
Wajah Inez menahan amarah yang sudah membuat raut wajahnya memerah seperti tomat. Ia merasa dipermainkan oleh suami kontraknya ini.
"Terserah! Aku hanya mengikuti perjanjian yang kamu buat itu. Aku tidak merasa terikat pernikahan lagi denganmu. Aku adalah wanita bebas saat ini."
Ucap Inez menyeret kopernya keluar dari rumah Iko.
Iko meminta sopirnya untuk mengantar istrinya ke bandara setempat.
Inez membeli tiket dengan uangnya sendiri karena Iko tidak memberinya uang.
Beruntunglah ia dibekali uang oleh ayahnya cukup banyak dengan perhiasan mahal sebagai hadiah pernikahannya.
Untungnya saat itu ia tidak menolak pemberian ayahnya karena merasa sudah menikahi lelaki kaya yang berubah menjadi monster.
"Penebangan mana yang akan ia tuju?" Tanya Iko kepada anak buahnya yang mengawal Inez.
"Qatar!"
"Ikuti dia dan jangan sampai dua curiga kamu mengikutinya!"
"Sepertinya istri tuan membeli tiket first kelas dan aku bisnis berarti aku tidak bisa memantaunya karena kabin yang terpisah.
"Sial! yah sudah kamu masih bisa mengikutinya saat tiba di Qatar."
"Sepertinya agak sulit Tuan!"
"Kenapa?"
"Banyak sekali perempuan yang memakai pakaian syar'i dan cadar hampir seragam dengan nona Inez."
"What ...?"
Iko mulai kewalahan karena tidak ada satupun yang bisa memberikan ciri khas istrinya yang bisa di tandai oleh anak buahnya.
"Cari dua sampai ketemu. Tunggu dia di tempat pengambilan Bagasi. Kamu tahu kopernya seperti apa."
"Itu juga sulit tuan. Saat boarding, koper non Marsha sama semua dengan koper milik wanita yang berpakaian syar'i." Ucap Amar.
Iko makin murka mendengar penjelasan Amar. Rasanya ia sangat menyesal karena sudah meremehkan kekuatan istrinya yang dianggapnya lemah jika dilepaskannya begitu saja.
"Sial ... sial....sial...!" Teriak Iko menggelegar sambil melempar apa saja yang ada di kamarnya.
Para pelayan begitu gemetar mendapati otak tempramen tuan mereka kembali kambuh. Rasanya nyawa mereka ikut melayang jika suasana hati Iko sedang gundah apa lagi kehilangan Inez.
__ADS_1
Sudah lama rumah ini menjadi tenang saat ada Inez. Tapi sekarang gadis itu nekat pergi karena tidak ada kejelasan perasaan Iko padanya. Ia hanya merasa dirinya tidak lebih dari budak sek* suaminya yang setiap saat menggaulinya seperti lelaki maniak.
Di pesawat, Inez duduk bersebelahan dengan seorang pria tampan yang terlihat serius dengan laptopnya. Ia sengaja tidak menutup kaca pembatas karena merasa pengap dengan ruang sempit.
Merasa ingin membutuhkan bantuan, ia mencoba membuka suara untuk berkenalan dengan pria tampan itu yang merupakan keturunan Qatar dan juga Perancis seperti suaminya yang blasteran. Inez mengucapkan salam kepada sang pria dan seketika pria itu membalas salamnya.
"Apakah ada yang bisa saya bantu ukhti...?" Tanya pria tampan itu sopan.
"Apakah aku boleh meminjam laptop milikmu, Akhi?" Tanya Inez ragu-ragu.
"Apakah kamu tidak punya ponsel?"
"Ponselku tertinggal di ruang tunggu saat aku tadi mengisi baterai." Ucap Inez bohong.
"Baiklah." Pria itu meminjamkan laptop miliknya pada Inez.
"Terimakasih akhi....! Siapa namamu?"
"Ghanim."
"Salam kenal Ghanim, namaku Mariam." Ucap Inez dengan nama julukan yang selalu dipanggil orang padanya.
Inez segera mengirim pesan singkat pada ayahnya kalau saat ini ia menuju Qatar. Ia juga menceritakan keadaannya dengan menggunakan kode sandi yang tidak di mengerti orang awam. Tentu saja kode sandi itu hanya bisa di pelajari keluarga mafia.
Ayahnya yang mengetahui putrinya sedang tidak baik-baik saja, mengirim anggotanya untuk mengamankan putrinya tanpa menjadi perhatian orang lain.
Ayahnya memberikan kode untuk putrinya dan ia harus bisa mengenali anggota ayahnya.
...----------------...
Setibanya di bandara Qatar, Inez yang memiliki jalur khusus untuk penumpang first klass berjalan menuju anggota ayahnya yang sudah menunggunya.
Melihat pria tampan dengan pakaian khas pemuda Qatar, Inez langsung menyapanya.
"Assalamualaikum...Akhi! Sebutkan kode anggota mu!" Titah Inez tanpa menatap wajah anak buah ayahnya itu.
"Waalaikumuslam nona! 47RM32." Ucap pria itu.
Keduanya sepakat menuju jalur rahasia agar bisa ke bandara pribadi Tuan Gustavo Dimurat yang merupakan ayah kandung Inez.
Nama tuan Gustavo adalah nama dari gelar mafianya.
Setibanya di pesawat jet pribadi milik ayahnya, Inez baru bernafas lega, sementara anak buahnya Iko kewalahan mencari Inez di ruang kedatangan. Koper milik Inez yang sudah diselamatkannya oleh anggota ayahnya, membuat gadis ini bisa menghapus jejaknya dari sang suami.
__ADS_1
Inez memang tidak mengatakan identitas ayahnya karena saat ini, keamanan keluarganya sangat rentan terhadap sesama mafia.
Sekarang, yang membuat Inez bingung, ia tidak bisa cerita pada ayahnya tentang Iko karena pria itu adalah ayah dari anak yang sedang ia kandung saat ini.
"Apa yang harus aku katakan kepada ayah tentang suamiku. Apakah aku harus memberitahunya bahwa, Iko adalah seorang mafia yang telah memanfaatkan dirinya! Atau aku berbohong saja tentang tuan Indra yang telah menjualku supaya, ayahku membalaskan dendam ku kepada Indra saja?" Batin Inez lirih.
Pesawat jet itu terus terbang menuju sebuah pulau rahasia di mana keluarga Inez berada.
Sementara itu, Iko yang sedari tadi menunggu kabar dari Amar terlihat gusar dengan menembak beberapa ekor burung yang sedang terbang di udara.
Entah mengapa ia sangat merindukan Inez saat ini. Kadang ia tidak bisa fokus kerja di perusahaannya dan memilih cepat ulang hanya ingin bercinta dengan Inez.
Apalagi ia memperlihatkan film adegan dewasa pada Inez bagaimana cara melayani seorang suami.
Sejak saat ini, Inez jadi mahir dalam bercinta. Tidak heran keduanya mengimbangi permainannya mereka dan itu yang membuat Iko jadi ketagihan.
Tapi kecendrungan Iko yang tidak iba pada kondisi istrinya, membuat percintaan panas mereka tidak lagi dinikmati oleh Inez.
Lama kelamaan gadis itu merasa tubuhnya hanya dijadikan tempat pelampiasan syahwat suaminya.
"Tuan ..! Ada telepon masuk untuk tuan!" Erika memberikan ponsel pada Iko.
"Bagaimana? Apakah kamu sudah bisa melacak istriku?"
"Aku memperhatikan semua nama koper milik penumpang, tapi koper milik istri tuan tidak di temukan." Ucap Amar gugup.
"Sialannnn.... siapa gadis itu sebenarnya?" Teriak Iko menggelegar membuat para pelayan makin menundukkan kepala mereka dengan tubuh gemetar.
"Zian! Kerahkan orang kita untuk melacak siapa istriku itu, apakah dia seorang mata-mata?"
"Maaf Tuan Iko! Saya sudah melacak nama nona Inez bersama anggota kita, sepertinya gadis itu bukan orang biasa."
"Apa maksudmu?"
"Gadis itu adalah keturunan dari seorang mafia juga."
Deggggg...
"Dari mana kalian tahu kalau Inez adalah putri dari seorang mafia?"
"Kami melacak email-nya yang di kirim kepada seseorang dengan menggunakan kode rahasia. Tidak ada satu orangpun yang bisa mengirim kode rahasia dengan simbol tertentu kalau bukan putri seorang mafia atau putri dari seorang agen pembunuh bayaran." Ucap Zian.
Duaaarrr....
__ADS_1