JANGAN DATANG TERLALU PAGI

JANGAN DATANG TERLALU PAGI
DUA HATI KINI


__ADS_3


Kali ini tak hanya aku, teman-teman yang lain juga merasa kedinginan. Mereka yang notabene penduduk asli negara ini tampak gusar. Angin bertiup lebih kencang dari biasa.


Malvin kembali dari toilet. Ia nampak panik.


"Ada berita kurang menyenangkan. Aku mendengar dari penjaga toilet akan ada badai salju malam ini"


Kami terkejut mendengarnya. Badai salju ? malam ini ? membayangkan namanya saja sudah cukup ngeri. Sementara jika dipaksakan pulang malam ini, tak yakin akan separah apa kemacetan nanti dijalan.


"Bagaimana ini ?!"


"Iya, aku takut sekali jika kita terjebak dijalan, tentu situasinya akan lebih buruk"


"Bagaimana kalau kita menginap di hotel sekitar sini saja"


"Hey ! Kau lupa kita dipenghujung akhir tahun ? Semua tempat penginapan pasti penuh"


"Benar, kalaupun ada pasti tak murah jika mendadak seperti ini"


"Ah, lantas bagaimana ?! Lagipula dimusim liburan seperti sekarang sangat susah mencarinya"


Jujur saja kami panik. Sementara waktu sudah pukul sepuluh malam. Badai diperkirakan akan terjadi tengah malam nanti.


Excell tampak membuka-buka ponselnya. Ia lalu menyodorkan kami beberapa alternatif pilihan hotel. Mata kami tercekat melihat harga yang terpasang disana. Hanya hotel berbintang yang tersisa, itu pun tinggal beberapa kamar.


"Aku tak punya uang sebanyak itu"


Keluhku pelan


"Patungan juga percuma kita tak mampu" timpal yang lain.


"Begini saja, urusan hotel biar aku yang tanggung. Tapi kita tidak bisa menyewa kamar terlalu banyak"


"Owh senior... kau baik sekali" ujar Cindy terharu


Kami ? Tentu saja setuju. Ada gunanya juga punya teman kaya seperti dia !


"Baiklah aku reservasi dulu"


Setelah melakukan pemesanan via aplikasi online, ia lalu menelepon pihak hotel. Mendadak raut mukanya keruh.


"Gawat, tak.ada twin bed. Hanya tersisa 3 kamar itu pun double bed"


"Apa tidak bisa pesan tambahan bed dalam satu kamar ?" Tanya David


Ia menggeleng. Menurut pengakuan Excell tak ada bed yang tersisa. Karena libur natal dan tahun baru seperti ini memang didominasi satu keluarga yang rata-rata membutuhkan extra bed untuk anak-anak mereka.


"Baiklah, ini tak buruk. Aku bisa bersama sayangku Malvin"


Ujar Cindy terlihat senang


"Nina, kalau begitu kau denganku kan ?! " tanyaku memelas


"Kau bercanda ?! Maaf aku dengan pacarku David"


Nina terkekeh riang.


"Hey ! Lalu bagaimana denganku ?!"


Sial. Kenapa dengan mereka yang terlihat sangat bahagia. Lantas aku tidur sekamar dengan siapa ?! Jangan bilang kalau ... aaaargh. Membayangkannya saja aku merinding bukan kepalang.


"Kau bisa denganku"


Sahut Excell pelan. Aku melotot geram.


"Tidak ! Tidak bisa begitu !"


Aku masih mengelak.


"Tapi kita tak punya pilihan lain" kata Malvin


"Kenapa kau tak tidur saja dengan David. Sementara Nina dan Cindy bersamaku"


Ujarku kekeh.


"Bertiga tak akan muat. Lagipula tidurmu seperti baling-baling putar kesana kemari... aduuuh !"


Aku menginjak kaki Nina. Hah, dasar pembunuhan karakter namanya !

__ADS_1


"Ayolah, tak masalah yang penting kalian tidak berbuat aneh-aneh. Kecuali kau memang menyukai senior" Cindy tertawa kecil.


"Aku ? menyukainya ? jangan bercanda ! baik, tak masalah !"


Cuaca semakin dingin. Sebelum keadaan memburuk akhirnya aku mengalah karena gengsi. Buntu sudah segala bujuk rayuku. Dua pasangan itu sangat girang. Kenapa mereka bahagia diatas penderitaan temannya ! Aaargh !!


Kami tancap gas menuju hotel yang rupanya tak jauh dari tempat ini. Sepanjang perjalanan mereka membicarakan rencana liburan kami selanjutnya.


"Kita pulangkan besok ?!"


Aku terkejut jika pagi buta ternyata kami tak langsung pulang. Cindy memandangku penuh harap. Perasaanku sudah tak enak.


"Kita rugi jika tak menyaksikan pesta tahun baru disini"


"Benar, bahkan para turis rela jauh-jauh ke kota ini hanya ingin merayakan tahun baru"


"Sekali-kali tak masalah bukan ? Lagipula kau belum pernah liburan selama di Brum" terang Cindy


"Tapi aku tak bawa baju ganti !"


"Kau bisa meminjam punyaku kan"


Hah ! Aku kehabisan akal


Aku sangat yakin. Mereka begitu bersemangat sekali karena ingin menghabiskan waktu dengan pacarnya masing-masing. Dasar pasangan mesum !!


"Senior..."


Kataku lembut.


Excell sampai mengerem mendadak karena kaget dipanggil seperti itu. Selama ini aku memang tak pernah bersikap sopan kepadanya sekalipun ia kakak tingkat kami.


"Apa kau salah makan ?!"


Excell masih tak percaya. Hmm.. dasar, ia malah mengejekku. Sabar... sabar. Ditahan dulu.


"Mmh, pasti senior keberatan bukan jika kita menginap sehari lagi ?"


Tanyaku penuh harap. Aku yakin ia akan setuju denganku. Orang pelit sepertinya meski kaya juga akan perhitungan. Dua hari disini sudah pasti puluhan juta akan keluar dari tagihan kartu kreditnya !


"Tak masalah"


A... Apaaaaaaa ?! Apa aku tak salah dengar ?!


"Ta.. tapi, biaya akomodasinya akan membengkak !"


Aku tak mau kalah


"Uangku banyak"


Sahutnya lagi.


Hah ?!


Jawaban macam apa itu ?!


"Pikirkan lah sekali lagi. Jangan terburu-buru menjawab. Bagaimana jika uangmu habis ?!"


Aku berusaha meyakinkannya


"Tak apa. Aku bisa minta lagi ke ayah"


Gubrakkkkkkk !!!!


Mereka yang dibelakang bersorak senang. Sial !!


Mobil memasuki area basement parkir hotel. Kami menunggu Excell yang mengurus dokumen check in di lobby hotel. Aku sendiri masih manyun sejak tadi.


Hotel ini sangat luas. Semua permukaannya tersapu keramik. Lampu-lampu kristal yang tergantung diatas, berkilauan mewah. Pilar-pilar bangunan tinggi menjulang gagah serupa kastil di negeri dongeng. Ini lebih mirip istana dibanding hotel !


Seperti dugaanku, di lobby ini pun ramai dengan pengunjung karena Peak Season menjelang libur tahun baru yang perayaannya akan dilaksanakan besok malam. Mereka nampak rapi dengan stelan mantel yang terlihat mahal. Berbeda sekali dengan penampilan kami.


Tapi yang aku heran, kenapa Excell tak pernah berpakaian seperti mereka. Lelaki itu biasa saja, bahkan beberapa kali terlihat mengenakan celana jeans bututnya yang robek-robek. Padahal mudah saja untuk mengikuti fashion masa kini karena uangnya banyak.


Cindy membuyarkan lamunanku saat kami akan diantar seorang porter. Tak banyak barang yang dibawa karena kami memang tak berencana menginap dari awal. Hanya Nina yang membawa beberapa stel baju dan rencananya akan dipinjamkan kepadaku serta Cindy. Aku terkejut saat ia bahkan membawa satu set lingerie. Anak itu memang gila !


Kami berpisah saat didepan kamar masing-masing. Excell masuk duluan sementara aku masih ragu berada diluar. Mataku masih menatap nanar ke gagang pintu.


"Apa kau pikir aku lelaki seperti itu ?"

__ADS_1


Katanya kemudian.


Entahlah, tapi hatiku yakin ia mengatakan dengan jujur. Aku pun masuk kedalam.


Kamar ini lebih luas dari perkiraanku. Tapi bagaimana bisa di tempat sebagus ini hanya terdapat kursi dan bukan sofa. Hah ! Aku merasa rugi padahal bukan uangku. Dari awal memang aku berencana tidur disana jika ada sofa.


Setengah jam didalam sini aku berusaha mengacuhkan Excell. Kupikir dengan menganggapnya tidak ada akan lebih mudah mengatasi rasa panikku tidur berdua dengan lelaki itu.


Sengaja kuulur waktu di kamar mandi lebih lama. Aku keluar saat kulihat ia sudah tertidur disisi sebelah kiri kasur. Lampu meja disampingnya juga sudah dimatikan.


Pelan-pelan kuhempaskan tubuhku disisi kanan ranjang. Kepalaku hampir menyentuh bantal, saat jantungku terasa meloncat melihat matanya masih terbuka lebar tengah menatapku dalam gelap. Aaarggh !!


"Astaga ! Apa memang hobimu senang mengagetkan orang hah ?!"


Excell malah tersenyum melihatku mengomel.


"Kalau tahu aku belum tidur, pasti kau tersiksa karena akan lebih lama berada di kamar mandi"


Jadi,


ia tahu ?


Huh, memang itu kenyataannya.


Karena kesal aku berbalik badan memunggunginya.


Sekamar ? Berdua? Seranjang pula ! Hatiku berdebar tak karuan. Aku bangkit hendak menuju kursi menonton televisi meski beberapa kali aku terlihat sudah menguap. Benar ! Aku harus terjaga. Lelaki itu lebih baik tidur lebih dulu sehingga semua akan aman sampai esok hari !


Tiba-tiba Excell menarik tanganku. Aku terhuyung jatuh kembali kekasur. Syok. Ya, itulah yang membuatku gugup saat ini. Apa ia akan berbuat macam-macam ?! apa yang akan ia lakukan ?! Ah, bagaimana ini !!


"Tidurlah, kau pasti capek seharian ini. Aku tidak akan berbuat hal aneh terhadapmu. Kau bisa mempercayai perkataanku"


Ujarnya pelan Ia seperti paham dengan ketakutanku.


"Ba... baik"


Jujur saja aku memang sudah mengantuk. Kopi yang tersaji di meja tamu tak berhasil membuatku terjaga. Tapi dengan Excell berkata begitu, aku sedikit tenang.


"Satu lagi, ini untukmu..."


Ia lalu menyerahkan sebuah kotak mini dari balik bantal. Aku senang sekali saat mengetahui benda didalamnya adalah bros yang kutaksir di pameran. Kilaunya mengerling cantik. Sederhana tapi mewah.



"Untukku ?"


Tanyaku heran.


Aku tak mau di prank lagi seperti tadi. Ia mengangguk. Excell tersenyum melihatku berbinar.


"Selamat ulang tahun..."


Katanya lirih.


Egh.


Kami saling menatap. Ia tersenyum kembali sembari mengusap-usap kepalaku. Jangan...! tolong jangan lakukan itu karena hatiku akan berdebar makin kencang !


Excell berbalik menarik selimut. Sepertinya kali ini ia benar mengantuk. Kasihan sejak pagi sudah menyetir dan kini pasti sangat kecapekan.


Aku masih terdiam memandangi punggungnya. Lelaki itu memberiku bros ini ? Ia tahu hari ulang tahunku ? sejak kapan ?


Kejutan kecilnya ini sungguh membuatku terharu.


Excell berbalik lagi menghadapku. Awalnya aku kaget, tapi rupanya ia benar tertidur. Mataku tak bisa lepas menatapnya.



Jujur saja, ia cukup tampan. Bahkan sangat tampan. Selama ini aku tak pernah memandangnya sebagai lelaki. Lebih tepatnya tidak sempat karena bertemu di kampus saja aku lari. Entah bagaimana mulanya, Excell tak lebih sekedar orang yang 'mampir' karena pertemuan kami yang tak sengaja didepan perpustakaan kala itu.


Tapi kini, ia menjadi lebih sering berada disekelilingku seperti menempel. Aku berusaha mengabaikan pikiran bahwa ia mungkin saja menyukaiku. Tapi rasanya tak mungkin melihat jurang diantara kami.


Lagipula aku hanya menyukai Sam ! Ya, hanya dia ! Kenapa harus peduli dengan Excell ! Tapi lelaki yang tengah tertidur itu juga membuat hatiku berdegup kencang akhir-akhir ini.


Hah ! Aku bingung sekali. Tujuanku adalah Sam ! Bukan dia ! Sam lebih segalanya, tentu lebih dewasa pula. Sedangkan si kunyuk ini terlalu kekanak-kanakan. Tapi dengan sifatnya itu pula kadang ia menjadi manis. Hais !


Excell, meski ia terlihat sangat santai. Namun aku merasa banyak hal yang dirahasiakannya. Awalnya aku kira ia seperti anak orang kaya lain yang kubenci. Tapi kini Ia seperti Eva. Dua orang ini adalah pengecualian. Aku tak bisa lagi membenci mereka. Mereka para orang kaya yang tak seburuk bayanganku. Eva ... Ah, aku jadi teringat Eva. Apakah ia sudah pulang kerumah. Aku menghela nafas.


pic by google

__ADS_1


__ADS_2