.
"Ayah gak boleh gitu! Kak Def gagal bujuk kak Bey. Kak Def harus tidur di luar pokoknya." Titah Tiara seenaknya.
"Rara anak ayah paling cantik, kak Bey sama kak Def kamu baru aja nyampe. Mereka lelah sayang, mereka butuh istirahat. Lagian yah kak Bey kamu itu lagi hamil cucu ayah jadi gak boleh capek." jelas Husien memencet hidung Tiara gemas.
"Kak Bey hamil? Siapa yang ngehamilin kak Bey?" Tanya Tiara bingung.
__ADS_1
"Kakak yang ngehamilin Nia." Ucap Defran bangga.
"Oh my god, jadi kak Def benar kakak ipar kami?" Tanya Kasih penasaran.
"Tentu saja, karena aku bukan calon suami Nia tapi suami sah Dania Bella. Jadi tidak ada yang bisa mengusirku dari sini." kata Defran menyombongkan diri.
"Holly ****, bagaimana bisa kakak jadi suami kak Bey?" Tanya Tiara.
"Bisa aku menculiknya dan memaksanya menikah denganku." Jawab Defran.
"Defran," Panggil Husien.
"Iya ayah."
"Apa maksud perkataan kamu tadi?" Tanya Husien mengintimidasi.
"Maaf Ayah keceplosan," Ucap Defran menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jadi benar yang kamu bilang tadi, bahwa kamu menculik Dania dan memaksanya menikah dengan mu?" Tanya Husien memastikan
"Benar ayah," jawab Defran jujur.
Bugh bugh bugh, Ayah memukul perut Defran tiga kali. "Itu pukulan yang seharusnya saya layangkan dari tadi." Ujar Husien.
"Ayah kenapa memukul Def?" Tanya Dania yang tiba- tiba muncul dari kamarnya.
"Itu balasan setimpal karena anak ini berani maksa dan culik kamu sayang." Jawab Husien mendekati putrinya.
"Maafkan ayah sayang, Ayah emosi mendengar penuturan anak tengil ini." Jelas Husien merasa bersalah.
"Hiks hiks hiks hiks, ayah jangan pukul Def lagi! Hiks hiks" Tangis Dania.
"Maafkan ayah."
"Udah sweetheart aku gak papa. Lagian wajar kalo ayah mukul aku, kan emang aku yang salah sayang." Jelas Defran.
" Jadi gak papa kamu di pukul? Ayah pukul Def lagi." Perintah Dania.
"Apa sayang mukul bocah ini lagi, nanti kamu nangis sayang." Goda Husien kepada putri sulungnya itu.
"Sweetheart kok kamu tega sama aku. Aku gak suka yah." Kata Defran ngambek meninggalkan Dania ke kamar.
Dania menyusul suaminya yang ngambek. "Kamu marah Def?" Tanya Dania.
Defran hanya diam tak mau menjawab pertanyaan Dania, entah kenapa tiba- tiba hatinya begitu sensitif.
"Kamu marah sama aku Def?" Tanya Dania lagi.
Air mata Defran mengalir tanpa di minta. Dia juga bingung kenapa bisa begitu, dipeluknya tubuh Dania dan meletakkan kepalanya di leher sang istri.
__ADS_1
"Sweetheart aku pengen makan kamu." Ucapnya mesum.
"Mulai deh otaknya." kata Dania.
"Aku ingin mengunjungi anak kita sayang." bujuk Defran
"Aku lelah Def, besok aja." tolak Dania
"Yaudah kalo gak mau, aku mandi dulu yah." Kata Defran sedih langsung melenggang ke kamar mandi.
Usai mandi diliriknya istri cantiknya sudah tertidur pulas, "Ternyata kau benar kelelahan sayang." Defran mencium kening Dania singkat lalu berganti pakaian.
Usai menganti pakaian Defran ke luar dari kamar dilihatnya kedua adik iparnya cemberut karena gagal ke pasar malam.
"Hem, pada kenapa ni adik-adik ipar kakak?" Tanyanya.
"Kita lagi bete sama kakak. Kakak gagal bujukin kak Nia."
"Iya aku sebel sama kak Def, kakak payah orangnya." timpal Rara cemberut.
"Hem besok kakak mau jalan-jalan ke kota. Kalian mau ikut gak?" Tanya Defran.
"Ke kota kak? Yang bener, Rara ikut kak. Beliin Rara boneka yah kak?" Muka Rara berbinar bahagia.
"Aku juga ikut kak, beliin baju sama sepatu tas juga yah kak."
" Oke, apapun yang kalian minta kakak turutin besok. Asal adek kakak gak boleh cemberut lagi oke." Ucap Defran mengacak rambut keduanya.
"Oke kakak. Ini baru kakak kami, malemnya kita ke pasar malam yah." Kata Kasih dan Tiara serempak.
"Oke, oh yah Ayah dimana dek?" Tanya Defran.
"yah lagi ngeronda kak." Jawab Tiara.
"Oh ya udah kakak ke kamar lagi yah." Kata Defran langsung menuju kamarnya.
Di dalam kamar Defran langsung merebahkan tubuhnya di samping istrinya, di pandanginya wajah yang selalu membuat hatinya ketar-ketir tak menentu.
"Kamu benar-benar cantik sweetheart." Pujinya, diliriknya perut sang istri di sana ada calon anaknya lalu di elusnya perut yang sedikit membuncit, kemudian di ciumnya.
"Hai anak papa, kapan kamu keluar papa tidak sabar menunggu kedatangan kamu sayang, baik- baik yah di perut mama sayang." Defran berbicara dengan calon anaknya.
Dania menggeliat tak tenang dalam mimpinya," Def aku menyayangimu jangan tinggalkan Def! Kumohon Def, jangan tinggalkan aku!" Dania mengigau.
"Tenanglah sweetheart, aku takkan meninggalkanmu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu sayang." Ucap Defran membaringkan tubuhnya dan menjadikan lengannya sebagai bantal Dania.
Dipeluknya tubuh mungil sang istri dengan posesif, sementara Dania sibuk mengendus aroma tubuh yang selalu menenangkannya itu.
"Tidur yang nyenyak istriku, aku tak akan perna meninggalkanmu. Aku akan selalu berada di samping mu dan berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanmu." kata Defran mengeratkan pelukannya pada sang istri dan tak lama dia pun ikut terlelap.
__ADS_1
Bersambung...