Istri Yang Di Tukar

Istri Yang Di Tukar
18. Jangan pergi sayang ..!


__ADS_3

Kecelakaan yang menimpa Iko cukup serius sehingga ia harus mendapatkan penanganan serius dari pihak medis yang sedang melakukan operasi di dalam sana.


Zian makin tertekan dengan situasi ini karena ia mengira Iko melakukannya dengan sengaja untuk mendapatkan reaksi Inez jika mengetahui suaminya kecelakaan.


"Aku tidak menghendaki tuan Iko mengalami luka separah ini. Kenapa dia sangat nekat membuat jiwanya hampir melayang." Ucap Zian lirih.


Sementara Inez yang sudah siuman dari pingsannya, mengingat kembali apa yang terjadi dengan suaminya.


"Sayang...! Syukurlah kamu sudah sadar. Ayah sangat kuatir kepadamu."Ucap tuan Gustavo sambil mengusap tangan dingin putrinya.


"Ayah... bagaimana dengan keadaan Iko?" Tanya Inez lirih.


"Saat ini masih di tanganin oleh dokter terkait dan belum tahu hasilnya. Anak buah ayah sedang memantau keadaannya. Semoga dia baik-baik saja. Ayah mohon tenangkan pikiranmu dan fokus pada kehamilan kamu, sayang!" Ucap tuan Gustavo.


"Ayah...! Aku tidak mau terjadi sesuatu kepada Iko, ayah. Aku sangat mencintainya ayah..!" Kata Inez sambil menangis.


"Jika kamu mencintainya, kenapa kamu tidak ingin bersama dengannya, Inez?"


"Aku hanya ingin memberikan pelajaran kepada Iko ayah. Bagaimana dia harus belajar menghargai wanita.


Bukan untuk sebuah kesenangan di atas ranjang, tapi bagaimana caranya ia bisa mengutamakan hak-haknya seorang istri tanpa mengurangi hak dia sebagai suami." Ucap Inez.


"Sekarang apa keputusan putri ayah pada kekasih hati, hmm?"


"Aku ingin menemuinya tapi disaat dia belum sadar. Aku tidak mau berdebat dengannya jika dia dalam keadaan sadar." Ucap Inez dimengerti oleh ayahnya.


"Baiklah. Kalau kamu ingin menemuinya, inilah saatnya. Kamu bisa berjalan, sayang? Apa butuh kursi roda?" Tanya tuan Gustavo cemas melihat wajah syok putrinya yang masih terlihat pucat.


"Nanti di rumah sakit saja ayah, aku gunakan kursi roda." Ucap Inez lalu bangkit dari tempat tidurnya di bantu sang ayah.


Keduanya sudah berada di dalam helikopter menuju rumah sakit di mana Iko sedang dirawat. Perjalanan yang cukup singkat dengan helikopter membuat keduanya sudah tiba di rumah sakit itu dengan cepat.


Hanya butuh waktu tempuh sepuluh menit, keduanya sudah sampai di pusat kota.


Tuan Gustavo mengerahkan anak buahnya untuk mengawasi mereka dari serangan anak buahnya Iko jika terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan kepada putrinya karena saat ini keselamatan putrinya menjadi prioritasnya.

__ADS_1


Pintu lift terbuka, Tuan Gustavo mendorong kursi roda putrinya menuju kamar inap VVIP milik Iko.


Kamar inap itu di jaga sedemikian ketat oleh anggota Ikko hingga para suster dan dokter harus melewati pemeriksaan sebelum masuk ke kamar itu.


Tapi sesaat kemudian, ketegangan mulai terjadi pada tuan Gustavo dan anggotanya Iko yang menahan keduanya untuk masuk ke kamar inap Iko.


Zian yang mendengar keributan di luar segera melihat keadaan di depan kamar inap tuannya.


Betapa kagetnya Zian saat melihat kedatangan tuan Gustavo dan putrinya Inez, tamu yang ditunggu-tunggu mereka saat ini.


"Biarkan mereka masuk..!" Titah Zian pada anggotanya.


"Bolehkah aku ingin berdua saja dengannya?" Tanya Inez saat Zian dan ayahnya masih berada di dalam kamar Iko.


"Baik nona Inez." Ucap Zian begitu gembira melihat kedatangan Inez.


Ia merasa rencananya kali ini sudah berhasil memancing Inez bisa keluar dari persembunyiannya.


Inez berdiri dan menghampiri Iko yang sedang terbaring lemah di atas brangkar dengan segala macam alat medis yang menempel pada tubuhnya.


Inez menggenggam salah satu tangan kekar Iko dan membawanya ke perutnya.


"Hiduplah untuk anakmu! Jangan mati secepat itu karena aku belum puas untuk menghukum mu. Kau terlalu angkuh, Iko.


Kau harus diberi pelajaran hingga kau tahu bagaimana caranya menjaga perasaan seorang istri." Ucap Inez sambil berurai air mata.


Iko mendengar apapun perkataan Inez, namun ia merasa belum bisa membuka matanya hanya sekedar melihat wanita yang sudah memporak-porandakan jiwanya.


"Inez... kamu datang sayang...?" Batin Iko hingga melelehkan air matanya di sudut kedua matanya.


Inez yang melihat reaksi suaminya nampak tercekat.


"Apakah kamu bisa mendengarkan ucapan ku? Kenapa tidak mau menjawab ? atau setidaknya buka matamu!


Sekarang kamu tidak berdaya bukan? dengan kondisimu seperti ini? Kamu punya segalanya hingga kamu merasa hati perempuan itu hanya sebuah gelas yang bisa kamu pecahkan begitu saja tanpa membuat kamu terluka.

__ADS_1


Dan sekarang aku tidak tahu, apakah hatimu terluka saat aku berhasil pergi dari kehidupanmu? Kau selalu menyakiti hatiku Iko. Dan aku benci padamu karena wanita-wanita itu.


Kau benar-benar memperlakukan aku seperti aku ini tidak ada sama sekali, saat aku masih di rumahmu bahkan kamu juga tidak menghargai aku sebagai istrimu walaupun aku adalah istri kontrak bagimu. Tapi setidaknya hargai keberadaan ku sebentar saja."


Ucap Inez dengan suara yang terdengar serak.


"Itu berarti kamu mencintai aku juga Inez. Kenapa kamu tidak mau mengatakannya? Kenapa kamu selalu saja menyembunyikan perasaanmu sehingga aku terlihat bodoh di depanmu.


Jika aku tahu kamu juga sangat mencintaiku, aku tidak akan melepaskanmu."


Lagi-lagi Iko hanya bisa berkata-kata dalam hatinya dan tidak bisa bicara langsung pada istrinya.


"Ada apa denganku, kenapa aku tidak bisa sadar dan ingin membalas semua ucapan istriku. Aku sangat merindukannya Tuhan.


Tolong bebaskan aku dari obat-obatan ini. Aku hanya ingin melihat istriku. Aku tidak sedang bermimpi bukan? Dia nyata bagiku.


Aku bisa mendengar suaranya merasakan desah nafasnya dan juga sentuhannya. Hei, siapa orang di sana. Tolong lepaskan aku! Aku ingin melihat istriku.


Inez jangan tinggalkan aku lagi sayang! Banyak hal yang ingin aku katakan kepadamu. Aku mencintaimu Inez.


Aku sangat mencintaimu Inez... aku sangat merindukanmu sayang. Tolong jangan pergi...!" Ucap Iko lagi-lagi terkurung dengan morfin.


"Aku hanya berharap kamu segera sembuh dan kembali lagi ke tanah airmu. Lupakan aku dan biarkan aku tenang menjalankan hidupku dengan anak kita." Ucap Inez lalu mengecup pipi suaminya sambil menangis tersedu-sedu.


Ia juga mencium dada bidang suaminya dan menangis di sana.


"I love you baby... I Miss you...!"


Inez seakan merindukan harum tubuh suaminya yang menjadi candunya selama bercinta dengan suaminya saat mereka bersama.


"Aku juga merindukanmu Inez ....aku juga...aku jugaaaaa...!"


Batin Iko makin meronta kala ia tidak mampu mengungkapkan perasaannya apa lagi tidak bisa melihat wajah istrinya yang saat ini membuka cadarnya hanya untuk bicara dengannya.


"Selamat tinggal sayang...Aku tahu kau tidak mencintaiku sama sekali. Kau hanya ingin memiliki anak ini dan menendang aku dari hidupmu dan aku tidak mau menerima itu...!"

__ADS_1


"Tidak....! Itu tidak benar ... jangan pergi Inez ..!Aku mencintaimu...!" Pekik Iko namun Inez sudah meninggalkan kamarnya.


__ADS_2