
Perasaan Iko yang belum mampu melupakan sang gadis desa yang pernah ia temui membuatnya bimbang untuk membangun sebuah rumah tangga dengan Inez.
Ia masih penasaran dengan gadis desa itu yang tidak lain adalah Inez sendiri. Iko berubah pikiran dan berniat ingin menikahi Inez cukup tiga bulan dan memulangkannya lagi pada tuan Indra.
Iko meminta asistennya Zian untuk membuat surat kontrak nikah antara dirinya dan Inez. Zian menyanggupi membuat surat itu dalam waktu cepat.
Tidak ada sedikitpun rasa iba pada diri Iko dari apa yang ia lakukan. Hatinya yang sudah terpaut dengan gadis desa itu membuatnya harus tega pada Inez.
"Maafkan aku Inez! Kamu pasti tidak suka dengan rencana ini tapi aku tidak akan mengubah keputusanku. Lagi pula pernikahan kita tidak berdasarkan cinta sama sekali kecuali tuntutan syahwatku yang ingin merasakan tubuhmu." Gumam Iko lirih.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Dengan tubuh yang masih lemah, Inez menerima semua perawatan kulit dan wajah, agar Inez terlihat lebih segar. Ia juga meminum ramuan herbal untuk membuat tubuhnya kuat dan cepat pulih dari sakitnya.
"Nona Inez! Nanti anda tunggu di kamar saja dengan gaun pengantin seksi dari tuan Iko karena dia tidak ingin melihatmu menggunakan pakaian syar'i saat pernikahan kalian"
Ucap Erika mengutip perkataan tuannya.
"Bagaimana caraku untuk menandatangani surat nikah kami? Biar aku yang akan mendatangi non di kamar tuan." Ucap Erika.
"Baiklah. Terserah kamu dan tuan mu itu." Inez hanya mendengus kesal.
Usai melakukan perawatan semaksimal mungkin, tubuh Inez mengeluarkan aroma yang lebih wangi walaupun tanpa itu tubuh Inez aslinya sudah wangi karena sejak memasuki usia remaja Inez selalu meminum ramuan herbal yang dibuat oleh mendiang neneknya untuk mencegah bau badan walaupun tidak perlu menggunakan deodorant.
Tok.... tok...
"Erika! Kau di dalam? Buka pintunya!" Titah Iko sambil menggedor pintu itu berulang kali.
Inez tersentak dan buru-buru masuk ke kamar mandi walaupun pintu kamarnya dalam keadaan terkunci.
Inez sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian syar'i lengkap dengan cadarnya.
"Panggil gadis itu kemari aku ingin bicara dengannya!" Pinta Iko.
"Apakah kamu ada perlu denganku, Tuan?"
Tanya Inez yang langsung berdiri dihadapan Iko. Erika dan Rafika bergegas meninggalkan kamar Inez dan Inez juga sudah melangkah ke luar karena tidak ingin ada fitnah.
Iko merasa terusik dengan harum tubuh Inez yang sangat merangsang dirinya. Salah dirinya sendiri membeli lulur aroma terapi yang membuat ia bisa bergairah.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Inez sambil bersedekap angkuh.
"Aku ingin kamu menandatangani kontrak perjanjian pranikah."
"Surat perjanjian nikah? Maksud kamu apa, Tuan?"
"Pernikahan kita tanpa cinta, kau akan aku bebaskan setelah tiga bulan kita menikah dan jika kamu tidak hamil anakku kamu boleh pergi dari sini. Aku membebaskanmu."
Duaaarrr....
Inez tersentak dengan tubuhnya hampir limbung. Ia tidak menyangka Iko begitu tega memperlakukan dirinya seperti makanan yang habis manis sepah dibuang.
"Jika kamu tidak menandatangani surat ini, kita tidak akan menikah dan kamu akan tinggal di sini untuk selamanya." Ancam Iko memberi pilihan yang sulit untuk Inez.
"Hatimu terbuat dari apa, hah? Hingga kau mengatur hidup orang sesuka hatimu? Kamu kira aku hanya barang mainan yang seenaknya kamu pakai lantas rusak kamu buang begitu saja?"
"Aku mencintai gadis lain. Gadis impianku yang belum bisa aku temukan dan kini aku sedang mencari dirinya. Tidak ada tempat yang paling berharga di hatiku kecuali dirinya yang tak tergantikan olehmu, walaupun secantik apapun wajahmu yang dikatakan orang lain, tidak bisa mengalahkan kecantikan gadis impianku itu."
Ucap Iko merendahkan Inez yang menahan geram dengan mencengkram dua sisi gamisnya.
Inez menandatangani surat kontrak nikah itu dengan air mata yang sudah jatuh mengalir begitu saja tanpa terdengar tangisnya.
"Semoga kamu tidak ingkar dengan perjanjian tertulis ini." Ucap Inez dengan suaranya terdengar serak.
Iko mengambil surat perjanjian itu dan di masukkan ke dalam amplop coklat yang ia siapkan. Inez kembali ke kamarnya dengan langkah gontai dan perasaan hancur.
"Ya Allah! Ujian apa ini?" Pantaskah aku diperlakukan sehina ini? Dari suami yang satu dan berganti dengan suami yang lain.
Inez bersiap untuk berwudhu karena sebentar lagi memasuki sholat magrib.
Sementara di Jakarta, tuan Indra dan kedua orangtuanya sedang bertengkar hebat ketika tidak menemukan keberadaan Inez..
"Di mana Inez?" Tanya Nyonya Aisyah geram.
"Aku sudah menceraikan mami!" Jawab Indra enteng.
"Apaaa..? Kenapa tega menceraikan gadis secerdas dan secantik dia bahkan akhlaknya tidak diragukan lagi betapa baiknya dia daripada istrimu yang mandul itu."
__ADS_1
"Aku sangat mencintai Hanna, mami! Walaupun ia tidak bisa memberikan aku keturunan, tapi aku sangat mencintainya."
"Lantas siapa yang akan mewarisi perusahaan keluarga kita? Kalau kamu sendiri tidak punya keturunan?"
"Kami bisa mengadopsi anak. Lagipula apa cantiknya gadis itu hingga mami begitu memujanya."
"Jadi kamu belum melihat gadis itu sama sekali?"
"Untuk apa menatap wajahnya yang jelek itu? Itulah sebabnya kenapa dia pakai cadar karena dia pasti jelek mami dan aku tidak mau menyesal karena menikahinya." Teriak Indra.
"Apakah kamu tidak menyesal menolak gadis secantik ini, Indra?"
Ucap Nyonya Aisyah seraya menyodorkan ponselnya di mana foto Inez hanya mengenakan hijab tanpa cadar.
Indra meraih ponsel ibunya dan menatap wajah cantik Inez seperti bidadari dari khayangan. Kakinya beberapa langkah mundur ke belakang dengan wajah terkesiap.
"Kenapa baru memberikan foto gadis ini kepada aku mami setelah aku menjatuhkan talak tiga padanya?"
Ucap Indra penuh penyesalan.
"Mami kira kamu adalah lelaki cerdas, tidak tahunya otakmu lebih pintar dari pada keledai." Ucap nyonya Aisyah sinis.
Sementara di kediaman Iko pernikahan sederhana di gelar di rumahnya sendiri dengan di hadiri penghulu dan dua orang saksi dari pihak Inez dan Iko yang di pilih oleh KUA.
Iko mengikrarkan ijab qobul dengan suara lantang menggunakan mikrofon agar Inez di dalam kamarnya dengar. Inez juga mengikuti proses pernikahannya lewat virtual melalui televisi di dalam kamar Iko. Ia hanya bisa melihat gambar di luar sana tapi layar untuk dirinya tidak di tampakkan.
Erika masuk meminta tandatangan buku nikah dan dokumen penting lainnya sebagai keabsahan pernikahan kedua mempelai itu.
Dalam sekejap acara pernikahan itu berakhir dan Inez siap menyambut suaminya dengan menggunakan gaun pengantin internasional yang bagian atasnya terbuka. Rambutnya di biarkan tergerai indah dengan mahkota bertahta berlian. Make up lembut dan natural makin mempercantik tampilannya malam ini.
Inez berdiri di pintu balkon kamarnya Iko menanti sang suami dengan jantung yang berdenyut kencang.
Ketika pintu kamar itu dibuka oleh Iko, Inez tidak berani membalikkan tubuhnya. Iko menghampiri pengantinnya dan memeluk Inez dari balik punggung.
Inez pelan-pelan memutar tubuhnya menghadap suaminya dan
"Kau... ! Iko mematung menatap wajah cantik Inez syok.
__ADS_1