Istri Yang Di Bayar (Dania Bella)

Istri Yang Di Bayar (Dania Bella)
Part 26


__ADS_3

^^^Ada maksud di balik setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup.^^^


^^^Dania Bella^^^


Dania bangun dari tidurnya cantiknya, tidak ada lagi Defran di sampingnya, diliriknya jam sudah menunjukan angkah delapan, Dania kesiangan. Dania menuju kamar mandi, mencuci mukanya lalu menggosok giginya, setelah itu Dania beranjak turun ke bawah, di sana ada bi Sum yang lagi beres- beres di meja makan.


"Bi, Defran mana?" Tanyanya sambil mengambil air minum di kulkas.


"Tuan udah lama pergi ke kantor non Nia." Jawab Bi Sum.


Dania hanya mengangguk tanda mengerti, mama mertuanya muncul dihadapannya dengan bertepuk tangan menyindir dirinya.


"Mau jadi nyonya rumah ini kamu Dania? Bangun kesiangan! Membiarkan suami sendiri menyiapkan keperluannya, itulah beda kamu dengan Dira, jika Dira dia pasti akan jadi istri yang tidak manja seperti kamu, dia yang akan menyiapkan keperluan Defran, lah kamu ini enak-enaknya baru bangun tidur.


Dania hanya diam menunduk dia tahu kalau kali ini memang dialah yang salah bangun kesiangan.


"Kenapa kamu hanya diam? Merasa salah, itulah kenapa saya tidak setuju kamu jadi istrinya Defran, tapi Defran itu bodoh mau-maunya dia sama gadis kampung seperti kamu, atau kamu pelet yah anak saya!" lanjut nya menuduh sang menantu.


"Maaf, maaf aku memang salah soal kesiangan ma, tapi soal Defran bodoh memilih gadis kampung sepertiku kurasa tidak. Oh yah dan satu hal lagi ma, saya hidup di zaman moderen, jadi saya tak percaya pelet." jawabnya penuh penegasan dia tak mau lagi di injak- injak harga dirinya.


Dari luar muncul Dira yang melihat Dania berani menjawab pertanyaan dari Mama Maura. Dira menarik rambut Dania, sehingga Dania kesakitan di buatnya.


"Lepas, sakit tolong lepas!" katanya memohon.


"Eh babu gadis kampung udah berani ya kamu ngelawan tante maura!" Dira terus menjambak rambut Dania.


"Dira lepas Dir ini sakit! Tolong lepas apa salahku sama kalian!" katanya menahan tangisnya.


"Salah kamu itu merebut Defran dari tanganku!" Dira lalu melepaskan jambakannya di rambut Dania.


"Sakit ya? Begitu juga aku ****** sakit hatiku saat Defran yang sedari kecil sudah ku cintai malah memilihmu." Ucap Dira dilanjutkan tamparan menghampiri pipi mulus Dania.


"Dira ke kantor Defran dulu ya tante, makasih udah nyuruh Dira ngasih pelajaran manis sama babu ini." Dira mencium pipi Maura lalu pergi.


"Gimana Dania? Dira itu lebih berhak mendapatkan Defran di banding kamu, saya harap kamu cepat tinggalkan Defran!" Mohon Maura memaksa.


"Mama mau tahu kenapa Defran memilihku di banding mantu idaman mama? Itu karena Dira kasar dan untuk meninggalkan Defran untuk saat ini Tuhan memberikan lebih stok kekuatan dan kesabaran padaku." Jawab Dania sambil memegangi pipinya sakit.


Dania keluar dari rumah besar itu dari pada dia di dalam lebih baik dia bimbingan ke kampus. Usai bimbingan Dania pergi ke kafe untuk sekedar melepas dahaga dan lapar tapi matanya menatap di seberang mejanya seperti sepasang kekasih. Dan mereka ternyata i Defran suaminya dan Dira yang menamparnya tadi pagi.


Air matanya sudah mengalir tangannya mengepal hatinya terasa teriris, "Sakit Def, apa aku boleh menyerah sekarang?" Batinnya dalam hati.


"Tidak Def aku akan bertahan sampai aku merasa tidak sanggup lagi, saat ini aku masih cukup kuat, maafin mama sayang tadi mama sempat menyerah." lanjutnya mengelus perutnya sendiri.


Dania keluar dari kafe tersebut langkahnya gontai tak bersemangat, hari ini dia melihat apa yang tak ingin dilihatnya lagi, sesampainya di rumah pun Dania langsung masuk kamar dia tidak ingin bertemu dengan Maura, Dania ingin menenangkan hatinya.


Malam sudah menunjukan wujudnya dalam gelap, Dania masih bergelung di ranjangnya dia tak berniat untuk keluar, sementara Defran baru pulang bersama Dira yang bergelayut manja di lengannya.


"Dira lepas dulu ya! Aku mau ke kamar menemui Dania," katanya.


"Tumben Dania tidak menyambutnya." pikir Defran dalam hati.


"Sayang kakak pulang kok gak di sambut si?" Defran ikut membaringkan tubuhnya di samping Dania.


"Kakak capek sekali sayang seharian ini dan kakak juga rindu sekali dengan istri manja kakak." lanjutnya menoel-noel hidung Dania.


Jangankan untuk menjawab kata-kata Defran bahkan pandangan Dania kosong mata sembabnya sudah lelah menangis, hatinya apalagi, tubuhnya pun melemah.


"Sweetheart kok kamu diam?" Defran masih asik menoel hidung Dania, Defran tidak sadar jika mata istrinya sembab dan pipi bekas tamparan Dira masih tercetak di sana.


Dania membalik tubuhnya membelakangi Defran, hatinya terlalu sakit untuk memandang lelaki di depannya itu.

__ADS_1


"Sweetheart kamu marah sama kakak?" Tanya Defran.


Bukannya menjawab Dania malah pergi menuju bangku di dekat jendela kamar mereka, pikirannya melayang entah kemana, setetes air mata pun jatuh tak tertahan. Defran bingung apa yang terjadi dengan istrinya itu.


"Sweetheart kamu kenapa?" Tanyanya cemas.


"Tolong biarkan aku sendiri!" Satu kata lolos dari bibir Dania, dia ingin sendiri saja saat ini dia tidak sanggup melihat Defran.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Defran lagi lalu memeluk tubuh rapuh Dania.


"Kumohon tinggalkan aku sendiri! Aku ingin menenangkan hatiku! Aku belum ingin menyerah hiks hiks, aku sayang kamu tapi nyatanya kamu tidak! Hiks hiks jadi biarkan aku sendiri dulu, Kumohon jangan ganggu aku! Tolong hiks hiks!" Dania melepaskan pelukan suaminya, hatinya masih berdenyut sakit.


"Sweetheart gak gini caranya! Kalau kamu mau menenangkan hati, ayo kita sholat dulu bukan dengan menyendiri begini! Ayo ambil air wudhu," perintahnya kepada sang istri.


Usai sholat Defran menanyakan kenapa Dania tiba-tiba murung.


"Udah tenang kan? Sekarang ceritakan kenapa kamu seperti tadi Nia."


Dania hanya mengangguk pikirannya kembali menerawang tak tentu arah.


"Ayo tadi ada apa? Kenapa kamu bisa menangis dan matamu sembab begitu? Kakak mau dengar!"


"Hiiks hiks aku mau pulang gak mau di sini, aku gak mau hiks hiks!" Dania menangis mengingat kejadian tadi pagi.


"Kenapa mau pulang? Ada yang jahatin kamu apa?" Tanya Defran khawatir.


Dania menggeleng dia tidak mungkin menceritakan kejadian tadi pagi.


"Lalu kenapa kamu menangis dan minta pulang sayang?"


"Kakak jahat, aku benci."


Dania kembali menangis mengingat kejadian di cafe saat dia melihat Defran dan Dira yang begitu mesra menurutnya.


"Cup cup kok nangis lagi sayang?" Defran panik lalu memeluk Dania dan menciumi puncak kepala Dania.


"Hiks hiks kakak jahat, kakak selingkuh sama ulat bulu lagi." jelas Dania dengan berurai air mata, nafasnya tersengal.


"Maksud kamu apa sayang? Kakak selingkuh sama Dira gitu!"


"Jadi kakak bener selingkuh sama Dira? Hiks hiks kakak jahat aku benci kakak, pantes aja tadi aku lihat kakak mesra banget. Hiks hiks aku benci kakak, lepas jangan peluk-peluk aku! Peluk aja ular bulu gatel itu hiks hiks." Dania berusaha melepaskan pelukan Defran.


Defran makin mengeratkan pelukannya, menempelkan kepala Dania ke dadanya "Dengar detak jantung kakak! Berdebar kencang kan?"Tanya Defran meletakan kepala sang istri ke dadanya.


Dania mengangguk, "sekarang lihat mata kakak! Di mata kakak cuma ada kamu sayang, kakak cuma menganggap Dira adik sama seperti Devana dari dulu. Kemaren kakak dipaksa mama tunangan sama Dira dan maaf, kakak gak jujur dan soal kamu memergoki di kantor itu Dira yang nyosor kakak, dia yang cium kakak. Kakak udah berusaha berontak..." Defran mengambil nafas sebentar, "sayang sudah kakak jelaskan kalo kakak jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali kakak melihatmu, jadi kakak mohon percaya sama kakak! Kakak gak mungkin mengkhianati istri manja kakak." Ucapnya menciumi seluruh muka sang istri.


"Kalo kamu memang gak nyaman tinggal di sini, ayo besok kita pindah lagi ke apartemen lagi! Kamu kalo siang-siangnya ikut kakak ke kantor gimana?" Lanjutnya mencubit gemas hidung istrinya.


Dania hanya mengangguk tanda dia mengerti dan setuju dengan apa yang di bicarakan Defran.


"Kamu gak mau ngomong sama kakak gitu, kok dari tadi cuma angguk-angguk aja." Defran mulai kesal.


"Laper kak," jawab Dania sambil menunjukan giginya.


"Ya udah nanti kakak suruh bi sun nganter makan malem ke kamar."


Dania menggeleng, "aku mau sate di simpang empat apartemen"


"Ya udah ayo kita berangkat!"


"Tapi kakak kan baru pulang, kakak pasti capek."

__ADS_1


"Kakak gak akan capek kalo nemenin makan sate istri manja kakak ini, ayo berangkat!" Defran menarik tangan Dania.


Di bawah mereka bertemu dengan mama dan Dira.


"Def kamu mau kemana?" Tanya Dira menghadang mereka.


"Kita mau keluar!"


"Defran mau kemana kamu ajak istri kamu malem gini." Tanya Maura tak terima.


"Def mau manjain istri Def ma, Def sama Dania bakal tinggal lagi di apartemen besok, ayo sayang kita berangkat, Def Dania berangkat dulu yah ma!" Defran mengajak Dania pamit ke mamanya.


Mereka pulang ke apartemen setelah membeli sate 3 porsi, Defran sedang mandi sementara Dania menyiapkan satenya untuk makan malam mereka.


Defran sadar Dania tidak ingin di rumah mamanya karena mamanya belum bisa menerimanya dan malah semakin gencar menjodohkan Defran dengan Dira.


Oleh sebab itu Defran lebih memilih mereka kembali ke apartemen dan soal Defran yang tak tega meninggalkan Dania, Defran akan mengajak istrinya itu ke kantor bersamanya jika Dania lagi libur kuliah atau sesekali Defran menyuruh Devana adiknya menemani Dania di apartemen mereka.


Siang ini Dania sedang di kantor Defran, dia kesal Defran mencuekinya Defran sibuk dengan tumpukan berkas yang harus ditanda tanganinya.


Dania mendekati Defran di kursi kebesarannya " Kakak laper" Rengek Dania manja.


"Kamu laper sayang, nanti kakak suruh Dafin beli, kamu mau makan apa? Tanya Defran.


"Aku kangen makan di warung deket kosan aku kak, kita kesana ya" bujuk Dania.


"Suruh Dafin beli aja ya sayang, liat ni meja kakak penuh dengan berkas yang harus kakak tanda tangani" kata Defran.


"Hm ya udah deh", kata Dania cemberut. "Sabar ya baby D papa kamu emang gak sayang lagi sama kita, dia lebih peduli sama kerjaannya" lanjutnya sambil mengelus-elus perutnya sendiri.


Defran masih tidak peka dengan sindiran Dania, Defran terus berkutat dengan kertas-kertas di mejanya.


"Mama punya ide Baby D, gimana kalo kita nyari papa baru aja"kata Dania masih mengelus perutnya.


" Kak, aku pergi ya" katanya mengambil tangan Defran lalu menciumnya.


"Mau kemana sayang" kata Defran.


"Baby D ngajakin aku buat cari papa Baru" jawabnya berjalan melenggang.


"Berhenti di situ Dania Bella, kalau kamu berani melangkah aku hukum kamu" Kata Defran langsung menghampiri dan memeluk istrinya dari belakang yang otomatis berhenti berjalan.


"Udah berani ya mau cari papa baru" bisik Defran di telinga Dania "kenapa papa yang ini kurang ganteng apa? Lanjutnya membalik tubuh Dania.


"Abisnya kita di cuekin, ini maunya Baby D, Baby D mau makan deket kosan tapi kakak gak mau nemenin, jadi kita mau cari papa baru, yang bisa nemenin kita, yang gak cuekin kita, yang gak selingkuh sama tumpukan kertas itu!" katanya cemberut.


"Ya udah ayo kita cari makan kesana sweetheart" kata Defran.


"Beneran kak, kakak mau nemenin Nia?" Yang di jawab anggukan oleh Defran.


"Asikkk, Nia udah kangen banget sama mas- mas gantengnya, jadi pengen cium mereka" celotehnya.


Deg, jantung Defran berteriak, "Apa tadi kamu bilang sweetheart?" Tanya Defran.


"Mas-mas pelayannya tu ganteng kak, Nia jadi pengen cium mereka" ulangnya.


"Ayo kak buruan kita kesana Nia udah gak sabar ingin peluk mereka." lanjutnya menarik tangan Defran.


"Ayo, tapi ada syaratnya kamu gak boleh cium dan peluk mas-masnya." kata Defran cemburu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2