Istri Yang Di Tukar

Istri Yang Di Tukar
28. Bukan Ayahmu...!


__ADS_3

Keadaan kembali kondusif saat Inez sedang menjalani kehamilannya yang sudah memasuki lima bulan.


Inez harus bertahan di rumah sakit hingga proses persalinan secara sesar di lakukan saat menjelang usia kehamilan enam bulan atau lebih.


Di masa tunggu itu, Erika, Rafika dan juga Iko bergantian menjaga Inez dan kadang tuan Gustavo datang menemani putrinya saat ia juga kangen dengan cucunya, Cavin.


Iko melarang Rafika dan Erika untuk menceritakan serangan yang terjadi beberapa bulan yang lalu di kediaman mereka. Karena keadaan Inez yang masih belum stabil dan juga labil saat menerima informasi buruk.


Erika dan Rafika mengerti dengan keadaan Inez yang saat ini juga sedang menjaga kehamilannya sampai melahirkan nanti.


Hanya kebahagiaan yang diberikan Iko pada istri dan anaknya. Ia masih sangat trauma dengan keadaan Inez saat itu. Itulah sebabnya ia mewanti-wanti pelayannya agar Inez steril dari masalah berat.


Apapun yang Inez minta selalu dituruti. Hanya saja yang tidak bisa ia kabulkan, saat Inez meminta untuk menunda persalinannya yang terlalu riskan pada bayi mereka.


"Sayang ...! Aku tidak mau melahirkan bayiku secara sesar di usia enam bulan. Walaupun secara medis mereka bisa menyelamatkan bayi kita tapi feeling ku mengatakan bayiku tidak bisa bertahan dalam inkubator dengan usia enam bulan itu." Ucap Inez.


"INEZ...! Jika ditunda yang ada nyawa kamu yang tidak bisa diselamatkan, sayang. Dan itu membuat aku bisa gila." Sahut Iko ketakutan.


"Apakah kamu tidak yakin dengan kebesaran Allah yang selama ini memelihara dirimu?" Tanya Inez tentang keimanan suaminya.


"Apakah kamu berani menjamin dirimu sendiri, kalau tidak akan mati mempertahankan kehamilanmu di usia tujuh bulan?"


"Allah sebagai penjamin ku. Jadi jangan takut dengan keputusan dokter hanya berdasarkan medis yang membuat akal kita tertutup dan iman kita redup karena lebih mempercayai ucapan mereka berdasarkan prediksi."


Ucap Inez membuat suaminya hanya bisa menarik nafas panjang.


"Astaga...! Kenapa istriku keras kepala seperti ini ya Allah." Jerit Iko membatin sambil mengusap mulutnya.


"Baiklah. Jika ada apa-apa denganmu, aku tidak akan pernah memaafkan kamu." Ancam Iko.


"Jangan terlalu posesif pada pemilik hidup. Kamu hanya memiliki aku di dunia ini. Tapi Allah yang memiliki aku seutuhnya. Suka-suka Allah mau melakukan apa kepadaku." Ucap Inez.


"Kau...!" Uhhhggtt..!" Pekik Iko makin gemas pada istrinya yang terlihat sangat keras kepala.


Ia juga tidak bisa menyalahkan sifat keras kepala Inez yang menurun dari ayahnya tuan Gustavo.


Rata-rata putra putri dari mafia sangat keras kepala jika berbeda prinsip. Mereka punya pandangan sendiri dalam menyikapi masalah.


Apa lagi di tambah dengan keyakinan penuh pada sesuatu yang mereka anggap baik untuk hidup mereka.


Zian menghubungi Iko yang sedang menemani Inez saat ini. Setiap ada panggilan telepon dari Zian, Iko harus menjauhi Inez karena asistennya itu selalu saja memberi kabar yang membuat jantung Iko berhenti berdetak kalau sudah menyangkut dengan istrinya.

__ADS_1


"Sayang..! Aku tinggal sebentar mau menerima telepon dari Zian." Pamit Iko.


"Baiklah. Jangan terlalu lama karena aku bosan tinggal sendirian di sini." Ucap Inez.


"Hmmm!"


"Hallo...!" Sapa Iko.


"Tuan ...! Apakah anda sedang bersama nona Inez?"


"Hmmm..!"


"Apakah anda sudah menjauhi Nina Inez?"


"Katakan apa urusanmu atau aku matikan ponselnya."


"Baik Tuan. Aku hanya ingin memberitahukan tuan kalau tuan Gustavo bukan ayah kandungnya Inez...!"


Duaaarrr....


"Lantas siapa tuan Gustavo untuk istriku?"


Duaaarrr....


"Apa kamu bilang Zian...?"


"Inez dibesarkan oleh pamannya dan dia rela menghabiskan hidupnya untuk melindungi aset kakaknya sambil membesarkan keponakannya.


Ia sudah bercerai dengan istrinya yang tidak bisa memberikan dia keturunan. Sejak saat itu hidupnya hanya Inez."


"Tunggu...! Ini sangat membingungkan aku Zian. Tuan Gustavo sudah mengakui sendiri kalau dua yang membunuh ibuku."


"Itu karena dia ingin melindungi Inez agar tuan cukup membunuhnya dan Inez terbebas dari balas dendam anda Tuan." Ucap Zian.


"Lalu kenapa ayahku masih menaruh dendam pada mertuaku kalau dia sudah membalas dendam pada ayahnya Inez dengan kematian yang sama?"


"Karena ingin putri dari tuan Imron tewas di tangan anda."


Duarrr...


"Bagaimana bisa ayahku sekejam itu untuk menghabisi orang yang tidak berdosa harus menanggung beban kebenciannya pada si pembunuh ibuku?"

__ADS_1


"Kepuasan."


"Kalau begitu, siapa yang telah melakukan penyerangan di istanaku?"


"Ayah anda Tuan."


"Apa maksudnya?"


"Karena dia sudah tahu anda telah menikahi putri dari musuhnya."


"Bagaimana dia bisa tahu yang aku nikahi adalah putri musuhnya?"


"Tuan Indra! Awalnya tuan Indra ingin merebut kembali nona Inez dari tangan anda saat mengetahui kalau anda dan nona Inez menikah secara kontrak.


Saat dia mengetahui anda kembali bersama dengan nona Inez, Ia mencari cara untuk menyelamatkan nona Inez dengan pura-pura datang sebagai penolong namun anda sudah membawa nona Inez pergi dari kediaman anda Tuan." Ucap Zian.


"Jadi, ini hanya sebuah konspirasi untuk menjebakku. Aku tidak akan memaafkan ayahku dan aku akan membalas atas perbuatannya Indra kepadaku." Ucap Iko sambil menggertak giginya.


Iko menarik nafas panjang untuk menetralisir kembali emosinya yang sempat meledak usai bicara dengan Zian.


Ia kembali ke kamarnya untuk menemani bidadari nya itu.


Dia bulan kemudian, Inez menempati janjinya, berusaha mempertahankan janjinya untuk menjalani operasi sesar di usia kandungannya yang ke tujuh bulan.


Rumah sakit itu di jaga ketat oleh anggota Iko agar tidak terjadi sesuatu yang akan membahayakan nyawa istri dan anaknya.


Sambil menggendong baby El-rumi, putra pertamanya, Iko selalu melakukan kontak dengan Zian untuk mendapatkan informasi dari luar sana jika sewaktu-waktu ada serangan dari musuhnya.


"Semuanya aman bos. Daerah area rumah sakit sudah di sterilkan dan pasukan kita." Ucap Zian.


"Syukurlah. Sebentar lagi operasi Inez akan berakhir. Aku sedang menunggu dokter keluar dari kamar operasi." Ucap Iko penuh harap.


"Semoga operasinya lancar bos."


"Terimakasih Zian...! Saya harap sampai keadaan istri saya pulih pasca operasi, tidak ada lagi drama menakutkan yang akan terjadi pada keluargaku. Ok. Sudah dulu, Zian, ada dokter." Ucap Iko mengakhiri perbincangan mereka.


"Selamat Tuan Iko! Anda di karuniai seorang putri yang sangat cantik. Sebentar lagi istri dan putri anda akan di pindahkan ke tempat mereka masing-masing." Ucap dokter Gabriel.


"Apakah putriku di rawat di incubator?" Tanya Iko cemas.


"Karena usianya belum cukup untuk beradaptasi dengan lingkungan luar jadi putri anda tetap berada di incubator hingga keadaannya siap untuk pulang dari rumah sakit ini." Ucap dokter Gabriel.

__ADS_1


__ADS_2