
Inez berdiri membelakangi ayahnya tanpa ingin menjawab pertanyaan ayahnya yang sangat sulit ia jawab.
Ia tidak memungkiri hatinya kalau ia sangat mencintai suaminya, hanya saja sikap Iko yang terlihat cuek dan hanya manfaatkan tubuhnya sebagai budak se*s yang membuat ia sulit memaafkan suaminya itu.
"Aku sangat mencintainya ayah, tapi aku tidak ingin bersamanya." Ucap Inez dengan susah payah.
"Kenapa kamu ingin menyiksa dirimu, kalau kamu sangat mencintai Iko, sayang...?" Tanya Tuan Gustavo.
"Karena dia tidak mencintai aku ayah. Dia hanya mencintai dirinya sendiri, bahkan dia hanya mau mengambil bayiku dan setelah itu akan membuangku." Ucap Inez.
"Sepertinya kamu salah paham dan berpikir terlalu naif tentang pernyataan Iko, Inez. Kadang seorang pria tidak pernah mengakui perasaan cintanya secara jujur pada wanitanya.
Tapi ia selalu menahan wanitanya agar tidak menjauhi dari dirinya dengan cara apapun." Jelas tuan Gustavo.
"Tapi ayah, kalau cinta itu tidak disampaikan dengan secara nyata dengan lisannya, bagaimana aku tahu kalau aku benar-benar dicintai olehnya.
Dia bahkan tidak mau mencari aku ayah. Dan itu membuktikan bahwa dia tidak peduli padaku." Ucap Inez.
"Terserah padamu Inez, justru ayah sangat suka bisa memiliki menantu seperti Iko. Jika kamu ingin menyiksa dirimu sendiri, itu kembali kepadamu. Kamu tahu bagaimana sakitnya rindu itu, Inez. Ayah hanya inginkan kebahagiaan untukmu." Ucap tuan Gustavo.
"Andai saja ayah tahu, kalau dia berani membawa perempuan penghibur di dalam rumahnya, sementara dia sudah menikahi ku, apakah ayah masih ingin memiliki menantu sepertinya?" Batin Inez.
Di sisi lain, Iko tidak ingin meninggalkan Austria sampai ia bisa bertemu lagi dengan istrinya Inez.
Zian makin dibuat bingung oleh Iko yang harus mengerahkan semua anggota mereka, hanya untuk mencari sesosok Inez yang hilang bagai di telan bumi.
"Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya, temukan istriku atau nyawamu sebagai gantinya." Teriak Iko seperti orang kesurupan.
"Baik Tuan...! Kami akan menemukan istri anda. Dia sedang hamil, pasti dia butuh rumah sakit untuk konsultasi ataupun melahirkan bayinya.
Kita bisa memanfaatkan situasi kehamilan nona Inez agar bisa menemukan nona Inez secepatnya." Imbuh Zian.
"Baguslah, kalau begitu cari Istriku sampai ke lubang semut sekalipun. Aku mau sebelum dia melahirkan bayiku, aku harus bersamanya. Aku bisa gila bahkan lebih gila dari sebelumnya jika tidak bisa bertemu dengannya." Iko mengamuk sejadi-jadinya.
Rasanya saat ini Zian juga ingin menghilang seperti Inez karena menghadapi Iko yang arogan dan terkesan mengintimidasi dirinya sebagai tumbal agar bisa mendapatkan keinginan bosnya itu.
__ADS_1
"Dasar manusia aneh...! Selama ini kamu buat wanita seperti keset kakimu. Tapi satu orang Inez membuat dirimu seperti ada di dalam neraka.
Makanya jangan terlalu meremehkan gadis sehebat Inez. Wanita yang terlalu diam, punya seribu akal untuk bisa menyelamatkan dirinya dari pria berengsek sepertimu." Umpat Zian membatin sambil menyetir.
Zian juga heran, mengapa Iko bisa melakukan perselingkuhan padahal Inez sangat cantik dan tidak terkalahkan oleh wanita manapun.
Dan sekarang yang membuat ia makin setress tidak bisa menemukan data kependudukan tuan Gustavo maupun Inez di data kependudukan dalam negeri Austria.
"Rupanya tuan Gustavo orang yang tidak bisa tersentuh. Tuan Iko, kau salah memilih lawan. Inez bukan seperti perempuan-perempuan yang selama ini kamu anggap mereka lemah dan bahkan di anggap seperti sampah. Kau baru rasakan bagaimana kejamnya perempuan jika kau sakiti hatinya, bumi ini bisa meledak karena amarahnya." Ucap Zian membatin.
Adakan sayembara untuk bisa menemukan istriku dengan hadiah uang fantastis, dengan begitu mereka akan semangat membantu aku menemukannya." Ucap Iko lagi-lagi membuat Zian makin meradang.
"Jangan lakukan itu Tuan! bisa jadi nona Inez makin membencimu. Lakukan dengan cara yang bisa mengunggah perasaannya. Jika dia mencintai tuan, dia akan segera menemui Tuan." Ucap Zian memberi ide.
"Apa itu...?"
"Buatlah diri anda celaka..!"
"Jangan gila kamu...!"
"Tidak...! Itu perbuatan konyol dan tidak masuk akal. Aku tidak mau mati sia-sia." Sahut Iko.
"Bukan anda yang melakukannya tapi orang lain yang tubuh dan kemiripan wajah hampir sama dengan anda. Gunakan stuntman, seperti di dalam film-film laga." Lanjut Zian.
Iko menyeringai licik. Ia sangat senang dengan ide berlian asistennya Zian.
"Itulah yang membuat aku senang denganmu Zian. Kamu tidak pernah kehilangan ide cemerlang. Carilah orang itu dan lakukan dengan segera! Aku hanya ingin bersama dengan istriku lagi." Ucap Iko terkekeh sendiri.
"Baik Tuan."
Zian meminta anak buahnya untuk mencari pria pemberani yang siap melakukan adegan yang cukup menakutkan hanya membuat dirinya celaka.
Sebenarnya anak buah Zian rela melakukan yang dipinta oleh Iko karena tergiur dengan besarnya bayaran yang akan mereka terima. Tapi wajah dan postur tubuh mereka tidak sesuai dengan tuan Iko.
Setelah hampir satu bulan mencari seorang pria menjadi peran pengganti untuk bisa mencelakai diri sendiri, tidak juga menemukan hasil.
__ADS_1
Iko makin gelisah dengan pencariannya terhadap Inez yang tidak pernah membuahkan hasil. Iko hanya sibuk mencari informasi pada para mafia yang bisa menemukan alamat tuan Gustavo.
Ia bahkan rela melepaskan jabatannya sebagai presiden mafia demi mendapatkan Inez kembali.
"Tuan..! Jangan lakukan itu karena akan banyak pertumpahan darah antara sesama mafia. Dari dulu, anggota kita rela mengkhianatimu untuk mendapatkan tempat di hati mafia yang akan menggantikan dirimu." Ucap Zian makin Kelimpungan.
"Jabatan, uang, kekayaan apapun yang melekat pada diriku, aku rela menyerahkan semua itu asal bisa menemukan istriku." Ucap Iko.
Iko keluar membawa motor besar untuk melepaskan kerinduannya pada Inez. Jika berada di kamar hotel akan membuat dirinya makin depresi. Ia hanya melihat setiap sudut ruangan ada wajah Inez.
Motor besar itu sudah berada di jalanan sepi. Iko bahkan mengendarai motor itu dengan mata tertutup. Alhasil ia akhirnya mendapatkan kecelakaan di mana truk pengangkut alat berat menabrak motornya hingga tubuhnya terpental lima meter.
Bersamaan dengan itu, Inez yang hendak minum susu ibu hamil tanpa sadar gelasnya terlepas dari genggaman tangannya.
Tanpa sadar ia menyebut nama suaminya itu." Iko...!" Inez mengusap dadanya seakan merasakan ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.
"Ada apa ini ..? Kenapa wajah Iko memenuhi ruang kepalaku?" Tanya Inez sambil menangis.
Entah mengapa ia merasakan lebih rindu saat ini pada ayah biologis bayinya.
Tok... tok...
Cek lek ..
Tuan Gustavo masuk ke kamar putrinya dan melihat serpihan beling dengan tumpahan susu berserakan di lantai kamar putrinya.
Ia melihat wajah putrinya seperti sedang melihat setan.
"Inez...! Apakah kamu sudah tahu sayang, tentang Iko...?" Tanya tuan Gustavo yang mengira Inez sudah menerima informasi tentang kecelakaan Iko.
Inez menatap tajam wajah ayahnya. Ia menunggu ayahnya melanjutkan kata-katanya.
"Apakah kamu mau menengok Iko di rumah sakit..?" Tanya tuan Gustavo membuat Inez langsung pingsan.
"Inezzzz ....!"
__ADS_1