Istri Yang Di Bayar (Dania Bella)

Istri Yang Di Bayar (Dania Bella)
Part 22


__ADS_3

^^^Tidak ada hubungan tanpa di uji kekuatannya, jadi konflik adalah hal yang wajar.^^^


^^^Defran Arie Olvio^^^


...______________________________...


Panen padi telah usai, Dania Defran pun tak lagi di desa tempat Ayah dan Ibu Dania tinggal mereka sekarang ada di apartemen mereka. Dania sedang memasak makan siang untuk mereka karena hari ini Defran libur dari kantornya, Defran sendiri masih berkutat dengan macbooknya dan tumpukan dokumen yang harus di tanda tangani olehnya yang memang sengaja di bawahnya ke apartemen.


Pekerjaan nya sangat menumpuk hingga hari libur pun dia masih setia dengan kacamata dan pena kesayangannya, ini terjadi demi menemani sang istri di desanya yang rindu memanen padi. Defran jadi teringat pesan ayah mertuanya jika dia harus menjaga dan menuruti permintaan Dania sebaik mungkin karena wanita hamil itu labil dan gampang ngambek.


Makan siang sudah siap, Dania mencari Defran di kamar tapi dia tak menemukan suami tampannya itu.


"Kemana Defran?" pikir Dania, ia melirik ke ruang kerja suaminya yang sedikit terbuka. Ternyata suaminya ada sedang sibuk bekerja. Sangat tampan walaupun mukanya sudah sangat kusut.


"Def, berhenti dulu kerjanya! Ayo kita makan!" pinta Dania menghampiri suaminya yang hanya dijawab anggukan.


"Def ayo makan! Aku udah selesai masaknya."


"Bentar lagi sayang, kalo kamu laper duluan aja yah." jawab Defran yang masih melihat macbook nya.


"Hari ini hari libur, tapi kamu masih kerja. Makan siang aja gak bisa padahal aku mau ngajakin kamu nonton atau ke mall, terus aja kerja! " Omel Dania cemberut.


"Kenapa gak kamu bawa ke sini aja makan siangnya sayang?" Tanya Defran masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Yang namanya makan ya di meja makan, bukan di ruang kerja!" Sindir Dania kesal.


" Hem ayolah kita makan!" kata Defran menarik tangan istrinya ke meja makan.


"Nah gitu dong jangan kerja mulu istri di anggurin aja!" sindir Dania, "makannya satu piring berdua aja yah?" lanjut Dania.


"Iya istriku tapi suapi!" kata Defran manja.


Dania menyuapi Defran dengan telaten sesekali dia menyuapi dirinya sendiri, senyum di wajahnya mengembang melihat kelakuan suaminya itu mirip anak kecil yang sangat manja.


"Def, jalan yuuk!" kata Dania di sela dia menyuapi Defran, tapi sang suami hanya menggeleng.


"Aku bosen Def, pengen lihat dunia luar, bosen terkurung di sini." rajuk Dania mencebikan bibirnya.

__ADS_1


"Gak bisa sayang, kerjaan aku numpuk!" Tolak Defran.


"Kalo kamu gak bisa, aku aja yang keluar sendiri, aku bosen di sini!"


"Gak boleh gitu dong sweetheart! Masa suami tampanmu ini di tinggal sendirian disini."


"Kamu ke kantor aja sana! Di sini juga percuma masih kerja juga." kata Dania ketus.


"Kok kamu gitu sweetheart?" Tanya Defran.


"Bosen disini, mau ke kosan adek Wulan aja. Terserah kamu mau nemenin atau nggak!" Jawab Dania meninggalkan Defran ke kamar.


Di dalam kamar bukannya bersiap ke kosan wulan Dania malah nangis sesenggukan, entah kenapa dia merasa jika dirinya begitu sedih ketika suaminya itu lebih memilih pekerjaannya dibanding menemaninya, hormon ibu hamil benar- benar membuatnya sensitif, sementara Defran masih mematung dengan perilaku istrinya itu, tadi istrinya baik- baik saja memandangi tingkah manja nya tapi sekarang ngambek pengen ke kosan adiknya, "ngomong- ngomong ke kosan adiknya, kenapa Dania tak juga keluar kamar?" Pikir Defran.


Defran mulai panik dia menuju kamar mereka, dan ternyata terkunci dari dalam.


"Sweetheart kamu di dalam?" tanya Defran dari luar, tidak ada sahutan sama sekali, karena Dania menangis dalam diam.


"Sayang buka pintunya aku mau masuk!" masih sama Dania masih belom mau menjawab.


"Sweetheart ayo buka pintunya! Aku tau kamu masih ngambek tapi ayo buka pintunya!" bujuk Defran.


Hening, Dania masih asik meneruskan aksinya menangis dalam diam, hingga suara dari luar terdengar mengamuk.


"Dania cepat buka pintunya! Jangan sampai aku dobrak ya, kalo aku dobrak jangan salahkan aku kalo kamu aku hukum." Ancam Defran dari luar.


Dania bergegas membuka pintu, suaminya itu telah marah dan Dania takut jika Defran marah.


Ceklek, suara pintu kamar terbuka, Dania hanya menunduk tak berani melihat wajah suaminya itu, sementara Defran sendiri matanya menajam, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal pmenahan amarah.


"Kamu tahu aku bela- belain libur ini buat bisa sama kamu hah!" Bentak Defran.


"Kamu tahu kerjaan aku menumpuk karena nemenin kamu pulang kampung hah, aku udah cukup sabar yah dengan sifat manja kamu itu, coba kamu ngertiin sedikit posisi aku Nia, aku ini kerja buat kamu buat keluarga kecil kita!" Defran mengambil nafas sebentar rahangnya masih mengeras.


"Maaf, " kata Dania.


"Kamu bikin aku pusing tahu, masalah kantor aku tuh banyak Nia, dan aku punya banyak tanggung jawab buat ribuan karyawan aku Nia." kata Defran lagi.

__ADS_1


"Maaf," kata Dania lagi.


"Seharusnya kamu itu sadar posisi Nia! Kamu itu cuma istri bayaran, istri yang aku bayar, atau perlu aku ingetin lagi kalo kamu cuma istri bayaran jadi jangan minta macam- macam! Kayak istri sungguhan Nia. Sadar posisi ingat kamu cuma istri bayaran yang aku bayar." Tegas Defran tidak sadar melukai harga diri sang istri.


Air mata Dania tanpa seizin pemiliknya menetes dengan derasnya, Dania yang tadi menunduk karena kemarahan suaminya mulai menegakan kepalanya, dihapusnya sendiri air mata dengan tangannya secara kasar, dipandangnya wajah Defran seolah menunjukan kalau dia tidak terpengaruh dengan perkataan Defran, cukup hanya hatinya saja yang sakit oleh mulut pedas suaminya itu.


"Terima kasih tuan Defran Arie Olvio sudah mengingatkan jika saya hanya istri bayaranmu dan saya juga mau mengingatkanmu kau juga tak berhak melarang ku! Ah yah, satu hal lagi jangan sampai kau jatuh cinta kepada istri bayaranmu ini, ingat sekali lagi aku hanya istri bayaranmu, bukan istri sungguhan mu, hahaha!" Tawa Dania langsung mengambil tas mengisi baju-bajunya meninggalkan Defran sendirian.


"Arghh sial tak seharusnya aku bicara begitu!" Pekik Defran melihat punggung Dania yang mulai menghilang di balik pintu apartemennya.


Di Kosan Wulan langsung memeluk kakaknya, " Kak Nia kok jarang sih jenguk Wulan? Mana kemaren mudik gak ngajak lagi!"


"Hem maaf dek, Mila ada?" Tanya Dania.


"Ada tuh di dalem kak."


"Hai kak Nia, tumben main kesini!" Tanya Mila.


"Hehehe kangen aja sama kalian." jawab Dania langsung menuju kamarnya, kamar yang di tinggalkannya beberapa bulan ini.


"Hm masih sama kamarnya" Batinnya, Dania merebahkan tubuh lelahnya untuk tidur di ranjang yang sudah di rindukannya.


"Wulan sini bentar!" panggilnya.


" Kalian udah makan?" Tanya Dania yang di jawab gelengan oleh wulan dan Mila.


Kemudian Dania mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya.


"Inii uang buat kalian cari makan di luar, maaf kakak tadi buru- buru jadi gak sempet bawak makanan."


"Oke kak," jawab Wulan yang langsung mengajak Mila mencari makanan.


Hari semakin gelap belum ada tanda-tanda Dania akan pulang, Defran mulai gelisah berulang kali di teleponnya istrinya itu, tapi tidak di angkat, SMS dan chat pun tak di balas oleh istrinya itu.


"Dania kamu dimana? Jangan buat aku khawatir!" Batinnya menyesal, salah sendiri mulut kok tidak di jaga.


...Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2