Istri Yang Di Tukar

Istri Yang Di Tukar
19. Dia Sudah Pergi


__ADS_3

Zian tidak mampu mencegah Inez untuk pergi meninggalkan lagi bosnya karena tatapan intimidasi dari seorang Gustavo yang membuat tubuhnya meremang.


Ia juga tidak tega pada tuannya yang nanti siuman pasti akan menanyakan Inez.


Inez dan ayahnya kembali ke atas gedung rumah sakit di mana helikopter milik mereka sudah menunggu.


Gadis ini memeluk ayahnya sambil terisak karena tidak kuat melihat kondisi suaminya yang mengenaskan hatinya.


"Inez...! Bukankah kewajiban seorang istri disamping suaminya saat suaminya dalam keadaan sakit seperti itu?" Tanya tuan Gustavo.


"Aku tahu kalau itu bagian kewajiban aku ayah. Tapi aku ingin menghukum suamiku agar dia tahu bagaimana rasanya di khianati dan dikecewakan." Ucap Inez keceplosan.


"Apa yang kamu katakan Inez..? Maksud kamu apa sayang?"


"Aku tidak ingin dia hanya menikahi aku di atas kertas. Aku tidak ingin dua mengatur pernikahan kami sesuai dengan maunya. Aku ingin dia mengikuti pernikahan sesuai syariat Islam bukan suka-sukanya dia." Ucap Inez agar ayahnya tidak tahu kelakuan bejat suaminya.


"Baiklah sayang. Kalau itu keinginanmu. Mungkin Iko akan belajar bagaimana cara menghargaimu."


Ucap tuan Gustavo yang baru merasakan bahwa dulu ia pernah memperlakukan istrinya sama seperti yang dialami Inez saat ini.


Jiwa-jiwa terluka sang istri yang tidak bisa hanya dibalut dengan kata maaf. Mereka hanya ingin melihatmu menderita sebagai penghapus dosa-dosa yang telah kamu lakukan pada mereka.


Dengan begitu mereka akan kembali kepadamu setelah melihatmu berubah dan lebih membutuhkan seorang wanita yang benar-benar dicintainya.


Inez masih saja menangis sesenggukan. Ingin hati mendampingi sang suami, namun logikanya tidak bisa menerima begitu saja Iko walaupun suaminya sudah terbaring sakrat di tempat tidurnya di rumah sakit.


Sementara di rumah sakit, Iko baru bisa mengerjapkan matanya setelah setengah jam, istrinya meninggalkan kamar inapnya.


Mata tajam bak elang itu, menelisik setiap sudut ruangan agar bisa melihat sosok yang baru saja menangis didadanya.


"Tuan ....! Syukurlah kamu sudah sadar." Ucap Zian dengan wajah sumringah.


Zian memencet tombol nurse call agar dokter bisa melepaskan ventilator pada Iko.


Dokter dan perawat segera ke kamar Iko dan memeriksa keadaan Iko. Mereka melepaskan ventilator dari mulut Iko agar pria ini bisa bebas berkomunikasi.

__ADS_1


Dokter dan perawat meninggalkan lagi kamar Iko usai menyelesaikan tugas mereka memastikan keadaan pasien baik-baik saja.


Iko meminta Zian untuk mengangkat tubuhnya agar ia bisa duduk. Zian berusaha membuat bosnya ini, agar bisa bicara dengannya senyaman mungkin.


Zian tidak mau menceritakan kepada Iko jika Inez baru saja meninggalkan kamar inapnya. Ia tidak mau mendengar bentakan dan amarah dari pria arogan ini. Kecuali Iko yang menanyakannya.


"Tuan...! Dokter bilang anda sudah boleh makan. Apakah anda ingin makan sesuatu?" Tanya Zian hati-hati.


"Apakah dia datangi aku..?" Iko balik bertanya tanpa mau menjawab pertanyaan Zian.


"Dia sudah pergi Tuan...!"


"Apakah dia tidak mau tinggal dan menunggu aku sampai sadar? Padahal Aku ingin sekali menatap wajahnya Zian. Aku sangat merindukannya." Mata Iko berkaca-kaca merasakan harum tubuh istrinya tertinggal di baju pasien yang dikenakannya.


Bau parfum yang makin membuat Iko makin merindukan istrinya. Ruangan ini juga masih meninggalkan aroma parfum istrinya yang menjadi kenangan terakhir untuknya.


Zian memberikan ponselnya pada Iko. Zian sengaja merekam kedatangan Inez dengan ponselnya agar bisa menunjukkan kepada Iko jika pria tampan ini siuman.


"Apa ini Zian...?" Tanya Iko tidak mengerti.


Iko melihat video rekaman di mana wajah Inez terlihat sangat sedih menatapnya. Di tambah lagi Inez juga mengucapkan setiap kalimat yang sama persis apa yang ia dengar tadi saat masih di bawah pengaruh obat penenang.


Walaupun sudah mengetahui apa saja ucapan Inez padanya tapi ia lebih puas melihat langsung wajah istrinya saat bicara padanya.


"Inez...aku merindukanmu sayang. Apakah kita akan kembali bersama lagi suatu saat nanti?"


Tanya Iko lirih sambil mengusap wajah cantik Inez dengan jempolnya.


Zian sangat sedih melihat singa jantan ini tiba-tiba menjadi lemah dengan seorang wanita yang telah merubah watak kerasnya menjadi melankolis seperti saat ini.


"Ternyata seorang wanita mampu menundukkan hati dari mafia buas seperti tuanku saat ini.


Jika kehadiran Inez mampu membuat Iko lebih baik, aku bersumpah akan menemukan nona Inez dan membawanya lagi pada tuanku." Ucap Zian.


Iko menangis seperti anak kecil karena terlalu merindukan wanitanya sementara Zian berupaya mencaritahu keberadaan tuan Gustavo melalui mata-matanya.

__ADS_1


...----------------...


Memasuki kandungan usia tujuh bulan, Inez mendatangi rumah sakit untuk memeriksa kondisi janin yang di kandungnya.


Ia sangat senang melihat keadaan janinnya yang terekspos di dalam layar monitor tiga dimensi itu dan menunjukkan jenis kelamin bayinya adalah laki-laki.


Dokter yang sudah bekerjasama dengan Zian memberitahukan bahwa seorang gadis yang bernama Inez berada di poli kandungan saat ini.


Karena ada dua pintu yang terhubung di dalam ruang poli itu memudahkan Zian mendatangi poli itu untuk menangkap Inez dan membawanya ke tuannya Iko.


Inez yang di sudah diberikan suntikan oleh dokter Kellen membuat gadis ini akhirnya tertidur.


"Maafkan saya nona Inez...! Hanya dengan cara ini aku bisa membuat tuanku kembali semangat untuk melanjutkan hidupnya.


Fisiknya memang sudah sembuh. Namun jiwanya masih terperangkap dalam kerinduannya padamu. Cukuplah kamu menyiksa dirinya."


Ucap Zian ketika mobil mereka bergerak menuju pesawat jet pribadi milik Iko yang siap terbang meninggalkan negara Austria.


Iko yang baru turun dari mobil di sambut lima orang pramugari dan pilot beserta ko pilot saat suami dari Inez ini menaiki tangga dengan gagahnya.


Zian yang sudah ada di kabin ikut menyambut bosnya itu.


"Kenapa kamu tiba-tiba sudah berada di sini? Ke mana saja kamu Zian?"


Tanya Iko dengan wajah sudah berubah kelam seperti biasanya bila tidak sesuai dengan aturannya.


"Maafkan saya tuan...! Saya ada urusan penting karena ini sangat mendesak agar tuan bisa pulang ke Perancis dengan membawa hadiah besar yang saya sengaja siapkan untuk anda." Ucap Zian dengan wajah berbinar.


"Hadiah...? hadiah penting apa sampai kamu membiarkan aku berangkat sendirian ke bandara dengan sopir hotel itu?" Tanya Iko setia dengan wajah sangarnya.


"Silahkan tuan melihat sendiri di kamar pribadi anda tuan ..!" Ucap Zian membuat Iko penasaran.


Iko berjalan dengan langkah gagah memasuki ruang kamarnya dan wajah tersentak melihat wanita berpakaian syar'i lengkap dengan cadarnya terbaring di atas ranjangnya dengan perut yang sudah membesar.


"Inezzzz....!"

__ADS_1


__ADS_2