Istri Yang Di Bayar (Dania Bella)

Istri Yang Di Bayar (Dania Bella)
Part29


__ADS_3

Defran tidak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Dania, dia benar-benar takut Dania akan meninggalkannya. "Kak lepas dulu ya pelukannya, kakak harus makan abis itu minum obat biar kakak sehat cepat sembuh" bujuk Dania.


Defran menggeleng menolak melepaskan pelukannya, "gak mau sayang kalau aku lepas nanti kamu bakal ninggalin kakak, kakak gak mau kamu tinggalin." rengek Defran.


"Nia gak bakal ninggalin kakak kok asal kakak mau nurut sama Nia, sekarang kakak lepas peluknya kakak harus makan dulu." bujuk Dania.


"Oke tapi janji ya gak ninggalin kakak." kata Defran melepas pelukannya.


"Hm iya kak, ayo buka mulutnya kakak kalo lagi sakit gini manjanya melewati baby." sindir Dania.


Dania menyuapi Defran dengan telaten dan Defran makan dengan sangat lahap setelah itu Defran minum obat.


"Sayang pengen tengokin baby D!" kata Defran.


"Hus ini rumah sakit." jawab Dania.


"Emangnya kenapa kalo ini rumah sakit?" tanya Defran, "takut kena grebek ya?" Lanjutnya.


Muka Dania merah karena malu Defran menggodanya,


"Dasar omes." kata Dania.


"Omes omes gini kamu juga mau dan ketagihan kan?" goda Defran.


"Ih udah sana istirahat, aku juga mau istirahat, ranjang aku kakak rebut tau" kesel Dania.


"Sweetheart sini tidur dekat kakak sayang, kakak pengen peluk kamu." ajak Defran.


Dania pun membaringkan tubuhnya di samping Defran di ranjang kecil itu. Dania sudah tertidur di pelukan Defran tidak lama kemudian Devana, Papa dan Mamanya datang berkunjung.


"Kak Def ngapain di atas ranjang kak Nia gitu?" Tanya Devana.


"Ssttt diam istri aku lagi tidur!" Defran setengah berbisik.


"Loh infusnya kok ada dua gini?"


Lanjut Devana kepo.


"Nana jangan berisik, Nia baru tidur!" jawabnya kembali berbisik.


"Kakak ngomong apaan si gak denger aku!" gerutu Devana.


"Kamu kenapa bisa di infus def?" tanya mama Maura khawatir.


"Dania gimana keadaannya? Kenapa kalian bisa seranjang gitu?" Tanya Papa.


"Ssstt Papa Mama Nana bisa nanti aja gak keponya," kata Defran mengeraskan suaranya, yang membuat Dania membuka mata cantiknya.


"Sayang maaf suara aku ganggu ya? lanjut tidur lagi ya!" kata Defran menepuk-nepuk punggung Dania dan menciumi puncak kepala Dania.


"Uh So sweeet." jerit Devana


Dania yang hampir terlelap lagi kembali membuka mata mendengar jeritan Devana, dia mencari sumber suara yang menggangu tidurnya, di lihatnya mama papa dan adik iparnya sedang menunggu di sofa.


"Kamu kok gak bangunin aku Def kalo ada mama papa sama Deva?" tanya Dania.

__ADS_1


"Cup Cup hukuman." kata defran mencium Dania singkat.


"Kita duduk kak gak enak sama mama papa." pinta Dania.


Merekapun duduk dari tidurnya kemudian papa dan mama mendekatinya.


"Gimana keadaan kamu Nia?" Tanya mama Maura.


"Udah mendingan dari kemaren ma." jawab Dania.


"Terus kenapa kamu Def bisa sampai di infus gitu?" tanya Papa.


"Aku kecapean pa!" jawab Defran.


"Maaf ini salah Nia, karena Nia kak Def pingsan?" kata Dania menunduk.


"Sweetheart aku cuma kecapean doang itu, aku gak apa-apa lihat ni aku sehat." kata Defran berusaha membuat Dania tidak merasa bersalah.


"Ya sudah kalian istirahat papa mama sama Nana mau pulang." kata Mama Maura lalu mengajak Papa Wildan Nana keluar.


"Kapan kita pulang?" rengek Defran, "kakak bosen di sini sayang!" lanjutnya.


"Aku juga bosen kak." jawab Dania.


"Ya udah kita pulang aja sayang." kata Defran


"Tapi kakak kan masih sakit." jawab Dania.


"Yang sakit bukan kakak tapi kamu sayang." Kata Defran menoel hidung istrinya.


"Kenapa harus izin sayang, kakak kan milik kamu" kata Defran melebarkan tangannya.


Dania naik kepangkuan Defran lalu memeluk Defran erat seolah tidak ingin pisah, "Aku sayang banget sama kakak." ungkapnya.


Kemudian di lihatnya wajah Defran dan cup bibirnya mendarat di bibir suaminya itu,"aku cinta banget sama kakak." lanjutnya.


Dania sangat menciumi aroma tubuh Defran, "aroma tubuh ini pasti akan aku rindukan" batinnya dalam hati.


"Sayang kamu jangan tinggalin kakak yah!" pinta Defran.


"Maaf kak, aku sudah menyerah hiks hiks itu artinya aku harus pergi hiks hiks," kata Dania menangis.


"Gak sweetheart kamu gak boleh pergi kakak gak mau kehilangan kamu sayang, kakak gak bisa hidup tanpa kakak." Defran juga ikut menangis.


"Kakak sudah memilih Dira dan biarkan aku memilih pilihanku kak, aku menyerah kak, seperti kataku beberapa hari lalu saat kakak bertunangan dengan Dira." kata Dania.


"Dira bukan tunangan kakak lagi." jawab Defran.


"Aku tak bisa percaya lagi kak, dulu pun kakak bilang jika Dira bukan tunangan kakak lagi tapi nyatanya kakak kembali bertunangan dengan Dira." jawab Dania.


"Maafkan kakak sayang, jangan tinggalin kakak!" Defran menangis.


"Aku sudah memaafkan kakak, Selamat tinggal kak." Dania bangkit dari pelukan Defran.


"Kakak harus tetap sehat gak boleh cengeng, masa calon papa cengeng." kata Dania kemudian memeluk Defran lagi.

__ADS_1


"Aku sayang banget sama kakak itulah kenapa aku harus pergi, aku pergi supaya kakak tahu siapa pemilik hati kakak, jika kakak sudah yakin siapa pemilik hati kakak, aku mohon kakak cari dia dan peluk seperti ini jika sudah bertemu, kemudian cup cium seperti ini." Dania ******* bibir Defran, "selamat tinggal kak semoga Tuhan menjodohkan kita lagi." lanjutnya kemudian pergi entah kemana.


Defran mematung melepas kepergian Dania dia seperti orang bodoh yang tak mampu berpikir tak lama kemudian Devana, Mama dan Papanya masuk, "Dania kemana sayang?" tanya mama Maura.


"Kak Nia kak Nia kakak ada di toilet yah? Buruan keluar kak kita harus pulang!" jerit Devana.


"Mama," Defran memeluk ibunya, "Dia udah pergi ninggalin Def hiks, dia ninggalin Def sendiri!" ucap Defran.


"Maksud kamu apa Defran, menantu papa pergi?" Tanya Papa Wildan.


"Iya pa, Nia pergi ninggalin Defran." wajahnya tertunduk putus asa.


"Kamu bohong Nia, kamu bohong sayang sama kakak, kamu bohong, kalau kamu sayang gak mungkin kamu ninggalin kakak." jeritnya.


"Sudah sayang ikhlaskan Dania sekarang kamu kembali sama Dira ya, Dira sayang sama kamu melebihi sayangnya Dania ke kamu." bujuk mama Maura.


"Tidak ma, Dania menyayangiku dia memberikan aku waktu untuk menyadari siapa pemilik hatiku." jawab Defran.


"Kamu bilang kakak gak boleh cengeng kan, kakak tidak akan menangis sayang." katanya menghapus air mata, "kamu bilang kalau kakak sudah tahu siapa pemilik hati kakak, kakak harus mencarinya kan, kakak sudah tahu sekarang siapa pemilik hati kakak, kamu sayang pemilik hati kakak." lanjutnya.


"Tunggu kakak, kakak akan menjemputmu kembali, Ma, Pa, Na, kakak pergi dulu kakak yakin Nia belum jauh." Defran berlari kesana kemari tapi nihil dia tak menemukan keberadaan Nia.


Sementara Mama papa dan Devana bengong melihat keadaan Defran, "Kasihan kak Def, baru sadar jika dia sungguh mencintai kak Nia setelah kak Nia pergi." kata Devana.


"Semoga ini menjadi pelajaran berharga buat kakak kamu Na." timpal papa.


"Ini salah mama, Nia gak mungkin ninggalin Defran, kalo mama gak maksa Defran tunangan sama Dira." kata mama Maura menyesal.


"Sudahlah ma, mama jangan menyalahkan diri mama lagi, ini sudah jadi suratan takdir untuk menguji seberapa besar cinta mereka." kata papa wildan.


"Ayo ma pa kita cari kakak!" ajak Devana.


Merekapun mencari keberadaan Defran, Defran terduduk lemah di sebuah bangku di taman rumah sakit.


"Itu kakak ma." kata Devana, merekapun melangkah mendekati Defran.


"Gimana Def, ketemu Dania nya?" Tanya Papa.


Defran menggeleng putus asa, "kakak jangan pesimis gitu dong, Nana janji bakal bantu kakak nemuin kak Nia!" kata Devana.


"Mama juga akan bantu." timpal mama.


"Papa juga akan ikut membantu." kata papa.


"Kita mulai dari temen- temen kak Nia dulu." kata Devana.


"Terima kasih ma, pa, na, Def gak tau kalau gak ada kalian." Defran kemudian memeluk keluarganya itu.


.


.


.


Kira-kira kemana ya Nia pergi?

__ADS_1


__ADS_2