
Kesuksesan beberapa perusahaan milik Iko tidak terlepas dari tangan dingin lelaki ini.
Sejak kedatangan Inez dalam hidupnya, ia merasakan kemudahan dalam mengerjakan segala urusan bisnisnya. Baginya Inez adalah wanita yang membawa keberuntungan.
Bukan hanya persaingan bisnis yang sangat ketat dalam dunia mafia, ia juga merasa aman saat berhadapan dengan mafia lainnya yang ingin merebut kekuasaannya karena memiliki paling banyak saham setelah menduduki tingkat kedua dari kekayaan tuan Gustavo.
Iko sangat mengenal siapa tuan Gustavo. Hanya saja keduanya belum sempat bertemu karena permusuhan keduanya yang belum tertuntaskan sampai saat ini. Apa lagi wajah tuan Gustavo tidak pernah ditampilkan di ruang publik khusus untuk dunia mafia.
Selama ini, ia hanya mengirim orang kepercayaannya untuk menghadiri setiap pertemuan.
Sialnya Iko tidak tahu kalau Gustavo memiliki putri yang sangat cantik yang sekarang ini sudah menjadi istrinya Iko.
Setelah mendatangani dokumen penting, kini Iko kembali terkurung dalam kerinduannya pada Inez. Ia hanya menatap foto Inez yang ada di galeri ponselnya.
"Ke mana ku harus mencari? Jejak mu begitu sulit untukku bisa menemukan? Apakah tidak ada cintamu sama sekali untukku ..?" batin Iko makin tersiksa.
Tidak lama Zian masuk dengan membawa buku agendanya. Iko segera menggantikan aplikasi lain dengan membuka email. Wajahnya yang terlihat sedih berubah menjadi datar kembali.
Zian menatap sesaat wajah Iko dan menebak bahwa perasaan tuannya pasti sudah move on dari Inez.
"Apa yang mau kamu katakan Zian?" Tanya Iko tanpa memalingkan wajahnya dari ponselnya.
"Ada pertemuan para mafia di Austria besok malam." Ucap Zian.
"Kamu saja yang pergi karena aku tidak berminat untuk hadir di pertemuan itu." Sahut Iko.
"Baiklah." Ucap Zian untuk mencari aman.
Jika memaksakan Iko melakukannya maka, ia akan menerima akibatnya.
Tapi ada yang mengganjal di hati Zian karena diantara para mafia itu akan hadir para putri dari mafia yang akan di jadikan ajang perjodohan dengan para mafia itu sendiri.
Tidak lama ada telepon masuk milik Zian dari salah satu panitia acara pertemuan para mafia itu.
"Sepertinya Master saya tidak bisa ikut ke pertemuan itu karena saya yang akan menggantikan beliau." Ucap Iko.
Setelah obrolannya selesai ia melihat Iko sudah meninggalkan ruang kerjanya menuju lift.
Zian segera menyusul Iko.
__ADS_1
"Kita pergi sekarang!"
"Ke mana Tuan..?"
"Ke Mall."
"Apakah anda ingin membelikan sesuatu? Kenapa tidak pesan saja?"
"Diam lah dan ikuti saja ke mana aku pergi."
"Baik Tuan!" Zian hanya mendengus lembut sambil memejamkan matanya untuk bisa menyampaikan apa yang menjadi kecemasannya saat ini.
Ia merasa bosnya masih memikirkan Inez, hanya saja pria ini terlalu angkuh untuk mengatakannya.
"Apakah benar anda tidak ingin menghadiri pertemuan itu, tuan? karena dalam pertemuan itu, semua mafia membawa putri mereka yang masih lajang untuk di jodohkan dengan mafia." Ucap Zian.
"Tunggu...! Apakah benar Inez adalah putri dari seorang mafia?"
"Iya tuan."
"Baiklah kalau begitu aku yang akan menghadiri pertemuan itu karena aku adalah pemimpin mafia."
Ucap Iko yang mulai menemukan titik terang bisa bertemu dengan istrinya lagi.
...----------------...
Di danau Hallstatt, Austria tempat kediaman Inez saat ini berada, ayahnya tuan Gustavo memaksa putrinya Inez untuk ikut dengannya menghadiri pertemuan rahasia kara mafia di salah satu hotel mewahnya yang ada di pusat kota Austria.
"Sayang..ayah mohon agar kamu mau datang ke pertemuan itu karena kali ini ayah akan menjodohkan kamu dengan seorang lelaki yang baik tidak seperti suamimu Indra itu." Pinta tuan Gustavo.
"Ayah...! Aku tidak bisa menikahi pria manapun karena status masih istri orang lain." Bantah Inez.
"Tapi pernikahan kalian hanya di atas dan akan berakhir dengan sendirinya kalau waktu kontraknya berakhir." Timpal tuan Gustavo.
"Masalahnya, suamiku belum menjatuhkan talak."
"Kalau dia mencintai kamu, dua tidak akan membiarkan kamu pergi."
"Dia tidak tahu kalau aku adalah putri ayah, putri seorang mafia. Dia pikir aku akan kembali kepadanya jika aku tidak punya tujuan untuk pulang karena menganggap ayah sudah meninggal."
__ADS_1
"Lihatlah perbuatannya padamu, ia bukan hanya tidak mencintaimu, dia bahkan meremehkan kamu yang dikiranya berasal dari keluarga miskin." Ucap tuan Gustavo dengan suara lantang.
"Aku tetap tidak ingin memilih pria mafia manapun karena aku tidak mencintai mereka."
"Kamu harus menikahi salah satu dari mereka, suka maupun tidak suka karena ini menyangkut perusahaan ayah yang tidak bisa ayah serahkan padamu kecuali kamu memiliki suami yang kuat." Ucap tuan Gustavo makin menyudutkan putrinya.
"Mereka akan menjual aku lagi diantara mereka seperti yang dilakukan oleh Indra, suami pilihan ayah itu. Kenapa ayah tidak memberiku kesempatan untuk memilih pria yang aku cintai ayah."
"Kamu tidak punya hak untuk memilih karena ayah yang akan menentukan jodohmu sesuai dengan kriteria pria yang ayah inginkan untuk masa depan perusahaan ini."
"Tidak ada pria manapun yang mau menerima perempuan hamil dari pria lain." Ucap Inez tegas membuat ayahnya sangat syok.
Duarrr .....
Tuan Gustavo menghampiri putrinya dan menatap perut putrinya yang belum kelihatan jika dilihat dari luar karena tertutup gamis yang dipakai Inez saat ini.
"Apa yang kamu katakan itu benar, sayang? Apakah kamu benar-benar hamil?" Tanya tuan Gustavo dengan air mata berlinang.
"Iya, ayah. Mungkin aku akan memberikan seorang cucu laki-laki untuk ayah. Dia yang akan menjalankan perusahaan ayah. Aku tidak butuh suami lagi ayah. Aku hanya ingin hidup tenang bersama dengan putraku." Ucap Inez terlihat sedih.
"Baiklah terserah padamu. Tapi ikutlah dengan ayah walaupun kamu tidak perlu hadir di pertemuan itu.
Lagi pula hotel itu tersambung dengan Mall, kamu bisa belanja untuk kepentingan bayimu walaupun perutmu belum besar, setidaknya kamu sudah mempersiapkannya dari awal." Ucap tuan Gustavo.
"Baiklah ayah. Ide ayah tidak buruk. Lagi pula, Inez juga bosan di rumah terus." Ucap Inez lalu mempersiapkan dirinya untuk ikut ayahnya ke kota.
Perjalanan itu dilakukan dengan menggunakan helikopter agar lekas tiba di hotel mewah itu.
Walaupun Inez sering mengunjungi setiap perusahaan ataupun hotel mewah milik ayahnya, Inez tidak pernah memperlihatkan dirinya sebagai putri konglomerat.
Iapun berpisah dengan ayahnya dengan naik lift berbeda. Iko yang datang bersama dengan asistennya Zian, sudah berada di dalam lift bersama dengan tuan Gustavo.
Karena belum saling mengenal satu sama lain, keduanya hanya saling memberi hormat.
"Apakah tuan menghadiri pertemuan mafia juga?" Tanya tuan Gustavo pada Iko.
"Iya Tuan." Jawab Zian mewakili bosnya yang saat ini sedang sakit gigi alias malas bicara.
"Baiklah. Sampai ketemu di ruang meeting. Aku mau ke kamar dulu melihat putriku."
__ADS_1
Ucap tuan Gustavo saat lift itu berhenti di lantai ruang pertemuan mereka.
"Sampai jumpa tuan!"