Istri Yang Di Bayar (Dania Bella)

Istri Yang Di Bayar (Dania Bella)
Part 5


__ADS_3

^^^Alasan aku ingin bersamamu adalah karena aku ingin kita bahagia bukan malah terluka.^^^


^^^"Defran Arie Olvio"^^^


Defran benar- benar kesal dengan sahabatnya itu. Bagaimana tidak Dafin membuat perang ketiga antara dirinya dan Dania, Namun untunglah istrinya itu bisa mengerti dan tak salah paham lagi, karena bujukan Defran. Sekarang istrinya sedang tertidur lelap di kamar kantornya. Sementara Defran membahas masalah kantornya dengan Dafin.


"Gile bini lo bro cantik bener." Puji Davin cengengesan.


"Bohay lagi wajar aja lo langsung maksa nikahin." Lanjutnya menggoda sahabatnya itu.


"Otak lo bro, awas macem-macem sama bini gue! Sekarang ayok kita bahas masalah penyelewengan Dana ini."  Defran mencoba mengalihkan pembicaraan, dia tidak suka orang lain memuji istrinya.


"Gimana mau lo bawa ke penjara aja apa tuh orang?" Tanya Davin.


"Iyalah bro, tuh orang kan ngelakuin kesalahan. Jadi harus dihukum lah, tapi bro lo aja yah yang urus! Besok gue mau pulang ke kampung bini gue." Ucap Defran memerintah, agar temannya itu setuju.


"Okelah, tenang aja lo bro. Asalkan lo bisa ngasih cewek yang kayak Dania! Gue mau bro, adik nya gak papa." Jawab Dafin.


"Aelah lo bro. Mau untung terus yah? Dania sih punya adek baru mau masuk kuliah taun ini bro." kata Defran memukul bahu sahabatnya itu.


"Cantik gak bro? boleh tuh buat gue." Ujar Dafin tersenyum.


"Sebelas dua belas lah sama bini gue. Cuma dia lebih tinggi bro, tapi gak mau gue ngasih adek ipar gue buat lo."


"Kalo lo gak mau ngasih adik ipar lo. Gimana kalo Nana aja yang gue deketin." Dafin memberikan penawaran.


"Sono lo keluar gih! Gue mau ngelanjut yang sempat tertunda sama bini gue." Usir Defran tidak  suka dengan apa yang keluar dari mulut sahabatnya itu.


"Li ngusir gue bro? Aelah bro, kejam lo. Mentang ada udah bini. Ya udah gue permisi, sukses yah buat ponakan untuk gue."  Ucap Dafin pamit.


"Hus Hus Hus sono lo keluar. jangan ganggu orang mau ***-*** yah!" usir Defran sekali lagi.


Defran menemui istrinya di kamar, di ruangan kerjanya yang terdapat kamar pribadi tempatnya melepas penat.  Jika merasa lelah dengan kerjaan. Dilihatnya wajah polos istrinya saat tidur.


"Benar kata Dafin sayang kamu emang cantik. Aku pria yang beruntung memiliki kamu sweetheart." puji Defran dalam hati sambil mencium kening Dania.


"Tetaplah bersamaku sayang! Apapun yang terjadi kita harus tetap bersama-sama. Aku janji bakal membuatmu bahagia, tidak akan ku biarkan kamu terluka." Janjinya dalam hati.


Diliriknya perut Dania, "Hai jagoan papa! Maafin papa yah tadi buat mama nangis. Papa janji gak bakal ngulangin lagi hal yang kayak tadi. Papa gak akan perna membuat mama terluka, tetap sehat dan cepatlah lahir. Papa tidak sabar melihat jagoan papa hadir di dunia." Defran mencium perut Dania.


Dania menggeliat merasa terganggu merasa ada yang menciumi perutnya, di buka matanya perlahan ternyata ulah suaminya. "Def, udah selesai sama Dafin nya?"  Tanya Dania memandang suaminya itu heran.


"Sayang kamu  kebangun. Maaf yah gara- gara aku kamu bangun." Ujar Defran merasa bersalah.


" Nggak pa-pa Def. Def peluk aku, pengen kamu peluk."

__ADS_1


Defran memeluk istrinya sangat erat mencium aroma vanila tubuh Dania. "Def besok kita jadikan mudiknya?" Tanya Dania ingin memastikan.


"Jadilah sayang, masak gak jadi. Aku kan pengen ketemu Ayah Ibu mertua. Haha," Ucap Defran tersenyum.


"Def, sebenarnya aku takut pulang."


"Kok gitu sayang? Apanya yang ditakutin?" Tanya Defran.


"Kamu lihat perut aku udah mulai buncit Def. Aku takut mereka tau aku hamil dan aku sekali lagi gak mau buat Ayah terluka." kata Dania sedih.


"Sayang dengerin aku yah! Kamu hamil wajar ada suami. Lagian aku kan udah minta restu dulu waktu nikahin kamu."


"Iya aku tahu, tapi mereka pasti akan menggunjing ku nanti." Ucap Dania mengerucutkan bibir.


"Denger yah! Apapun yang orang omongin tentang kamu gak perlu didengerin. Ingat pepatah anjing menggonggong kapila berlalu, pepatah itu menyuruh supaya kita membuktikan kalo kita yang terbaik tanpa mempedulikan ocehan orang yang jelas ingin menjatuhkan kita. Sayang, aku ngajak kamu bersama itu agar kita bisa bahagia bukan terluka. Jadi apapun itu kita hadapin bersama, oke." jelas Defran mengacak rambut istrinya.


"Hehehe, oke Def. Cup," Dania mencium pipi Defran.


"Sayang kita pulang yah! besok kan kita mau mudik."


"Ayoook, tapi gendong!" Rengek Dania.


"Iya sini naik ke punggung aku."


"Jangan dipunggung! Bayi nya tegencet nanti Def."


Sesampainya di parkiran kantor Defran memasukkan istrinya ke mobilnya lalu mereka pulang dalam keheningan.


Keesokan harinya Defran Dania sudah siap-siap dengan 2 koper untuk pulang ke kampung, daerah orang tuanya Dania. Mereka juga sudah meminta izin dengan Maura dan Wildan, tinggal berangkat saja. Defran juga sudah membeli tiket pesawatnya.


Sesampainya di kampung halaman Dania, sepasang suami istri itu langsung menuju rumah Dania. Kampung halaman Dania terletak di desa mungil di kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Rumah orang tua Dania  sepi dengan pintu terkunci.


"Hem tidak ada orang Def di rumah. Ayah ibuku masih di sawah dan adik-adikku pasti di sekolah." Ucap Dania kepada sang suami.


"Lalu bagaimana kita masuk sayang? Aku lelah." Tanya Defran.


"Tenang saja keluargaku sering menaruh kunci di bawah pot bunga itu." Dania mengambil kunci di bawah pot bunga, lalu membuka rumahnya.


"Oh syukurlah kalo begitu aku langsung bisa mengistirahatkan tubuhku." Ucap Defran


"Dan berpikir bagaimana cara aku menghadapi kemarahan mertuaku." Katanya dalam hati.


"Selamat datang di rumah orang tuaku Def. Rumah ini tidak terlalu besar, maaf. Ayo aku antar ke kamar. Katanya mau  istirahatkan?"  Ucap Dania kepada sang suami.


Defran ditarik dania ke kamarnya. Kamarnya tidak terlalu besar tapi cukup nyaman dan rapi. Tidak ada ac seperti di kamar apartemen mereka, cuma ada kipas angin kecil tapi cukup sejuk. Karena ada banyak pohon di sekitar rumah Dania, maklum kan namanya juga lingkungan perdesaan.

__ADS_1


Defran merebahkan tubuhnya di ranjang istrinya, sementara Dania ke dapur.  Dia akan memasak untuk makan siang karena sebentar lagi adik- adiknya pasti pulang.


Tiara dan Kasih terkejut karena ada lelaki di kamar kakak nya. Iya, Tiara adik paling bungsu Dania sekarang dia kelas 7 sedangkan Kasih kakaknya Tiara adik no 2 nya Dania setelah Wulan.


"Kak Kasih siapa lelaki ini? kenapa bisa masuk kamar kak Bey?" Tanya tiara setengah berbisik kepada kasih.


"Aku juga gak tau dek." Ucap Kasih.


"Kayaknya ada orang di dapur dek, apa mungkin kak Nia udah pulang yah? Ayook kita ke dapur, biarin orang ini tidur disini." ajak Kasih menarik lengan Tiara.


"Kak Bey, Rara Kangen. Kapan kakak pulang? Kok gak kasih tau Rara, kalo mau pulang. Mana oleh-oleh buat Rara?" Tanya Tiara panjang. Tiara memang memanggil Dania dengan kak Bey berbeda dengan adik Nia yang lain.


"Ya ampun adek bungsu kakak udah besar. Ayo sini peluk kakak!" Dania langsung memeluk adik kesayangannya itu.


"Kak Nia Kasih juga kangen." Kata Kasih langsung menubruk tubuh Dania.


"Kakak juga kangen sama kalian dek. Udah lama kakak gak ketemu sama adik- adik kesayangan kakak ini. Ayo kita makan! Kakak udah masakin makanan kesukaan kalian. Kalian pasti laper kan?" Ucap Dania sambil menyiapkan makanan ke meja makan.


Dania teringat Defran masih tertidur di kamarnya. Defran pasti juga lapar, Dania menyuruh Rara membangunkan suaminya itu.


"Ra, tolong bangunin temen kakak yang ada di kamar kakak yah!" Perintah Dania.


"Oke kak Bey," jawab Tiara langsung menuju kamar Dania, membangunkan Defran.


"Kakak temennya kak Bey bangun. Disuruh kak Bey makan, ayo bangun kakak! Kalo kakak gak mau bangun nanti kak bey marah. Kak Bey kalo marah nyeremin loh." Tiara menepuk- nepuk lengan Defran.


Defran menggeliat karena mendengar suara cempreng milik Tiara, "Adek Siapa?" Tanyanya bingung.


"Rara, adik nya kak Bey." jawab Tiara mengulurkan tangannya.


"Siapa kak Bey?" Tanya Defran tambah bingung.


"Kakak aku. Ayo bangun! Kak Bey udah nungguin, aku juga udah laper." Tiara langsung menarik tangan Defran menuju ruang makan.


Sementara di ruang makan Kasih menanyai Dania siapa lelaki yang ada di kamar Dania. "Kak, cowok itu siapa kakak? Kok bisa tidur di kamar kakak?" Tanya Kasih penasaran.


"Temen kakak dek."


"Jangan boong kak! Cowok itu pasti pacar kakak."


"Kak Bey, ini aku bawa temen kakak." Jerit Tiara mengandeng Defran.


"Siapa kakak?" Tanya Kasih langsung menginterogasi.


"Nama Kakak Defran Arie Olvio, calon papa dari anak-anak Bey." Defran memperkenalkan diri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2