Istri Yang Di Tukar

Istri Yang Di Tukar
9. Perubahan Inez


__ADS_3

Sejak melihat suaminya selingkuh secara terang-terangan di depannya, Inez menjadi dingin pada Iko, selama dua bulan ini.


Ia tidak lagi mau makan bersama suaminya di meja makan. Dan tidak urung mereka untuk bertemu di dalam rumah sendiri.


Inez yang menempati lagi kamar tamu, lebih memilih tinggal di dalam kamarnya, kecuali Iko sudah berangkat kerja, ia baru ingin keluar dari kamarnya.


Melihat keadaan mereka yang saling mendiamkan satu sama lain, membuat para pelayan menjadi prihatin pada Inez.


Gosip mulai merebak di mansion itu. Pelayan saling menyampaikan pendapat mereka dengan nasib pernikahan Inez.


"Pantas saja nona Inez marah, mana ada seorang istri yang mau menerima begitu saja suaminya selingkuh tepat di kamarnya sendiri."


"Bagi Tuan Neil, itu sah-sah saja karena pernikahan mereka hanya kontrak."


"Walaupun cuma kontrak tapi, tuan Neil harusnya menghargai keberadaan istrinya, kecuali nona Inez tidak mencintai suaminya."


Tidak lama, Inez keluar dari kamarnya dan berjalan di taman. Sore itu, ia ingin membaca buku di luar dengan membawa cemilannya. Inez hanya mengenakan dress panjang mengikuti lekuk tubuhnya walaupun tidak ketat dan jilbab pasmina.


Ia duduk di tepi danau sambil melihat burung-burung yang masih terbang di atas permukaan danau tersebut.


Tanpa sadar, Inez terlelap di bangku taman itu dengan buku yang masih menempel di dadanya.


Iko yang baru pulang kerja menanyakan keberadaan istrinya.


"Panggilkan istriku!" Titah Iko sambil menapaki anak tangga.


"Nona Inez ada di depan danau Tuan."


Iko turun lagi dari tangga dan memberikan tas kerjanya pada Erika.


"Biar aku yang menghampirinya. Bawa tasku ke kamarku!"


"Baik Tuan!"


Iko berjalan mendekati Inez dan hanya melihat kakinya yang terjulur horisontal, menandakan gadis itu sedang berbaring.


Iko menatap wajah cantik istrinya yang sedang terlelap tapi ada air mata yang tersisa di sana. Iko merasa Inez tidak senang tinggal di rumahnya.


"Apakah dia menangis karena diriku atau karena ingin bebas dariku?" Ucap Iko dengan tetap menatap Inez yang tidur seperti boneka.


"Hei ..! Bangun!" Iko menarik ibu jari kaki Inez membuat gadis ini tersentak.


Inez buru-buru bangkit sambil mengusap matanya. Walaupun ia tidak suka dibangun secara kasar oleh suaminya, namun Inez tidak lagi membantah suaminya.


Inez juga tidak mengucapkan kata apapun pada Iko dan langsung meninggalkan Iko yang masih menatapnya.

__ADS_1


"Hei...! Kau mau ke mana? Aku ingin bicara denganmu di sini."


Inez membalikkan tubuhnya dan duduk kembali di bangku yang tadi ia tempati sambil membuka bukunya.


"Aku mau mengajak kamu jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Apakah kamu mau?"


Inez mengangguk pelan walaupun hatinya saat ini sangat girang tapi ekspresi wajahnya tetap terlihat datar.


"Bersiaplah..! Tapi kamu cukup memakai busana muslim tanpa mengenakan cadar."


"Kalau begitu aku sudah siap dengan tetap memakai baju ini saja." Ucap Inez.


Iko pun tidak keberatan karena dia ingin memamerkan kepada orang-orang kalau ia memiliki istri yang sangat cantik.


Baja mewah itu bergerak meninggalkan kediaman Iko menuju pusat perbelanjaan kota Paris.


Inez terlihat seperti orang udik baru masuk kota saat masuk ke Mall. Seperti burung yang baru lepas dari sangkarnya, Inez masuk dari konter satu ke konter lainnya.


Tanpa disadari Inez, ia menjadi pusat perhatian pengunjung Mall terutama mata para lelaki yang tidak lepas menatap wajah cantik Inez.


Ada yang nekat ingin berkenalan dengan Inez saat gadis ini sedang melihat-lihat koleksi tas mewah. Iko yang sempat lengah mengawasi istrinya karena asyik melihat pesan di ponselnya, baru sadar kalau istrinya sedang di perhatikan oleh banyak orang dan ada yang berani menggoda Inez.


"Nona...! Apakah kita boleh berkenalan?"


"Ehmm..! Ehm...!" Tegur Iko menyadarkan beberapa pemuda yang seusia Inez yang nekat mendekati istrinya walaupun jarak mereka tidak begitu dekat.


Melihat Iko, para pemuda itu hanya mengucapkan maaf dan meninggalkan Inez dengan wajah kecewa.


"Dia sangat cantik sekali, kalau suaminya bosan padanya aku mau menikahinya dan aku tidak akan membiarkan orang lain melihat kecantikannya."


Ucap salah satu pemuda itu yang sempat terdengar oleh Iko.


Iko mengepalkan kedua tangannya hendak meninju wajah si pemuda yang berucap lancang mengenai istrinya.


Iko mengirim pesan kepada anak buahnya untuk mengurus pemuda yang sudah lancang pada Inez.


Iko menarik tangan Inez meninggalkan Mall itu. Inez tergagap merasa ia belum melihat barang-barang yang ia sukai di mall itu.


"Kita mau ke mana?"


"Pulang..!"


"Tapi aku mau beli tas dan sepatu itu!" Tunjuk Inez sepatu dan tas yang ia sukai.


"Apakah semua yang ada di konter ini kamu suka? Aku akan borong semua untukmu."

__ADS_1


"Tidak...! Aku tidak buka toko lagi untuk jualan. Aku hanya memilih yang aku suka saja."


"Nanti saja kamu pilih barang kesukaanmu melalui katalog."


"Tapi itu tidak sama kalau tidak dipilih langsung."


"Semuanya sama saja. Kamu hanya terkesan dari modelnya bukan?"


Inez menepiskan tangan Iko dengan kasar.


"Aku bukan kau! Jika kamu hanya melihat sekilas pada sesuatu dan langsung tergiur tanpa tahu bagaimana di dalamnya.


Hidupmu terlihat memiliki barang berkualitas namun sayang, otakmu tidak cukup berkualitas memilih wanita penghangat tubuhmu." Ucap Inez lalu berjalan cepat menuju lift.


Iko buru-buru masuk ke lift dan menanyakan maksud perkataan Inez.


"Apa maksudmu berkata seperti itu..hah?" Iko mendorong tubuh Inez ke sudut lift dengan menahan leher Inez.


"Kau tidak lebih dari lelaki hidung belang. Kau menjijikkan. Bahkan kau seperti toilet umum yang selalu memakai bekas pakai pria lain." Ucap Inez dengan kata-kata menohok.


Perang mulut pun terjadi begitu heboh di antara mereka hingga perjalanan pulang. Satu sama lain mempertahankan argumennya masing-masing karena merasa paling benar.


Setibanya di mansion, Inez berjalan menuju kamarnya tapi di susul oleh Iko yang belum puas bertengkar dengan istrinya.


Iko dengan kasar menarik jilbab Inez hingga terlepas. Bagaimana aku meniduri perempuan lain, kalau istriku sendiri tidak mengetahui bagaimana caranya menyenangkan suaminya." Ucap Iko berdalih.


"Aku tidak tahu caranya, apakah bisa mengajariku? Lagian aku tidak sudi di sentuh olehmu lagi. Kau sangat menjijikkan." Teriak Inez sambil mendorong tubuh suaminya.


Iko malah mengerat pelukannya. Ia yang sudah terbakar cemburu karena melihat istrinya di serbu para lelaki di Mall dan itu berhasil membuat darahnya mendidih.


Tubuh Inez di hempaskan ke kasur empuk. Ia membuka gesper miliknya dan mengikat kedua tangan Inez.


"Apa yang ingin kamu lakukan!"


"Memperkosamu."


Inez menarik sudut bibirnya sinis.


"Kau tidak akan bisa melakukannya."


Iko merasakan bahwa saat ini juniornya sudah membengkak di bawah sana. Baru kali ini ia merasakan setelah dua bulan pernikahan mereka berlalu.


"Aku bisa...!"


Deggggg...

__ADS_1


__ADS_2