JANGAN DATANG TERLALU PAGI

JANGAN DATANG TERLALU PAGI
SALJU PERTAMA


__ADS_3


Suara televisi di cafe ini terdengar meriah. Serunya aksi tim kesebelasan menggocek bola, membuat para komentator sesekali menghela nafas. Tak lama, terdengar riuh tepuk tangan penonton kala benda bulat itu melesat jatuh menembus sangkar sang kiper lawan.


Beranjak malam, pengunjung datang silih berganti. Kursi-kursi mulai penuh sesak. Sebagian hanya datang sebentar lalu pergi. Sebagian lagi masih bertahan sembari meneguk kopi.


Suasana akrab yang lumrah ditemui diakhir pekan. Apalagi kalau bukan menghabiskan waktu bersama dengan rekan atau pasangan. Cafe ini, ah.. aku lebih suka menyebutnya kedai kopi, nampak ramai sorak sorai para pendukung tim tuan rumah yang tandas membobol tiga gol selama pertandingan.


Jujur saja, aku tidak begitu peduli. Draft tugas dari dosen bahkan sama sekali belum kusentuh. Siapa sangka, aku bisa berada ditempat ini. Di negeri ini. Bahkan bermimpi pun tidak. Kalau saja dari awal proposal beasiswa S2 ku bisa diganti, pasti akan kulakukan saat itu juga.


"Maaf, tapi ini hanya ini kesempatanmu"


Aku ingat betul, bagaimana Prof. Emma berusaha membujukku saat mencoba mencari referensi universitas di negara lain. Apadaya, nasi telah menjadi bubur. Ia memintaku untuk mengambilnya saja karena tak semua siswa bisa mendapat peluang tersebut. Aku, satu dari sekian mahasiswa yang disebut-sebut 'beruntung'.


Enam bulan menginjakkan kaki disini, tak serta memupus kenangan buruk setiap jengkal yang terlewat. Betapa menjijikkannya membayangkan lelaki itu tinggal bersama keluarga barunya ditempat ini. Setelah ia menghancurkan hidup seorang anak dan juga istri.


Ia meninggalkan kami berpuluh tahun lalu. Kembali ke negara asalnya, disini, dan memulai kisah yang rumit dengan kekasih gelapnya. Seorang janda kaya raya bergelimang harta.


Aku tak punya kenangan lain lagi tentangnya selain kebencian yang batu. Dendam yang merah. Bahkan tak segan aku menyebutnya sudah tiada saat kecil dulu. Saat teman-teman lain menanyakan kenapa aku hanya punya ibu. Menjalani hari-hari yang berat bersama. Membagi luka.


Berulang kali lelaki itu ingin menemuiku. Mengirimi uang. Barang-barang mewah. Tapi selalu kami tolak. Bahkan aku memintanya berhenti bersikap seolah peduli karena itu tak akan mengubah apapun yang sudah terjadi. Dua bulan setelah aku disini, beberapa kali ia berniat membelikanku flat. Tapi hanya murka yang didapat. Aku mengusir asisten suruhannya. Membuang uang saku darinya, kubiarkan lembaran kertas itu berhamburan didekat taman kota. Aku sudah tak punya ayah !


Suara gawai yang bergetar diatas meja membuyarkan lamunan. Tak terasa, disudut kelopak airmata menggenang... terlalu basah.

__ADS_1


Kulirik nama yang tertera di layar, Eva. Teman satu kampus, berbeda jurusan. Yang juga ikut serta menyewa flat bersama denganku dan anak-anak lain.


"Kenapa ramai sekali ?! kau masih diluar ?!"


Selorohnya, bahkan belum sempat menyapa.


"Aku hanya bosan dirumah. Bagaimana liburan kalian ?"


Eva dan yang lain tengah menghabiskan libur akhir pekan di London. Salah satu teman kami mengajak mereka menginap dirumah bibinya disana. Aku ? entahlah, apa yang kulakukan sendirian disini. Tepatnya belum berminat pergi jauh dari kota ini. Jauh ? tidak seberapa jauh sebenarnya. Hanya beberapa jam perjalanan. Tapi alih-alih ke London, di kota ini saja aku masih sering nyasar.


"Sangat menyenangkaaaaan. Ah, untuk apa basa basi. Kau sendiri tak mau ikut"


Aku tertawa kecil.


"Ohya, ada yang ingin kusampaikan. Temanku ingin berkenalan denganmu, kira-kira bagaimana menurutmu ?"


"Ya sudah kalau kami sudah kembali saja  kuceritakan semuanya"


Terdengar berisik sekali disana. Bunyi musik berdentum keras. Telepon terputus. Tak lama sebuah pesan masuk.


_Sory disini ribut sekali. Jangan lupa ajak Sissy keluar_


Dengan centil ia membubuhi pesan itu emot tertawa. Hah ?! dia menikmati liburan, sedangkan aku yang harus mengurus kucing kesayangannya ? kenapa ia selalu sulit bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri seperti ini.

__ADS_1


_Oke, have fun !! _


balasku kesal.


Kadang aku iri, bagaimana ada anak seceria dan seheboh dia. Setiap hal yang kami kerjakan dengan Eva, semua menjadi seru. Ia pandai bergaul, banyak kakak tingkat yang mengenalnya karena sifatnya itu


Eva berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya seorang pejabat, sedang ibunya salah satu pemilik pabrik industri di kota ini. Apa yang ia mau dengan mudah terwujud karena Eva anak perempuan satu-satunya. Hanya saja sangat disayangkan, kehidupan pribadinya cukup bebas.


Meski begitu, ia sangat baik kepada kami. Ia tetap Eva yang rendah hati tak seperti anak orang kaya lainnya. Jika mau, bisa saja ia menyewa flat sendiri tanpa harus berpatungan. Tapi ia memilih bersama kami yang seperti sudah dianggap keluarga baginya. Tak jarang jika kiriman uang saku kami terlambat, Eva sering meminjamkan terlebih dahulu. Hingga aku terkadang sungkan kepadanya.


2 cangkir moccachino telah tandas satu jam lalu. Ah.. selama itu pula waktu berjalan begitu cepat . Tak terasa udara makin dingin. Setelah memencet tombol shout down, aku bergegas memasukkan laptop kedalam tas. Sembari membereskan buku-buku yang lain, tanganku terhenti. Bayangan seseorang memantul, seolah menatapku dari arah belakang. Kulirik jendela kaca, nampak siluet itu bergerak pergi.


Hmm, ini bukan pertama kali aku merasa seperti ini. Ditempat yang sama, sudah lama aku merasa seolah diperhatikan dan diawasi. Entah siapa. Yang jelas membuatku risih.


Dengan gontai aku berjalan meninggalkan kedai. Malam ini udara diluar lebih dingin dari biasanya Lampu-lampu kota mengerjap menyala terang. Jalanan masih terlihat ramai kendaraan berlalu lalang.


Menuju pulang langkahku terhenti. Aku terkejut. Sesuatu yang ringan dan dingin, jatuh menyentuh wajahku. Sebuah benda kecil nan rapuh, spontan kusapu pelan dipipi. Aku masih tak yakin. Tapi sepertinya inilah salju. Ya.. benar ! salju pertamaku turun perlahan di kota ini.



Aku berteriak senang. Senyumku merekah sepanjang jalan. Orang-orang terlihat santai tapi tidak denganku. Kudekap mantel dengan erat. Hatiku berdesir tak karuan. Benarkah ini salju yang biasa hanya bisa kutonton di televisi ?!


Kuamati mobil-mobil yang terparkir di bahu jalan. Bagian atasnya mulai terlihat memutih meski masih samar. Begitu pula atap-atap rumah, pepohonan. Dahan dan tangkainya. Aku memandanginya dengan takjub. Hal langka seperti ini tidak pernah kutemui sebelumnya dinegara kami yang hanya mengenal dua musim.

__ADS_1


Melewati taman, sesekali aku melompat-lombat riang. Tanganku menengadah keatas, seolah ingin menangkapi salju yang turun dengan lembut. Butirannya meluncur dan terhempas tertiup angin. Dingin. Hingga terasa sedikit menggigil. Tanpa kusadari, didalam sana, dikedai itu ... seseorang tengah mengamati dari jauh dengan tersenyum.


pic by google


__ADS_2