
Seringnya melakukan hubungan percintaan panas mereka tanpa kenal waktu membuat Inez mengalami tanda-tanda seperti wanita hamil kebanyakan.
Inez yang mengetahui jika ia sudah tidak haid lagi selama sepekan ini membuat hatinya sangat gelisah.
Walaupun hatinya sangat mencintai Iko, namun mengingat Iko mencintai gadis lain membuat ia tidak mau mengharapkan cinta sang mafia itu.
"Dua hari lagi perjanjian kontrak ini sudah berakhir. Seharusnya aku harus bersiap untuk meninggalkan tempat ini." Ucap Inez sambil mengemaskan barang-barangnya.
Tidak ada satu barang miliknya yang ia tinggalkan di tempat itu. Ia ingin pergi dari Iko walaupun saat ini, ia tidak tahu ke mana harus ia tuju karena selama ini, ia dan ayahnya berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya.
Ditambah lagi ia tidak tahu keberadaan ayahnya setelah ponselnya raib entah di tangan siapa.
Inez yang begitu percaya diri, menemui Iko dan meminta untuk dilepaskan karena ia sudah memenuhi persyaratan yang diajukan oleh suami kontraknya itu.
"Dua hari lagi perjanjian kontrak kita berakhir, aku harap kamu akan melepaskan aku dan aku mau kamu meminjamkan ponselmu agar aku bisa menghubungi ayahku." Ucap Inez.
"Ayahmu telah tiada dan kamu tidak punya tempat kembalinya." Ucap bohong.
"Hubungan seorang ayah dan anak memiliki ikatan batin yang cukup kuat. Jika kamu ingin membohongi aku sebaiknya berhati-hati karena kamu akan menerima akibatnya." Ucap Inez ambigu bagi Iko.
"Apa maksudmu aku membohongimu?"
"Jelas saja kamu bohong. Kamu hanya mengetahui nama ayahku, tapi kamu belum melihat wajahnya." Ucap Inez.
"Kamu tahu, kalau aku memiliki banyak anak buah yang bisa menyelidiki keberadaan ayahmu." Ucap Iko.
"Baiklah. Terserah pendapatmu. Yang penting aku ingin kamu melepaskan aku."
"Ok. Tidak masalah. Tapi, kamu boleh keluar dari rumah ini, setelah dokter memeriksa perutmu itu. Jika kamu hamil, maka kamu tidak bisa pergi begitu saja dari rumah ini sampai kamu melahirkan bayiku, setelah itu kamu baru boleh meninggalkan rumah ini." Ucap Iko lalu meninggalkan rumahnya menuju perusahaannya.
Mendengar pernyataan Iko, Inez mulai panik. Ini yang sangat ia takutkan. Jika bayinya diambil berarti, ia tidak akan bertemu lagi dengan anaknya entah sampai kapan.
Inez masuk ke kamarnya. Ia berjalan mondar-mandir sambil berpikir keras. Ia juga tidak ingin Iko mengetahui kalau saat ini, dirinya hamil.
Ia ingat salah satu gelang yang ia temukan di rumah kontrakannya. Ia ingin memberikan gelang berlian itu untuk dokter.
__ADS_1
"Aku harus menyogok dokter itu dengan gelang ini. Dengan begitu aku bisa membawa pergi anakku denganku." Gumam Inez seorang diri di kamarnya.
Sore harinya, Iko pulang dengan membawa dokter bersamanya. Inez sudah menyiapkan gelang itu di dalam kantong bajunya. Ia berharap semoga Iko tidak ikut menemani dokter itu, saat memeriksa kandungannya.
Pintu kamar itu di ketuk. Dokter Rida masuk ke kamar Inez sendirian tanpa ditemani oleh Iko.
Inez menyapa dokter yang terlihat sangat sederhana itu. Inez mengamati gerak gerik dokter Rida saat memeriksanya.
"Kapan terakhir kamu haid?"
"Bulan lalu dokter."
"Apakah bulan ini, kamu masih haid?"
"Sudah satu Minggu Minggu ini, aku telat."
"Baiklah. Coba aku periksa." Ucap dokter Rida sambil menempelkan stateskop miliknya pada dada Inez.
"Silahkan kamu ke kamar mandi nona dan bawa wadah dan alat tes pack ini. Ikuti petunjuk yang tertera di kemasan testpack nya." Ucap dokter Rida seraya memberikan wadah dan testpack.
"feeling ku benar, kalau aku saat ini aku sedang hamil. Aku tidak akan pernah menjadi budak nafs*u pria bejat itu lagi. Aku harus kabur dari sini. Ia akan memanfaatkan tubuhku." Ucap Inez dengan tubuh gemetar.
"Dokter ini!" Ucap Inez seraya menyerahkan testpack pada dokter Rida.
"Selamat nona, saat ini anda sedang hamil. saya akan memberi tahukan kabar baik ini pada suami anda." Ucap dokter Rida.
"No...! Aku mohon dokter. Tolong ambil gelang berlian ini. Tapi jangan memberitahukan suamiku kalau aku saat ini sedang hamil anaknya.
Aku tidak bisa mau dipisahkan dengan putraku karena dia hanya menginginkan anak ini. Ia hanya memanfaatkan tubuhku untuk mendapatkan anak ini." Ucap Inez sedikit berbisik-bisik pada dokter Ridha.
"Maksudmu, kamu hanya istri kontak tuan Iko?"
"Benar sekali dokter Rida. Hubungan kami berdua tidak lain hanya hubungan bisnis. Dia hanya memanfaatkan tubuhku dan mengambil bayiku. Bagaimana jika anda di posisi aku? Apakah Anda rela manusia seperti dia mengambil anak yang kita kandung dengan susah payah?"
"Tentu saja aku tidak setuju dengan hal itu. Baiklah aku akan membantumu. Biar tuan Iko tidak akan menahan kamu di sini." Ucap dokter Ridha.
__ADS_1
"Terimakasih atas pengertiannya dokter. Aku sangat berhutang kepada anda." Ucap Inez haru.
Kini giliran dokter melakukan aksinya dengan melakukan test urine untuk menggantikan posisi Inez, karena dirinya saat ini tidak hamil. Itu berarti bisa menghasilan garis satu.
Keduanya melakukan rencana itu dengan cepat. Dokter Ridha yang sudah pengalaman berhadapan dengan para wanita malang yang hampir senasib dengan Inez.
Mereka hanya dimanfaatkan untuk kepuasan di ranjang saja, dan mengambil anaknya lebihnya perempuan itu akan diusir saat mereka tidak menginginkannya..
Iko yang sudah tidak sabar langsung masuk dan mendapati keduanya masih sibuk memeriksa.
"Bagaimana hasilnya dokter?"
"Istri anda tidak hamil Tuan." ucap dokter Ridha dengan wajah datarnya.
Degggg....
Iko mulai merasa kehilangan Inez walaupun raga gadis itu masih berada di rumahnya.
"Apakah anda yakin, istriku tidak hamil dokter?" Tanya Iko penasaran.
"Istri anda melakukan dua kali tes urine dengan alat kehamilan ini dan hasilnya sama yaitu negatif." Ucap dokter Rida seraya menyerahkan dua testpack negatif itu pada Iko.
Iko mempercayai apa kata dokter Ridha. Ia akhirnya keluar kamar menuju kamarnya sendiri membiarkan Zian mengantar kembali dokter Ridha ke rumah pribadi dokter itu.
Dada Iko bergemuruh hebat dan terasa sesak. Ia harus melepaskan gadis impiannya yang selama ini ia cari berada di rumahnya sendiri dan harus kembali berpisah karena perjanjian kontrak itu.
"Apa yang harus aku lakukan pada istriku. Aku sangat mencintainya bahkan lebih dalam mencintainya."
Ucap Iko tapi mengingat reaksi Inez yang sedikitpun tidak menunjukkan rasa suka pada dirinya membuat Iko mau tidak mau harus rela melepaskan wanitanya.
Dua hari kemudian, Inez sudah bersiap keluar dari istana milik suaminya. Tapi Iko tidak ingin menjatuhkan talak pada Inez.
"Silahkan kamu pergi dari rumahku dengan status mu tetap sebagai istriku. Aku tak pernah melepaskanmu," Ucap Iko kembali ke kamarnya."
Deggggg....
__ADS_1