
Perlawanan Inez yang terus-menerus berontak, ingin melepaskan diri dari kungkungan suaminya, kini tidak bisa lagi berkutik, saat ia merasakan kenikmatan sebenarnya malam ini sebagai wanita dewasa.
Iko yang sangat mahir membuat wanita klepek-klepek di atas ranjangnya dengan tidak membiarkan Inez berhenti mengerang walaupun awalnya Inez terlihat ja'im dan menahan rasa itu.
Kali ini tubuhnya yang lebih menuntutnya agar menerima kebaikan hati suaminya untuk memuaskan dirinya setelah dua bulan berlalu begitu saja tanpa sentuhan.
Entah apa yang terjadi pada keduanya malam ini. Merasa benda pusaka nya sudah siap untuk berlabuh di tempat istrinya yang masih terjaga kesuciannya ini, membuat Iko ekstra hati-hati pada Inez. Apa lagi ini pertama kalinya ia melakukan dengan gadis perawan.
Sesekali ia mendorong masuk miliknya namun cukup sulit. Inez yang tidak lagi malu pada Iko mencoba melebarkan kedua sisi pahanya agar akses Iko tidak sulit.
Dengan sedikit menekan akhirnya, ia bisa melewati jalan sempit itu dengan tubuh menggigil merasakan sensasi hebat dan juga baru baginya saat setiap lingkaran mungil itu mencengkram miliknya.
"Akhhhhkkk... sakit Iko..ini sakit." Rengek Inez tidak kuat menerima benda keras dan besar itu masuk dalam tubuhnya.
"Tahan sebentar sayang. Nanti kamu akan menikmatinya." Ucap Iko lalu meluma**t bibir Inez.
Ia membenamkan miliknya sebentar untuk beradaptasi merasakan dinding disekitar area itu mulai memijit miliknya.
"Aaaahhh... sayang, ...ssss..Inez!" Desis Iko yang tidak bisa lagi menggambarkan perasaan bahagianya malam ini.
Usai belah duren malam ini dengan membuktikan darah segar itu membekas di seprei dan kedua paha sang istri. Iko baru melepaskan benda perkasanya yang sudah tertidur.
Peluh keduanya yang terasa cukup banyak mengalir di sela pori-pori tubuh mereka. Iko melepaskan gesper yang ia ikat pada kedua tangan Inez.
Ia memeluk tubuh istrinya sementara Inez menangis sesenggukan karena ia sudah berhasil jatuh cinta pada Iko tapi pernikahan mereka hanya bertahan sebulan lagi.
Iko yang salah paham arti dari tangisan istrinya, merasa ia telah membuat milik istrinya sakit.
"Sakitnya hanya sekali sayang, nanti kalau kita bercinta lagi, kamu tidak akan merasakan sakit justru kenikmatan yang akan kamu rasakan. Percayalah padaku." Ucap Iko antusias.
Bukannya tenang, tangis Inez makin menjadi dan kali ini lebih menyayat hati suaminya.
__ADS_1
"Sayang... apakah sangat sakit?" Tanya Iko merasa bersalah.
Inez tidak mau menjawabnya. Ia membiarkan Iko dengan pemikirannya sendiri. Iko hanya bisa mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri.
Hatinya sangat bahagia malam ini. Ia berencana akan membuat Inez segera hamil untuk menahan gadis ini agar tidak pergi darinya. Apa lagi di surat perjanjian jika Inez hamil bayinya, Inez tidak boleh pergi hingga Inez melahirkan bayinya.
Inez bangkit ke kamar mandi dengan menahan rasa perih dan sakit pada area sensitifnya. Iko menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi.
Ia memandikan Inez sendiri namun tangan nakalnya terus bermain di puncak dada istrinya dengan sekali menyesapkan lidahnya bermain-main kembali di sana membuat Inez kembali terangsang.
"Aku akan mengobati tempat yang sakit. Sebentar lagi dia akan sembuh." Bisik Iko dengan kata-kata terdengar fulgar.
Inez merasa kalau suaminya memperlakukan setiap wanita sama saja dengan dirinya membuat ia mulai menolak tawaran itu.
"Tidak...! Aku mau tidur dan aku lelah. Lagian aku masih merasakan sangat sakit dan aku yang merasakannya." Ucap Inez sinis.
"Baiklah. Tidak apa sayang, kalau kamu memang merasa sakit." Ucap Iko lalu menyudahi mandi mereka berdua.
Iko menatap kecantikan wanitanya yang sangat luar biasa membuatnya tidak ingin berpaling dari Inez. Kalau bisa ia ingin bercinta lagi dan lagi. Tapi sayang Inez tidak menginginkannya.
"Biarlah. Mungkin dia benar-benar sakit. Kami bisa melakukannya lagi besok-besok." Batin Iko.
Inez mengenakan piyama tidurnya berwarna moka. Lagi-lagi Iko tetap salah fokus pada bagian dada Inez yang tidak mengenakan bera. Puncak lemak itu terlihat menggelantung seakan menggodanya untuk kembali
disesap.
"Sayang ..! Ayo tidur di kamarku!" Pinta Iko.
"Aku tidak mau tidur di kasur bekas pelacur-pelacur mu." Sarkas Inez.
Iko terdiam dan baru menyadari kesalahannya. Ia merasa saat ini Inez bukan merasa sakit pada bagian sensitifnya tapi merasa sakit hati padanya karena ia sudah berani membawa wanita penghibur ke kamarnya saat ia sudah menikahi Inez.
__ADS_1
"Apakah kamu cemburu pada mereka Inez?"
"Hah...? Cemburu? Yang benar saja? Siapa kamu bagiku? Kamu tidak penting bahkan kau tidak masuk dalam kategori pria impianku.
Dan aku tidak pernah bermimpi menikah dengan mafia dan pemain wanita sepertimu. Apakah pantas kamu disebut sebagai suami atau ayah dari anak-anakku?
Lagi pula pernikahan kita hanya diatas kertas. Untuk bisa bebas dari neraka ini, makanya aku mau menikah denganmu." Ucap Inez membuat Iko merasa sangat sakit.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Memang hidupku seperti ini sebelum kamu datang. Oh iya, aku lupa kalau aku sudah menikahi gadis alim sepertimu yang sangat awam dengan duniaku.
Tunggulah sebulan lagi aku akan mengembalikan kamu ke habitat mu dengan bertemu para orang-orang Sholihin sepertimu.
Tapi dalam waktu sebulan ini tubuhmu adalah milikku dan kau harus melayaniku setiap saat kapanpun aku mau. Dan aku tidak ingin mendengarkan penolakan mu." Timpal Iko sinis.
Iko keluar dari kamar Inez menuju kamarnya. Ia merasa tersinggung dengan perkataan Inez yang membuatnya makin minder di depan gadis itu.
Untuk membuat Inez makin marah. Ia malah meminta Zian untuk mengirim tiga orang wanita penghibur sekaligus ke rumahnya.
Dalam beberapa menit kemudian, mudah bagi Zian untuk mendapatkan wanita-wanita itu untuk bosnya.
Inez memperhatikan wajah dan tubuh para wanita itu masuk ke rumahnya. Iko tersenyum puas bisa membalas sakit hatinya pada Inez yang ia ketahui sangat mencintainya.
Inez mengambil air wudhu dan membaca Alquran untuk menghilangkan rasa kecewanya pada suaminya.
Dan apa yang terjadi pada Iko selanjutnya. Saat para wanitanya sedikit menari telanjang di depannya, hatinya tiba-tiba tidak merasa berhasrat pada para wanita itu. Ia merasa muak dan mengusir para wanita penghibur itu.
"Tinggalkan kamarku dan pulanglah. Aku tidak menginginkan kalian lagi." Ucap Iko dengan wajah kelam.
"Tapi tuan, kami belum melayani tuan sama sekali." Ucap salah satu dari mereka.
"Aku tidak berhasrat sama sekali pada kalian. Sebaiknya kalian pergi atau aku akan menyakiti kalian." Ucap Iko.
__ADS_1
"Ba..baik tuan!" Mereka segera memakai bajunya kembali dan pergi dari kamar Iko. Walaupun begitu mereka tidak kecewa karena sebelumnya mereka sudah menerima bayaran dari Zian.