Istri Yang Di Tukar

Istri Yang Di Tukar
15. Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Perdebatan yang cukup alot di ruang meeting itu tentang beberapa hal yang menyangkut dunia mafia di dalam sana cukup mendebarkan bagi yang mendengarkan mereka.


Seperti para pelayan hotel yang sedikit menjauh dari ucapan kotor lagi keras didalam sana dan hampir adu senjata yang dikeluarkan mereka masing-masing.


Iko yang sebagai ketua mafia itu memasuki ruangan tersebut dengan wajah kelam seakan mengisap semua energi dari para mafia yang sedang berseteru itu.


"Apakah kalian mau mati, hah?" Bentak Iko membuat wajah-wajah Anggota itu terdiam dan menyembunyikan lagi pistol mereka di tempat balik jas mereka masing-masing.


Mereka tidak kuat memandang wajah Iko yang menguar intimidasi itu.


Tatapan Iko yang menakutkan mampu membungkam mulut besar mereka yang sedang memperebutkan ladang bisnis mereka.


Iko duduk di tempat yang disediakan untuknya. Tidak lama masuk tuan Gustavo dan semua orang bangun saat nama pria itu disebut oleh panitia penyelenggara acara pertemuan besar itu.


Iko yang sudah melihat wajah tuan Gustavo dalam lift tadi begitu tersentak saat berhadapan langsung dengan tuan Gustavo.


Iko menyalami tuan Gustavo yang baru diketahui sosoknya tersebut.


"Selamat datang Tuan..! Terimakasih sudah memenuhi undangan kami. Selamat bergabung di anggota mafia ini."


Ucap Iko dengan wajah tegas bahkan tanpa ekspresi dan itu yang menjadi tuan Gustavo terkesan pada pertemuan pertama mereka.


"Senang bertemu denganmu anak muda. Sepertinya kepemimpinan mu dengan ketua mafia berhasil membuat anggota mafia bertekuk lutut pada anda dan saya baru bertemu dengan anda walaupun saya sudah lama mendengarkan sosok anda." Ucap tuan Gustavo.


"Terimakasih untuk pujiannya Tuan. saya rasa anda terlalu berlebihan."


Ucap Iko yang tiba-tiba merasa kecil dihadapan tuan Gustavo.


Keduanya kembali duduk di kursi mereka masing-masing dan meeting itu kembali berlangsung.


Walaupun saling adu argumen mereka masing-masing namun, tuan Iko selalu bisa mengendalikan perdebatan mereka..


Tuan Gustavo yang memperhatikan ketegasan Iko dalam mengendalikan anggota mafia begitu terpukau.


"Sepertinya menantu seperti ini yang aku butuhkan dalam menjalankan bisnisku dan pantas mendampingi putriku, Inez. Aku harus menjodohkan mereka berdua." Batin tuan Gustavo.


Setelah menyampaikan beberapa pendapat dari para mafia tentang bisnis mereka, akhirnya meeting itu berakhir dengan damai.


Mereka kemudian merayakan keberhasilan mereka yang bisa mendapatkan bisnis yang adil dari pemimpin mereka.


Iko begitu bijak saat menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi oleh para anggotanya.


Minuman sampanye yang disiapkan oleh hotel tersebut menjadi penutup acara mereka malam itu.

__ADS_1


Iko yang tidak ingin bergabung saat melihat para gadis muda yang mulai datang menghampiri anggota mafia yang akan menjadi jodoh mereka.


Zian segera menyusul tuannya yang keluar begitu saja tanpa ada basa-basi pada anggota lainnya membuat ia begitu frustrasi.


"Tuan mau ke mana? Kenapa tid5 menunggu kedatangan nona Inez?" Tanya Zian heran.


" Apakah diantara mereka ada ayahnya Inez?" Tanya Iko geram.


"Saya juga tidak tahu yang mana ayahnya Inez, Tuan."


"Nah sekarang kamu pikirkan, jika ayahnya hadir pasti dia membawa putrinya bersamanya saat ini. Tapi lihatlah hampir semua putri anggota mafia berpakaian terbuka.


Sementara Inez ku sangat tertutup dan terjaga auratnya." Ucap Iko penuh kebanggaan pada istrinya itu.


Saat mencapai pintu lift, langkah mereka dihentikan oleh tuan Gustavo.


"Tuan Iko...!"


Iko berbalik dan menunduk hormat pada tuan Gustavo.


"Maukah anda berkenalan dengan putriku? Saat ini ia masih berada di kamarnya. Ia tidak mau bergabung karena dua bukan seorang gadis lagi." Ucap tuan Gustavo.


Iko menarik nafasnya sambil berpikir keras apakah tuan Gustavo ini adalah ayah mertuanya. Namun ia tidak begitu yakin dengan intuisinya.


"Oh maaf tuan Iko! Harusnya saya bertanya dulu pada anda, apakah anda sudah berkeluarga atau belum. Maafkan atas kelancangan saya. Titip salam untuk istri anda." Ucap tuan Gustavo pada Iko.


"Tidak apa tuan Gustavo. Justru anda adalah ayah yang baik karena memikirkan masa depan putri anda yang harus mendapatkan calon suami terbaik untuknya." Kata Iko.


"Baiklah. Selamat bersenang-senang!"


Ucap tuan Gustavo lalu turun ke lantai kamarnya.


"Selamat malam tuan Gustavo..!"


"Selamat malam..!"


...----------------...


Keesokan paginya, saat Iko sedang sarapan pagi dengan Zian di restoran, ia melihat seorang gadis berpakaian syar'i sedang berjalan bergandengan tangan dengan tuan Gustavo.


Iko dan Zian saling bertatapan dengan jantung yang berdegup kencang. Mereka menerka-nerka apakah gadis itu adalah Inez.


Keduanya berpindah tempat duduk yang sedikit teralihkan oleh vas bunga hias yang ada di restoran tersebut agar bisa memperhatikan ayah dan anak itu dari kejauhan.

__ADS_1


"Zian...! Kalau saya perhatikan cara jalan gadis itu sepertinya dia adalah Inez, apa lagi tinggi badan dan gesture tubuhnya persis seperti Inez."


Ucap Iko sambil menatap ke arah Inez yang sedang ngobrol dengan ayahnya.


"Tuan...! Bukankah Inez mengenakan cincin kawin miliknya yang anda berikan padanya saat pernikahan kalian?"


"Iya benar. Hanya dengan cincin itu aku bisa mengetahui dia isteri aku atau bukan Zian." Ucap Iko.


Keduanya akhirnya memperhatikan jemari Inez saat gadis itu makan.


Jantung Inez rasanya mau copot saat ini karena ia yakin tanpa cincin itu, ia sudah bisa mengenali bahwa gadis yang bersama dengan tuan Gustavo itu adalah Inez, istrinya.


"Kenapa anda tidak langsung menghampiri saja nona Inez Tuan kalau anda yakin itu memang dia?" Tanya Zian.


"Aku takut kita salah." Iko merasa cemas..


"Sepertinya kita tidak salah Tuan, karena tuan Gustavo bilang kalau putrinya seorang janda. Bukankah itu berarti dia janda nya anda, bukan?" Tanya Iko.


"Sepertinya kamu benar Zian. Itu sebabnya mengapa Inez tidak mau membaur dengan putri anggota mafia lain karena dia adalah seorang janda." Ucap Iko.


Iko masih saja duduk di tempatnya sambil menikmati sarapannya. Sementara Zian tidak sabar melihat Iko menghampiri Inez.


"Apakah anda ingin kehilangan jejaknya lagi?"


"Tentu saja tidak mau Zian."


"Ya sekarang tunggu apa lagi?" Desak Zian yang gregetan sendiri pada tuannya yang begitu lamban menghampiri Inez.


"Apakah Inez akan menerima aku lagi, Zian?"


"Urusan terima atau tidak, itu urusan nanti. Yang jelas cobalah menyapanya." Ucap Zian.


"Bagaimana kalau kita salah orang?"


"Tinggal minta maaf. Lagi pula ayahnya adalah tuan Gustavo yang sudah mengenal anda dengan baik." Ucap Zian terlihat sedikit emosi.


"Baiklah."


Iko segera menghampiri meja tuan Gustavo sambil berharap gadis berpakaian syar'i itu adalah istrinya Inez.


"Assalamualaikum Tuan Gustavo...!" Sapa Iko.


Inez langsung tersentak melihat suaminya sudah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2