
Inez masih menikmati air laut yang cukup hangat membuat ibu mil ini menjadi makin betah. Iko mencoba menyingkirkan kecurigaannya pada sang mertua agar tidak ikut membenci istrinya.
Tangan Iko masih berpegangan pada pinggang Inez agar gadis ini tidak bergeser ke tempat yang lebih dalam.
Merasa sudah cukup lama keduanya berendam Iko menggendong sang istri untuk keluar dari laut itu.
Seketika tubuh Inez merasa kedinginan karena angin pantai membalut kulitnya dengan dress basah menempel di tubuhnya.
Saking dinginnya membuat tubuh Inez gemetar dengan bibir mulai membiru.
"Kenapa harus keluar sekarang Iko? Aku malah jadi kedinginan." Ucap Inez dengan bibir gemetar.
Erika buru-buru lari mengambil mantel tebal Inez untuk menutupi tubuh gadis itu.
Iko tetap menggendong istrinya hingga tiba di villa agar Inez segera mandi dengan air hangat.
Di kamar mandi, Iko menyalakan shower dan memandikan lagi gadis ini agar Inez merasakan tubuhnya kembali hangat.
"Iko ..aku lapar." Pintanya seperti anak kecil.
"Iya sayang nanti kita makan." Ucap Iko.
Beberapa menit kemudian Inez sudah berpakaian rapi dengan switer lembut menghangatkan tubuhnya.
Erika mengantarkan makanan mereka ke kamar dan Inez duduk di balik dinding kaca tebal sambil bersandar di dada suaminya dan menikmati makanannya.
"Kamu sudah puas mandi di laut sayang?"
"Belum puas. Aku ingin yang lebih lama. Kau terlalu pelit memanjakan aku sebagai suamiku." Keluh Inez.
"Entar kalau kamu sudah melahirkan, kamu boleh mandi sepuas mu, sayang." Ucap Iko sambil mengusap perut Inez.
Dreeett....
Bunyi ponselnya Iko berdering membuat Iko harus meminta Inez untuk duduk sempurna.
Iko mengambil ponselnya yang berada di atas meja nakas. Ia melihat ada panggilan dari asistennya Zian. Iko menempelkan benda pipi itu di kupingnya.
"Tuan...! Apakah anda sedang berduaan dengan nona Inez?" Tanya Zian.
__ADS_1
"Iya, ada apa?"
"Bolehkah tuan menjauh sebentar dari istri Tuan?"
"Kenapa harus menjauh?"
"Karena ada yang harus anda ketahui tentang pembunuhan yang dilakukan oleh seseorang pada ibu anda, sudah saya temukan identitasnya. Dan dua adalah tuan....-"
"Hentikan...! Jangan lanjutkan ucapanmu..! Saya tidak ingin mendengarkannya." Ucap Iko menolak untuk tahu.
"Tapi tuan ini ada kaitannya dengan nona....-"
"Aku sudah tahu dan biarkan aku bahagia. Aku tidak ingin melanjutkan apapun. Aku hanya ingin bersama dengan istriku." Pekik Iko.
"Tapi bagaimana kalau ayah anda tahu kalau anda menikahi putri dari....-
"Diaaaammm....m! Jangan coba-coba mendikte ku. Mendapatkan kembali Inez adalah sesuatu yang sangat sulit aku dapatkan dan sekarang aku tidak akan melepaskannya lagi demi dendam masa lalu.
Tidak .... tidak. Aku tidak sanggup berpisah dengan keluargaku." Ucap Iko sambil menangis histeris saat berada di luar jangkauan istrinya agar Inez tidak mendengarkannya.
Zian terpaksa menghentikan laporannya. Ia juga sebenarnya tidak tega melaporkan kepada Iko saat tuannya sedang merasakan kebahagiaan apalagi keduanya akan menyambut kelahiran bayi mereka yang hanya menunggu hari.
"Mami... maafkan aku. Aku telah mencintai putri dari pria yang telah membunuhmu."
Deru ombak laut menghalau teriakan Iko. Hatinya benar-benar hancur mengetahui istrinya adalah putri dari pembunuh ibunya.
Inez yang memperhatikan tingkah aneh suaminya, bergegas menghampiri Iko yang sedang berteriak tanpa kedengaran olehnya.
Ia berjalan perlahan menuju Iko yang tidak melihat dirinya menghampiri suaminya itu.
"Kenapa dari semua wanita, Engkau mengirim dua padaku? Kenapa saat aku menemukan cintaku dan mencintainya sepenuh hatiku, justru aku harus mengetahui dia putri pembunuh ibuku .... kenapa.... kenapa harus Inez .. Tuhan ....?" Teriak Iko membuat Inez tersentak mendengar semua perkataan suaminya.
"Tidak ...tidak ..tidakkkkkk....! Itu tidak benar." Teriak Inez histeris sambil menutup kedua telinganya.
Iko membalikkan tubuhnya, ia juga tersentak melihat Inez sudah ada di belakangnya dan mendengarkan semua perkataannya.
"Inezzz ....! Sayang, dengarkan aku. Jangan biarkan berita ini menganggu hubungan kita."
Pinta Iko sambil berjalan menghampiri istrinya yang berjalan mundur menjauhinya.
__ADS_1
"Sayang ...! Hati-hati...! Kamu bisa jatuh." Ucap Iko berusaha mendekati Inez agar gadis itu tidak celaka.
Inez membalikkan tubuhnya berusaha berjalan cepat menuju rumahnya. Tapi, baru beberapa langkah, ia merasakan kontraksi yang datang secara tiba-tiba.
"Auhhghtt ...!"
Pekiknya tak kuat menahan sakit yang luar biasa menyerang perutnya.
Hampir saja tubuhnya tumbang menyentuh tanah, namun Iko sudah lebih dulu menangkap tubuhnya.
Iko segera menghubungi Zian agar mengirimkan helikopter ambulans untuk membawa istrinya ke rumah sakit.
Keringat dingin mulai membasahi wajah Inez dengan air mata yang terus terurai sambil terisak antara menahan sakit diperut dengan kesedihannya saat ini.
"Menjauh lah dariku....! Aku adalah seorang putri pembunuh. Aku tidak pantas mendampingi mu." Ucap Inez sambil terisak.
"Tidak sayang...! Aku tidak peduli dengan perkara itu lagi. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Kita tidak akan berpisah. Biarlah itu menjadi urusan orangtua kita."
Ucap Iko menenangkan istrinya.
Inez mengejan sejadi-jadinya karena tidak kuat menahan kontraksi pada perutnya.
"Sayang....tahan sedikit sebentar lagi helikopter akan datang." Ucap Iko.
Erika keluar membawa jilbab untuk Inez. Sementara Rafika membawa koper pakaian bayi dan ibunya yang sudah disiapkan Inez sebelumnya.
Tidak lama helikopter sudah datang dan mendarat di landasan pacu tidak jauh dari villa.
Iko menggendong istrinya dan membawanya ke dalam helikopter ambulans, di mana satu orang dokter dan satu suster yang siap membantu Inez melalui pembukaan jalur lahirnya.
"Nona Inez....! Tolong jangan mengejan terus...! Bayinya belum mau ngajak keluar. Saat anda mengalami pendarahan terus menerus. Itu akan membuat tubuh anda melemah sebelum melahirkan bayinya." Ucap dokter Lisa.
"Aku ingin mati, biarkan aku mati bersama dengan bayiku. Biarkan aku mati. Aku tidak mau hidup ...!" Tolak Inez saat suster memasang infus di tangannya.
"Astaga ..! Apa yang terjadi Tuan? Istri anda sangat terguncang. Tekanan darahnya sangat tinggi. Kita bisa kehilangan keduanya. Tolong dipercepat terbangnya." Ucap dokter sambil menenangkan pikiran Inez yang dari tadi hanya berontak dan menangis.
"Sayang ...Inez....! Aku mencintaimu. Aku tidak memikirkan lagi dendam ku. Aku mohon kendalikan dirimu. Jangan menghukum putra kita. Kamu dan bayi kita tidak bersalah. Aku mohon berhentilah menyiksa dirimu."
Ucap Iko bukan membuat Inez tenang. Ia malah terus berteriak histeris.
__ADS_1
Tuduhan sebagai putri seorang pembunuh adalah goncang besar dalam jiwanya. Selama ini ia terus menerus berpindah tempat karena menghindari pelacakan para mafia yang ingin membalaskan dendam kepada ayahnya dan dirinya akan di jadikan umpan supaya ayahnya bisa dibunuh.
Namun kini, Inez datang sendiri menyerahkan dirinya kepada orang yang selama mengincar nyawanya dan juga nyawa ayahnya..