Istri Yang Di Tukar

Istri Yang Di Tukar
21. Kembali Bahagia


__ADS_3

Percintaan panas di dalam sana, sudah seperti apa saat ini.


Pesawat yang terus membelah angkasa melewati pulau demi pulau dan negara demi negara lalu masuk ke wilayah Perancis hingga permainan itu berakhir ketika roda pesawat menyentuh landasan pacu untuk melakukan landing di bandara setempat.


"Mau mandi di rumah atau mandi di sini sayang?"


Tanya Iko terlihat segar saat ini setelah mendapatkan energi baru dari sang istri.


"Di rumah saja, sayang." Ucap Inez yang sudah berpakaian rapi.


"Baiklah. Kita turun sekarang. Hati-hati turunnya!"


Ucap Iko yang jalan lebih dulu untuk menjaga istrinya saat menuruni tangga pesawat.


Inez memegang satu tangan suaminya dan satu lagi memegang besi tangga sambil turun perlahan-lahan.


Mobil mewah itu sudah bergerak menuju kediaman Iko. Tapi perjalanan itu tidak biasa di lalui oleh Inez. Ia merasa jalur yang mereka tempuh adalah salah.


"Iko... apakah kita tidak salah jalan ?" Tanya Inez merasa bingung.


"Aku sengaja buat kejutan untukmu sayang."


"Kita mau ke mana?"


"Kamu akan melihat sendiri apa yang akan aku siapkan untuk keluarga kecil kita."


"Aku tidak masalah tinggal di manapun, asalkan selalu bersama kamu Iko." Ucap Inez terlihat manja pada suaminya.


Tidak lama keduanya sudah sampai di pintu gerbang masuk ke area vila yang menghadap ke arah laut dan itu berhasil membuat Inez begitu takjub.


"Sayang ..itu ..!" Suara Inez tersendat melihat villa mewah yang bertuliskan selamat datang istriku Inez, di sebuah spanduk.


Inez turun dari mobilnya dan memandang sekitar villa nya. Deburan ombak pantai menghempaskan air laut ke dinding karang hingga memuncaratkan air hingga ke halaman villa.


Inez tersenyum bahagia lalu masuk ke dalam villa itu di sambut Erika dan Rafika yang begitu senang bisa bertemu lagi dengan Inez.


"Selamat datang nona Inez, semoga anda betah tinggal di sini." Ucap Rafika.


"Saya sudah menyiapkan air hangat untuk anda mandi, nona Inez." Ucap Erika.


"Apakah nona Inez mau makan dulu?" Tanya pelayan yang lain.

__ADS_1


Inez menatap wajah suaminya untuk memutuskan dia harus melakukan apa dulu.


"Iko mau makan dulu atau mandi dulu?" Tanya Inez sambil melepaskan cadarnya.


"Terserah padamu sayang! Aku ikut saja maunya kamu." Sahut Iko.


"Kalau begitu, kita makan dulu. Kalau mandi dulu takutnya langsung bobo karena sudah terlalu lelah. Oh iya obat aku mana. Apakah susu untuk ibu hamil sudah di siapkan?" Tanya Inez yang begitu perhatian dengan tumbuh kembang janinnya.


"Sudah Zian bawa obatnya dan Erika sudah membelikan susu ibu hamil untuk kamu. Tapi, untuk aku yang ini saja." Bisik Iko sambil menunjukkan dada sekang istrinya.


Inez mencubit perut Iko dengan keras membuat Iko menjerit keras.


"Lagi baby! Cubitan kamu membuat aku terangsang." Bisik Iko makin menggoda istrinya.


Inez duduk di meja makan outdoor di mana mereka bisa menikmati makan siang mereka sambil menikmati suasana pantai.


"Kamu bisa menikmati matahari terbenam di balkon kamar kita sayang." Ucap Iko.


"Benarkah. Syukurlah. Villa ini tidak ada lantai duanya. Jadi aku tidak perlu naik turun tangga untuk beraktivitas." Ucap Inez.


"Kamu sedang hamil, dan aku tidak mau terjadi sesuatu padamu di luar dari pengawasan ku." Ucap Iko.


"Mengapa memilih membangun rumah di sini sayang?"


"Dari mana kamu tahu aku seorang penulis?"


"Aku mulai mencari tahu tentang dirimu, kebiasaan, hobi dan apa saja yang kamu inginkan dan yang kamu tidak suka. Dengan begitu aku tidak ingin membuat kesalahan lagi padamu, Inez.


"Itukah sebabnya kamu membangun rumah ini di sini karena ingin memperbaiki semua kesalahanmu padaku, Iko?"


"Penyesalan terdalam ku adalah mengabaikan hakmu sebagai istriku saat itu."


"Apakah kamu siap meninggalkan tabiat burukmu demi keluargamu Iko?"


"Insya Allah sayang. Aku akan melakukannya karena Allah bukan karena kamu walaupun tujuannya untuk kamu." Ucap Iko serius.


"Aku mohon, kamu kembali lagi ke jalan Allah. Menunaikan sholat lima waktu, menjalani ibadah lainnya dengan begitu, hatimu akan tenang." Ucap Inez.


Iko masih merasa berat melakukannya karena ia belum bisa membalaskan dendamnya kepada musuh terbesarnya yaitu seorang pria yang telah membunuh ibunya.


Mungkin hanya satu dosa itu yang belum kesampaian saat ini. Namun, Iko berusaha untuk memenuhi permintaan istrinya yang ingin sekali membuatnya berubah.

__ADS_1


"Apakah kamu bisa membaca Alquran, sayang?" Tanya Inez.


"Tentu saja sayang. Alquran sudah tertanam dalam jiwaku." Ucap Iko."


"Berarti mulai sekarang kamu bisa menjadi imam sholat ku." Ucap Inez.


"Iya sayang."


Keduanya melangkah menuju kamar mereka. Inez tidak sabar lagi ingin melihat kamarnya.


Iko membuka pintu balkon agar angin laut bisa masuk ke kamar mereka.


Keduanya ke kamar mandi karena mereka harus mandi wajib sebelum melakukan sholat jamaah. Iko membantu memandikan istrinya karena rambut Inez cukup panjang.


Iko tidak ingin merusak momen mandi mereka dengan permainan panas karena mereka harus melakukan sholat dhuhur.


"Iko ..!" Pekik Inez saat berada di ruang ganti.


"Iya sayang. Ada apa ..?"


"Aku tidak punya baju dan mukena karena Zian hanya menculik aku, tidak membawa serta bajuku dan juga pakaian sholat ku."


"Astaga sayang ....!Aku hampir mati ketakutan karena teriakan mu dan kamu mengkuatirkan bajumu. Bukalah lemari itu. Semua jenis baju yang kamu inginkan ada di dalam situ.


Bagian sampingnya ada sepatu dan tas. Ada jilbab dan aksesoris serta perhiasan lainnya. Ada juga pakaian sholat untukmu, sayang."


Ucap Iko menunjukkan lemari khusus untuk kebutuhan istrinya.


Inez lupa bahwa suaminya bisa melakukan apa saja untuknya.


"Aku pikir hanya ayahku saja yang merupakan seorang mafia dan ternyata aku juga memiliki suami seorang mafia. Hidupku tidak jauh-jauh dari seorang mafia." Ucap Inez.


"Apakah kamu menyesal memiliki dua orang laki-laki dalam hidupmu adalah seorang mafia?" tanya Iko penasaran.


"Aku tidak punya pilihan karena aku sudah dihadapkan dengan dunia ini dari aku hadir di bumi ini hingga aku mati bersamamu nanti. Mungkin ini adalah takdirku Iko." Ucap Inez sambil memakai mukenanya.


"Suami seperti apa yang kamu inginkan Inez?"


"Kalau hanya sekedar fisik dan kejeniusan kamu sudah memenuhi angan ku, Iko. Tapi aku punya ekspektasi besar untuk seorang suami yang bisa membawa aku ke surga."


Ucap Inez membuat Iko tertegun.

__ADS_1


"Beri aku kesempatan untuk belajar memperbaiki diri sesuai keinginanmu. Dan sekarang kita sholat dhuhur semoga Allah menjaga kita dari kemaksiatan ... aaamiin." Ucap Iko lalu berdiri menghadap kiblat dan mulai melakukan ibadah sholat dhuhur sangat khusu.


__ADS_2