
Seperti menebus kesalahannya di masalalu, Iko begitu telaten mengurus istrinya yang saat ini sudah mulai membaik walaupun belum sepenuhnya.
Inez sudah mulai menatap Inez walaupun hanya sekilas dengan wajah datar. Apa lagi Inez paling senang kalau suaminya mengajaknya bercinta.
Setiap saat mereka melakukannya tanpa Inez melayani suaminya, seperti ia masih berpikir waras.
Namun bagi Iko, istrinya tidak menolaknya saja itu sudah membuatnya sangat bahagia.
Saat ini seperti biasa keduanya mandi bersama dan Iko mengusap tubuh Inez dengan handuk kering sebelum memakaikan piyama tidur pada istrinya.
"Inez...! Apakah kamu tidak merindukan putra kita? Aku bahkan belum memberikan nama untuknya.
Aku hanya ingin kamu sembuh setelah itu kita akan memberikan nama untuknya. Saat ini usianya sudah enam bulan."
Ucap Iko yang melaporkan terus perkembangan putra mereka.
Tok...tok ...
Pintu itu segera dibuka oleh Iko. Rafika mengantarkan baby El pada Iko.
"Putra ayah sudah mandi. Apakah kamu mau bobo sayang?"
Tanya Iko pada putranya yang sedang tertawa menatap wajah tampan ayahnya.
"Mommy..!"
Wajah baby El menatap ibunya yang masih diam membisu sambil memeluk bantal guling.
"Baby El mau dekat dengan mommy?" Tanya Iko sambil melangkah menghampiri istrinya.
Baby El mengalungkan tangannya ke leher ibunya sambil menghadiahi ciuman bertubi-tubi pada pipi ibunya.
"Mommy...! Mommy....!"
Panggil baby El berharap ibunya bisa menanggapinya.
"Sayang mami sedang sakit, kita main lagi nanti sama mami." Ucap Iko lalu menarik putranya yang masih bergelantungan di leher istrinya.
Tidak lama terdengar dentuman keras dari luar mansion, membuat Iko tersentak tapi tidak dengan Inez yang masih asyik dengan dunianya.
Iko yang spontan meninggalkan kamar mereka segera melihat keadaan di luar dan ternyata ada serangan musuh dari berbagai arah yang membuatnya kalap.
Ia segera ke kamarnya untuk menyelamatkan anak dan istrinya.
"Baby...! Kita harus pergi dari sini." Ucap Iko mencari pintu rahasia di kamarnya agar bisa kabur dari para penjahat.
Baby yang ingin menangis di diamkan oleh ayahnya agar tidak ketahuan oleh penjahat.
__ADS_1
Iko memberikan ponselnya agar putranya akan tenang melihat film kartun di ponselnya Iko.
Zian yang mengetahui ada serangan di kediaman bosnya segera melakukan penyerangan balik dengan anggota yang ada di markas mereka.
Iko sudah berada di mobilnya siap membawa pergi keluarganya menuju rumah pantai yang tidak diketahui oleh penjahat.
"Siapakah yang telah berani menyerang kediamanku? Apakah dia adalah ayah mertuaku?" Tanya Iko sambil membawa mobilnya.
Baby El dan Inez yang duduk di belakang asyik dengan tontonan nya, membuat Iko merasa tenang.
Beruntunglah Iko membawa dua ponsel sehingga ia bisa menghubungi Zian namun nomor Zian terus saja memberikan laporan sibuk dari operator.
Tidak lama, ponsel Iko berbunyi. Ada nomor kontak yang tidak ia kenali.
"Nomor siapa ini?" Tanya Iko yang merasa curiga kalau saat ini dia diikuti. Ia menepikan mobilnya dan mematikan ponselnya.
Untuk menghindari ada telepon masuk, Iko juga mengambil ponsel miliknya yang tidak lagi di mainkan oleh putranya karena baby El sudah tidur.
Hanya Inez saja yang tetap dengan sikap stabilnya.
Iko menarik nafas gusar karena keadaan yang membuat dirinya makin berada dalam tekanan.
"Inez...! Tolong sadarlah sayang! Aku tidak bisa berpikir kalau kamu terus menerus seperti patung hidup." Ucap Iko sambil mengusap wajahnya terlihat frustasi.
Tidak lama terdengar suara helikopter di atas mobil Iko. Wajah Iko nampak pucat kalau-kalau itu adalah helikopter musuh.
Iko nampak tenang dan tak ingin terpancing untuk membuat keributan karena putranya saat ini sedang tidur.
Saat helikopter itu berhenti ternyata yang turun dari helikopter itu adalah tuan Gustavo. Lagi-lagi Iko syok berat. Ia tidak mau ayah mertuanya membawa istrinya pergi menjauh dari hidupnya.
Tuan Gustavo dengan gagahnya melangkah mendekati mobil Iko dan menggedor kaca jendela mobil.
Iko membuka kaca jendela setengah sambil menodongkan senjatanya ke arah tuan Gustavo.
"Jangan membuat keributan karena keluargaku sedang tidur!" Titah Iko pada ayah mertuanya.
"Kamu boleh mengambil putramu tapi kembalikan putriku!" Pinta tuan Gustavo.
"Tempat Istriku ada di sisiku dan aku tidak akan mengembalikan kepadamu."
"Dia hanya beban untukmu. Bukankah kamu ingin membalas dendam padaku karena kematian ibumu...? Jadi balas lah itu padaku dan jangan kamu lampiaskan kepada putriku karena dua tidak bersalah." Ucap tuan Gustavo masih dengan suara yang terdengar tenang.
Mendengar suara yang tidak asing di telinganya, Inez mulai terpancing dengan dada bergemuruh.
"Ayah ...!" Batinnya lalu turun dari mobil membuat Iko tersentak.
"INEZ ...! Jangan turun, sayang!"
__ADS_1
Iko ikut turun karena istrinya sudah menghampiri ayahnya.
"Ayah .... ayahhhhh ...!" Pekik Inez lalu mendorong tubuh ayahnya.
"Inez .....sayang! Ayo kita pulang. Ia akan membalas dendam padamu karena kematian ibunya." Ucap tuan Gustavo.
"Jadi ayah benar yang membunuh ibu mertuaku?" Tanya Inez sambil berurai air mata.
Iko merasa lega akhirnya istrinya bersikap kembali normal seperti sedia kala.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sembuh, sayang." Batin Iko dengan tetap bersikap waspada.
Tuan Gustavo menarik tangan putrinya sambil menodongkan pistol ke arah Iko.
Iko menarik tangan Inez yang lain dengan pistol mengarah ke mertuanya.
Tarik menarik dari kedua sisi membuat inez merasa lengannya kesakitan.
Iko juga tidak tega melihat istrinya menangis. Hingga akhirnya istrinya menjerit-jerit kesakitan pada perutnya.
"Perutku.... lepaskan perutku rasanya sakit! Pekik Inez sambil melihat dibawah kakinya sudah mengalir darah segar.
Rupanya Inez saat ini sedang hamil. Iko dan tuan Gustavo tersentak melihat keadaan Inez yang mengalami keguguran.
"Inez ...!" Pekik Keduanya dan saling merebut menggendong tubuh Inez.
"Aku ingin di gendong suamiku ayah. Aku tidak mau ikut ayah." Ucap Inez sambil meringis kesakitan.
"Mommy....! Mommy....!" Pekik baby El memanggil ibunya.
Inez merasa bingung mendengar suara tangisan anak kecil.
"Suara siapa .. Iko?"
"Itu putra kita sayang." Ucap Iko hendak masuk ke mobil untuk membawa istrinya ke rumah sakit.
"Apakah kamu ingin istrimu mati karena keguguran...? Kenapa tidak naik helikopter saja." Titah tuan Gustavo.
"Tapi bayiku ...-"
"Biarkan aku yang menjaganya. Selamatkan putriku....!" Titah tuan Gustavo.
Iko berjalan cepat menuju helikopter milik mertuanya yang langsung membawa mereka ke rumah sakit.
Sementara itu tuan Gustavo menghampiri cucunya yang menangis histeris melihat kedua orangtuanya pergi dengan helikopter meninggalkan dirinya bersama sang opa.
"Sayang...! Kamu sama kakek pergi ke rumah sakit mengunjungi ibumu. Semoga adik bayimu tetap kuat dalam rahim ibumu." Ucap tuan Gustavo lalu menyalakan mesin mobil milik menantunya.
__ADS_1