Istri Yang Di Tukar

Istri Yang Di Tukar
13. Berusaha Melupakan


__ADS_3

Sejak pagi wajah Iko terlihat gusar saat sarapan pagi. Masakan yang biasa ia pinta terasa enak di mulutnya saat bersama Inez, kini menjadi hambar baginya.


"Apa ini...? Kalian menyiapkan masakan rumah sakit di meja makan ini, hah? Apakah kalian merasa aku ini pasien rumah sakit?"


Bentak Iko sambil melempar piring ke lantai hingga pecah berantakan.


"Maaf tuan...! Tidak yang salah dengan masakan ini karena takarannya juga sama dengan bumbu juga sama. Kenapa tuan....-"


"Apakah kamu mengira aku sedang menipumu... rasanya aku mau muntah dan aku...Hoek..Hoek...!"


Rasa mual tiba-tiba menyergapnya. Tubuhnya seakan lemas dengan pandangan rasanya kunang-kunang.


Namun sedikitpun Iko kekeh berangkat ke perusahaan miliknya yang sudah dijemput oleh Zian.


"Apakah tuan baik-baik saja?" Tanya Zian hati-hati.


"Apakah kamu kira aku pesakitan?"


"Bukan begitu. Hanya saja wajah Tuan saat ini sangat pucat." Ucap Zian.


"Biarkan saja..! Yang penting aku tidak mau di rumah. Melihat kamar itu dan setiap sudut ruangan, hanya ada wajah perempuan itu dan aku tidak suka dengan situasi ini." Ucap Iko dengan menahan geram.


"Apakah tuan merindukan nona Inez?"


"Heh..!" Iko menarik sudut bibirnya dengan mata yang menyimpan luka dan kecewa do dalam sana." Aku merindukannya..? Aku bahkan lega saat dia sudah tidak ada di rumahku." Ujar Iko yang tidak sinkron dengan perasaannya.


"Aku membencinya. Sangat membencinya. Aku ingin melupakannya. Carikan wanita untukku..! Aku ingin bercinta dengan mereka di hotel...!" Titah Iko.


"Sepagi ini tuan...? Aku rasa para wanita itu belum pada bangun bos." Kata Zian.


"Bayarlah mereka dua lipat dari harga biasa! Yang jelas aku ingin bercinta dengan mereka pagi ini."


"Ba..baik bos!" Ucap Zian menuju hotel milik Iko yang ada di pusat kota.


Iko yang semalaman tidak tidur, akhirnya tertidur juga di dalam mobil. Sepanjang jalan, hanya nama Inez yang disebut olehnya.


Dalam tidurnya Inez datang di mimpi Iko. Gadis ini sedang memangku kepala suaminya sambil menasehati Iko dalam kebaikan.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak ingat saat aku menasehati kamu tempo hari tentang bahaya zina? Mengapa kamu ingin berzina lagi, sayang?"


"Kenapa kamu pergi di saat aku sangat menyayangimu dan juga mencintai kamu lebih dari apapun. Kenapa kamu harus pergi Inez...? Mengapa kamu meninggalkan aku. Aku sangat merindukanmu Inez. Kembalilah kepadaku sayang...! Hidupku semakin gelap sejak kamu pergi. Aku mencintaimu INEZ....!" Pekik Iko meracau sepanjang jalan.


Ketua mafia ini terlihat sangat menderita. Menderita untuk seorang wanita yang diimpikannya selama ini.


Ia mengira Inez adalah seorang wanita miskin yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya Tuan Indra dengan putranya.


Ternyata Indra sendiri tidak tahu kalau Inez adalah putri seorang mafia. Andai saja Indra mengetahui bahwa Inez adalah wanita kaya, mungkin dia tidak akan melepaskan gadis itu karena harta yang dimiliki Inez yang akan membuat bisnisnya makin hebat.


Dasar tuan Indra yang sangat naif, menempuh penyelesaian konflik kepentingannya dengan cara yang salah. Hingga akhirnya istrinya yang secantik itu malah diberikan kepada orang lain.


Setibanya di hotel, Zian membangunkan Iko. Suami dari Inez ini mengucek matanya yang masih terasa ngantuk.


"Tuan ...! Kita sudah tiba di hotel milik tuan."


"Apakah kamu sudah mendapatkan para wanita itu?"


"Belum Tuan!"


"Apakah Tuan sudah tidak berminat lagi?"


Tanya Zian untuk memastikan perkataan Iko padanya karena pria tampan ini selalu berubah-ubah moodnya.


"Tidak...aku hanya ingin tidur di kamarku." Ucap Iko lalu turun dari mobilnya.


Ia memasang wajah datarnya dengan posisi tubuh tegap memasuki lobi hotel.


Pihak keamanan hotel dengan beberapa karyawan hotel yang melintas langsung menunduk hormat pada pria tampan ini.


Di dalam lift, seorang wanita penghibur yang pernah tidur dengan Iko menghampiri Iko dengan gesture tubuh yang gemulai untuk menarik perhatian Iko.


"Hai sayang ..!" Sapa Yolanda menempelkan tubuhnya pada Iko sambil memperlihatkan dada sekangnya.


"Sembunyikan aset kekayaanmu itu untuk menggoda lelaki lain. Aku tidak menginginkan lagi dirimu dan pergi dari hotel ini!" Bentak Iko hingga membuat tubuh Yolanda meremang.


"Maafkan saya Tuan...! Saya tidak tahu kalau saat ini mood anda kurang baik." Ucap Yolanda sambil bersimpuh.

__ADS_1


"Lempar dia ke jalanan dan pastikan para pelacur tidak boleh lagi melayani para lelaki hidung belang di hotel ini. Dan aku tidak peduli jika hotel ini sepi pengunjung." Ucap tuan Iko pada Zian.


"Baik Tuan. Saya akan segera menyampaikan perintah anda pada manajer hotel ini." Ucap Zian lalu menyerat tubuh Yolanda dari lift utama itu.


Sementara di kediaman Inez, di salah satu pulau indah dan damai di pinggir danau, tepatnya di negara Austria, kini Inez berada.


Inez mengusap perutnya yang sudah terasa lebih menonjol membuatnya merasa sangat takjub dengan kehamilannya yang pertama.


Perasaannya yang sama dengan sang suami yaitu kerinduan. Ia juga merindukan laki-laki itu sementara laki-laki itu hanya menginginkan bayinya.


"Dia bahkan tidak menahan aku pergi dan tidak ingin mencari aku, itu berarti dia juga tidak menginginkan aku." Ucap Inez sambil menyeka air matanya yang sudah menetes di pipi mulusnya.


Kicauan burung yang bersahutan mendekati Inez yang sedang melamun. Ia tidak ingin menangis namun air matanya tidak ingin berhenti.


"Apakah aku merindukan pria itu, apakah aku mencintai pria yang menjijikkan itu yang berpelukan dengan wanita sampah..? Tapi kurasa dia telah berubah."


Inez mencoba menghibur hatinya sendiri agar tidak begitu sakit mengingat setiap dosa suaminya.


Tidak lama tuan Gustavo keluar menemui putrinya yang sedang duduk di tepi danau.


"Inez ..! Kemari lah sayang...! Kamu harus sarapan. Dari semalam kamu tidak makan. Jangan sampai kamu sakit." Ucap tuan Gustavo.


"Inez tidak lapar Daddy...!"


"Tidak perlu menunggu lapar untuk menjaga tubuh kita tetap sehat. Makan saja sedikit setidaknya kamu tidak berselera, sayang. Apakah mau makan yang lain..?" Tanya ayahnya.


"Inez ingin makanan Indonesia. Inez mau pulang ke Indonesia."


"Apakah kamu ingin bertemu dengan bajingan yang telah menjual dirimu ..hah?"


"Aku ingin membuat perhitungan dengan tuan Indra Daddy." Sahut Inez.


"Itu urusan ayah. Kamu cukup fokus dengan kehamilan kamu itu. Kamu masih berhutang penjelasan pada ayah tentang suami kedua kamu itu." Ucap tuan Gustavo.


"Ayah ..! Aku belum siap membahas tentang dirinya. Aku ingin melupakannya. Aku tidak ingin ....!"


Inez tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Antara benci, rindu dan cinta menganggu pikirannya saat ini. Ia kembali ke kamarnya meninggalkan ayahnya yang masih bingung dengan tingkah putrinya."

__ADS_1


__ADS_2