
Suasana menjadi menegangkan di mana dua orang mafia sedang bersitegang memperebutkan seorang wanita yang pernah ada dalam hidup tuan Indra.
"Aku menyesal telah menukar wanita ini dengan bisnis sialan mu itu. Aku bisa mengembalikan semua apa yang pernah kamu kasih dan aku akan mengambil lagi Inez ku." Ucap Indra dengan tidak tahu malunya.
"Kau sangat menyedihkan. Kau sendiri yang mengantarkan hadiah terindah yang belum pernah aku miliki seumur hidupku dengan mengirimkan bidadari itu padaku.
Aku tidak akan menukar dirinya dengan apapun.
Bahkan aku rela mati demi dirinya." Ucap Iko dengan sambil berdecih.
Indra memberi perintah pada pilot untuk menerbangkan lagi pesawatnya sambil menodongkan pistolnya di pelipis Inez.
"Jalankan lagi pesawat ini atau aku ledakkan kepala wanita ini...!" Teriak Indra membuat pramugari yang sedari tadi begitu geram dengan ulah Tuannya kebingungan.
Mereka juga kasihan dengan Inez yang tidak bisa bergerak sama sekali dalam kukungan Indra.
"Ya Allah...! Beri aku petunjuk agar bisa melepaskan diri dari penjahat ini ya Allah," pinta Inez penuh harap.
Rupanya pilot dan pramugari kompak tidak ingin menuruti perintah Indra.
Indra terlihat frustrasi dan melepaskan tembakan ke arah Iko yang tidak berhenti mengoceh untuk mengacaukan konsentrasi Indra.
Melihat tangan Indra mengarah ke depan, Inez mengigit kuat lengan bawah Indra hingga lelaki ini reflek mendorong tubuh Inez hingga jatuh terguling di tangga pesawat.
"Inezzzz...!"
Pekik Iko sambil menembak Indra beberapa kali membuat lelaki itu juga tumbang dan jatuh menyusul tubuh Inez yang sudah terkapar di atas aspal hitam di bandara itu.
Inez berusaha bangkit merasakan tangannya terkilir hingga sulit untuk digerakkan.
Indra melihat musuhnya masih bisa bergerak mencoba untuk menembak, namun Inez melihat terlebih dahulu menginjak lengan Indra yang terluka dengan hills nya.
"Auhhghtt.... sakit Inez...!" Dasar germo bajingan. Inez mengambil pistol itu mengarahkan ke Indra, namun di cegah oleh Iko.
"Jangan kotori tanganmu dengan darah bajingan ini. Dia adalah urusanku." Ucap Iko sambil menarik tubuh istrinya dalam pelukannya.
"Maafkan aku sayang...! Selamat ulang tahun suamiku." Ucap Inez dengan air mata berderai.
Iko mengecup bibir istrinya walaupun terhalang oleh cadar. Keduanya berjalan ke arah helikopter di mana Zian sedang menunggu.
Iko menggendong Inez yang jalannya sedikit pincang.
"Sayang ..! Tanganku sakit dan sulit digerakkan.
__ADS_1
Iko menurunkan lagi tubuh istrinya dan memeriksa tangannya Inez.
"Apakah setelah ini kamu ingin bercinta denganku, sayang..?" Tanya Iko sambil menarik tangan Inez sekencangnya membuat gadis ini menjerit keras.
"Aaaaaaaaakkkk.... sakit..! Inez sampai menangis merasakan sakit yang luar biasa pada lengannya tapi tangannya bisa bergerak kembali tanpa terasa sakit.
"Kenapa kamu mengejutkan aku tiba-tiba, sayang...?" Keluh Inez memukul lengan suaminya kesal.
"Kalau dibilangin terlebih dulu, kamu pasti menolaknya. Makanya aku sengaja pancing dengan mengucapkan kalimat mesra padamu." Ucap Iko.
"Berarti kita nggak jadi bercinta hari ini karena perkataanmu hanya mengalihkan perhatian ku saja agar aku tidak kesakitan." Ledek Inez membuat Iko spontan menggendong lagi Inez membawanya ke helikopter yang sudah menyala lagi mesinnya.
Baling-baling itu berputar makin kencang dengan perlahan mengangkat tubuh bulatnya.
"Antar kami ke hotel Zian....!" Pinta Iko sambil merangkul tubuh istrinya.
"Sayang....! Kakiku sakit." Ucap Inez sambil meringis.
Iko mengangkat sedikit gamis panjang istrinya dan juga celana panjang itu. Mata kaki Inez mengalami lebam yang sudah membiru kehitaman membuat wajah Iko terlihat cemas.
"Zian...! Kita ke rumah sakit. Sepertinya lebam di kaki Inez tidak biasa. Takutnya ia mengalami luka dalam." Ucap Iko.
Pesawat itu langsung menuju rumah sakit dan Inez segera ditangani.
"Berarti kami boleh pulang dokter?"
Tanya Inez yang tidak suka lagi berurusan dengan rumah sakit. Lagi pula ia juga sangat merindukan anak-anaknya.
"Iya nyonya. Tapi untuk sementara jangan melakukan aktivitas berat." Ucap dokter Mia.
"Tapi kalau bercinta tidak apakan dokter?" Tanya Iko.
"Itu yang saya maksudkan tuan Iko, bercinta aktivitas yang terlalu berat untuk istri anda. Aktivitas itu pasti tidak akan berlangsung dalam sekali waktu tapi berkali-kali dengan durasi yang cukup panjang."
Timpal dokter Mia membuat Iko menepuk jidatnya sambil menghembuskan nafasnya kasar.
Inez terkekeh melihat tingkah suaminya yang selalu berpikir ke urusan ranjang. Dokter Mia meninggalkan ruang IGD sambil mengulum senyumnya.
"Baby....! Jangan menertawai ku, atau kamu ingin aku hukum tanpa mengijinkan kamu memakai baju selama dua hari!" Ancam Iko terlihat serius.
Inez langsung mengatupkan bibirnya karena sudah ancaman Iko tidak main-main. Ia sudah merasakan hukuman itu satu kali dua puluh empat jam Iko mengajaknya bergumul setiap waktu hingga miliknya terasa lecet baru Iko lepaskan.
Dreettt....
__ADS_1
Ponsel Iko berbunyi lagi. Kali ini datang dari kepala pelayan ayahnya. Iko sebenarnya enggan untuk mengangkatnya, namun Inez memaksa suaminya itu menerimanya.
"Hallo....Tuan muda ...ayah anda meninggal dunia." Ucap Raihan sambil menangis.
Iko terlihat syok. Tubuhnya hampir terhuyung ke belakang. Sebenci apapun ia pada ayahnya, tetap saja darah lelaki itu sudah mengalir dalam jiwanya.
"Sayang...! Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Inez sambil menggeram tangan suaminya yang terasa sangat dingin.
"Ayahku meninggal Inez...!" Ucap Iko dengan mata berkaca-kaca."
"Lebih baik kita segera ke sana untuk mengurus proses pemakamannya." Ucap Inez.
"Ayahku tidak sempat melihat anak-anak kita sayang karena dendamnya kepadamu."
"Apakah karena ayah kandungku yang telah membunuh ibumu?" Tanya Inez.
"Iya sayang. Tapi, ayahku juga sudah membalas dendamnya dengan membunuh ayahmu juga." Ucap Iko berkata jujur pada Inez.
"Apa ..? Ayahku sudah meninggal...?" Tanya Inez yang mengira tuan Gustavo adalah ayah kandungnya.
"Sayang....tuan Gustavo bukan ayah kandungmu tapi hanya paman kandungmu." Ucap Iko.
"Tidak mungkin. Aku tidak percaya. Ayahku masih hidup. Ayahku orang yang kuat."
Ucap Inez begitu yakin kalau tuan Gustavo adalah ayah kandungnya.
'Maafkan aku, Inez..! Itulah kenyataannya bahwa kedua orangtuaku kita sama-sama pembunuh." Ucap Iko lalu memeluk istrinya.
Keduanya menangis bersama.
Beberapa jam kemudian, Iko menghadiri pemakaman ayahnya dengan air mata yang sudah tumpah ruah menyesali dirinya yang merasa menjadi anak durhaka.
Inez memeluk lengan suaminya untuk memenangkan Iko. Kedua anaknya yang sedang di gendong Erika dan Rafika menatap gundukan tanah yang sudah dipenuhi rangkaian bunga duka di atas pusara kakek mereka.
Sementara di Austria sama, tuan Gustavo sedang berenang di danau Hallstat. Di lengan tuan Gustavo memiliki tato bergambar burung Kolibri. Itu artinya keyakinan Inez adalah benar bahwa tuan Gustavo adalah ayah kandungnya.
Yang sebenarnya pria yang di tembak oleh ayahnya Iko adalah pamannya Inez.
.....
**TAMAT*
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN LIKE, KOMEN DAN HADIAHNYA, SAYANG..
__ADS_1