
Bagai daratan tandus tanpa ada hujan menyapanya selama beberapa bulan ini, membuat Iko terus menggempur tubuh istrinya di saat perut Inez makin membesar.
Inez yang merindukan hal yang sama melakukannya dengan senang hati karena Iko sangat mencintainya kini.
Ditambah lagi, Inez tidak malu lagi melontarkan kata-kata fulgar pada suaminya yang membuat Iko makin terangsang dengan gaya Inez yang mengusai tubuhnya di atas sana.
Iko membantu istrinya menggoyangkan pinggulnya dengan memegang kedua paha mulus istrinya agar lebih cepat memajukan mundurkan pinggulnya pada benda pusaka yang siap meledakkan laharnya.
"Baby, milikmu sangat nikmat. Ahkhhh...! sumpah demi apapun ini terlalu nikmat baby."
Ucap Iko dengan mata yang terlihat berat dan suara seraknya membisik dengan lirih.
Cengkraman milik Inez yang membuat Iko tidak berhenti mendesis nikmat, membuat keduanya sudah siap melepaskan lahar mereka secara serentak.
Pacuan itu makin di percepat oleh Inez hingga akhirnya memuntahkan cairan kenikmatan dalam tubuh mereka karena naf-su birahi yang terpuaskan kini.
Inez turun hati-hati dari tubuh suaminya dan berbaring di sebelah sang suami yang menatap wajahnya begitu intens.
"Sayang ..! Apakah kamu tidak bosan menatap wajahku secara terus menerus seperti ini?" Tanya Inez jengah juga di perhatikan Iko.
"Aku jarang melihatmu dengan tubuh polos seperti ini. Kamu adalah maha karya Tuhan yang menurut ku sangat sempurna dan langkah." Ucap Iko
"Aku mencintaimu Iko...! Terimakasih sudah menempatkan aku di atas keegohanmu. Kamu lebih mempertahankan cintamu pada bayangan wanita pertama yang membuatmu jatuh cinta daripada wanita yang datang kemudian dalam hidupmu yang ternyata wanita itu adalah aku sendiri." Ucap Inez.
"Aku tidak tahu, apa jadinya kalau aku tidak bertemu denganmu sayang. Kamu datang di waktu yang tepat, itu yang membuat aku tidak berhenti berpikir mengapa aku tidak bisa mencerna permainan takdir mempertemukan kita." Ucap Iko.
"Aku harap akulah wanita yang terakhir untukmu Iko walaupun suatu saat nanti aku mungkin akan meninggalkan kamu terlebih dahulu." Ucap Inez terlihat sedih.
"Hei ... Aku tidak akan mengijinkan kamu pergi dari dunia ini. Kamu milikku, tetap milikku dan selamanya milikku." Ucap Iko seakan ingin melawan takdir.
Tidak lama kemudian keduanya sudah membersihkan diri dan berniat berjalan-jalan di tepi pantai.
"Sayang .. anginnya cukup kencang di luar sana. Kamu harus menggunakan mantel tebal agar tidak masuk angin!" Ucap Iko memilih mantel tebal untuk istrinya dan memakaikan pada tubuh Inez.
"Bolehkah aku tidak memakai jilbab?" Tanya Inez.
"Tapi kamu harus memakai syal untuk berjaga saja agar tidak ada yang bisa melihat mahkota mu."
Pinta Iko memberikan pengertian kepada istrinya.
__ADS_1
"Baiklah tidak apa, sayang." Ucap Inez.
Keduanya menuruni tangga yang cukup landai agar bisa sampai ke pasir laut.
Erika dan Rafika membawa perbekalan untuk majikan mereka. Siapa tahu keduanya butuh. Inez yang terlihat sangat cantik tanpa hijab saat ini membuat rambutnya tergerai indah terbawa angin yang yang menyapu wajahnya.
Matahari pagi menerpa pasir putih dan permukaan laut berwarna hijau tampak dangkal jika di lihat dari permukaan.
Rasanya Inez ingin berendam di laut itu namun Iko sudah mencegahnya terlebih dahulu.
"Sayang.... sebentar saja! Aku ingin mandi di laut." Pinta Inez.
"Anginnya cukup kencang Inez dan kehamilanmu tidak mendukung keinginanmu untuk mandi di laut." Ucap Iko.
"Kamu bisa memegang ku dan menjaga aku." Rayu Inez yang sudah mulai menangis.
"Kamu barusan tadi mandi usai kita bercinta. Masa mandi lagi." Iko menahan diri untuk tidak memarahi wanitanya.
"Tapi aku menginginkannya. Area di sini sangat sepi dan itu sangat aman untuk aku mandi."
"Bukan sepi atau amannya, tapi bahayanya. Apakah kamu tidak mengerti juga?" Suara Iko sedikit meninggi.
Iko mengacak rambutnya sendiri. Ia baru tahu Inez sedikit keras kepala dan memaksakan kehendaknya.
"Ini memang bawaan hamil atau gadis ini memang sangat manja?" Geram Iko dalam hati.
Sambil mendengus kesal, Akhirnya Iko mengabulkan keinginan Inez.
"Baiklah. Kamu boleh mandi tapi tidak boleh terlalu lama. Kamu mengerti?"
"Hmm!" Inez mengangguk cepat dan meminta suaminya membuka mantelnya.
Dalam sekejap tubuh Inez hanya terbalut dress panjang dan mulai berjalan menuju laut yang cukup merendam tubuhnya dan Iko tetap memegang pinggul sang istri agar Inez tidak nekat lebih dalam.
"Seumur hidupku, aku baru kali ini mandi di laut. Selama ini aku hanya mandi di danau Hallstatt." Ucap Inez membuka rahasia kediaman orangtuanya.
Iko mendengarnya dengan baik, karena saat bertemu dengan istrinya lagi ia tidak pernah mengorek informasi tempat tinggal istrinya. Iko makin ingin tahu siapa Inez sebenarnya.
Bagaimana Inez dan tuan Gustavo tidak bisa tersentuh dokumen pribadi mereka jika dilacak. Seakan ada yang di sembunyikan oleh orangtuanya.
__ADS_1
"Apakah perbedaan antara air laut dan air danau? Bukankah sama saja?"
"Kalau danau airnya tawar dan laut airnya asin."
Sahut Inez dengan polosnya.
"Apakah rumahmu berhadapan dengan danau?"
"Iya sayang. Apakah kamu ingin ke rumah ayah?"
"Nanti kalau kamu sudah melahirkan putra kita."
"Astaga..! Aku belum mengabari ayah kalau saat ini aku sudah bersamamu lagi." Ucap Inez.
"Tidak usah di kabari, karena ayah pasti sudah tahu kamu bersamaku. Bukankah jaringan informasi milik ayah sangat hebat?" Pancing Iko.
"Ayah memiliki koneksi yang begitu penting dengan para petinggi negara.
Kehidupan kami cukup aman setelah berpindah-pindah tempat dari satu negara ke negara yang lain karena ayah memiliki banyak rumah, apartemen dan hotel."
"Apakah ayahmu memiliki banyak musuh hingga membuat kamu harus berpindah ke tempat yang berbeda untuk mengacak pencarian seseorang?" Tanya Iko.
"Aku tidak tahu banyak rahasia ayah. Tapi kalau kediaman kami terlacak oleh musuh, mau tidak mau aku harus dievakuasi di negara yang menurut ayah aman bagiku." Ucap Inez.
"Berarti selama ini, kamu tidak punya teman atau seseorang yang bisa kamu ajak untuk berbagi masalah hidupmu?"
"Mulutku sudah lama terkunci rapat agar memilihnya kata-kata agar tidak salah bicara pada siapapun saat aku masih sekolah maupun kuliah. Dan tempat aku curhat hanya kepada Allah." Ucap Inez
Air laut yang cukup hangat membuat Inez berendam lebih dalam hingga tersisa bagian dadanya yang tercetak jelas oleh suaminya yang mulai kembali terangsang.
Tapi rangsangan itu tidak begitu menggoda Iko saat ini karena informasi dari Inez begitu penting baginya.
"Kamu dulu kuliah di mana Inez?"
"Di universitas Maroko."
sahut Inez membuat Iko tersentak karena informasi dari Zian saja persis yang Inez ucapkan bahwa pembunuh ayahnya adalah seorang mafia yang memiliki putri yang pernah kuliah di universitas Maroko.
Duarrr ..
__ADS_1