
Para dokter harus di buat kewalahan jika berurusan dengan keluarga mafia. Mereka tidak boleh berkata tidak bisa atau tidak mampu menyelamatkan pasien atau nyawa mereka akan melayang sia-sia jika sudah berada di luar rumah sakit.
Mafia akan mencari cara untuk membunuh mereka dengan cara-cara yang terlihat wajar kematian mereka.
Seperti saat ini, kandungan Inez begitu lemah dan sulit bagi dokter untuk mempertahankan janinnya Inez, namun Iko tidak terima dengan alasan itu.
"Jika kamu tidak bisa menyelamatkan bayiku, maka putramu sendiri menjadi jaminannya!"
Ancam Iko dengan tatapan intimidasi membuat wajah dokter itu terlihat pucat dan memohon untuk mencoba lagi mempertahankan janin yang Inez kandung.
"Baik Tuan. Kami akan berusaha menyelamatkan lagi bayi anda." Ucap dokter Gabriel yang pernah menangani kelahiran bayi pertamanya Inez.
Jarak kehamilan yang terlalu dekat dengan kondisi Inez yang sebelumnya tidak terjamin metabolismenya yang membuat janin mudah keguguran jika ada ketegangan yang melanda jiwa sang ibu.
Tidak lama kemudian dokter kembali lagi melaporkan kepada Iko, bahwa mereka sudah melakukan yang terbaik tapi Inez harus berada di rumah sakit tanpa melakukan aktivitas berat.
Ia harus di jaga oleh dokter untuk mengetahui perkembangan bayinya yang bisa bertahan hanya enam bulan dan setelah itu harus melahirkan secara prematur.
Iko terpaksa setuju karena itu jalan satu-satunya untuk menyelamatkan bayi mereka. Iko begitu takut jika kesalahannya kali ini yang menyebabkan bayi mereka meninggal dunia, bukan tidak mungkin istrinya akan gila atau mati.
Setelah proses pemulihan kandungan Inez selesai di lakukan oleh tim dokter, sekarang Inez dipindahkan lagi ke kamar VVIP.
Inez menatap suaminya yang sudah lama tidak pernah ia melihat karena jiwanya yang sempat terganggu.
Iko tersenyum kecut pada istrinya yang memberikan senyum terbaiknya dan itu mampu membuat Iko tersihir karena ia melihat lagi senyuman itu yang sempat terbenam hingga enam bulan lebih.
"Selamat datang sayang...! Kamu pergi terlalu lama dari hidupku walaupun kamu selalu ada di sampingku."
Iko memeluk istrinya dan mengecup puncak kepala istrinya.
"Apa yang terjadi padaku Iko? Aku merasa baru datang lagi ke dunia ini." Tanya Inez namun Iko tidak ingin mengingatkan lagi hari buruk itu.
__ADS_1
"Tidak sayang! Tidak terjadi apa-apa antara kita berdua. Kamu hanya sempat sakit setelah itu kamu baru sadar dari koma." Iko terpaksa berbohong.
"Apakah selama itukah aku sakit hingga Aku tidak tahu pertumbuhan putraku yang sekarang sudah besar? Oh iya, di mana putraku? Aku sangat merindukannya. Tanya Inez terlihat gelisah.
"Apakah dipikiran hanya anak kita? Apakah kamu tidak merindukan ku juga?"
Iko terlihat cemburu dengan putranya sendiri saat nada rindu itu hanya ditujukan kepada baby El.
"Sayang....Aku merindukan kalian berdua. Apakah aku salah menanyakan putraku? Tapi tunggu dulu...! Bagaimana aku bisa hamil sementara kamu bilang aku dalam keadaan sakit dan sempat koma?" Tanya Inez yang cukup jeli dengan tubuhnya.
Duaaarrr....
Iko gelagapan sendiri mendengar pertanyaan yang tidak terduga dari istrinya. Ia tidak memperhitungkan kebohongannya hingga lupa kalau Inez adalah wanita yang cukup kritis menilai sesuatu.
Iko menarik nafas dalam meregangkan otot lehernya dengan senam ringan pada lehernya yang terasa sangat kaku.
Hari-harinya yang cukup berat merawat Inez yang mental sempat terganggu dan sekarang sudah sadar pun tidak jua memberinya ketenangan hingga ia harus mencari jawaban agar Inez bisa memahaminya.
"Maafkan aku sayang! Aku tidak kuat menahan kerinduanku kepadamu dan harus bercinta denganmu." Ucap Iko hati-hati takut akan mengamuk padanya.
"Kamu salah sayang, jika aku akan marah padamu. Aku justru merasa bangga aku masih bermanfaat untukmu. Aku minta maaf sudah membuatmu merana karena sakit ku."
Ucap Inez sambil memeluk tubuh suaminya yang berdiri dekat dengannya.
"Inez ....! Kenapa kamu mudah dibohongi olehku. Jika kamu tahu, kalau kamu sendiri sangat menikmati percintaan kita." Gumam Iko membatin.
"Aku sangat merindukanmu, Iko. Aku merasa tidak bertemu denganmu bertahun-tahun. Aku seperti merasa hidup lagi setelah sekian lama mati."
Ucap Inez yang percaya begitu saja kalau dirinya koma.
"Terimakasih sayang sudah merindukan ku."Ucap Iko lalu keduanya berciuman hingga terdengar bunyi pintu kamarnya terbuka.
__ADS_1
Tuan Gustavo membawa baby El pada kedua orangtuanya lalu baby masuk ke dalam pelukan ayahnya.
Bayi montok ini sebenarnya ingin digendong ibunya, namun perut ibunya tidak boleh tersentuh sama sekali.
"Sayang...! Di perut mami ada adik bayi, jadi baby El di gendong ayah saja." Ucap Iko..
Putranya hanya mengangguk walaupun sebenarnya ia sendiri tidak mengerti perkataan ayahnya.
"Bagaimana kabarmu, sayang?" Tanya tuan Gustavo lalu mengecup kening putrinya.
"Sudah lebih baik ayah." Ucap Inez sambil tersenyum merekah.
"Ayah minta maaf baru bisa menemuimu saat ini karena ayah harus mencari cara agar bisa mencu...-"
Iko menginjak kaki mertuanya agar tidak meneruskan kata-katanya. Dengan begitu Inez tidak mengingat apapun yang pernah terjadi sebelumnya.
Merasa sakit kakinya di injak, tuan Gustavo menatap wajah menantunya dengan raut wajah intimidasi seakan ingin menelan Iko hidup-hidup.
Begitu juga Iko, ingin rasanya dia menyumpal mulut besar ayah mertuanya yang terlalu banyak bicara tentang hal yang bisa membuat kondisi kehamilan fan jiwa Inez kembali terganggu.
"Kalian kenapa, seperti orang musuhan begitu?" Tanya Inez sambil mengernyitkan keningnya.
"Tidak apa sayang. Aku terlalu merindukan ayahmu hingga takut ia akan memisahkan lagi kita." Ucap Iko sambil menarik kedua sudut bibirnya.
"Kalian tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku bukan?" Tanya Inez sambil menatap kedua lelaki yang sangat dicintainya itu.
"Jangan kuatir sayang...! Sejak kamu sakit, hubungan kami berdua semakin dekat. Bukankah begitu menantu...?" Tanya tuan Gustavo sambil menepuk bahu Iko dan mengusapnya dengan penuh tekanan hingga Iko menahan sakit yang luar biasa pada pundaknya.
Baby El yang melihat wajah tampan ayahnya memerah dan putranya ini bisa merasakan ayah tidak baik-baik saja lalu menabok wajah kakeknya hingga tuan Gustavo secara reflek melepaskan tangannya dari pundak Iko.
"Inez senang, akhirnya ayah bisa menerima Iko sebagai menantu ayah." Ucap Inez sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jika dia macam-macam padamu laporan kepada ayah." Ucap dokter tuan Gustavo sedikit mengancam Iko.
"Kalau bukan karena cintaku yang besar pada putrimu, ingin rasanya ku remuk wajahmu itu, ayah mertua." Batin Iko sedang merutuki ayah mertuanya.