Istri Yang Di Tukar

Istri Yang Di Tukar
24. Tatapan Kosong


__ADS_3

Usai melahirkan putranya, Inez mengalami pendarahan hebat karena guncangan jiwanya yang tidak mampu mengendalikan emosinya.


Iko merasa syok dan sangat terpukul melihat kondisi istrinya. Inez pingsan setelah tekanan darahnya terus menurun.


"Ini semua gara-gara mulut besar ku yang telah membunuh Istriku sendiri." Ucap Iko penuh penyesalan.


Walaupun saat ini ia bisa melihat putranya lahir dengan selamat dan sehat, tapi tidak dengan istrinya yang sedang berjuang melawan maut di ruang bersalin.


Zian tidak bisa melakukan apapun pada bos-nya karena ia juga menjadi pangkal dari permasalahan ini.


Andai saja ia lebih bersabar menunggu Inez melahirkan dulu sampai gadis itu benar-benar sehat dalam proses persalinannya, mungkin kejadian ini tidak akan menimpa keluarga bos-nya.


Sang putra masih menangis di dalam kamar bayi membuat hati Iko makin nelangsa.


"Bos...! Aku minta maaf karena aku sudah menyebabkan semuanya menjadi hancur seperti ini." Ucap Zian yang tidak tahan lagi melihat kesedihan Iko.


"Itu bukan salahmu, Zian. Jika aku tidak teriak seperti orang gila, mungkin Inez tidak akan terpancing untuk mendekati aku.


Akhir-akhir ini, ia sedang manja-manjanya padaku. Aku tidak keberatan apapun yang dia minta walaupun permintaannya sungguh aneh bagiku.


Tadi pagi dia ingin sekali mandi di laut padahal angin sangat kencang, tapi ia masih memaksaku untuk menemaninya mandi.


Ia bilang kepadaku, seumur hidupnya ia tidak pernah mandi di laut karena hidup mereka yang terus menerus berpindah-pindah walaupun mereka punya kediaman pribadi di Austria." Ucap Iko.


"Aku juga mengetahui kediaman tuan Gustavo dari pelayannya yang berani mengkhianatinya karena uang, tuan."


Ucap Zian yang mengiming-imingi uang yang besar pada pelayannya tuan Gustavo yang saat itu sedang berada di pusat perbelanjaan.


"Apakah kamu kira aku menginginkan Inez hanya sebagai pria yang seperti kamu lihat dulu, Zian?"


"Tidak Tuan! Aku tahu anda cinta mati pada nona Inez, tapi aku hanya ingin anda cukup tahu pembunuh sebenarnya yang telah membunuh ibu anda, tidak lebih Tuan." Ucap Zian.


"Tapi, kamu memberikan informasi itu di situasi yang tidak tepat. Sebelum kamu memberitahuku, aku juga sudah tahu, makanya aku melarangmu meneruskan kalimat mu itu agar aku tidak terpancing dengan amarah yang selama ini sudah aku pendam begitu lama dan harus aku padamkan seketika, ketika aku mengetahui istriku adalah putri dari pembunuh ibuku." Ucap Iko.


Cek...lek..


Pintu kamar bersalin itu di buka oleh dokter. Iko sigap menghampiri dokter yang siap memberikan informasi tentang keadaan Inez.

__ADS_1


"Nona Inez sudah melewati masa kritisnya. Kami memberinya obat penenang untuk memulihkan keadaannya.


Saya akan merekomendasikan dokter kejiwaan untuk Nona Inez. Mungkin saat bangun nanti, keadaan nona Inez tidak seperti biasanya, tuan Iko. Maafkan kami. " Ucap dokter Agatha.


Tidak lama Kemudian, Inez sudah di pindahkan ke kamar VVIP. Wajah cantik Inez nampak sendu dalam lelapnya.


Iko mendekati istrinya yang terlihat tenang dengan hembusan nafas yang stabil. Ia mengecup bibir istrinya sambil menangis.


"Mengapa setelah menemukanmu dan merenda hari-hari bersamamu, aku justru lebih mencintaimu saat mengetahui kamu adalah anak dari musuhku.


Aku berusaha membencimu, tapi cinta membawaku kembali kepadamu." Ucap Iko dengan bibir bergetar.


Iko berbaring disebelah istrinya. Tidak terasa waktu sudah memasuki malam. Keduanya tidur bersama dalam satu tempat tidur.


Sementara si kecil di ruang bayi sana masih saja menangis padahal sudah meminum susu botolnya. Perawat harus menggendong bayi malang itu untuk menenangkannya agar bisa tidur.


...----------------...


Pagi tiba. Inez yang membuka matanya terlihat diam membisu. Iko mengajaknya bicara malah di abaikan. Tatapannya terlihat kosong tanpa makna.


Ia seperti berada di dalam kegelapan. Raganya hidup tapi jiwanya mati.


Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, Inez seakan menuli dengan sekitarnya. Mulutnya bungkam dengan pandangannya sedikit ke atas.


Ia bangun duduk dengan tubuhnya yang mulai bergoyang sambil memeluk bantalnya. Iko merasa ada yang tidak beres dengan istrinya.


Ia menghubungi dokter untuk melihat keadaan istrinya. Setelah melakukan pemeriksaan lebih intensif, dokter menggelengkan kepalanya.


"Istri anda terjebak dalam dunianya. Ia tidak bisa menerima kenyataan yang membuat ia sangat tertekan." Ucap dokter Agatha.


"Apakah istriku gila, Dokter?"


"Nona Inez tidak gila. Mentalnya sedikit terganggu hingga ia tidak bisa keluar dari dilemanya.


Hanya waktu yang bisa menyembuhkannya. Dan mungkin juga cinta anda dan kehadiran baby bisa memulihkan lagi jiwanya." Ucap dokter Agatha.


"Bagaimana dia bisa sembuh, kalau dia tidak bisa mendengar apa yang kita katakan kepadanya." Tanya Iko terlihat gusar.

__ADS_1


"Kami sudah berusaha semampu kami Tuan. Tidak semua dokter bisa menyembuhkan jiwa pasiennya yang mengalami pukulan berat dalam hidupnya. Apa lagi pasien itu sendiri sulit untuk merima kenyataan." Ucap dokter Agatha.


"Berarti aku bisa membawanya pulang?" Tanya Iko.


"Dua hari lagi, tuan baru bisa membawanya pulang." Ucap dokter Agatha.


Dua hari kemudian, Iko membawa keluarga kecilnya ke mansion yang ada di kota bukan di pinggir pantai.


Iko sengaja melakukan itu agar Inez bisa mengingat lagi keadaan yang bisa membuat ia pulih.


Walaupun di kediaman sebelumnya banyak meninggalkan luka untuk Inez, tapi menjadi obat ampuh untuk kesembuhannya. Pikir Iko.


Bayi Inez di urus oleh Erika dan Rafika. Sementara Iko lebih mengajak Inez yang masih duduk di atas kursi roda untuk mengitari tempat-tempat yang biasa ia datangi seperti danau buatan yang ada di halaman rumah Iko.


"Sayang...! Apakah kamu ingat tempat ini..? Kamu selalu duduk di sini sambil membaca buku hingga tertidur. Dan kita selalu bertengkar tentang apa saja." Ucap Iko dengan mata berkaca-kaca.


Erika datang membawakan makanan untuk Inez. Walaupun Inez tidak mengatakan apapun, mereka selalu menyiapkan makanan untuk istri dari Iko ini.


"Tuan..ini makan siang untuk nona Inez." Ucap Erika..


"Biarkan aku menyuapkannya." Ucap Iko sembari menerima piring dari Erika.


"Kita makan dulu sayang." Ucap Iko.


Iko menyuapi istrinya dan Inez mau menerimanya dengan baik walaupun dengan tatapan kosong.


ponsel Iko berdering. Iko melihat ada telepon dari ayahnya. Wajah Iko seketika pucat saat mengetahui yang menghubungi ayahnya.


Ia segera menerima telepon itu dan menyapa ayahnya dengan sopan.


"Hai Daddy...!"


"Hei ... kau! anak kurangajar! Kenapa kamu tidak mengabari aku kalau kamu sudah menikah dan sekarang sudah memiliki seorang putra?


Apakah kamu tidak menganggap aku adalah ayahmu, hah?" Bentak ayahnya Iko membuat suami dari Inez ini tersentak.


"Maaf Daddy...! Aku menikahi Istriku secara mendadak, jadi tidak begitu banyak rencana yang aku buat untuk pesta pernikahan kami." Ucap Iko.

__ADS_1


"Aku dengar, kamu menikahi putri dari seorang mafia. Siapa nama mafia itu? pasti dia punya nama asli saat kamu menikahi putrinya karena aku lebih mengenal nama asli mereka dari pada nama samaran mereka di dunia mafia.. Siapa nama ayah mertuamu itu, Iko...?" Tanya ayahnya Iko.


Degggg.....


__ADS_2