JANGAN DATANG TERLALU PAGI

JANGAN DATANG TERLALU PAGI
JAMES BOND


__ADS_3


Di kamar aku menyiapkan semuanya. Kuliah dimulai besok. Sebagai siswa yang hanya mengandalkan beasiswa, tentu aku harus mengambil start lebih awal dari anak-anak lain.


Eva masuk kekamar. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Diambilnya bantal lalu dilempar kearahku.


"Selamat ya.. kamu sudah membuat kami kelaparan seharian ini. Kenapa tidak bilang kalau pulang terlambat, kami kan bisa pesan makanan"


Gerutunya dengan cemberut


"Sorry hehehe"


Aku masih fokus pada tugas. Ia melihatku sibuk.


"Kapan pameranmu ?"


"Pekan depan. Ah aku pusing sekali. Ini pameran pertama kami. Bagaimana kalau gagal dan hanya sedikit yang datang"


"Percaya dirilah. Lagipula akan ada banyak seniormu disana. Tidak masalah"


Aku melenguh. Kutatap kanvas lukisan yang tersender didekat pintu. Ini pertama kalinya aku dan anak-anak kelas mengadakan pameran.


"Apa tema nya ?"


"Soul, jiwa... keren kan"


"Menarik. Kami janji akan datang. Hey, bersemangatlah nona muda"


Eva menepuk pundakku. Sebelum berlalu ia seperti teringat sesuatu.


"Hampir saja lupa. Bagaimana kencan yang tadi kutanyakan ?"


"Ah, lupakan saja. Aku belum berpikir itu"


"Kamu benar masih belum bisa melupakan teman kuliahmu dulu ?"


Jariku berhenti mengetik keyboard. Pandangan yang sedari tadi tertuju pada layar laptop, kini beralih ke Eva. Ia menatapku dengan malang. Aku menghela nafas.


"Entahlah..."


***


Pagi-pagi sekali kami bangun dan sarapan. Hari ini adalah hari yang panjang karena sepekan lagi jadwal pameran. Aku dan Cindy satu kelas. Sedang teman kost lain di kelas Eva.

__ADS_1


Aku tidak mengerti apa yang dilakukan Cindy selama ini. Kukira saat memutuskan untuk liburan, semua tugas sudah dibereskan sejak awal. Tapi kulihat project nya belum selesai. Baru dikerjakan 60% saja sedangkan kami hanya punya waktu tinggal beberapa hari lagi. Bukan tidak mau membantu, tapi aku hanya ingin ia bisa bertanggung jawab sendiri dengan tugasnya.


Aku keluar dari ruang kelas menuju taman. Kulihat semua memutih. Kampus ini mulai ramai menjelang siang. Biasanya jika tidak sedang winter, banyak yang duduk duduk direrumputan sekedar bercengkrama ketika tidak ada kelas.


Pikiranku menerawang. Sudah sejauh ini, apa benar kata Eva bahwa aku belum bisa melupakan Hary.


"Ada yang mencarimu. Ia menunggu di dekat perpustakaan. Sepertinya penting"


Hilma teman satu jurusan membuyarkan lamunanku


"Siapa ?"


"Aku tidak tahu. Ia hanya bilang untuk memberitahumu kesana. Tapi berhati-hatilah, orang itu nampak berbeda dari orang biasa. Ia memakai kacamata hitam serta stelan serba hitam"


"Oke, thanks Hilma..."


Aku berjalan cepat meski harus memutar arah karena perpustakaan dari tempatku sedikit jauh. Apa orang itu Kak Joe ? Kenapa harus repot kemari. Ia bisa menemuiku di flat. Apakah ada kabar penting tentang ibu ? Pikiranku menjalar kemana-mana.


Aku berdiri terpaku setelah sampai didekat gedung perpustakaan kampus. Beberapa meter didepan seorang lelaki paruh baya berdiri. Meski tak yakin, tapi aku pernah melihatnya saat mengantar ayah.


"Nona, ketua sangat ingin bertemu dengan anda"


Ia membungkuk. Aku sedikit mundur.


"Tapi ini penting"


Ya, aku ingat betul. Asisten Frans. Dia adalah salah satu orang kepercayaan ayah.


"Jika dia bersikeras, aku tak segan-segan akan melukai diriku sendiri. Camkan itu"


"Tapi ..."


Ia hendak maju. Saat seseorang menarikku ke belakang. Siapa lagi orang ini.


"Jika dia tidak ingin jangan memaksa. Ini lingkungan kampus. Saya bisa melaporkan anda pada securty"


Pak Frans membungkuk undur diri. Ia melangkah menuju mobil. Sementara lelaki yang berdiri membelakangiku ini siapa. Bagaimana dia bisa muncul kehadapan kami. Apakah percakapan tadi terlalu mencolok sehingga mengusik siswa lain. Padahal disini sepi. Lelaki muda itu menoleh.


"Kamu tidak apa-apa ?"


Kami duduk didepan perpustakaan. Aku masih mengamatinya. Bukankah akhir-akhir ini aku bertemu banyak orang baru.


"Kamu tidak ingin berterima kasih ?"

__ADS_1


"Eegh, maaf ... terima kasih"


Sahutku gugup. Kami cukup lama terdiam. Aku bukan orang yang bisa berbasa basi dengan baik. Yang penting ia bukan salah satu orang suruhan ayah saja aku sudah tenang.


"Siapa lelaki itu. Sepertinya kamu tidak nyaman bertemu dengannya"


"Oh, dia rekan ayahku"


"Waw, semacam james bond kah ?"


Aku tertawa. Kami terlibat perbincangan seru. Sambil berkenalan ia hanya bilang jika kelasnya tak jauh dari kelasku. Bahkan ia seringkali melihatku kerepotan membawa beberapa project benda, berjalan kesana kemari dengan kaki pendekku dan menurutnya itu lucu.


"Hey, aku tidak pendek. Kau saja yang terlalu tinggi"


Aku mendengus kesal.


"Iya... betul. Hanya saja kau memang pendek. Jika berjalan dengan mantel akan terlihat lebih lucu"


Ia mempraktikkan cara berjalanku seperti pinguin. Karena kesal aku menonjok lengannya dengan keras. Enak saja !


"Hey ! Sakit ! Beginikah kau memperlakukan orang yang menyelamatkanmu dari kejaran james bond. Apakah orang tuamu berhutang, atau kau sedang dikejar-kejar seperti mafia ?"


Ia mengomeliku. Lelaki itu terlihat lucu.


"Lalu aku harus bagaimana ? Bukankah sudah berterima kasih"


"Traktir aku burger atau pasta. Atau terserahlah"


Aku menggeleng tanda tak setuju. Lelaki bermata coklat itu tak putus asa, ia memberiku tawaran dengan memberinya beberapa puluh dollar jika tak mau mentraktirnya. Gila. Sudah tahu aku siswa asing yang hidup pas-pasan. Bisa-bisanya ia memintaku memberinya uang.


"Apa ?! Kau membantu atau sengaja mau memerasku ?!"


Aku bersiap melempar apa saja kearahnya. Ia tertawa.


"Apa kamu selalu seperti ini. Mudah sekali marah. Astaga hey ! Aku hanya bercanda. Mana mungkin kau punya uang sebanyak itu"


Aaargh. Ia suka sekali menggodaku. Sudahlah. Lama-lama disini aku bisa ikutan gila. Aku bangkit meninggalkannya dengan kesal. Enak saja ia menyebutku pemarah ! Apa aku terlihat galak !


"Hey aku hanya bercanda. Jey ! Jangan pergi. Namaku Excell. Jangan lupa, namaku Excell !"


Dari jauh aku masih bisa mendengarnya tertawa. Dasar mata duitan. Dia pikir aku peduli. Huh !


pic by google

__ADS_1


__ADS_2