Istri Yang Di Bayar (Dania Bella)

Istri Yang Di Bayar (Dania Bella)
Part 7


__ADS_3

^^^Hal yang paling menyakitkan dalam hubungan adalah ketika kita tidak diakui di depan umum oleh pasangan kita^^^


^^^"Dania Bella"^^^


Dania menangis hatinya begitu sakit, ingatan tentang kelakuan Defran yang mencium wanita yang ternyata tunangannya masih sangat jelas.


"Ternyata ini alasan kamu gak mau ngakuin rumah tangga kita Def. Kamu punya tunangan, kamu jahat Def, kamu jahat Def. Aku membencimu." Ucap Dania menangis sepanjang langkah kakinya, tiba- tiba kepalanya begitu sakit mual di perutnya juga sangat menyiksa dan semuanya mengelap Dania pingsan tepat di pintu keluar gedung kantor Defran.


"Ada yang pingsan, ada yang pingsan." Teriak karyawan kantor Defran.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit." teriak berapa orang karyawan itu, Dania pun di bawa ke rumah sakit. Sementara Defran asik bercumbu dengan Dira terganggu oleh satpam yang menyerahkan bekal makan untuk Defran.


"Ada perlu apa?" Ucap Defran tak suka.


"Pak ini ada titipan dari mbak hamil katanya ngidam mintak bapak makan." Ujar satpam itu.


"Oh iya taruh di situ aja," Defran melanjutkan kegiatannya dengan Dira.


"Permisi Pak,"  Ucap satpam ramah itu.


"Astagfirullah, belom sah udah bercumbu aja." Satpam itu geleng-geleng sendiri.


Sejam kemudian di lobby kantor Defran semua orang sibuk menggosipkan Dania yang pingsan, "Kasian yah mbak tadi, kayaknya kecapean gitu?"


"Iyaa mbak itu udah dua kali kesini nganterin makanan buat Pak Defran tapi ujungnya mbak tadi pasti nangis," bisik karyawan lain.


"Aneh loh sama mbak itu, ngapain dia repot-repot mau nganterin makanan buat Pak Defran."


"Hey hey kalian ini bukannya kerja malah bergosip," Bentak Defran yang tidak sengaja mendengar kata- kata karyawannya.


" Maaf pak, maaf." Ucap para karyawan berbarengan.


Sementara di rumah sakit, Dania di rawat. "Untunglah bayinya nggak papa sus." kata Dokter Mira.


"Iyaa dok, untung sama rahim mbaknya kuat. " Jawab suster Dini sambil mengecek kondisi Dania.


  "Udah kamu hubungi keluarganya sus?" Tanya Dokter Mira.


"Sudah dok, tapi hanya teman pasien. Sepertinya pasien ini tinggal sendiri karena kata temannya kalo pasien bukan berasal dari kota ini," Jelas suster Dini.


Merekapun meninggalkan Dania yang terbaring pingsan tak berdaya, tidak lama dari itu Yina datang ke rumah sakit terburu-buru.


"Pasien atas Dania Bella di kamar berapa sus?" Tanya Yina begitu khawatir.


"Di kamar 207 mbak." Jawab suster ramah.


"Oh makasih mbak." Ucap Yina segera menuju ruang Dania dirawat.


"Nia, kamu kenapa bisa sakit seperti ini?" Tanya Yina menangis.


"Mbak temen pasien yah?" Tanya Dokter yang baru masuk untuk mengecek keadaan Dania.


"Iya dok." Jawab Yina mengelap air matanya.


"Mbak kenal keluarga pasien, suaminya mungkin?" Tanya Dokter Mira.


"Sayangnya gak kenal dok, di kota ini dia hanya tinggal sendiri dan dia begitu tertutup soal keluarga." Jawab Yina lesu mengingat Dania memang tidak pernah bercerita tentang keluarganya di kampung.


"Mbak, tidak kenal dengan suami pasien? Pasien cukup tertekan akhir-akhir ini dalam kondisinya yang berbadan dua, pasien sepertinya jarang makan." Jelas Dokter Mira.


"Apa dok, Dania berbadan dua? Dania hamil! Gak mungkin dok, dokter pasti salah. Dania ini orang baik-baik tidak mungkin dia hamil tanpa suami." Ucap Yina memandang Dania dengan sedih.


"Apa yang elo sembunyiin dari gue Nia." Tanyanya dalam hati.

__ADS_1


"Tapi itulah nyatanya. Kata orang yang mengantarnya pasien pingsan di depan pintu olvio groups. Saya benar- benar tidak tahu kalo pasien tidak punya suami." Ucap Dokter sedikit menyesal.


"Iya dok, tolong berikan yang terbaik untuk sahabat saya dok, saya akan berusaha menelpon keluarganya." Ucap Yina bingung harus berbuat apa.


"Satu hal lagi mbak Yina, Pasien selalu mengigau memanggil nama Def." Jelas Dokter Mira keluar dari ruang rawat Dania.


Yina dengan setia menemaninya sahabatnya, Yina tidak menghubungi sahabatnya yang lain mengingat kondisi Dania yang hamil, Yina tidak ingin orang berpikir yang buruk tentang Dania. "Cepat bangun Dania, kasian anak lo kalo lo gak bangun." Ucap Yina


Tiga hari kemudian, Defran memutuskan untuk pulang ke apartemen, dia merindukan istri cantiknya.


"Sweetheart, Sayang aku pulang."  Defran memangil Dania, tapi gak ada sambutan dari Dania. Defran pun mencari Dania ke kamar mereka, ke kamar mandi, dapur tapi semua kosong, Dania tidak ada.


"Kemana kamu Dania, berani sekali kamu keluar tanpa meminta izin padaku." Kata Defran khawatir sekaligus kesal, tak lama dari itu dak handphonenya berbunyi, id callernya bernama Dania.


"Hello sweetheart kamu dimana? Kenapa kamu gak ada di apartemen, kan aku udah bilang jangan keluar tanpa seizinku."


"Maaf ini bukan Dania, saya sahabatnya Yina. Anda yang bernama Def bukan?" Tanya seseorang di seberang sana.


"Iya saya Def, Defran" Jawab Defran.


"Dania ada di rumah sakit, tiga hari yang lalu dia pingsan di didepan gedung Olvio groups." Jelas Yina.


"Apa? Baiklah saya akan ke rumah sakit sekarang."


Di ruangan di mana Dania dirawat, Defran yang baru sampai langsung menghampiri istrinya yang tertidur pulas.


"Dania, ini aku Def." Ucap Defran menggenggam tangan Dania erat.


"Jadi kamu yang bernama Def? Kamu laki- laki waktu itu kan?" Tanya Yina penuh selidik mengamati wajah Defran.


"Tampan wajar Nia kepincut." Batinnya.


"Iya saya Def," Ucap Defran mengulurkan tangannya tapi diabaikan oleh Yina.


"Kamu suaminya Dania?" Yina ingin memastikan apa hubungan Defran dan Dania sahabatnya dan kenapa Dania sampai hamil, karena sejak tiga hari yang lalu Yina belum juga mengungkit soal kehamilan Dania kepada sahabatnya itu.


"Jadi kamu bukan suaminya? Dania hamil dan saya tidak tahu kenapa dia bisa hamil, setahu saya Nia selalu menghindari dari perbuatan zina." Jelas Yina bingung bagaimana nasib Dania jika dia hamil tanpa suami.


"Dania hamil?" Tanya Defran memastikan.


"Iya Dia hamil, tapi saya tidak tahu ayah bayinya, dia sangat tertutup. Kamu kenal dengan orang yang dekat Dania akhir-akhir ini," tanya Yina ingin mengorek informasi.


Deg, "Mungkin dia tertutup karena Dania menjual diri dengan om-om makanya dia hamil." Ucap Defran sembarangan tanpa berpikir yang dia inginkan hanya menutupi fakta bahwa Dania adalah istrinya.


"Sahabat saya tidak seperti itu yah Tuan Defran." Tolak Yina marah mendengar ucapan Defran.


"Iya sahabat kamu memang tidak begitu karena saya suaminya." batin Defran sedih karena mengatakan hal buruk tentang Dania.


"Bisa jadi, semua tidak bisa menolak uang asal kamu tahu, termasuk Dania. Saya tidak menyangka segitu murahannya Dania, ya sudah saya mau pergi Masih ada urusan." Defran berdiri.


"Menyesal saya memberi tahu Anda bahwa Dania sakit." Marah yina.


"Terserah anda," Defran pergi meninggalkan ruangan Dania.


Sementara air mata Dania mengalir begitu saja mendengar setiap kata yang terucap dari mulut Defran, "Begitu rendahnya aku dimatamu Def." batinnya bersuara penuh kesakitan.


"Yina, aku hamil? Benarkah aku hamil Yina." Tanya Dania antusias menghapus air matanya.


"Yah kamu hamil Nia." jawab Yina lembut menggenggam tangan sahabatnya itu.


"Selamat datang sayang di rahim mama sayang, mama janji akan merawat kamu sebaik- baiknya, karena cuma kamu harta paling berharga buat mama. Maaf mama baru tahu kalo kamu ada sayang." Dania bahagia mengelus-elus perutnya.


Yina ingin sekali menanyakan siapa bapak dari calon bayi Dania dan siapa Defran lelaki dengan mulut pedas itu, tapi diurungkan olehnya. Dia tidak ingin merusak kebahagian Dania sahabatnya.

__ADS_1


Keesokan harinya, Dania bercerita sangat bahagia karena dia mengandung. Dania tidak sengaja melihat Defran di luar sedang memperhatikan dirinya.


"Yina, aku membencinya itulah alasanku melakukan aborsi kemaren. Kamu jangan protes begitu, aku tidak sudi dia tumbuh di rahimku Yina." Dania mengeraskan suaranya.


"Nia, Apa yang kamu bicarakan?" Tanya Yina bingung dengan ucapan sahabatnya itu, baru tadi bercerita bahwa dia begitu bahagia dengan janin yang dikandungnya  malah membahas aborsi yang kapan Dania melakukannya.


"Oh jadi kamu menggugurkannya Dania? Tapi kenapa bukankah dia darah dagingmu?" Tanya Defran kesal langsung menggoyang-goyangkan pundak Dania.


"Lalu untuk apa aku mempertahankannya, sementara aku tidak tahu siapa ayahnya? Aku tidak ingin punya anak haram." Jawab Dania ketus.


"Nia, kamu ng?" Tanya yina kebingungan.


"Aku benci anak itu Yina, ayahnya sangatlah jahat. Ayahnya bahkan tidak mau mengakui pernikahan kami, jadi aku membencinya, sangat membencinya. Hiks hiks tidak salahkan jika aku menggugurkannya." Tangis Dania pecah.


"Tega kamu Dania membunuh janin yang tidak berdosa. Ternyata selain murahan, kamu juga jahat."  Defran menunjuk-nunjuk muka Dania, menatap istrinya itu penuh kebencian.


"Iya saya murahan, tapi anda tidak berhak  sok mengatai saya. Coba anda ambil kaca, berkaca lah Tuan. Anda tidak perlu ikut campur urusan saya, terserah saya jika ingin mengugurkan janin saya. Asal anda tahu saya membenci janin itu sebenci saya kepada ayahnya dan tentu anda sangat paham tuan Defran bahwa ayah janin saya lebih membencinya, oleh karena itu saya menggugurkannya daripada dia lahir tapi tidak diinginkan." Jelas Dania penuh kilatan kebencian.


"Kau bahkan tak pantas disebut manusia Dania." Defran menatap Dania kesal bercampur sedih, bagaimanapun siapa yang tidak sedih jika kehilangan anak yang diinginkannya.


"Lalu, jika saya tak pantas disebut manusia bagaimana dengan ayah dari bayi saya, yang menculik saya memaksa saya menikah dengannya dengan perjanjian gila itu, meninggalkan saya sendiri berbulan-bulan di apartemen dalam keadaan hamil dan meminta saya menyembunyikan pernikahan yang saya sendiri tak ingin, tidak ingin mengakui saya sebagai istrinya, mengatakan janin saya milik om om. Kapan saya menjual diri saya? Ternyata alasannya menyembunyikan itu karena dia sudah bertunangan dengan perempuan lain, bercumbu dengan tunangannya di kantor yang ramai. Disebut apa dia tuan Defran Arie olvio? Malaikat kah?" Tanya Dania dengan pandangan kosong.


Plak, "Maksud kamu Apa berbicara seperti itu hah?" Tanya Defran menampar pipi Dania.


"Saya hanya ingin lepas dari pria gila itu, saya mohon lepaskan saya dan biarkan saya bahagia. Hiks hiks, saya ikhlas lahir batin jika kamu ingin menikah dengan tunanganmu tapi tolong ceraikan saya, hiks hiks." Tangis Dania memohon.


"Tidak akan pernah Dania, kamu tidak akan perna lepas dariku!" jawab Defran mencekik leher Dania.


Yina langsung menarik Defran dari sahabatnya itu, bisa mati tidak bernafas Dania. Kemudian layangan tangannya menampar Defran.


"Hei kenapa kau menamparku?" Tanya Defran meringis memegang pipinya.


"Itu untuk menyadarkan mu! Kamu bisa membunuh Nia." Yina berkilat penuh kemarahan.


"Aku tidak ada urusan denganmu, dan tolong jangan ikut campur dengan rumah tanggaku!" Balas Defran mendekati Dania lagi.


"Cukup Defran, lepaskan aku. Ceraikan aku, kumohon."  Dania.


memelas supaya Defran segera menceraikannya.


"Kau memintaku menceraikan mu supaya bisa menguasai asetku Dania? Itu tidak akan pernah terjadi, ayo kita pulang." Defran melepas infus yang ada pada Dania lalu mengangkat Dania dalam gendongannya.


"Dania, masih lemah jangan kau bawa pulang. Dokter, dokter tolong cegah lelaki itu Dania masih lemah." Yina menangis sesenggukan melihat sahabatnya diperlakukan dengan kejam.


"Maaf Tuan Defran, kondisi pasien sangat lemah. Pasien belom boleh pulang, " Ucap Dokter Mira melarang.


"Apa hakmu Dokter melarang ku? Kau bahkan bisa ku pecat sekarang juga, kau lupa rumah sakit ini milikku, Minggir."  Bentak Defran membawa Dania keluar memasukannya ke mobilnya.


Defran melajukan mobilnya menuju apartemen, sesampainya  Defran menyuruh Dania memasak karena dia lapar.


"Buatkan aku sarapan, aku belum makan dari pagi." Perintahnya tak ingin dibantah sama sekali, Dania dengan terpaksa menuruti keinginan Defran, memasak makanan sambil menitikkan air mata, tubuhnya masih sangat lemah, tapi dia tidak ingin melawan Defran.


Usai memasak Dania menaruh masakannya di meja makan, Defran yang baru selesai mandi pun langsung menuju meja makan.


"Eh ternyata sudah masak, ayo makan sweetheart." Ajak Defran memegang tangan Dania, Dania hanya menggeleng, dia ingin istirahat ke kamarnya tapi Defran menarik tangannya dan mendudukkan Dania ke pangkuannya.


"Kamu mau kemana sayang." Tanya Defran seolah lupa dengan kesalahannya.


"Istirahat, aku lelah." Ucap Dania ingin beranjak karena merasa jijik tubuhnya bersentuhan dengan Defran.


"Nanti saja istirahatnya, setelah kita makan." Kata Defran tidak ingin dibantah,


"Ttapi aku lelah, aku ingin ke kamar." Dania memohon.

__ADS_1


"Tidak sebelum kau makan sayang." Defran pun menyuapi Dania dan dirinya.


Bersambung....


__ADS_2