
Iko melepaskan pelukannya begitu melihat wajah cantik Inez, wajah yang selama ini menghiasi hari-harinya.
Seorang wanita yang selama ini menjadi obsesinya bahkan ia hanya bisa menyimpan dalam bingkai pikirannya.
Wajah itu selalu terngiang-ngiang dalam benaknya. Wajah itu juga yang selama ini ada di dalam rumahnya tapi ia tidak tahu.
Inez tampak bingung dengan perubahan sikap Iko yang menatapnya seakan dirinya ini hantu. Ia merasa malu sendiri dan terkesan canggung saat Iko tidak bisa bersuara dan sangat syok melihatnya.
"Apakah aku terlihat jelek? Apakah dia tidak menyukai riasan ku. Tolonglah. Katakan sesuatu! Jangan diam seperti ini." Gerutu Inez membatin.
"Maaf! Jika penampilanku sangat menganggu mu. Aku akan segera mengganti gaun pengantin ini. Lagian gaun ini sangat tidak membuat aku nyaman."
Ucap Inez hendak melangkah ke kamar ganti.
"Berhenti...!" Titah Iko dengan suara bariton yang cukup membuat Inez bergidik.
Iko menghampiri lagi pengantinnya dan dengan tangan gemetar ia membuka resleting gaun itu secara perlahan sambil menatap punggung mulus itu dengan aroma tubuh menguar lembut hingga tercium oleh indera penciumannya.
Iko makin gemetar saat menanggalkan gaun itu hingga memperlihatkan bokong bulat nan padat menggiurkan terbungkus oleh segitiga berwarna krem.
Ia yang selalu berani dan lebih agresif menghangatkan tubuh wanita, nyatanya malam ini bersama Inez ia tidak bisa berkutik walaupun sang junior terus memaksanya untuk mengambil haknya sebagai suami.
Gaun itu di biarkan begitu saja oleh Iko dan iapun menggendong tubuh Inez dan membawanya ke tempat tidur.
Saking senangnya Iko bisa bertemu lagi dengan wanita idamannya, ia sampai tidak berani menyentuh istrinya. Ia terus menatap wajah cantik Inez yang selama ini hanya bisa muncul dalam pikirannya.
"Apakah saat ini aku sedang tidak bermimpi? Apakah mereka adalah wanita yang sama? Aku harus mencaritahu bagaimana bisa Indra mendapatkannya dan menjual padaku sementara ia belum sempat melihat bidadari ini." Ucap Iko masih setia menatap wajah cantik Inez.
"Kenapa dengan orang ini. Apakah dia sedang melihat wanita yang mirip denganku? apakah kekasihnya yang ia sebut itu sangat mirip denganku?"
Inez menarik selimutnya karena begitu malu ditatap Iko yang terus mengamati tubuh dan wajahnya secara bergantian.
Selimut itu kembali di buka oleh Iko, karena wajah Inez teralihkan oleh selimut.
__ADS_1
"Jangan menutupnya, Inez! Aku ingin melihat wajahmu." Cegah Iko.
"Apakah kamu belum pernah melihat wajah wanita? Kau hanya membuatku malu." Ucap Inez ketus.
Inez merasa tersinggung juga segan dengan jantungnya saat ini hampir melompat keluar dan tubuh gemetar hebat.
Betapa tidak, seumur hidupnya baru kali ini dia tidur berhadapan dengan laki-laki yang sangat dibencinya dari awal bertemu dan sekarang menjadi suaminya dan tidur dengannya di tambah lagi Iko terus menatapnya seperti memandang lukisan hidup.
Puas menatap wajah Inez, kini Iko menarik tubuh mulus tanpa cela itu. Membawa dalam pelukannya membuat nyawa Inez langsung melayang.
"Apakah kamu gugup sayang?"
"Tentu saja bodoh! Rasanya aku ingin pingsan saat ini atau seseorang yang bisa menolongku darimu." Batin Inez lalu menjawab dengan deheman.
"Hmm!"
"Apakah aku boleh mencium mu?"
Iko merasa heran dengan dirinya sendiri malam ini. Ia yang dari awal sangat berna*"u ingin mendapatkan kesucian Inez kini seperti pria impoten yang tidak bisa melakukan apapun saat ini.
Melihat Inez tidak meresponnya, Iko memberanikan diri untuk memagut bibir Inez. Gadis ini memejamkan matanya kuat merasakan sentuhan bibir kenyal Iko yang menikmati bibirnya hingga memaksa masuk ke dalam rongga mulutnya.
Inez membuka sedikit mulutnya dan mulai belajar bagaimana cara berciuman yang benar. Setelah beberapa detik hanya bergumul bibir dan lidah, Inez memberanikan diri untuk membalas ciuman suaminya.
Ia turut hanyut dalam ciuman panas itu. Iko mulai terbakar karena lawannya mulai mengimbangi permainan lidahnya.
Kini Iko beralih dengan tangan yang sudah melepaskan pengait bera penutup bukit salju itu. Tanpa melihat seperti apa keindahan bukit itu.
Namun tangannya terasa sangat penuh karena dada sekang itu seperti buah apel Malang yang begitu lembut.
Ciuman berpindah pada leher jenjang Inez. Mengecup di sana memberikan tanda kepemilikan. Dada Inez mulai naik turun tidak beraturan ketika Iko melahap dada sekangnya secara bergantian.
Rasanya saat ini, ia malu mengeluarkan orkestra terindah yang diharapkan oleh permainan panas malam pengantin.
__ADS_1
Iko terus menikmati bagian lembut kenyal menawarkan rasa yang sangat membuatnya candu. Tapi ada yang aneh.
Benda pusaka nya tidak bereaksi dengan otaknya yang sudah mulai membangkitkan gairahnya.
"Ada apa denganku? Ini sangat memalukan. Inez akan mengira aku adalah pria impoten dan akan tersinggung jika aku tidak bisa menunaikan tugasku sebagai suami." Batin Iko mulai frustasi.
"Tidurlah sayang! Kita bisa melanjutkannya lagi nanti. Rasanya malam ini aku sangat lelah. Kita butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Aku tidak ingin menyakitimu."
Ucap Iko lalu bangkit dari tempat tidur meninggalkan Inez dengan tubuh polosnya.
Tidak masalah bagi Inez jika Iko tidak menyentuhnya. Ia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya apakah saat ini, ia menyukai Iko atau tidak.
Inez memilih untuk tidur dan mengabaikan Iko yang saat ini masih belum percaya kalau Inez adalah wanita yang selama ini ia cari.
Di balkon kamarnya, Iko duduk seorang diri sambil menyulut rokoknya dan terus saja berpikir keras dengan kejadian aneh ini.
Antara senang dan juga menyesali perbuatan bodohnya yang telah membuat surat perjanjian kontrak dengan Inez berdasarkan ambisinya saja bukan karena cinta.
"Apakah karena tidak ada cinta sebelumnya yang membuat aku tidak bisa melakukan malam pertama kami?"
Sekitar satu jam lebih Iko duduk seorang diri di balkon. Rasa dingin udara malam mulai menusuk tulangnya. Iko masuk menemui istrinya yang sudah tidur terlelap.
"Ternyata kau datang sendiri dalam hidupku, wahai bidadari ku." Iko menatap lagi wajah Inez yang tidak membuatnya jenuh.
Tubuh polos Inez dengan selimut yang sudah tak beraturan membuat Iko kembali bergetar. Iko yang belum sempat melihat kuncup bunga milik istrinya saat ini mulai tergoda untuk menatap.
Kaki Inez yang sedikit terbuka memperlihatkan tempat yang masih mengatup. Iko lebih berani menatap surgawi itu tanpa terganggu saat Inez terlelap.
Paha mulus itu dilebarkan sedemikian rupa dan lagi-lagi Iko hanya bisa menatapnya sambil meneguk liurnya gugup.
"Apakah aku boleh menyentuhmu, sayang? Tapi mengapa saat kamu menyerahkan tubuhmu dengan suka rela, justru aku menjadi tidak berdaya. Ada apa sebenarnya dengan kamu Inez" Gumam Iko lirih.
Iko menutup kembali selimut tebal itu pada tubuh Inez yang tiba-tiba meringkuk karena kedinginan.
__ADS_1