
^^^Mungkin iya aku lelaki brengsek yang menyakiti hatimu, tapi percayalah cintaku nyata untukmu.^^^
^^^"Defran Arie Olvio"^^^
Dania dan Wulan adiknya telah sampai di mall, mata Wulan berbinar senang.
"Dek, kamu beli apa aja keperluan kamu di sini. Ntar kak Nia yang bayarin." Ucap Dania juga ikut memilih beberapa barang.
"Beneran kak? Kak Nia serius ni mau belanjain Wulan." Wulan berteriak senang hendak memeluk Dania tapi jitakan Dania keburu mengurungkannya.
"Iya dek, kamu kan tanggung jawab kakak, kamu beli semua perlengkapan kamu abis itu kita makan, kakak laper." Mereka pun asik memilih barang apa saja yang mereka butuhkan.
"Kak tas ini boleh, baju boleh, sepatu boleh yah?" Tanya wulan antusias, Dania menganggukan.
"Iya dek kamu ambil aja, selagi memang barang itu kamu butuhkan." Nasihat Dania kepada sang adik.
Selesai belanja mereka masuk ke kafe untuk mengisi perut yang udah berbunyi.
"Mau pesan apa mbak?"Tanya waiter ramah sambil menunjukan daftar menu.
"Emh yang ini aja deh aku sama minumnya orange jus," Dania menunjuk makanan yang diinginkannya di daftar menu.
"Kamu pesan apa dek?" Tanyanya kepada sang adik.
"Samain aja kak." jawab Wulan asik dengan handphonenya.
"Oke mbak, di tunggu pesanan nya yah." Ucap waiter itu.
"Kak kok Kakak tambah gendut aja yah?" Tanya Wulan meletakan hpnya ke atas meja, ingin mengobrol banyak dengan kakak yang dirindukannya itu.
"Emang keliatan banget yah dek kakak gendutan?" Tanya Dania senang pasalnya menjadi berisi adalah keinginannya.
"Iya kak, tambah seksi tambah bohay." Jawab Wulan jujur.
"Hus kamu tuh dek kalo ngomong gak di saring dulu." Dania mencubit gemas pipi adiknya.
"Beneran kak, Wulan gak bohong kak. Kan biasanya kurus banget, udah dong cubit pipi Wulannya." Wulan memegang pipinya karena sakit akibat cubitan sang kakak.
"Sweetheart miss you so much." Defran tiba- tiba duduk di deket Dania melayangkan kecupan di pipi sang istri.
"Loh kok kamu bisa di sini Def?" Tanya Dania heran kenapa suaminya sudah ada di sampingnya.
"Aku ngikutin kamu sayang." Defran tersenyum tulus mencubit hidung Dania.
"Kakak ini pasti kak Def kan? Tanya Wulan penasaran.
"Tepat sekali, kenalin nama kakak Defran Arie Olvio kakak ipar kamu yang paling tampan." Dania memang sudah bercerita tentang Defran kepada adiknya itu, Defran menyodorkan tangannya.
"Aku Ayu Wulan adeknya kak Nia, senang kenal kak. Kakak pasti pacar kak Nia yah?" Tanya Wulan penasaran, pasalnya memang kecuali ayah dan ibu Dania, keluarga yang lain tidak tahu jika Dania telah dinikahi oleh Defran secara diam-diam.
Dania sendiri juga tak yakin jika Ayahnya itu tahu bahwa dia telah menikah, karena setahu Nia ayahnya tak mungkin semudah itu memberikan putrinya kepada orang yang bahkan bukan termasuk calon menantu idaman ayahnya itu.
"Bukan, lebih tepatnya suami Dania. Ayah dari calon anak-anak Dania, masa depannya Dania dan pria paling dicintai Dania," kata Defran santai.
"Def," Dania geram jika Defran tidak mau mengenalkannya sebagai istri ke keluarganya maka Dania Pun tidak ingin keluarganya tahu jika dia adalah istri dari seorang Defran.
"Iyaa sweetheart." Jawan Defran.
"Dek, kak Defran ini bos kakak bukan bukan!" kata dania terputus.
"Iya bos di hati Dania." Defran memotong kata- kata istrinya itu, Dania sangat geram melihat tingkah suaminya yang kekanakan, Dania cuma bisa mengerucutkan bibirnya pertanda kalo dia sudah marah, Defran benar- benar membuatnya kesal, dia belom siap jika adiknya tahu tentang pernikahan mereka.
Dania tidak ingin adiknya mengadu ke sang ayah bahwa dania sudah menikah, karena tentu menikah tanpa meminta restu akan sangat menyakiti hati ayahnya. Dania sangat menyayangi ayahnya, dia tidak akan pernah rela jika melihat ayah terluka, Dania tidak bisa mempercayai bahwa Defran telah meminta restu ayahnya. Sementara Defran terus saja menggodanya seolah ingin menunjukan kepada dunia, Dania hanya miliknya, padahal di depan keluarganya sendiri, Defran memperkenalkan Dania sebagai pembantunya.
Dania tiba- tiba beranjak pergi dari restoran meninggalkan sang adik dan suaminya.
"Kak nia tunggu, kakak mau kemana?" Tanya Wulan bingung.
"Pulang," Jawab Dania singkat.
"Sweetheart tunggu kita belom makan." kata Defran langsung menyusul Dania dan adiknya.
"Kak, kita belom makan, pesanannya aja belom dateng masak pulang?" Protes Wulan yang kelaparan.
"Kakak udah gak laper lagi. Ayo pulang!" Ucap Dania menarik lengan Wulan.
"Tapikan aku laper kak."
"Dek, kita cari resto lai....." kata- kata Dania terhenti karena ada tangan yang menariknya ke pelukan, yah orang itu Defran. Defran memeluknya dengan erat,
"Sweetheart jangan ngambek, ayo kita masuk lagi ya." ajak Defran menggerak-gerakan matanya lucu.
"Ayo kak masuk lagi, bener kata kak Defran. Tadikan kak laper banget. " Ucap Wulan yang kembali masuk ke kafe tersebut.
"Ayo sayang," kata Defran menarik tangan Dania yang menurut saja, dia sedang malas berdebat dengan suami gilanya itu. Selesai makan Defran ngotot ingin mengantar Dania dan Wulan pulang ke kosan, tapi Dania terang-terangan menolak.
"Biar aku yang anter kalian ke kosan yah." Ucap Defran ngotot tak terima bantahan.
"Gak kita naik taxi aja." Tolak Dania tak peduli dengan ucapan Defran.
"Ya udah kamu gak boleh nginep, biar Wulan aja yg pulang ke kosan." Ucap Defran akhirnya kesal dengan penolakan istrinya itu.
"Gak bisa gitu dong Def, semalam kan udah kita bicarakan. Kalo aku bakal nginep semalem, Wulan mana tau kosan orang dia baru di sini." Bantah Dania tak mau kalah.
"Oh jadi kakak tinggal dengan kak Defran yah? Aku sih gak papa tapi anterin aku ke kosan dulu ya." Ucapan Wulan menguntungkan Defran.
"Iyaa wulan kak Nia tuh gak enak sama kamu, kak Nia kan istri kakak jadi emang harus tinggal di apartemen kakak. Suami istri mana boleh pisah dan pasti kamu kakak anterin ke kosan." Ucap Defran panjang lebar, sedang Wulan sendiri masih bingung dengan jawaban Defran yang menurutnya hanya candaan semata.
"Kok kakak Nia bisa tinggal di apartemen kakak? tanya wulan penasaran.
"Kan udah kakak jelasin kalo....." Dania memotong ucapan Defran.
__ADS_1
"Kakak kerja sama dia dek, dia bos kakak. kakak tuh mau nginep di kosan tapi,..." jawab Dania cepat.
"Ya udeh kalo gak nginep juga gak ape-ape kak, Wulan ngerti kok." kata Wulan tersenyum bingung.
"Ya udah udah selesaikan makannya? Setelah itu kita pulang." Ajak Defran kesal, aura mukanya berubah tapi tetap memaksakan senyum.
"Kenapa Nia tidak mau mengakui aku suaminya?" Batinnya tak terima.
Selesai mengantar Wulan ke kosan, Dania langsung di antar pulang oleh Defran ke apartemen, sementara Defran kembali ke kantor. "Ya sendiri lagi kan gue jadinya dasar Defran nyebelin," kekeh Dania kesal, tak lama kemudian ada yang chat dari suaminya itu.
____________________________________
Suamiku
Sweetheart π
Sweetheart lagi apa sayang?
Sweetheart lagi ngambek yah?
Jangan ngambek sayang!
Sweetheart kangenππ
Bales dong sweetheart
Atau mau aku telvon aja???
Ya udah deh kalo ngambek aku pulang rumah mama aja π
^^^TERSERAH^^^
Akhirnya dibales juga, ya udah sayang bentar lagi aku pulang kamu mau di beliin apa??
^^^Rujak tiga porsi yang deket simpang tiga.^^^
Oke di tunggu sayang.
_________________________________
Ting nong ting nong, suara bell apartemen berbunyi, Dania segera membuka pintu.
"Sebentar Def, " Dania terkejut ternyata yang datang bukan Defran melainkan mamanya.
"Tante, ayo masuk tan." ajak Dania serba salah.
"Saya tak suka basa-basi, cepat beresin barang- barang kamu, kamu pindah ke rumah saya hari ini!" Perintah Maura tak terima bantahan.
"Maaf sebelumnya tan, kenapa saya harus pindah ke rumah tante? Defran gak bilang apa-apa sama saya, saya tidak mau." Dania menolak permintaan ibu mertuanya itu.
"Tidak bisa kamu, Defran telah menyerahkan kamu untuk kerja di rumah saya setelah kamu sembuh." Ucap tegas Maura mengintimidasi Dania.
"Apa saya gak salah dengar tante? Emang di rumah tante butuh pegawai, pegawai apa sih sampai harus merekrut saya. Lagian ya tante kalo saya di suruh bekerja kenapa gak di kantor Defran aja, kenapa harus di rumah tante? Tante aneh ih." Celetuk Dania panjang lebar. Enak saja ibunya Defran ini main ajak orang saja.
"Kamu mengusir saya?" Tanya maura tak terima, Dania hanya menggeleng.
"Kamu di rumah saya di terima sebagai art, sesuai dengan jabatan kamu saat ini." Jelas Maura kemudian.
"Jadi cepat kemasi barang kamu, saya tidak mau menunggu terlalu lama!"
Dania ingin menolak tapi dia teringat dengan kejadian beberapa hari lalu saat Defran mengenalkan nya sebagai pembantu, Dania mengalah bukan berarti kalah.
"Baiklah tante, Dania siap-siap dulu." Ucapnya langsung mengepak baju yang akan di bawa ke rumah mertuanya itu.
"Apa gue benar-benar harus jadi art? Nikmati saja Dania peran yang kau mainkan kali ini." Batinnya menyemangati.
Dania telah sampai di rumah keluarga Defran, dia di buat takjub dengan rumah itu benar- benar seperti istana sangat megah dan juga indah.
"Dania tugas kamu di sini bersih- bersih, masak dan pekerjaan rumah tangga lainnya hari ini kamu langsung kerja jangan males!" Maura menjelaskan apa yang harus Dania kerjakan sejak dia resmi di angkat menjadi art di rumah itu.
"Iya tante." jawab Dania pasrah.
"Jangan panggil saya tante, panggil nyonya Maura. Karena di sini saya majikan kamu, mengerti?" Tegas Maura.
"Iyaa nyonya Maura." Kata Dania lantang.
"Bi Sum antar Dania ke kamarnya," Perintah Maura, Bi Sum berlari menghampiri Maura.
"Maaf sebelumnya nyonya semua kamar udah penuh, lalu Dania tinggal di kamar siapa?" Tanya Bi Sum kepada nyonyanya itu.
"Antar dia ke kamar Titin, Dania bakal berbagi kamar dengan kam!" Ucap tegas Maura.
Setelah sampai di kamarnya, Dania membereskan barangnya, Dania sangat lelah sekali dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sebentar ke ranjang tapi Titin masuk.
"Eh itu ranjang gue, jangan coba- coba sentuh! Lo kalo tidur di lantai kalo mau tinggal di sini." Jelas Titin seenaknya.
"Iya mbak Titin."
Dania menghembuskan nafasnya kasar, hidupnya benar- benar berakhir jadi ART ternyata.
"Sabar yah nak mama janji kamu gak kan pernah ngalamin yang mama alami, kita harus kuat sayang, demi mama demi kamu sayang." lirihnya Dania sambil mengelus perutnya.
"Anggap ini liburan Dania, anggap aja kalo kamu sedang jadi relawan yang ikhlas jalaninnya." Lanjut batinnya.
"Dania, Dania, Dania, kamu di mana cepat kerja nanti nyonya marah." Titin memangil Dania.
"Sayangnya mama, jangan buat mama susah yah, kita akan kerja semangat!" Dania menyemangati dirinya sendiri.
"Iyaa mbak Titin," Dania menemui Titin.
"Bantuin Bi Sum masak makan malem sana, abis itu kamu sapu dan pel lantai yah udah kotor lagi!" Perintah titin seenak udelnya, karena kedatangan Dania menguntungkan nya.
__ADS_1
Dania membantu Bi Sum membuat makan malam dengan bahagia, bi Sum cukup baik orangnya dan Dania tentu menyukai nya tentu saja.
Sementara Defran baru pulang dari kantor langsung menuju apartemen membawa 3 porsi rujak pesanan Dania istrinya tercinta.
"Sweetheart rujak datang." Defran mencari keberadaan istrinya.
"Sayang kamu dimana? Sayang kamu di kamar mandi yah? Ini rujak kamu." Defran memeriksa setiap sudut ruangan, diapun mulai panik, Dania tidak ada di apartemennya.
"Dania kamu kemana sayang?" Batin Defran cemas, telponnya berbunyi ternyata mamanya yang nelpon.
"Ada apa ma nelpon?" Tanya Defran yang khawatir memikirkan istrinya.
"Kamu tuh yah, di telvon bukannya ngucapin salam, malah langsung nanya." Maura berdecak sebal.
"Assalamualaikum ma, ada apa nelpon Def?" ucapnya kesal.
"Waalaikum salam sayang, mama cuma mau kasih tau kalo Dania udah kerja sama mama." Jelas Maura.
"Ma, jangan gitu Dania bukan, ahh yaudah Def segera ke rumah!" Defran memutuskan panggilannya langsung mengambil kunci mobil.
"Ahhh." Teriaknya frustasi membayangkan nasib Dania.
"Aku harus segera sampai rumah, ah iya rujaknya. Dania bakal marah jika aku melupakan rujaknya." Batin Defran tergesa-gesa.
Dania tampak kelelahan mengepel lantai tiba- tiba ada sepasang lengan memeluknya erat. "Sayang aku mencari mu di apartemen." Defran berucap manja, Dania diam tak menjawab dia meneruskan mengepelnya.
"Sayang udahan ngepel nya." Defran menciumi leher Dania.
"Maaf tuan Defran ini pekerjaan saya, dan tolong lepasin pelukan tuan tidak enak dilihat pembantu tuan yang lain." jawab Dania dingin sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya itu.
"Titin kesini kamu." Panggil Defran sambil terus memeluk Dania.
"Iya tuan Def." jawab Titin segera menghadap tuannya itu.
"Lanjutin pekerjaan Dania." Perintah Defran yang langsung menarik tangan Dania menuju ke kamarnya.
"Tuan lepasin tangan saya tuan." pintah Dania memelas.
"Berhenti memanggilku tuan, aku tidak suka." Defran meninggikan suaranya.
"Hiks hiks kamu jahat bentak aku, aku mau pulang aku gak mau di sini, mereka memperlakukanku seperti budak." Aduh Dania kepada suaminya itu
"Sayang jangan nangis." Defran menghapus air mata yang mengalir di pipi istri cantiknya kemudian memeluk erat wanita penakluk hatinya itu.
"Hiks hiks aku mau pulang ke kosan aja, setidaknya lantai yang ku sapu dan pel tidak seluas ini." Ucap Dania tidak betah berada di rumah keluarga Defran.
"Besok kita pulang, kamu pasti penasaran dengan kamar kita di rumah ini." Defran menarik lengan istrinya menuju pintu kamarnya.
"Bukan itu, bukan kamar kita tapi kamar kamu, kamarku sama Titin." Tolak Dania.
"Kamu itu istri aku dan aku suami kamu jadi kamar aku kamar kamu juga kan sayang?" bisik Defran di telinga Dania,
"aku bukan istri kamu, aku pembantu kamu yah tuan Defran."
"Ya udah yuk masuk sayang ajak Defran." Defran tak ingin berdebat dengan istrinya yang terkadang labil itu.
Defran menyuruh bi Sum mengantar tiga porsi rujak pesanan Dania ke kamar mereka. Usai memakan rujak Dania tertidur di pelukan Defran, di lain tempat Titin sedang kesal karena Defran menyuruh mengantikan tugas Dania.
"Kesel Titin bi sama pembantu baru itu, masak tugas dia dilimpahkan ke Titin." gerutunya kesal.
"Hus titin gak boleh ngomong gitu." kata bi Sum.
"bi pembantu baru itu kegenitan sama tuan Defran asal bibi tau, tadi aja yah dia nangis- nangis gitu mintak di peluk tuan. Gatel die mah dan maksa masuk kamarnya tuan." Upat titin kepada bi Sum.
"Yah itu mah bibi tau, wong bibi yang nganterin rujak ke kamar tuan Def buat di makan Dania. Tuan sayang kayaknya sama Dania, sampe disuapin Dania nya so sweet banget." Cerita bi Sum melihat keakraban tuannya itu.
"Ada apa, ada apa ini bi Sum Titin?" Tanya Maura yang tiba- tiba masuk ke dapur
"Itu loh nya, pembantu baru gatel banget sama tuan Def." Aduh Titin kepada Maura, enak saja pembantu baru itu mau enak-enakan, Titin aduin biar tahu rasa.
"Dasar yah anak itu, sekarang Dania di mana?" Maura berapi.
"Di kamar tuan Def." Jawab Titin dan bi Sum bersama.
"Awas yah kamu Dania, udah berani sekarang." marah Maura menuju kamar Defran.
Cekrek pintu kamar Defran terbuka dan betapa terkejutnya dia melihat Dania tidur di pelukan Defran.
"Ssst, jangan ribut ma Dania baru tidur!" Defran menaruh telunjuknya di mulut.
"Kamu apa- apaan Defran kenapa Dania tidur di sini?" Tanya Maura.
"Ma tolong jangan berisik! Dania itu capek dia butuh istirahat tadi dia mama suruh nyapu, ngepel,masak, di apartemen Def aja dia gak perna ngelakuin hal itu." Defran menepuk-nepuk bahu istrinya, agar tetap tertidur.
"Defran kamu bener- bener yah jadi anak, kamu mau ngelawan mama." Maura meninggikan suaranya, membuat Dania terbangun.
"Def, ada apa ini?" Tanyanya bingung.
"Kamu kebangun sayang, maaf yah suara aku kekerasan, sekarang tidur lagi yah." Pinta Defran
"Dania, ngapain kamu tidur di ranjang anak saya?" Tanya Maura marah.
"Nyonya." Dania kaget.
"Dasar ****** kamu yah, Defran tuh sudah punya tunangan." Maura menampar Dania.
"Cukup ma, jangan sakiti Dania! Dania itu Ist..." Kata- kata Defran terhenti Dania memeluknya.
"Def, aku gak papa kok." Ucapnya kemudian melepaskan pelukan singkatnya lalu pergi keluar dari kamar Defran.
"Semua ini gara- gara mama, Dania itu bukan pembantu ma." Defran menyusul Dania yang terlihat kecewa, Maura terdiam bingung penuh tanda tanya,Defran telah berubah pikirnya.
__ADS_1
Bersambung....