
"Tolong nanti siapkan isian dikolom ini ya. Punya yang lain sekalian"
Beberapa hari menjelang pameran, kami sibuk pada progress masing-masing. Jadi tidak ada ruang untuk memikirkan Sam. Ah, untuk apa. Pasti ia juga sudah lupa. Hidupnya dikelilingi banyak wanita cantik, tak ada alasan untuk memikirkan orang sepertiku. Kalau dipikir-pikir, pertemuan kami mungkin sebatas itu. Aku juga tidak punya nomor teleponnya. Jika kelak bertemu lagi dengannya, anggap saja sebuah keajaiban.
Hari beranjak sore. Aku lelah setengah mati. Hanya karena rajin, teman-teman dengan mudah meminta tolong ini itu sesukanya.
Tolong ya, aku sungguh iri dengan kakimu yang kuat, atau,
Bantu aku ya plis, kamu cekatan sekali tolong bawakan punyaku kesana. Begitulah ketika mereka merayu. Aku memang tidak enakkan, tidak bisa menolak.
"Sstt.. sstt.. hey ! hey !"
Aku menengok kesana kemari. Seperti ada yang memanggil.
"Sstt... hey ! aku diatas !"
Aku menoleh kesumber suara. Ah, sial. bagaimana bisa dia disini. Aku lupa lelaki itu juga seorang siswa. Malas menanggapinya, alih-alih berjalan cepat melewati lorong. Ia turun dari tangga mengejarku.
"Kamu menghindariku ?"
Aku menggeleng. Malas berurusan dengannya.
"Mau pergi ke pameran ? dengan barang-barang ini ?"
Ia menatap 2 bingkai besar yang kubawa.
"Jika benar memang kenapa"
Sahutku ketus
"Selain punya kaki pinguin yang kuat, tanganmu juga bisa diperhitungkan ya. Pantas kemarin tinjumu masih terasa sakit sekali"
Ia berakting seolah kesakitan sambil mengusap-usap lengannya. Aku melotot.
"Sini, berikan padaku. Kita searah"
Ia tersenyum.
"Baiklah jika kamu memaksa"
__ADS_1
Rona mukanya berubah kecut saat menerima dua pigura besar dariku. Hahaha siapa suruh bersikap jagoan. Rasakan !!
"Kenapa kamu selalu berjalan menunduk ?"
Ia membuka percakapan. Kami berjalan bersama, tapi aku merasa risih dengan tatapan beberapa orang. Apa ada yang salah.
"Sejak kapan kamu begitu peduli ?"
"Sejak lama"
Langkahku terhenti salah tingkah mendengarnya.
Beberapa teman Excell menyapa. Rupanya lelaki ini cukup populer. Pantas saja saat berjalan bersama tatapan gadis-gadis tadi tak ramah. Aku baru menyadari bahwa ia terbilang cukup tampan. Dan satu hal yang ku tahu, Excell suka sekali berdansa kecil sambil menyanyikan lagu Ed Sheeran "Perfect".
Kami sampai diruang pameran. Aku melongo saat lelaki itu bergabung bersama yang lain.
"Waw, bagaimana bisa kalian datang bersama ? sepertinya kamu kenal dengan baik senior kita"
Nancy, salah satu teman kelas yang berada disana memberondongku dengan berbagai pertanyaan. Lisa dan yang lain ikut kaget mendengarnya.
"Dia ? senior kita ?"
Mereka mengangguk. Aku memang jarang kemari karena sibuk dikelas. Dia ? seniorku ? ah, mati aku. Harusnya aku baik padanya sejak kemarin.
Excell sangat popular dikalangan mahasiswi. Tidak neko-neko. Orangnya tak banyak tingkah seperti tipe orang yang suka pamer harta. Ia berbaur, tak seperti putra konglomerat lain. Dan kabar penting menurut Nancy, Excell belum pernah menggandeng wanita alias belum memiliki pasangan.
Aku hanya diam mendengar mereka bercerita antusias. Mereka tak menyangka aku bisa kenal lelaki itu. Bahkan untuk menyapa saja mereka tak berani. Kami memperhatikan lelaki bermata coklat itu dari jauh. Ia berbincang akrab dengan teman-temannya. Sadar jika diperhatikan sejak tadi, ia menatap kearahku. Buru-buru aku membuang muka. Sial, ia tersenyum seperti mengejek seolah-olah aku baru tahu bahwa ia adalah senior disini. Tuhan, apalagi ini.
Pameran esok adalah gabungan, pameran seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi bagi senior. Tak ada yang kuharapkan selain acara sukses. Nilai kami dipertaruhkan disana. Aku berpamitan pada teman-teman. Sekujur badan terasa lemas. Setelah mengambil tas dikelas, kaki melangkah malas. Jika aku sudah berbuat tidak sopan padanya, itu sama saja mencari masalah dengan senior. Aargh... kenapa bisa ceroboh dan tidak tahu hal itu. Aku menghela nafas.
"Selain nona pinguin, kau punya banyak julukan ya. Si penghela nafas"
Aku berjingkat kaget. Disebelahku muncul Lelaki tertawa riang.
"Apa mengagetkan orang adalah hobi barumu !"
Ia masih tertawa.
"Ayo !"
"Kemana ?"
__ADS_1
"Hey ! kau masih berhutang padaku tempo hari. Aku lapar sekarang"
Ah, sial. Aku hanya ingin pulang kerumah dan istirahat tapi orang ini malah muncul begitu saja.
"Restaurat cepat saji searah dengan flatku, sepertinya nanti kau akan memutar lebih jauh saat pulang"
Semoga ia mengurungkan niatnya.
"Tak masalah"
"Aku berjalan kaki. Itu sangat melelahkan"
"Tak apa, aku juga terbiasa berjalan jauh"
Ah, sial tak berhasil juga.
"Sebentar ... kuhitung dulu"
Aku mengambil dompet dari dalam tas. Saat ku cek, cukuplah jika hanya untuk dua burger dan segelas cola.
"Kenapa ? uangmu kurang ?"
Ia tertawa
"Enak saja. Baiklah ayo !"
Biarpun miskin aku juga punya harga diri. Huh sangat merepotkan.
"Kita pesan cola ? dimusim dingin begini ? dan hanya satu ?"
Excell menggerutu saat pesanan kami sampai. Aku tertawa kecil.
"Sudah jangan banyak protes. Harusnya kau merasa beruntung ada juniormu yang mentraktir"
Ia masih mengomel lucu sekali.
"Apa wanita memang bisa makan burger sebanyak itu"
Excell menyindir saat melihatku menghabiskan burger dalam waktu singkat. Aku melirik burgernya yang masih tersisa sebagian. Sadar, ia langsung menarik piringnya.
"Ah, aku merasa tak aman disini. Bahkan seseorang terlihat ingin memiliki burgerku sekarang"
__ADS_1
Mataku melotot. Ia tertawa.
pic by google