
Iko membawa pulang Inez dan putrinya ke villa mereka di tepi pantai. Beruntunglah villa pantai itu tidak diketahui oleh ayahnya Iko, sehingga aman bagi mereka.
Informasi tentang kematian ayah kandung Inez, di rahasiakan oleh Iko. Ia berpikir, biarlah Inez menganggap tuan Gustavo itu adalah ayahnya.
Villa itu terlihat lebih ramai saat anggota baru hadir ditengah kebahagiaan mereka. Iko memberi nama putrinya Asia.
Ia berharap suatu hari nanti keimanan putrinya seperti Asia apabila mendapatkan suami durjana seperti Firaun.
Baby El begitu gemas melihat adiknya yang terlihat begitu mungil sama seperti anak kucing.
Walaupun bobot tubuh baby Asia sudah mencapai 2,5 kg, namun tubuhnya yang masih terlihat ringkih membuat Inez sangat berhati-hati mengurus putri mungilnya itu.
Tangis bayi itu lebih terdengar nyaring hingga menggema di luar villa. Justru tangis bayinya itu membuat Iko makin bersemangat untuk bekerja.
Iko yang lebih memilih kerja secara virtual di villa miliknya daripada harus berangkat ke perusahaan meninggalkan keluarga kecilnya.
Apalagi baby El yang terkadang terlihat cengeng jika ibunya hanya mengurus adiknya.
"Daddy ....! Mommy nakal..hiks ..hiks! Tangisnya saat melihat ibunya sedang menyusui adiknya.
"Memang mommy apain El..?"
"Mommy tidak sayang lagi sama El...!" Ucapnya dengan cadel.
"Masa sih tidak sayang lagi sama El...?"
"Mommy mandikan Ade, terus menyusui Ade dan temanin Ade bayi terus." Adu El sambil mewek.
Bayi montok ini merasa keberadaannya tersingkirkan oleh ibunya sendiri karena kehadiran saingannya yang awalnya ia suka. Ia merasa terancam karena adiknya mencuri perhatian kedua orangtuanya.
Itulah sebabnya ia merengek manja meminta diperlakukan adil oleh kedua orangtuanya terutama sang mommy.
"Sayang....! El sama Daddy saja yah?" Rayu Iko sambil menyodorkan tangannya meraih pundak sang putra yang sedang merajuk.
"Tidak mau...! El mau sama mami." Pekiknya merasa haknya sebagai putra pertama mulai terbagi dengan adik perempuannya.
Inez yang melihat putranya makin senewen membaringkan putrinya agar ia bisa menggendong putranya.
"Sayang...! Jangan di gendong El karena jahitan operasi mu belum kering." Ucap Iko mewanti-wanti istrinya.
"Iya sayang. Aku hanya ingin memangkunya saja." Ucap Inez meraih tubuh putranya lalu di peluknya dan di ciumnya.
Inez merasa bersalah karena ia tidak merawat baby El selama ini. Hingga ia harus hamil lagi dan mendekam di rumah sakit demi putrinya.
__ADS_1
"Rupanya sekarang cinta kamu padaku sudah terbagi kepada saingan aku. Kapan aku di manjakan juga?" Rengek Iko tidak mau kalah dengan putranya.
"Astaga...kau ini? Bagaimana caraku mengurus kamu, dua bayimu saja sudah menguras tenaga dan pikiranku." Semprot Inez.
"Tidurkan mereka dan aku menunggumu sayang." Ucap Iko saat mengetahui masa nifas istrinya sudah selesai.
"Tapi aku harus minum obat kontrasepsi setelah kita bercinta, ya sayang?"
"Iya sayang, kalau itu tidak menganggu kesehatanmu." Sahut Iko.
"Semoga tidak berpengaruh pada ASI dan semoga aku cocok dengan kontrasepsi itu." Imbuh Inez.
"Apakah kamu ingin punya banyak anak seperti janjimu dulu sayang?"
"Iya sayang, rumah ini terlalu besar hanya untuk dua anak saja. Aku ingin rumah ini ramai seperti taman kanak-kanak." Sahut Iko.
"Astaga...! Apakah kamu pikir aku kucing." Seloroh Inez sambil nyengir.
"Tinggal gempur kamu terus, pasti tiap tahun kamu melahirkan seperti kucing." Timpal Iko menggoda istrinya.
"Apakah kamu menjamin hidupku bisa bertahan untuk merawat anak-anak kita, sayang?" Sinis Inez.
Degggg ..
"Tapi kamu tidak akan mencari wanita lain untuk investasi anakmu kan sayang?" Lagi-lagi Inez menyindir Iko.
Inez masih belum melupakan bagaimana Iko dulu tega mengkhianatinya saat mereka baru pertama kali menikah.
"Sayang ...! Apakah kamu tidak bisa melupakan apa yang pernah terjadi antara kita dulu? Bagaimana cara aku untuk menebus kesalahanku di masa lalu?"
"Seorang istri akan mudah memaafkan suaminya jika selingkuh.
Tapi ia tidak akan pernah melupakan sakit yang pernah diberikan oleh suaminya sampai akhir hayatnya.
Kasih sayang, perhatian dan juga kemewahan tidak mampu menghapus satu kesalahanmu itu Iko." Ucap Inez tegas.
Iko hanya menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Ia mengerti perasaan istrinya.
Memaafkan itu memang muda, tapi melupakan itu sangatlah sulit. Itulah sifat wanita yang sudah menjadi fitrahnya.
...----------------...
Tiga bulan kemudian, kedua anaknya Iko dan Inez tumbuh besar dan terlihat menggemaskan.
__ADS_1
Baby Asia sudah bisa di ajak ke tempat yang lebih jauh. Iko mengajak keluarga kecilnya berkunjung ke tempat wisata.
Iko sengaja memilih taman sebagai tempat wisata untuk kedua anaknya karena masih terlalu kecil untuk mengajak mereka mengenal wahana permainan yang belum cocok untuk keduanya.
Erika, Rafika dan juga Zian ikut dalam perjalanan itu karena mereka harus menggendong dua bocah montok itu.
"Sayang..! Disini saja kita duduk, aku tidak sanggup lagi jalan begitu jauh," ucap Inez yang sudah duduk di Taman itu.
"Baiklah. Di sini cukup aman." Ucap Iko dengan sikap waspada.
Zian sudah mengingatkan Iko agar tidak membawa Inez ke area publik karena ayah mertuanya menyuruh orang lain untuk menghabisi wanita itu.
Iko malah menantang asistennya karena ia tidak bisa mengurung istrinya terus menerus di villa pantai.
Zian harus mengerahkan setengah pasukan hanya untuk mengawasi Keluarga itu yang membuat jantungnya bisa berhenti setiap saat.
"Sial.... kenapa permusuhan keluarga ini tidak pernah berakhir. Aku bisa gila sebelum wanita itu mati di tangan ayah mertuanya sendiri." Zian mendengus kesal.
Erika yang sudah menggelar tikar plastik dan Rafika menyajikan makanan yang mereka bawa untuk makan bersama di tempat itu.
Anak-anak mulai sibuk bermain di rumput hijau bersama Iko dan Zian.
Rafika dan Erika berbincang dengan Inez yang sedang makan buah sambil melihat kedua anaknya.
"Nona Inez...!"
"Hmm."
"Apakah nona tidak ingin bertemu dengan ayah mertua Anda atau ziarah ke makam ibu mertua Anda." Tanya Erika.
"Aku menginginkannya, tapi suamiku tidak mengijinkannya."
"Berarti permusuhan keluarga ini terus berlanjut kalau anda tidak lebih dulu meminta maaf kepada ayah mertua."
"Suamiku punya pertimbangan sendiri mengatasi ayahnya yang pendendam itu. Aku bisa apa." Ucap Inez yang tidak ingin ambil pusing dengan ayah mertuanya yang keras kepala.
"Apakah nona Inez tidak takut jika suatu waktu, ayah mertua Anda muncul dan membunuh Anda dengan tangannya sendiri?" Tanya Rafika.
"Kematian merupakan rahasia Allah. Kenapa harus takut mati, jika sebab kematian ku itu harus ditangan mertua." Acuh Inez.
"Apakah nona Inez belum tahu kalau ...-"
"Rafika...!" Bentak Zian saat melihat Rafika ingin membuka mulut tentang rahasia keluarga itu pada Inez.
__ADS_1